26 research outputs found
Penyisihan Mikroplastik pada Proses Pengolahan Air Minum Konvensional
Pencemaran mikroplastik (MP) sebesar 1,47-47,11 partikel/m3 telah ditemukan di sumber air baku PDAM di Jawa Timur dengan cakupan layanan 98,97% dari total penduduk. Dengan keberadaan MP di air baku, dapat dipastikan terdapatnya MP dalam air baku yang dapat mempengaruhi kualitas air produksi. Penyediaan air bersih yang layak dan aman bagi masyarakat memerlukan teknologi pengolahan air yang sesuai. Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) yang diteliti meliputi IPAM K-1, K-3, N-2, dan N-3, dengan total kapasitas10.830 L/detik. Teknologi pengolahan air yang digunakan pada IPAM K-1, K-3, N-2, dan N-3 masih merupakan teknologi konvensional, yang terdiri atas unit aerasi, prasedimentasi, koagulasi-flokulasi, sedimentasi, filter, dan desinfeksi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menentukan kelimpahan dan karakteristik MP pada air baku, efluen setiap unit operasi IPAM, serta air produksi; (2) mengkaji kemampuan dan mekanisme penyisihan MP pada setiap unit operasi IPAM; (3) menyusun rekomendasi teknologi pengolahan air minum yang sesuai untuk penyisihan MP. Titik pengambilan sampel adalah intake air baku, outlet setiap unit operasi, dan outlet reservoir air produksi pada IPAM K-1, K-3, serta N-2, N-3. Sampel diambil secara grab, dengan volume 5 L. Pengambilan sampel dilakukan pada 2 hari yang berbeda, dengan pengulangan harian sebanyak 4 kali. Pengambilan sampel dimulai pukul 05.00 WIB, dengan interval setiap 5 jam. Akuades dengan volume 5 L digunakan sebagai kontrol, yang dibuat pada setiap hari pengambilan sampel. Sampel dan kontrol kemudian disimpan pada suhu 4℃. Selanjutnya, sampel dioksidasi secara Wet Peroxide Oxidation (WPO), dengan menambahkan 10 mL H2O2 dan 10 mL larutan Fe(II) 0,05 M ke dalam 1 L sampel air. Sampel air kemudian disaring menggunakan filter vakum dengan membran PTFE Scientific Hawach berukuran pori 0,2 µm dan berdiameter 47 mm. Kelimpahan dan karakteristik partikel MP (ukuran, bentuk, warna) diidentifikasi menggunakan mikroskop stereo Sunshine SZM45T-B1 dan digital Dino Lite AF 3113 T. Kelimpahan MP dalam sampel ditunjukkan dengan jumlah partikel/L, yang telah dikurangi jumlah MP dalam kontrol. Klasifikasi ukuran partikel MP adalah 1–100 μm, 101–350 μm, 351–1000 μm, dan 1001–<5000 μm. Bentuk partikel dikategorikan menjadi serat, fragmen, film, pelet, dan foam. Warna MP dibedakan menjadi hitam, biru, merah, kuning, dan transparan. Selanjutnya, sejumlah 5-10 partikel MP berukuran 351–1000 μm yang mewakili setiap titik sampling dianalisis dengan Fourier Transform Infra Red (FTIR) tipe Thermo Scientific Nicolet i10 untuk karakterisasi jenis polimer MP. Efisiensi penyisihan MP diukur di setiap unit operasi IPAM. Data ditampilkan dengan tabulasi dan grafik, serta dilakukan uji Anova 0ne-way untuk menentukan signifikansi penyisihan MP pada tiap unit operasi. Selanjutnya, uji skala laboratorium terhadap penyisihan MP dengan teknologi membran mikrofiltrasi (MF) dan ultrafiltrasi (UF) dilakukan sebagai dasar penyusunan rekomendasi teknologi pengolahan air minum yang sesuai untuk penyisihan MP. Pengujian dilakukan menggunakan alat Dead End Flow (DEF) dengan membran MF (ukuran pori 0,45 μm) dan UF (ukuran pori 0,1 μm) yang berdiameter 47 mm. Selain itu, kajian dilakukan terhadap aplikasi teknologi membran MF dan UF pada Unit Zona Air Minum Prima (ZAMP) IPAM N-3 dalam penyisihan MP. Sampel air baku dan air produksi diambil pada Unit ZAMP sebanyak 1 L pada 2 hari yang berbeda. Kelimpahan, ukuran, bentuk MP hasil uji skala laboratorium dan aplikasi MF-UF di Unit ZAMP dikaji untuk menentukan kemampuan