1,720,989 research outputs found
. Klasifikasi Habitat Dasar Perairan Dangkal Gugusan Pulau Pari Dengan Menggunakan Citra Worldview-2 Dan Alos Avnir, Kepulauan Seribu, Dki Jakarta
Perairan laut tropis dangkal memiliki beberapa macam ekosistem yaitu terumbu karang, padang lamun, pantai berpasir dan mangrove, yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Tujuan penelitian ini adalah mengklasifikasikan habitat dasar komunitas bentik menggunakan citra WordlView-2 dan ALOS AVNIR di gugusan Pulau Pari. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data lapang di Gugusan Pulau Pari tanggal 28 Maret-1 April 2014 menggunakan GPS dan alat selam, analisis data, serta analisis penilaian akurasi dengan confussion matrix. Habitat dasar diklasifikasi transformasi Lyzenga menjadi 12 kelas. Hasil uji akurasi citra WorldView-2 sebesar (50,37%) dan citra ALOS AVNIR sebesar 57,8 %. Tutupan karang hidup tergolong sedang di bagian Selatan Pulau Pari, dengan nilai 35,62%. Kondisi tutupan substrat dasar yang tergolong buruk terlihat di bagian Timur Pulau Burung dan Utara Pulau Kongsi dengan nilai 19,03% dan 10,21%. Nilai IMK tertinggi terdapat di lokasi Utara Pulau Kongsi
Model Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu : Studi Kasus Pengembangan Budidaya Rumput Laut Di Perairan Kabupaten Luwu Dan Kota Palopo, Teluk Bone, Sulawesi Selatan
Rumput laut merupakan komoditas unggulan di Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Luwu dan Kota Palopo. Berdasarkan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Luwu dan DKP Kota Palopo tahun 2015, produksi rumput laut kering jenis Eucheuma cottonii sejak tahun 2010-2014 di kedua daerah tersebut setiap tahun terus mengalami peningkatan. Hasil produksi rumput laut di Kabupaten Luwu tahun 2010 dan 2014 sebesar 183.202,80 ton dan 356.385,50 ton dengan persentase kenaikan rata-rata setiap tahun sebesar 18,50% (DKP Kabupaten Luwu 2015). Produksi rumput laut di Kota Palopo tahun 2010 dan 2014 sebesar 2.227,04 ton dan 3.112,31 ton dengan persentase kenaikan rata-rata setiap tahun sebesar 40,38% (DKP Kota Palopo 2015). Selain itu, luas lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut setiap tahun juga mengalami peningkatan, dimana luas lahan di Kabupaten Luwu tahun 2014 sebesar 10.469,24 hektar (DKP Kabuaten Luwu 2015) dan di Kota Palopo sebesar 313,60 hektar (DKP Kota Palopo 2015). Produktivitas rumput laut dari tahun 2008-2014 di Kabupaten Luwu mencapai sebesar 24,05 ton/hektar/tahun dan di Kota Palopo tahun 2008-2014 adalah 10,32 ton/hektar/tahun.
Berdasarkan beberapa data tersebut menunjukkan bahwa perairan di Kabupaten Luwu dan Kota Palopo mempunyai potensi yang sangat besar untuk budidaya rumput laut, maka sangat diperlukan usaha pengelolaan secara terpadu sehingga akan dapat mempertahankan dan meningkatkan produksi rumput laut. Salah satu cara yang dapat digunakan dalam pengelolaan secara terpadu usaha pemanfaatan perairan untuk budidaya rumput laut adalah dengan mengukur daya dukung (carrying capacity) suatu perairan. Pendekatan yang dapat diterapkan untuk mengukur daya dukung (carrying capacity) perairan dalam upaya pengelolaan usaha budidaya rumput laut secara berkelanjutan pada penelitian ini adalah dengan analisis ecological footprint (EF) dan mass balance konsentrasi nitrat (NO3). Pendekatan EF didasarkan pada tingkat pemanfaatan terhadap suatu sumberdaya dan produktivitas perairan yang ada (biocapacity/BC) (Bastianoni et al. 2013). Adapun pendekatan model mass balance konsentrasi nitrat didasarkan pada seberapa besar ketersediaan nutrien nitrat yang mampu untuk mendukung pertumbuhan rumput laut secara optimal pada luasan lahan tertentu.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2015 (musim peralihan 1) dan September 2015 (musim peralihan 2) untuk memetakan dan menganalisis daya dukung perairan serta membuat model pengelolaan pesisir untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii di Kabupaten Luwu dan Kota Palopo, Sulawesi Selatan dengan pendekatan konsep analisis ecological footprint (EF) dan mass balance konsentrasi nitrat serta Sistem Informasi Geografis.
