55 research outputs found

    Pola Pengeluaran dan Konsumsi Rumah Tangga Perdesaan: Komparasi Antartipe Agroekosistem

    Full text link
    Berbicara terkait pangan tidak ada habisnya selama manusia masih membutuhkan pangan karena pangan merupakan hak asasi manusia. Terkait dengan hal ini, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan dan memantapkan ketahanan pangan agar kebutuhan pangan masyarakatnya dapat terpenuhi. Konsep pangan merupakan konsep eksistensi dan fungsionalisasi manusia dalam kehidupannya. Menurut Ariani (2015), fungsi pangan dapat berbeda-beda, seperti fungsi fisiologis/biologis agar manusia sehat; fungsi sosial/komunikasi; fungsi budaya sebagai identitas budaya atau ciri daerah/etnik; fungsi religi terkait dengan keyakinan, upacara khusus; fungsi ekonomi terkait pendapatan masyarakat dan harga pangan; fungsi politis terkait dengan kekuatan/kekuasaan; serta fungsi kelestarian dan lingkungan hidup. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mapandin (2006) untuk kasus rumah tangga di Kecamatan Wamena, Kabupaten Jayawijaya menunjukkan bahwa ubi jalar sebagai makanan pokok memiliki nilai budaya. Rumah tangga menggunakan ubi jalar sebagai simbol nilai untuk komunikasi, religi, persahabatan, nilai ekonomi, dan sebagai tradisi. Banyak faktor yang memengaruhi pola konsumsi pangan rumah tangga. Menurut Hattas (2011), faktor-faktor yang memengaruhi pola konsumsi, di antaranya (1) Tingkat pendapatan masyarakat. Tingkat pendapatan dapat digunakan untuk dua tujuan, yaitu konsumsi dan tabungan. Besar kecilnya pendapatan yang diterima seseorang akan memengaruhi pola konsumsi. Semakin besar tingkat pendapatan seseorang, biasanya akan diikuti dengan tingkat konsumsi yang tinggi, sebaliknya tingkat pendapatan yang rendah akan diikuti dengan tingkat konsumsi yang rendah pula. (2) Selera konsumen. Setiap orang memiliki keinginan yang berbeda dan ini akan memengaruhi pola konsumsi. Konsumen akan memilih satu jenis barang untuk dikonsumsi dibandingkan jenis barang lainnya. (3) Harga barang. Jika harga suatu barang mengalami kenaikan maka konsumsi barang tersebut akan mengalami penurunan. Sebaliknya, jika harga suatu barang mengalami penurunan maka konsumsi barang tersebut akan mengalami kenaikan. (4) Tingkat pendidikan masyarakat. Tinggi rendahnya pendidikan masyarakat akan memengaruhi terhadap perilaku, sikap dan kebutuhan konsumsinya. (5) Jumlah keluarga. Besar kecilnya jumlah keluarga akan memengaruhi pola konsumsinya. (6) Lingkungan. Keadaan sekeliling dan kebiasaan lingkungan akan memengaruhi perilaku konsumsi pangan masyarakat setempat