penyisihan MP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air produksi dari IPAM K-1, K-3, serta N-2, N-3 telah terkontaminasi MP dengan kelimpahan rata-rata masing-masing 16,9 ± 7,7; 7,5 ± 4; 5,5 ± 0,3; dan 3,8 ± 2,8 partikel/L. Kelimpahan rata-rata MP yang ditemukan dalam air baku IPAM K-1, K-3, serta N-2, N-3, masing-masing adalah 27,1 ± 3; 27 ± 18.4; 16,1 ± 6,4; dan 9,9 ± 5,2 partikel/L. Kehadiran MP dalam efluen unit operasi IPAM K-1, K-3, serta N-2, N-3 berfluktuasi. Partikel MP berukuran 351–1000 μm dominan ditemukan di IPAM K-1 (28,8-69,4%) dan K-3 (31,5-48,2%), serta N-2 (38,5-63,5%). Sedangkan di IPAM N-3, MP berukuran 1001–5000 μm paling banyak ditemukan (59,7-70%). Serat merupakan bentuk MP yang dominan di IPAM K-1 (86,7-100%) dan K-3 (80,6-96,3%), serta N-2 (97,2-100%) dan N-3 (90,1-98,7%). MP berwarna transparan mendominasi pada sampel air IPAM K-1 (32-61%) dan K-3 (22-52%), serta N-2 (59-83%) dan N-3 (65-84%). Jenis polimer yang dapat diidentifikasi secara signifikan dalam sampel air baku IPAM adalah polietilena (PE). Rata-rata efisiensi penyisihan MP dalam air produksi yang dicapai di IPAM K-1, K-3, serta N-2, N-3 masing-masing adalah 38 ± 25%; 71 ± 7%; 66 ± 31%; dan 62 ± 15%. Aplikasi teknologi membran di Unit ZAMP mampu menghilangkan MP sebesar 82 ± 5%. Hal ini didukung oleh penelitian skala laboratorium dengan alat DEF, dimana kemampuan penyisihan MP oleh teknologi MF dan UF masing-masing adalah 75 ± 11% dan 86 ± 8%. Dengan demikian teknologi membran MF-UF dipandang mampu untuk meningkatkan penyisihan MP di air baku setelah melalui pengolahan dengan teknologi konvensional.
========================================================================================================================================
Microplastic (MP) contamination (1,47-47,11 particles/m3) has been found in raw water source of water supply enterprise in East Java, which served 98.97% of residents. This condition certainly led to the MP occurrence in raw water, which could affect the quality of treated water. Feasible and clean water supply for community required an appropriate water treatment technology. This research was conducted in Drinking Water Treatment Plants (DWTPs) of K-1, K3, N-2, N-3, which had the total of treatment capacity of 10,830 L/second. Currently, the DWTPs apply conventional water treatment technology, which consists of aeration unit, pre-sedimentation, coagulation-flocculation, sedimentation, filter, and disinfection. This study aimed to: (1) determine the abundance and characteristics of MP in raw water, effluent of each water treatment unit, and treated water; (2) investigate the capability and mechanism of removal in each water treatment unit; (3) recommend an appropriate drinking water treatment technology for MP removal. Water sampling was conducted in DWTPs K-1, K-3, and N-2, N-3. Sampling points were raw water intake, outlet of each water treatment unit, and outlet of produced water reservoir. Volume of 5 L water samples were collected by grabbed sampling technique. Sampling was carried out in 2 different days, with four daily replications. Sampling started at 05.00 WIB, with five hourinterval. Volume of 5 L aquadest was used as a control, which was made on each sampling day. Samples and controls were then stored at 4℃. Next, the sample was oxidized by Wet Peroxide Oxidation (WPO), by adding 10 mL of H2O2 and 10 mL of 0,05 M Fe(II) solution into 1 L of water sample. Water sample was then filtered using a vacuum filter with PTFE Scientific Hawach membrane with a pore size of 0,2 μm and a diameter of 47 mm. Abundance and characteristics of MP particles (size, shape, color) were identified using a Sunshine