139,344 research outputs found
Pendro II
Pendro II, merupakan pengembangan dari Pendro I, hasil dari karya Pendro I memberikan inspirasi baru tentang hasil Tone yang merupakan penggabungan dari gamelan yang berlaras Pelog dan Slendro. Dari hasil Tone tersebut telah dibuatkan satu gamelan baru yang disebut dengan gamelan Pendro, dengan gamelan baru ini penata mempergunakannya untuk membuat karya baru dengan judul Pendro II.
Dari hasil karya-karya sebelumnya, masih menggunakan dua gamelan yang berbeda dalam satu sajian karya, seperti karya yang berjudul “Merajut Tali Keragaman”, menggunakan berbagai gamelan, namun tidak dapat menyatu dalam penyajiannya. Dari fungsi gamelan masih menunjukkan karakteristik gamelan dari masing-masing barungan itu sendiri. Kemudian dalam Pendro I telah dicoba untuk menggabungkan dua gamelan yang berbeda laras dengan satu kesatuan karya, hasil dari penggabungan itu muncul laras (Tone) baru, dan hasil Tone baru itu telah kami buat gamelan baru dengan Tone yang dihasilkan tersebut. Dari gamelan baru ini diharapkan dapat memberikan nuansa musikal baru, dengan menggunakan berbagai teori estetika yang baru pula memungkinkan muncul karya-karya baru yang lebih inovatif.
Dasar dari penciptaan ini, selain dari pengalaman penata dalam berkarya, juga dari berbagai acuan karya yang seirama dengan konsep karya Pendro II yaitu Rekaman CD “Pendro I” karya I Made Arnawa (2004). “Clapping Music” (1972) dan “Tehilim” (1979) karya Steve Reich.
Wujud garapan di sajikan dalam bentuk dan struktur serta Tekstur. Bentuk dan struktur masih ada kaitannya dengan bentuk struktur tradisi. Kemudian untuk bahasa musikalitasnya disebut dengan tekstur. Tekstur yang penata maksudkan dalam garapan Pendro II adalah bahasa musikalitas yang terbentuk dari konsep Mayatupatus. Mayatupatus adalah angka-angka yang tertera dalam Pengider Bhuwana sebuah lontar gamelan Bali yang sudah dialihbahasakan oleh I Made Bandem. Ma= lima (5), Ya= sanga (9), Tu= pitu (7), Pa= papat (4), Tus = kutus (8). Angka-angka 59748 inilah yang menjadi roh garapan Pendro II.
Untuk penotasian, kami buat dengan sistem notasi yang telah biasa dipergunakan dalam sistem penotasian di Bali, yaitu menggunakan simbol penganggen aksara Bali. Notasi Bali (ding-dong) pelog tujuh nada disejajarkan dengan Notasi Kepatihan (Jawa/Surakarta) dan Notasi Diatonis seperti dalam tabel berikut.
Pada gamelan Pendro, hanya terdapat empat nada yaitu nada 4 (dong), 5 (deng), 7 (dung), dan 1 (dang). Perlu disampaikan di sini bahwa laras dalam gamelan Pendro terdiri dari laras pelog (dung dan dang) dan slendro (dong dan deng) yang terbagi dalam empat nada.
Kata Kunci: Pendro, Bentuk dan Struktur, Tekstu
MENGEMBANGKAN KUALITAS PEMAHAMAN DALAM ALJABAR ABSTRAK MELALUI PEMBELAJARAN BERDASARKAN TEORI APOS (Eksperimen pada Mahasiswa Matematika UNAND dan Pendidikan Matematika UNP)
Pemahaman merupakan tujuan utama yang ingin dicapai dalam setiap pembelajaran matematika. Kualitas pemahaman seseorang tentang suatu konsep menggambarkan kualitas skema yang dimiliki oleh orang tersebut. Keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan persoalan-persoalan matematika sangat ditentukan oleh kualitas skema yang dimilikinya. Teori APOS yang merupakan suatu pendekatan pembelajaran matematika yang khusus untuk perguruan tinggi, mempostulatkan bahwa tingkat-tingkat pemahaman seseorang tentang suatu konsep matematika dapat dikategorikan ke dalam empat tingkatan, yaitu: aksi, proses, objek, dan skema. Penelitian yang dilakukan di Jurusan Matematika UNAND dan Jurusan Pendidikan Matematika UNP bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kontribusi teori APOS dalam mengembangkan kualitas pemahaman mahasiswa dalam aljabar abstrak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang memperoleh pembelajaran aljabar abstrak berdasarkan teori APOS mempunyai tingkat pemahaman lebih baik jika dibandingkan dengan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran secara biasa.</jats:p
What Girls Are Made Of
Intro -- Title Page -- Part I Unconditional -- Part II Eros and Thanatos -- Part III The Dissected Graces -- Part IV Conditions -- Author's Note -- Acknowledgments -- About the Author -- Back CoverDescription based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries
Analysis Validation of Math Learning Devices Based on Guided Discovery Method to Improve Problem-Solving Ability of Grade VII Students of Junior High School
Veb pristupačnost i elektronskih formati za pristup informacijama za osobe sa invaliditetom
Author described the context of the development of technological and social relationships and how they mutually made changes on ways how people interact with information and access to knowledge.