    Arah, Kendala dan Pentingnya Diversifikasi Konsumsi Pangan di Indonesia

    Full text link
    EnglishFood consumption diversification (FCD) is possible to develop in Indonesia, a country consisting of thousands of islands with various social and economic circumstances, and diversified soil fertility and regional potentials. This paper aims to describe direction, constraints and importance of FCD. The FCD policy was designed to decrease rice consumption and began since early 1960’s, but the reality shows that rice as staple food in all provinces tends to intensify. People tend to dislike local food, such as corn and tubers, and they tend to enjoy global food, such as noodle. Some factors constraining FCD are: (1) rice is more tasteful and easier to cook, (2) concept of eating in which people have to eat rice in their menus, (3) rice as superior commodity is available abundantly and its price is cheap, (4) low community’s income, (5) low technology processing and less promotion of non rice food, (6) overlapped food policies, and (7) wheat import policy and intensive noodle products promotion. It is important to have a successful program on FCD because it will not improve human resource only, but it will also have positive impact on food security, farmers’ income, food agro industry, and saving foreign exchange.IndonesianIndonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan keragaman sosial, ekonomi, kesuburan tanah dan potensi daerah, memungkinkan untuk tercipta diversifikasi konsumsi pangan (DKP). Makalah ini bertujuan untuk menganalisis arah, kendala dan pentingnya DKP. Kebijakan DKP bertujuan untuk menurunkan konsumsi beras sudah dirintis sejak awal tahun 60-an, namun kenyataan menunjukkan posisi beras sebagai pangan pokok di semua provinsi semakin kuat. Pangan lokal seperti jagung dan umbi-umbian ditinggalkan masyarakat, sebaliknya pangan global seperti mi semakin banyak digemari. Beberapa faktor yang menjadi penghambat DKP adalah karena rasa beras lebih enak dan mudah diolah, konsep makan, merasa belum makan kalau belum makan nasi, beras sebagai komoditas superior ketersediaannya melimpah dengan harga yang murah, pendapatan masyarakat masih rendah, teknologi pengolahan dan promosi pangan non beras masih rendah, kebijakan pangan yang tumpang tindih, serta kebijakan impor gandum dan promosi produk mi yang gencar. Keberhasilan kebijakan DKP penting tidak hanya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, tetapi juga berdampak positif pada ketahanan pangan, pendapatan petani dan agroindustri pangan serta menghemat devisa

    Ketahanan Pangan, Konsep, Pengukuran dan Strategi

    Full text link
    EnglishFood is the basic need for living and conducting daily activities, meanwhile food security is mandatory for productive and healthy life. The understanding of food security dimensions is important as a starting point on the respective study. The objectives of this paper are to analyze : (1) The concept, (2) The measurement and indicators; and (3) The approach or strategy to achieve food security. Analysis was done by reviewing several research reports and related papers. The study shows that : (1) Concept and definition of food security is changing due to intertemporal complexity of the problem; (2) Food security broad in nature, therefore relevance and various indicators is needed on its measurement; and (3) To achieve food security, food availability as well as entitlement approach need to be considered, sustainable food security, a new paradigm need to be formulated. IndonesianPangan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk dapat hidup dan melakukan aktivitas sehari-hari, sedang ketahanan pangan adalah jaminan bagi manusia untuk hidup sehat dan bekerja secara produktif. Pemahaman berbagai aspek ketahanan pangan merupakan pengetahuan penting dalam mengawali jenis studi ini. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji: (1) Konsep; (2) Pengukuran dan indikator; dan (3) pendekatan atau strategi untuk mencapai ketahanan pangan. Kajian di lakukan melalui studi pustaka dari berbagai hasil penelitian dan tulisan yang terkait dengan aspek kajian. Hasil kajian menunjukan bahwa: (1) Konsep serta pengertian tentang ketahanan pangan berkembang sesuai dengan kompleksitas permasalahan dari waktu ke waktu; (2) Dimensi ketahanan pangan sangat luas sehingga di perlukan banyak indikator untuk mengukurnya; dan (3) untuk mencapai ketahanan pangan, pendekatan ketersediaan pangan dan kepemilikan perlu di pertimbangkan dan untuk ketahanan pangan berkelanjutan diperlukan suatu paradigma baru

