29 research outputs found
Aplikasi Cairan Pelumas Pada Pengeboran Pelat ASTM A1011 Menggunakan Mata Bor HSS
Perkembangan ilmu terapan di bidang industri manufaktur terus bergerak hingga kemajuan teknologinya, salah satu bidang yang mengalami perkengan pesat itu adalah bidang permesinan. Proses permesinan yang dilakukan secara terus menerus misalnya pada pengeboran akan menyebabkan aus nya mata bor yang digunakan, karena adanya peningkatan suhu pemesinan. Penggunaan beberapa jenis cairan pendingin seperti oli sintetis dan minyak kelapa diharapkan dapat menurunkan suhu permesinan sehingga mengurangi keausan yang terjadi pada mata bor HSS yang digunakan. Diaplikasikan dengan cara menyemprotkan cairan pelumas secara terus-menerus pada permukaan benda kerja yang bersinggungan dengan mata bor pada kecepatan putaran (n) konstan pada 443 rpm, sedangkan variasi pada gerak makan (f) sebesar 0.1 mm/rev, 0.18 mm/rev serta 0.24 mm/rev. Umur pakai mata bor yang didapat pada pengujian tanpa pelumas dengan putaran (n) = 443, gerak makan (f) = 0.1 mm/rev serta nilai keausan mata bor (vb) = 0.3 mm adalah 2.02 menit. Untuk penggunaan oli sintetis dengan kecepatan putaran dan gerak makan yang sama, didapat umur pakai mata bor selama 4.71 menit atau meningkat sebesar 54%. Peningkatan itu dibandingkan pada proses pengeboran tanpa menggunakan cairan pelumas. Sedangkan dengan penggunaan minyak kelapa, umur pakai mata bor selama 4.05 menit atau meningkat sebesar 48%. Dengan demikian nampak jelas bahwa penggunaan cairan pelumas mampu menurunkan tingkat keausan mata bor, terutama pada penggunaan oi sintetis.
Kata kunci: aus, HSS, suhu, pengeboran, pelumas
Implementasi Sistem Gasifikasi untuk Pengeringan Biji Kopi
Sebagai salah satu daerah produksi kopi, Provinsi Lampung telah menjadi sentra pengelolaan kopi, yang terbentang sepanjang bukit barisan. Dua kabupaten penghasil kopi adalah Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus, yang rata-rata produksinya mencapai 1,2 ton setiap 1 hektar lahan perkebunan Proses pengolahan kopi terdiri dari pengolahan primer maupun sekunder, yang mana pada tahap primer proses pengeringan adalah proses yang paling penting. Oleh karena itu, untuk perbaikan proses pengolah kopi biji menjadi biji kopi kering yang berstandar dilakukan dengan introduksi teknologi pengering sistem gasifikasi yang dikombinasi dengan alat penukas kalor. Udara yang masuk ke ruang pengering adalah udara segar (bersih) yang terbebas dari efek pembakaran. Alat pengering sistem gasifikasi ini dapat menghasilkan suhu di dalam ruangan melebihi 50°C, kondisi ini sudah lebih baik untuk proses pengeringan jika dibandingkan dengan proses pengeringan yang dilakukan secara hamparan di atas tanah atau semen. Suhu masih bisa ditingkatkan dengan pengaturan kecepatan dan jumlah udara panas yang dialirkan ke ruang pengering. Sedangkan reaktor gasifikasi mampu menghasilkan suhu tinggi pada pipa keluar reaktor yaitu sekitar 350 °C. Penyaluran uadar panas ke alat penukar kalor akan pemanaskan udara di dalam pipa kecil penukar kalor. Udara panas bersih di dalam pipa kecil yang disalurkan ke dalam ruang pengering dapat mencapai suhu 55 °C.Keywords: pengering, gasifikasi, kopi, reactor,penukar kalor.