The development of societies changed significantly the role of libraries and posed new technological and other challenges due to the development of information technologies.
Since the development of information technologies caused expansion of production capacities in societies there was additional need to standardize production of formats of access, distribution, archiving of information. Due to democratic character of many developed societies openness of information and human rights emphasized an importance of legal aspects and rights of persons with disabilities. Author mentioned articles of the UN Convention of Rights of Persons with Disabilities which required that parties which ratified convention should implement accessibility standards for persons with disabilities. Author presented standards and technical specifications that define accessibility of web interface, computer software and file formats. It is especially emphasized that those standards are important in libraries. Modern libraries should adopt and use file formats which are accessible for persons with disabilities in order to avoid risk of increased discrimination against persons with disabilities if inaccessible technologies will be used. Author believes that this would help persons with disability to use library resources and services equally as other users do.
SEKITAR KOMPOSISI “GONG”
Gong adalah instrumen pukul yang bentuknya bundar dengan garis tengah rat-rata antara 75-85 cm. Instrumen ini tergolong instrumen berpencol atau bermoncol, memiliki satu muka/mua, moncolnya tepat di tengah-tengah “lambe” nya. Instrumen serupa lainnya dengan ukuran yang lebih kecil adalah kempur/kempul dan kenong. Instrument tersebut terbuat dari bahan prunggu (kerawang), atau besi. Membunyikannya dengan jalan dipukul tepat pada moncolnya dengan panggul khusus, di Bali disebut dengan panggul gong. Garapan mandiri ini merupakan upaya untuk mengembangkan pola garap baru secara konvensional dan masih tetap mempertahankan teknik. Gong dan Kempul digunakan adalah yang bernada. Di samping itu pola garapnya berangkat dari konsep Pengider Bhuwana yang esensinya adalah keseimbangan alam makrokosmos
Author, publisher and bookseller : a tripartite synergy in Nigerian book industry
This work is about the roles of Author, Publisher and Bookseller in Book development in
Nigeria. The paper started by delving into the history of Book Publishing in Nigeria after
which it proceeded by defining who an author, a publisher, and a bookseller is and
expatiated on the indispensable roles of these key actors in Nigerian Book Industry and in
the emerging Information Society. Furthermore, the various constraints to book
development were identified while the paper advised on how the Book Industry can be
further promoted in Nigeria. However, the paper concluded and made recommendations
on how the Book sector can help in enhancing scholarship in the country
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMBUKTIAN MAHASISWA DALAM ALJABAR ABSTRACK MELALUI PEMBELAJARAN BERDASARKAN TEORI APOS
Penelitian ini adalah eksperimen dengan disain tes awal dan tes akhir menggunakan kelas kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan berupa pembelajaran berdasarkan teori APOS yang mempunyai empat karakteristik: (1) pengetahuan matematika dikonstruksi melalui tahapan konstruksi mental aksi, proses, objek, dan skema; (2) menggunakan komputer, (3) belajar dalam kelompok kecil; (4) Menggunakan siklus ACE (activitas laboratorium, diskusi kelas, dan latihan). Sedangkan kelompok kontrol pembelajarannya secara biasa/tradisional. Tujuan utama penelitian ini adalah menelaah secara komprehensif tentang kemampuan pembuktian dalam Aljabar Abstrak, sikap mahasiswa terhadap Aljabar Abstrak, tingkat keaktifan mahasiswa selama pembelajaran, dan jenis-jenis kesalahan yang dilakukan mahasiswa pada pembuktian dalam Aljabar Abstrak. Penelitian ini melibatkan 180 orang mahasiswa sebagai subjek sampel yang berasal dari empat kelas pada dua jurusan (jurusan matematika UNAND dan jurusan pendidikan matematika UNP). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan empat jenis instrumen, yaitu: tes pembuktian, skala sikap model Likert, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Berdasarkan hasil analisis data, hasil utama dari penelitian ini adalah: (1) mahasiswa yang memperoleh pembelajaran Aljabar Abstrak berdasarkan teori APOS mempunyai kemampuan pembuktian lebih baik secara signifikan jika dibandingkan dengan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran secara biasa, (2) mahasiswa yang memperoleh pembelajaran Aljabar Abstrak berdasarkan teori APOS mempunyai sikap lebih positif secara signifikan jika dibandingkan dengan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran secara biasa, (3) mahasiswa yang memperoleh pembelajaran Aljabar Abstrak berdasarkan teori APOS mempunyai tingkat keaktifan lebih baik jika dibandingkan dengan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran secara biasa, dan (4) jenis-jenis kesalahan yang paling banyak dilakukan mahasiswa pada pembuktian dalam Aljabar Abstrak (mengkonstruksi bukti) bersumber dari miskonsepsi bahwa sifat-sifat bilangan real berlaku pada setiap grup
PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 11 TAHUN 2001 TENTANG USAHA REKREASI DAN HIBURAN UMUM BERKAITAN DENGAN USAHA PERMAINAN KETANGKASAN JENIS PLAYSTATION DI KOTA DENPASAR
In this modern era, the development of technology is growing so fast, as well as electronic games such as playstation especially in Denpasar wich not have a license from the government yet. As we know, this arcade games wich is called playstation have been set in “ Local Regulation No 11 2001” of Recreation and Public Entertainment. Legal research methods that used for this study is empirical laws, and the purpose is to find out what the requirements that must be owned by the businessman and how the government controls and enforce these regulation. There is many playstation businesses in Denpasar unlicensed is caused by less socialization, less awareness to the rule of law and lack of traction on law enforcement.
Pada zaman modern seperti saat ini, perkembangan teknologi semakin berkembang dengan pesat, begitu pula dengan game elektronik seperti playstation yang berada di Kota Denpasar banyak belum memiliki surat izin dari pemerintah. Permainan ketangkasan jenis playstation ini telah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2001 tentang Usaha Rekreasi Dan Hiburan Umum. Metode penelitian hukum dalam penulisan ini menggunakan metode penelitian hukum empiris, adapun tujuan dari penulisan ini untuk mengetahui persyaratan yang wajib dimiliki pengusaha playstation dan bagaimana bentuk pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Denpasar dalam penegakan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2001 tentang Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum di Kota Denpasar. Kurangnya sosialisasi, kesadaran masyarakat terhadap budaya tertib hukum dan kurang tegas nya aparat penegak hukum Peraturan Daerah ini menyebabkan masih banyaknya usaha playstation di Kota Denpasar yang tidak memiliki izin
Seabed foraging by Antarctic krill: Implications for stock assessment, bentho-pelagic coupling, and the vertical transfer of iron
A compilation of more than 30 studies shows that adult Antarctic krill (Euphausia superba) may frequent benthic habitats year-round, in shelf as well as oceanic waters and throughout their circumpolar range. Net and acoustic data from the Scotia Sea show that in summer 2-20% of the population reside at depths between 200 and 2000 m, and that large aggregations can form above the seabed. Local differences in the vertical distribution of krill indicate that reduced feeding success in surface waters, either due to predator encounter or food shortage, might initiate such deep migrations and results in benthic feeding. Fatty acid and microscopic analyses of stomach content confirm two different foraging habitats for Antarctic krill: the upper ocean, where fresh phytoplankton is the main food source, and deeper water or the seabed, where detritus and copepods are consumed. Krill caught in upper waters retain signals of benthic feeding, suggesting frequent and dynamic exchange between surface and seabed. Krill contained up to 260 nmol iron per stomach when returning from seabed feeding. About 5% of this iron is labile, i.e., potentially available to phytoplankton. Due to their large biomass, frequent benthic feeding, and acidic digestion of particulate iron, krill might facilitate an input of new iron to Southern Ocean surface waters. Deep migrations and foraging at the seabed are significant parts of krill ecology, and the vertical fluxes involved in this behavior are important for the coupling of benthic and pelagic food webs and their elemental repositories
- …