    Pola Konsumsi Pangan Pokok di Beberapa Propinsi di Indonesia

    Full text link
    IndonesianDengan menggunakan data Susenas disertai beberapa penyesuaian untuk menghitung konsumsi energi dari makanan jadi dan makanan lainnya, tulisan ini menelaah tentang pola konsumsi pangan pokok dan struktur pengeluaran pangan sumber karbohidrat di beberapa propinsi di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat konsumsi beras di daerah pedesaan secara umum relatif lebih tinggi daripada di perkotaan, demikian halnya untuk konsumsi jagung dan umbi-umbian. Tingkat konsumsi beras tertinggi di Jawa adalah Jawa Barat, sedangkan diluar Jawa adalah DI. Aceh (pedesaan) dan Nusa Tenggara Barat (perkotaan). Propinsi yang mempunyai pola konsumsi makanan pokok tunggal (beras) adalah DKI dan Aceh, sedangkan propinsi yang lain memiliki pola konsumsi makanan pokok yang berbeda yaitu beras, jagung, umbi-umbian dan sagu yang masing-masing bervariasi urutannya berdasar besarnya sumbangan energinya. Sementara itu ditemukan pula bahwa pengeluaran untuk padi-padian merupakan proporsi terbesar diantara pengeluaran pangan yang lain. Kecukupan konsumsi energi rumahtangga sebagian besar bertumpu pada beras. Oleh sebab itu disarankan perlunya peningkatan penyuluhan gizi kepada rumah tangga agar konsunmsi pangan sumber karbohidrat tidak tertumpu pada beras saja. Peningkatan konsumsi makanan selain beras tidak harus sebagai pangan pokok tetapi dapat berbentuk makanan selingan. Untuk itu perlu didukung oleh usaha peningkatan teknologi pengolahan pangan non beras

    Penawaran dan Permintaan Komoditas Kacangkacangan dan Umbi-umbian di Indonesia

    Full text link
    The food policy is so strong on rice commodity and less noticing other foodcommodities. The objectives of this paper is to analyze supply and demand of beansand tubers in Indonesia, using secondary data from Center Bureaue of Statistic (CBS).The Results are : 1) economic crisis cause the production of beans and tubers decreasedue to the decreasing of planted area. The import of those commodity increase but theirvolume of export tend to decrease; 2) the economic crisis also induces impact onincreasing soybeans and cassava consumption as a result of substitution from animal tovegetables food and from rice to cassava.; 3) food and feed industries development hasa positive growth that can be seen from the increasing volume and value of outputproduct from beans and tubers; 4) in the next 10 years, demand of soybeans will beincreasing but their production tend to decrease. The demand of cassava is alsoincreasing and the production will be decreasing so it cause negative gap betweendemand and production in 2006. In anticipating the demand of beans and tubers,especially for soybeans and cassava, Indonesian Agency of Agricultural Research andDevelopment (AARD) has important role to develop farm technology for increasingproductivity of both commodity. The AARD has a challenge to invent the high varietyof commodity which technically suitable, economically profitable and sociallyacceptable. On the other hand, Indonesian government should arrange tariff policy inimport commodity procedure, especially soybeans, to give protection to the farmer

    Analisa Permintaan Waktu Luang Keluarga Petani PIR-Karet Nes I Talang Jaya Sumatera Selatan

    No full text
    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Abstrak&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Analisa curahan tenaga kerja dapat dilakukan dengan menganalisa permintaan waktu luang keluarga. Secara teoritis yang berguna langsung bagi seseorang adalah waktu luang dan barang yang dikonsumsi. Pencurahan tenaga kerja hanyalah untuk memperoleh pendapatan yang selanjutnya dipergunakan untuk membeli barang-barang konsumsi. Tujuan penelitian ini untuk melihat perilaku permintaan waktu luang keluarga petani PIR, yang analisisnya dititik-beratkan pada peranan karakteristik keluarga berdasarkan teori perilaku konsumen. Metode yang digunakan adalah fungsi kepuasan Stone-Geary. Hasil analisis menunjukkan bahwa seseorang yang berpendapatan tinggi, cenderung menggunakan waktu luang besar (curahan tenaga kerja rendah). Curahan tenaga kerja juga dipengaruhi oleh umur kepala keluarga, jumlah anggota keluarga dan jurnlah anak berumur dibawah lima tahun. Salah satu usaha yang dapat ditempuh untuk merangsang petani muda lebih giat bekerja adalah dengan meningkatkan ketrampilan berusahatani melalui pendidikan umum dan penyuluhan usahatani.&lt;/p&gt;</jats:p