EXPERIMENTAL STUDY IMPROVEMENT OF QUALITY OF HOE ON SMALL METAL INDUSTRY IN THE DISTRIC PRINGSEWU
Considering the extent of agriculturalland Pringsewu District, then surely it takes quality agricultural equipment that can launch the agricultural activities in the region. Hoe is one of agricultural equipment that need to be upgraded. Previously been conducted making a hoe by Small Metal Industries in District Pringsewu cooperation with the Ministry of Industry by adjusting the conditions of the local ordinary farmland gardening, but the result have not been up in terms of both size and hardness values.Research in improving the quality of hoe is done to get the size and hardness values that follow the standard SNI 02-0331-1989. Materials used in this study was AISI 1020 steel. In order to fit a standard hoe, then made modifications to the dimensions of hoe, and to increase its hardness value according to the standard, pack carburizing method is used with a cheap media there are Albizia wood charcoal, palm shell waste, and low rank coal.The result of research have shown that after the modification in size, the hoe has been able to comply SNI standard while maintaining the curvature of the hoe in order to guarantee a splash of water disturbance at the time of digging remained insurmountable. Then the value of hardness standard hoe KW III was achieved at 39 HRC, obtained from the hoe to use the media pack carburizing Albizia wood charcoalKeywords : hoe, quality improvement, AISI 1020, pack carburizing, SN
Potensi Pengembangan Teknologi Proses Produksi Kopi Lampung
AbstractJumlah produksi kopi Lampung semakin hari semakin meningkat sehingga semakin menjadi perhatian di pasar nasional. Hal ini seiring dengan usaha pemerintah dan lembaga penelitian melakukan perbaikan kualitas produksi kopi. Salah satu usaha yang dikembangkan untuk meningkatkan nilai jual kopi adalah perbaikan terhadap proses pengolahan kopi. Usaha pengolahan kopi secara konvensional dibaiki dengan cara mengimplementasi mesin proses pengolah kopi yang memperhatikan kapasitas, efisiensi dan lingkungan sehingga dapat meningkatkan kwalitas dan kwantitas kopi Lampung. Pengimplementasian pengering mekanis dengan memanfaat sinar matahari, teknologi gasifikasi dan proses pengolahan menggunakan mesin akan meningkatkan produktivitas baik secara kwalitas maupun kwantitas. Kata kunci: proses produksi, kopi Lampung, pengembangan, kwalitas
Rancang Bangun dan Unjuk Kerja Mesin Pengupas Kulit Biji Kopi Basah Sistem Rol Karet yang Produktif dan Ergonomik
One of the sub-process of coffee production is wet coffee processing. It is done to reduce the longer of drying time. So, it can minimize the growth of okhratoksin mushroom which can reduce the quality of coffee beans.There are some steps in doing this research, as follow; the first, choosing peeler knife by using weighted rating method the second, using ergonomic and anthropometry value tofind out dimension of the machine and choosing machine component. The third, attempting the machine performance. The fourth, calculating the breakeven point.The results showed that the specification machine with the length of wall is 420mm, the width of leg machines is 610 mm, the width of the machine is 490mm, high machine is 1200mm which is adjusted by measurement of Indonesian people anthropometric. Engine capacity with 600 kg / hour by moving the machine is an electric motor 1 phase and with rotation 1400 rpm. Transmission system used V-belt with diameter 32mm could connect reduction gear and transmitted sprocket to the cylinder axis cylinder axis peeler paring. Cylindrical roller paring used rubberroller (natural rubber, NR) with cylinder angle 450 and knife distance 7mm. Construction pattern of 70mmx70mmx7mm corner profile and casing used 7mm thickness plat with AISI steel 1045 and 1015. Breakeven value of Rp. 17.288 with production volume is 432kg.Keywords: Coffee, Ergonomic, Anthropometry, Natural Rubber, Steel AISI 1045 and 1015, Electrical motor
Aplikasi Cairan Pelumas Pada Pengeboran Pelat ASTM A1011 Menggunakan Mata Bor HSS
Perkembangan ilmu terapan di bidang industri manufaktur terus bergerak hingga kemajuan teknologinya, salah satu bidang yang mengalami perkengan pesat itu adalah bidang permesinan. Proses permesinan yang dilakukan secara terus menerus misalnya pada pengeboran akan menyebabkan aus nya mata bor yang digunakan, karena adanya peningkatan suhu pemesinan. Penggunaan beberapa jenis cairan pendingin seperti oli sintetis dan minyak kelapa diharapkan dapat menurunkan suhu permesinan sehingga mengurangi keausan yang terjadi pada mata bor HSS yang digunakan. Diaplikasikan dengan cara menyemprotkan cairan pelumas secara terus-menerus pada permukaan benda kerja yang bersinggungan dengan mata bor pada kecepatan putaran (n) konstan pada 443 rpm, sedangkan variasi pada gerak makan (f) sebesar 0.1 mm/rev, 0.18 mm/rev serta 0.24 mm/rev. Umur pakai mata bor yang didapat pada pengujian tanpa pelumas dengan putaran (n) = 443, gerak makan (f) = 0.1 mm/rev serta nilai keausan mata bor (vb) = 0.3 mm adalah 2.02 menit. Untuk penggunaan oli sintetis dengan kecepatan putaran dan gerak makan yang sama, didapat umur pakai mata bor selama 4.71 menit atau meningkat sebesar 54%. Peningkatan itu dibandingkan pada proses pengeboran tanpa menggunakan cairan pelumas. Sedangkan dengan penggunaan minyak kelapa, umur pakai mata bor selama 4.05 menit atau meningkat sebesar 48%. Dengan demikian nampak jelas bahwa penggunaan cairan pelumas mampu menurunkan tingkat keausan mata bor, terutama pada penggunaan oi sintetis.