Hasil analisis daya dukung perairan gabungan dua musim di Kabupaten Luwu berdasarkan ecological footprint (EF) menunjukkan bahwa total luas area yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut adalah 30.987,45 hektar.
iv
Sedangkan daya dukung perairan yang sebenarnya berdasarkan mass balance nitrat adalah 38.374,69 hektar, sehingga masih terdapat potensi untuk melakukan peningkatan pemanfaatan lahan perairan sebesar 7.387,24 hektar. Apabila akan memanfaatkan secara maksimal sampai batas yang masih bisa ditoleransi oleh perairan, maka luas maksimal adalah 48.083,93 hektar. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan perairan sampai sejauh 4 mill laut sebagai acuan batas wilayah perairan kabupaten/kota, maka luas total perairan Kabupaten Luwu adalah 66.169,61 hektar. Dengan demikian, apabila akan memanfaatkan potensi perairan untuk budidaya rumput laut sampai batas maksimum yang masih ditoleransi perairan yaitu seluas 48.083,93 hektar, maka terdapat selisih luasan perairan sebesar 18.085,68 hektar. Selisih luasan inilah yang dijadikan sebagai area penyangga (buffer zone) sehingga pasokan dan ketersediaan nutrien untuk pertumbuhan rumput laut tetap terjaga. Apabila akan memanfaatkan secara maksimal, maka batas luasan yang ditoleransi adalah 72,67% dari luasan perairan yang ada.
Hasil analisis daya dukung perairan gabungan dua musim di Kota Palopo berdasarkan ecological footprint (EF) menunjukkan bahwa total luas area yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut adalah 2.520,11 hektar. Sedangkan daya dukung perairan yang sebenarnya berdasarkan mass balance nitrat adalah 979,82 hektar, sehingga terdapat selisih luasan area sebesar 1.540,29 hektar. Apabila akan memanfaatkan secara maksimal sampai batas yang masih bisa ditoleransi oleh perairan, maka luas maksimal adalah 1.418,43 hektar, sehingga terdapat selisih luasan area sebesar 1.101,68 hektar. Selisih inilah yang dijadikan sebagai area penyangga (buffer zone) sehingga pasokan dan ketersediaan nutrien untuk pertumbuhan rumput laut di Kota Palopo tetap terjaga. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan perairan sampai sejauh 4 mill laut sebagai acuan batas wilayah perairan kabupaten/kota, maka luas total perairan Kota Palopo adalah 7.740,81 hektar. Dengan demikian, apabila akan memanfaatkan potensi perairan untuk budidaya rumput laut sampai batas maksimum yang masih ditoleransi perairan yaitu seluas 1.418,43 hektar, maka terdapat selisih luasan perairan sebesar 6.322,38 hektar. Selisih luasan inilah yang dijadikan sebagai area penyangga (buffer zone) sehingga pasokan dan ketersediaan nutrien untuk pertumbuhan rumput laut tetap terjaga. Apabila akan memanfaatkan secara maksimal, maka batas luasan yang ditoleransi adalah 18,32% dari luasan perairan yang ada.