SZM45T-B1 stereo microscope and a digital Dino Lite AF 3113 T. The MP abundance in samples was enumerated based on the particle number/L which was already deducted by particle number in control. The MP particle size classifications were 1–100 μm, 101–350 μm, 351–1000 μm, and 1001–<5000 μm. The MP shapes were categorized into fibers, fragments, films pellets, and foam. MP colors were divided into black, blue, red, yellow, and transparent. Numbers of 5-10 MP particles with 351–1000 μm, which were representative in each sampling point, then were analyzed by using Thermo Scientific Nicolet i10 Fourier Transform Infra-Red (FTIR) to characterize the type of MP polymer. MP removal efficiency was measured in each water treatment unit. Data were presented with tabulations and graphs. One-way Anova test was performed to determine the significance of MP removal in each water treatment unit. Furthermore, laboratory-scale test of MP removal using microfiltration (MF) and ultrafiltration (UF) membrane technology were carried out to recommend an appropriate drinking water treatment technology for MP removal. The test was carried out using a Dead-End Flow (DEF) tool with MF (0.45 μm) and UF (0.1 μm) membranes. In addition, an investigation on MP removal was conducted on the application of MF and UF in Zona Air Minum Prima (ZAMP) in DWTP N-3. Volume of 1 L raw and produced water samples in ZAMP Unit were collected on 2 different days. MP abundance, size, and shape from MF and UF laboratory scale tests and their application to the ZAMP Unit were studied to determine the ability to remove MP. The results showed that average of MP abundances in the treated water from DWTPs K-1, K-3, and N-2, N-3 were 16.9 ± 7.7; 7.5 ± 4; 5.5 ± 0.3; and 3.8 ± 2.8 particles/L, respectively. The average MP abundances of raw water in DWTPs K-1, K-3, and N-2, N-3 were 27.1 ± 3; 27 ± 18.4; 16.1 ± 6.4; and 9.9 ± 5.2 particles/L, respectively. The presence of MP in the effluent water treatment unit of K-1, K-3, and N-2, N-3 fluctuated. MP size of 351-1000 μm was dominantly found in DWTPs of K-1 (28.8-69.4%), K-3 (31.5-48.2%), and N-2 (38.5-63.5%). While, in DWTP N-3, the most common MP size was 1001-5000 μm (59.7-70%). Fiber was the dominant shape of MP in the DWTPs of K-1 (86.7- 100%); K-3 (80.6-96.3%); N-2 (97.2-100%); and N-3 (90.1-98.7 %). Transparent MP dominated in the DWTPs of K-1 (32-61%) and K-3 (22-52%), and N-2 (59-83%) and N-3 (65-84%). The polymer type found in raw water sample was polyethylene (PE). The average MP removal efficiencies in treated water of DWTPs K-1, K-3, and N-2, N-3 was 38 ± 25%; 71 ± 7%; 66 ± 31%; dan 62 ±15%, respectively. The application of MF UF membrane technology in ZAMP Unit in DWTP N-3 was able to remove MP by 82 ± 5%. This was supported by laboratory-scale studies using DEF tool with MF and UF, which reached the MP removal capabilities of 75 ± 11% and 86 ± 8%, respectively. Therefore, MF-UF membrane technology was seen as capable to increase MP removal content in raw water after being treated with conventional technolog
Studi Penggunaan Kloset Kering Pemisah Urin dan Tinja untuk Peningkatan Pengelolaan Limbah Urin dan Tinja pada Permukiman Di Surabaya