Kata kunci: aus, HSS, suhu, pengeboran, pelumas
Aplikasi Cairan Pelumas Pada Pengeboran Pelat ASTM A1011 Menggunakan Mata Bor HSS
Perkembangan ilmu terapan di bidang industri manufaktur terus bergerak hingga kemajuan teknologinya, salah satu bidang yang mengalami perkengan pesat itu adalah bidang permesinan. Proses permesinan yang dilakukan secara terus menerus misalnya pada pengeboran akan menyebabkan aus nya mata bor yang digunakan, karena adanya peningkatan suhu pemesinan. Penggunaan beberapa jenis cairan pendingin seperti oli sintetis dan minyak kelapa diharapkan dapat menurunkan suhu permesinan sehingga mengurangi keausan yang terjadi pada mata bor HSS yang digunakan. Diaplikasikan dengan cara menyemprotkan cairan pelumas secara terus-menerus pada permukaan benda kerja yang bersinggungan dengan mata bor pada kecepatan putaran (n) konstan pada 443 rpm, sedangkan variasi pada gerak makan (f) sebesar 0.1 mm/rev, 0.18 mm/rev serta 0.24 mm/rev. Umur pakai mata bor yang didapat pada pengujian tanpa pelumas dengan putaran (n) = 443, gerak makan (f) = 0.1 mm/rev serta nilai keausan mata bor (vb) = 0.3 mm adalah 2.02 menit. Untuk penggunaan oli sintetis dengan kecepatan putaran dan gerak makan yang sama, didapat umur pakai mata bor selama 4.71 menit atau meningkat sebesar 54%. Peningkatan itu dibandingkan pada proses pengeboran tanpa menggunakan cairan pelumas. Sedangkan dengan penggunaan minyak kelapa, umur pakai mata bor selama 4.05 menit atau meningkat sebesar 48%. Dengan demikian nampak jelas bahwa penggunaan cairan pelumas mampu menurunkan tingkat keausan mata bor, terutama pada penggunaan oi sintetis.
Kata kunci: aus, HSS, suhu, pengeboran, pelumas
Implementasi Sistem Gasifikasi Untuk Pengeringan Biji Kopi
Sebagai salah satu daerah produksi kopi, Provinsi Lampung telah menjadi sentra pengelolaan kopi, yang terbentang sepanjang bukit barisan. Dua kabupaten penghasil kopi adalah Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus, yang rata-rata produksinya mencapai 1,2 ton setiap 1 hektar lahan perkebunan Proses pengolahan kopi terdiri dari pengolahan primer maupun sekunder, yang mana pada tahap primer proses pengeringan adalah proses yang paling penting. Oleh karena itu, untuk perbaikan proses pengolah kopi biji menjadi biji kopi kering yang berstandar dilakukan dengan introduksi teknologi pengering sistem gasifikasi yang dikombinasi dengan alat penukas kalor. Udara yang masuk ke ruang pengering adalah udara segar (bersih) yang terbebas dari efek pembakaran. Alat pengering sistem gasifikasi ini dapat menghasilkan suhu di dalam ruangan melebihi 50°C, kondisi ini sudah lebih baik untuk proses pengeringan jika dibandingkan dengan proses pengeringan yang dilakukan secara hamparan di atas tanah atau semen. Suhu masih bisa ditingkatkan dengan pengaturan kecepatan dan jumlah udara panas yang dialirkan ke ruang pengering. Sedangkan reaktor gasifikasi mampu menghasilkan suhu tinggi pada pipa keluar reaktor yaitu sekitar 350 °C. Penyaluran uadar panas ke alat penukar kalor akan pemanaskan udara di dalam pipa kecil penukar kalor. Udara panas bersih di dalam pipa kecil yang disalurkan ke dalam ruang pengering dapat mencapai suhu 55 °C
Potensi Pengembangan Teknologi Proses Produksi Kopi Lampung
Jumlah produksi kopi Lampung semakin hari semakin meningkat sehingga semakin menjadi perhatian di pasar nasional. Hal ini seiring dengan USAha pemerintah dan lembaga penelitian melakukan perbaikan kualitas produksi kopi. Salah satu USAha yang dikembangkan untuk meningkatkan nilai jual kopi adalah perbaikan terhadap proses pengolahan kopi. Usaha pengolahan kopi secara konvensional dibaiki dengan cara mengimplementasi mesin proses pengolah kopi yang memperhatikan kapasitas, efisiensi dan lingkungan sehingga dapat meningkatkan kwalitas dan kwantitas kopi Lampung. Pengimplementasian pengering mekanis dengan memanfaat sinar matahari, teknologi gasifikasi dan proses pengolahan menggunakan mesin akan meningkatkan produktivitas baik secara kwalitas maupun kwantitas