Berdasarkan hasil simulasi empat skenario pengelolaan untuk pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Luwu menunjukkan bahwa pada skenario 2 dengan menekan masukan limbah sebesar 10% dari masukan limbah eksisting saat ini, serta dengan asumsi memanfaatkan seluruh ketersediaan perairan seluas 38.374,69 secara terus menerus, maka akan menghasilkan biocapacity perairan yang paling tinggi yaitu sebesar 8.257.274,94 ton/tahun. Begitu juga dengan pengelolaan rumput laut di Kota Palopo dengan skenario 2 dengan asumsi memanfaatkan seluruh ketersediaan perairan seluas 979,82 hektar akan menghasilkan biocapacity perairan yang paling tinggi sebesar 14.306,92 ton/tahun
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Pengelolaan Kawasan Pesisir untuk Kegiatan Budi daya Laut (Studi Kasus : Teluk Awang dan Teluk Bumbang, Nusa Tenggara Barat).
Wilayah pesisir memiliki arti strategis sebagai wilayah peralihan antara
ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumberdaya yang beragam.
Pengembangan marikultur atau perikanan budi daya di suatu perairan didasarkan
kepada potensi perairan itu sendiri. Dilihat dari prospek kegiatan budi daya laut di
Teluk Awang dan Teluk Bumbang, Lombok Tengah yang sangat menjanjikan
serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir, keberlanjutan
kegiatan budi daya ini sangat bergantung pada kesesuaian lahan perairan dan daya
dukung lingkungan dengan memanfaatkan data dan informasi yang terintegrasi,
aktual dan akurat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi parameter
biofisik perairan Teluk Awang dan Teluk Bumbang, menganalisis kesesuaian
lahan secara spasial dan daya dukung perairan sebagai wadah pengembangan budi
daya.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai November 2015 di
Teluk Awang dan Teluk Bumbang, Nusa Tenggara Barat. Data primer
dikumpulkan melalui survey dilapangan dan dilengkapi dengan data sekunder dari
sumber yang telah ada. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kesesuaian lahan, daya dukung, dan analisis hierarki proses (AHP). Hasil analisis
kesesuaian lahan rumput laut di Teluk Awang termasuk kategori kelas sesuai (S1)
dengan luasan sebesar 222.164 ha dan kelas sesuai (S1) budi daya rumput laut
Teluk Bumbang dengan luasan sebesar 804.35 ha. Kelas kesesuaian ikan kerapu
(Epinephelus sp) pada keramba jaring apung Teluk Awang berada pada kelas
sesuai (S1) dengan luasan sebesar 167.273 ha dan kelas sesuai (S1) budi daya ikan
(Epinephelus sp) Teluk Bumbang dengan luasan 699.642 ha.
Hasil analisis daya dukung untuk rumput laut di Teluk Awang dengan
kapasitas lahan perairan sebesar 11.108 ha dengan jumlah unit sebanyak 2 221
unit, sedangkan untuk daya dukung rumput laut di Teluk Bumbang dengan
kapasitas lahan perairan sebesar 40.218 ha dengan jumlah unit sebanyak 8 043
unit. Hasil daya dukung perairan dengan pendugaan limbah untuk budi daya ikan
dalam KJA di Teluk Awang dapat menampung limbah sebesar 0.2964 mg/l
dengan jumlah budi daya KJA sebanyak 67 unit, sedangkan daya dukung perairan
dengan pendugaan limbah untuk budi daya ikan dalam KJA di Teluk Bumbang
dapat menampung limbah sebesar 0.2973 mg/l dengan jumlah unit budi daya
sebanyak 248 unit. Berdasarkan hasil analisis hierarki proses (AHP) untuk
optimalisasi pengembangan budi daya laut dengan alternatif prioritas adalah budi
daya ikan dalam KJA, hal ini didukung budi daya ikan dalam KJA merupakan
komoditi unggulan ekspor dan menjanjikan. Alternatif prioritas kedua adalah budi
daya rumput laut dengan adanya ketersediaan bibit yang memadai dan mudah di
budi dayakan
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