Pengelolaan limbah domestik black water (urin dan tinja) pada permukiman dapat dilakukan menggunakan sistem setempat (on-site), yang terdiri dari kloset dan tangki septik yang dilengkapi dengan sistem resapan. Teknologi kloset yang digunakan dalam pengolahan sistem setempat umumnya belum memisahkan antara limbah urin dan tinja. Sistem setempat dengan teknologi kloset tanpa pemisah urin dan tinja masih menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, berupa pencemaran air permukaan dan air tanah. Selain itu kondisi teknis tangki septik yang tidak kedap berpotensi meresapnya limbah urin dan tinja ke dalam tanah. Peningkatan pengelolaan urin dan tinja dapat dilakukan dengan memperbaiki kondisi teknis fasilitas pengelolaannya, baik kloset maupun tangki septik dan resapan, sehingga urin dan tinja dapat digunakan kembali dan tidak dibuang ke lingkungan.`Teknologi Kloset Kering Pemisah Urin dan Tinja`dapat diterapkan untuk memisahkan urin dan tinja pada sumbernya sehingga potensi kandungan nutrien dalam urin dan tinja dapat dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kelayakan penggunaan kloset kering ditinjau dari aspek lingkungan dengan metode penilaian daur hidup. Batasan yang digunakan adalah recovery dari nutrien dan konsumsi energi. Skenario yang dianalisa adalah (1) Pengelolaan limbah urin dan tinja tanpa kloset kering pemisah urin dan tinja dengan tangki septik dan resapan, (2) Pengelolaan limbah urin dan tinja dengan kloset kering pemisah urin dan tinja dengan bak pengumpul urin dan tangki septik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario pengelolaan limbah urin dan tinja menggunakan toilet kering pemisah urin dan tinja menghasilkan dampak lingkungan paling minimal dengan recovery nutrien sebesar 0,0485 kg nitrogen/rumah tangga/hari; 0,009 kg pospor/rumah tangga/hari; 0,0165 kg kalium/rumah tangga/hari dan konsumsi energi sebesar 4179,35 kiloJoule/rumah tangga/hari
Kajian Operasional dan Kinerja Instalasi Pengolahan Air Minum Cabang Kecamatan Kalitidu, PDAM Tirta Dharma, Kabupaten Bojonegoro
PDAM Ibu Kota Kecamatan (IKK) Kalitidu memiliki dua Instalasi Pengolahan Air (IPA), yaitu IPA Wotan Ngare dan Ngringinrejo. IPA Wotan Ngare merupakan instalasi pengolahan sederhana yang memanfaatkan pompa untuk menyadap air baku dan mendistribusikan air bersih tanpa melalui pengolahan. IPA Ngringinrejo merupakan instalasi lengkap yang memiliki bangunan pengolahan berupa intake, pra-sedimentasi, pengaduk cepat, pengaduk lambat, clarifier, filtrasi, dan reservoir. Operasional dan kinerja IPA perlu dipastikan kesesuaiannya dengan standar kriteria desain operasional dan baku mutu air yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi operasional dan kinerja IPA Wotan Ngare dan Ngringinrejo. Metode penelitian adalah survei, wawancara, dan studi literatur. Pembahasan pada kajian ini meliputi kualitas, kuantitas, dan standar kriteria desain unit IPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas produksi air di kedua IPA telah memenuhi standar baku mutu berdasarkan PERMENKES RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010. Beberapa unit pengolahan pada IPA Ngringinrejo belum memenuhi standar kriteria desain dalam operasionalnya, antara lain waktu detensi pada intake; waktu detensi dan rasio panjang dan lebar pada kolam pra-sedimentasi; waktu detensi pada pengaduk lambat; kecepatan filtrasi pada proses filtrasi; kedalaman bangunan dan waktu detensi pada reservoir
Evaluasi Sistem Instalasi Pengolahan Air Minum Di Perusahaan Umum Daerah Air Minum Maja Tirta Kota Mojokerto
Wilayah pelayanan Perusahaan Umum Derah Air Minum (Perumdam) Maja Tirta mencakup Kecamatan Kranggan, Magersari, dan Prajurit Kulon, serta sebagian wilayah pada Kecamatan Puri. Panjang total jaringan perpipaan mencapai 235.484 m. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Perumdam Maja Tirta menggunakan Sungai Brantas sebagai sumber air baku. Kapasitas produksi IPA Perumdam Maja Tirta mencapai 110 L/detik dan kapasitas distribusi mencapai 70 – 80 L/detik.Penelitian ini dilakukan dengan observasi lapangan. mengetahui bagaimana kualitas air hasil produksi dan efektivitas / efisisensi dalam proses Instalasi Pengolahan Air (IPA) Perumdam Maja Tirta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya operasional pada unit koagulasi yang belum memenuhi kriteria. Gradien kecepatan pada unit koagulasi adalah 543,5/detik, dimana nilai ini di bawah minimum gradien kecepatan dalam unit koagulasi (750/detik). Unit sedimentasi memiliki sudut kemiringan settler 60°, tinggi 1 m, luas 72 m2 dan jarak settler 0.055 m. Beban permukaan 0.0063 cm/detik, kecepatan horizontal 0.0807 cm/detik dan waktu detensi (td) 1,54 menit, Namun belum mencukupi nilai standar minimum sesuai SNI 6774-2008. Filtrasi IPA Perumdam Maja Tirta menggunakan media antrasit dengan tebal 40 cm dan pasir dengan tebal 30 cm, serta lapisan penyangga kerikil dengan tebal 60 cm dengan kecepatan penyaringan 0.0083 m/detik masih belum sesuai dengan SNI 6774-2008 tentang tata cara perencanaan unit paket instalasi pengolahan air. Unit desinfeksi menggunakan gas klor dengan dosis rata-rata yang digunakan sebanyak 0,67 mg/l. Sedangkan unit reservoir telah sesuai dan memenuhi standar SNI 6774:2008
Kombinasi Filtrasi dan Fitoremediasi untuk Pengolahan Limbah Cair Industri Batik
The colouring activity of batik industry in Kampung Batik Jetis, Sidoarjo Regency produced wastewater which was discharged directly into the water bodies. The wastewater had the high concentration of COD, BOD, Pb, and colour, with the values of 8366 mg/L, 2150 mg/L, 0,214 mg/L, and 2502 Pt-Co. The hybrid treatment of filtration and phytoremediation was a potential treatment of the wastewater from the textile industry. The research aimed to investigate the performance of the hybrid treatment of filtration and fitoremediation in removing the COD, BOD, Pb, and colour in the wastewater of the batik industry. The filtration media were silica sand, activated carbon, coconut husk, sand, and gravel. The plants in the phytremediation were water bamboo (Equisetum hyemale) and water jasmine (Echinodorus palaefolius). The results showed that the highest performance was achieved by the hybrid treatment of filtration and phytoremediation using jasmine water plant. The removal efficiencies of COD, BOD, Pb, and colour were 91%, 90%, 98%, and 91%, respectively. Based on the Kruskal Wallis statistical test, the variable of plant type and detention time had no significant influence to the removal efficiencies of COD, BOD, Pb, and colour, as indicated by a p-value> 0.05. Keywords: batik wastewater, filtration-phytoremediation, hybrid treatment, water bamboo (Equisetum hyemale), water jasmine (Echinodorus palaefolius)Â A B S T R A KKegiatan pewarnaan industri batik di Kampung Batik Jetis Kabupaten Sidoarjo menghasilkan air limbah yang langsung dibuang ke badan air. Air limbah memiliki konsentrasi COD, BOD, Pb, dan warna yang tinggi, dengan nilai 8366 mg/L, 2150 mg/L, 0,214 mg/L, dan 2502 Pt-Co. Perlakuan hibrid filtrasi dan fitoremediasi merupakan pengolahan potensial air limbah dari industri tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja perlakuan hibrid filtrasi dan fitoremediasi dalam menyisihkan COD, BOD, Pb, dan warna pada air limbah industri batik. Media filtrasi yang digunakan adalah pasir silika, karbon aktif, sabut kelapa, pasir, dan kerikil. Tumbuhan yang digunakan dalam fitremediasi adalah bambu air (Equisetum hyemale) dan melati air (Echinodorus palaefolius). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja tertinggi dicapai oleh perlakuan hibrid filtrasi dan fitoremediasi menggunakan tanaman air melati. Efisiensi penyisihan COD, BOD, Pb, dan warna berturut-turut adalah 91%, 90%, 98%, dan 91%. Berdasarkan uji statistik Kruskal Wallis, variabel jenis tanaman dan waktu detensi tidak berpengaruh nyata terhadap efisiensi penyisihan COD, BOD, Pb, dan warna yang ditunjukkan dengan nilai p > 0,05. Kata Kunci: air limbah batik, filtrasi-fitoremediasi, perlakuan hibrida, bambu air (Equisetum hyemale), melati air (Echinodorus palaefolius
Kajian Keberadaan Mikroplastik Di Wilayah Perairan: Review
Plastik mengalami proses degradasi menjadi mikroplastik (MP) di lingkungan. MP merupakan partikel plastik dengan ukuran diameter kurang dari 5 mm. Saat ini telah ditemukan MP dari berbagai sumber pencemar di lingkungan perairan. Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji keberadaan MP ditinjau dari kelimpahan, ukuran, bentuk, dan jenis MP di lingkungan perairan. Wilayah perairan yang dikaji meliputi danau, sungai, estuari, laut, teluk dan selat. Hasil kajian menunjukkan bahwa kelimpahan MP di lingkungan perairan masing-masing adalah sebesar 57.112 partikel/km2 di danau; 3 x 106 partikel/km2 di sungai; 292 partikel/L di estuari; 6.18 x 105 partikel/km2 di laut; 580 partikel/L di teluk; 32,48 x 105 partikel/L di selat. Dominasi ukuran MP di perairan 0,355 mm - 0,999 mm, dan berbentuk fragmen. Jenis polimer MP yang sering ditemukan di lingkungan perairan adalah polyethylene (PE) dan polyprophylene (PP)
KELAYAKAN KAMPAS REM SEPEDA MOTOR NON ASBESTOS DARI BAHAN AMPAS TEBU (BAGASSE)
Produksi gula tebu menghasilkan limbah ampas tebu yang dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ternak dan pupuk organik. Ampas tebu memiliki kandungan serat, sehingga berpotensi dijadikan bahan alternatif untuk campuran kampas rem kendaraan bermotor non asbestos. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan komposisi terbaik kampas rem kendaraan bermotor non asbestos berbahan ampas tebu tanpa karbonisasi. Penelitian ini berskala laboratoratorium, dengan variasi ampas tebu, serbuk alumunium, serbuk kuningan. Variasi komposisi yang digunakan adalah 1) 50% ampas tebu, 25% serbuk aluminium, 25% serbuk kuningan; 2) 40% ampas tebu, 30% serbuk aluminium, 30% serbuk kuningan; 3) 30% ampas tebu, 35% serbuk aluminium, 35% serbuk kuningan. Perbandingan resin epoxy dan hardener yang digunakan pada setiap variasi komposisi adalah 1:1. Ukuran ampas tebu yang digunakan adalah tanpa ayakan, 50 mesh dan 100 mesh. Parameter uji yang digunakan adalah keausan, kekerasan Vickers, impact dan foto mikroskop. Berdasarkan hasil pengujian keausan, kekerasan Vickers dan impact, kampas rem dari bahan ampas tebu non asbestos yang memenuhi standar adalah komposisi 1 dengan ayakan 50 mesh. Komposisi 1 memiliki nilai keausan, nilai kekerasan dan nilai impact adalah 1,74 mm; 18,90 HVN dan 0,22 joule/mm
KINERJA SISTEM PENGOLAHAN AIR BERSIH DI INSTALASI PENGOLAHAN AIR II NGARES, KABUPATEN TRENGGALEK
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Trenggalek melayani kebutuhan air bersih bagi 14 kecamatan di Kabupaten Trenggalek. Air baku berasal dari Sumber Bayong yang terdapat di lereng Gunung Wilis, dengan debit 240 L/detik. PDAM Kabupaten Trenggalek memiliki 2 Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru, yaitu 1 IPA di Ngares (IPA II) dan 1 IPA di Bendungan (IPA III). Kapasitas pengolahan IPA II dan III masing – masing adalah 40 L/detik. Cakupan layanan IPA II Ngares 7.251 SR, sedangkan cakupan wilayah yang dilayani adalah daerah Karangan, Tugu, Ngantru, dan Jaas. Pada IPA II bangunan pengolahan air bersih meliputi, screen, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan reservoir. Sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) telah diterapkan pada dua IPA tersebut untuk meminimalisir human error. Sistem SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) merupakan sistem dengan kombinasi telemetri dan akuisisi data dimana pada sistem ini dilakukan pengumpulan informasi, lalu ditransfer ke pusat kendali, terjadi analisis dan kontrol, selanjutnya data ditampilkan pada operator display. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kinerja sistem pengolahan menggunakan SCADA pada IPA II Ngares. Metode penelitian dilakukan melalui observasi lapangan selama 6 hari. Parameter penelitian meliputi debit, pH, dan kekeruhan air baku dan air produksi serta dosis koagulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja sistem pengolahan IPA II Ngares dengan SCADA mampu mengurangi kehilangan air selama proses pengolahan, sehingga cakupan pelayanan IPA II Ngares dapat terpenuhi. IPA II Ngares mampu meningkatkan cakupan pelayanan air bersih di Kabupaten Trenggalek hingga 15,3% pada tahun 2020. Penggunaan sistem SCADA mampu menurunkan kekeruhan pada air produksi IPA II Ngares hingga 62,9%
Kualitas Biobriket dari Bahan Campuran Bioslurry dan Sekam Padi sebagai Alternatif Bahan Bakar
Bio-slurry dan sekam padi merupakan potensial material bahan bio-briket karena memiliki nilai kalor yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk i) menganalisis karakteristik bio-slurry dan sekam padi sebagai bahan pembuat bio-briket, ii) menentukan kualitas bio-briket dari bahan campuran bio-slurry dan sekam padi. Komposisi bahan dalam penelitian adalah i) 10 gr bio-slurry : 23 gr sekam padi : 10 gr perekat, ii) 12 gr bio-slurry : 21 gr sekam padi : 10 gr perekat, iii) 14 gr bio-slurry : 19 gr sekam padi : 10 gr perekat, iv) 16 gr bio-slurry : 17 gr sekam padi : 10 gr perekat, v) 17 gr bio-slurry : 15 gr sekam padi : 10 gr perekat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bio-slurry memiliki karakteristik 0,17% kadar air; 3,19% kadar abu; 5002 Kalori/g; 0,77% volatile matter and 95,90% fixed carbon. Karakteristik sekam padi adalah 3% kadar air; 16% kadar abu; 2038 Kalori/g; 0,31% volatile matter; 23,30% fixed carbon. Komposisi yang menghasilkan nilai kalor tertinggi adalah komposisi 10 gr bio-slurry : 23 gr sekam padi : 10 gr perekat. Bio-briket ini memiliki kualitas 0,60% kadar air; 0,52% kadar abu; 4424 Kalori/g; 0,35% volatile matter; 98,93% fixed carbon
EVALUASI SISTEM PENGOLAHAN DAN DISTRIBUSI AIR BERSIH PDAM KOTA PROBOLINGGO
PDAM Kota Probolinggo menggunakan sumber air baku dari Mata Air Danau Ronggojalu yang terletak di Desa Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo. Kapasitas sumber air baku yaitu 3000 L/detik. Air baku tersebut diolah di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Ronggojalu. Sistem pengolahan di IPA Ronggojalu terdiri atas unit intake, desinfeksi, dan reservoir. Kapasitas produksi IPA Ronggojalu adalah 390 L/detik. Wilayah pelayanan IPA Ronggojalu ini adalah 5 kecamatan, yaitu Wonoasih, Mayangan, Kedopok, Kanigaran, Kademangan. Cakupan pelayanan air bersih PDAM Kota Probolinggo tahun 2019 sebesar 59,62% atau sebanyak 19.938 sambungan rumah. Namun, cakupan ini masih di bawah target yang ditetapkan pemerintah setempat, yaitu sebesar 80% dari jumlah penduduk. Sebagian besar penduduk masih menggunakan sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem pengolahan dan sistem distribusi di IPA Ronggojalu PDAM Kota Probolonggo. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi (survei lapangan), wawancara, dan studi literatur. Data penelitian meliputi eksisting jaringan pipa, data pelanggan, cakupan layanan, wilayah cakupan reservoir, dan layout IPAM. Data tersebut kemudian dievaluasi menggunakan software Epanet 2.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 49 segmen pipa utama distribusi yang memiliki kecepatan di bawah 0,3 m/s dan terdapat 28 titik junction yang belum memenuhi baku mutu nilai tekanan ( 5 m).