    PERCEPATAN DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN BERBASIS PANGAN LOKAL : PERSPEKTIF PEJABAT DAERAH DAN STRATEGI PENCAPAIANNYA

    Full text link
    Until the year of 2008, Indonesia’s food consumption quality has not met its ideal pattern yet as shown by DDP (Desirable Dietary Pattern) Score 81.9 and the domination of rice consumption up to 64.1%. The government of Indonesia’s effort to accelerate food consumption diversification requires coordination and good preparation of all related stakeholders. Therefore the aims of this study were to assess the perceptions of the key persons at the local government regarding the food consumption diversification program and to analyze the strategy priority in achieving the acceleration program. This research was carried out in March to December 2008 and used a cross sectional study. Survey was done in three provinces which represent the differences of food consumption pattern. In each province, twenty head officers at the local government purposively selected were assessed about their perception. The perception data was measured by Likert scale and analyzed by the trends using percents and mode score. The strategy priority was measured by AHP (Analytical Hierarchy Process) method. This research shows that there are variations among stakeholders in the three provinces ranging “from poor to good” in perceiving the concept and application of food consumption diversification program. Nevertheless, local food is mainly defined as should be locally produced. Increasing the commitment and participation within all stakeholders (29. 3%) are the strategy priority besides promoting local food business through capital and marketing support (25.1%)

    The Current State of Fish Marketing in Indonesia

    Full text link
    EnglishFish and fish-based products are main protein sources for Indonesian. Their production and availability are so varied by provinces and major islands. Consequently, their average consumption levels are spatially different. The inequality of consumption and production is traced to the problems of marketing and distribution. By understanding and solving the problems, per capita fish consumption level may be increased. The existing marketing organizations at producer level do not provide incentives to boost the production. Meanwhile, the marketing facilities and infrastructures are limited available. For the future development, particularly for increasing per capita fish consumption, supporting marketing facilities and infrastructures should be provided by the government. Other functions of the government are to provide regulations on the management of local fish auction markets, to undertake campaign of fish consumption, to provide marketing information in order to attract private sectors into the business, and to carry out research and development in order to anticipate changes of consumption pattern. IndonesianIkan merupakan sumber protein utama bagi penduduk. Namun distribusi produksinya sangat timpang menurut wilayah. Akibatnya konsumsi ikan tidak merata.Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi merupakan masalah pemasaran dan distribusi. Dengan memahami kondisi pemasaran, distribusi, serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi maka di harapkan konsumsi ikan yang rendah dapat ditingkatkan. Organisasi pemasaran yang ada di tingkat nelayan belum sepenuhnya memberikan insentif bagi pengembangan produksi. Sarana dan prasarana pemasaran masih sangat terbatas. Ke depan, pemerintah sebaiknya mengambil bagian dalam penyediaan sarana yang cukup, penataan pemasaran di tingkat produsen melalui peraturan yang mempertimbangka kondisi lokal, pengadaa kampanye guna meningkatkan konsumsi, pemberian kesempatan bagi swasta untuk berpartisipasi secara luas melalui penyediaan informasi pasar, serta mengadakan penelitian untuk mengantisipasi dan menyikapi perubahan konsumsi yang diakibatkan oleh perubahan lingkungan di masa yang akan datang

    DETERMINAN INTENSITAS KERAWANAN PANGAN SERTA HUBUNGANNYA DENGAN FOOD COPING STRATEGIES DAN TINGKAT KECUKUPAN ENERGI DI KECAMATAN RAWAN DAN TAHAN PANGAN

    Full text link
    The objective of the study was to analyze the correlation among intensity of food insecurity and food coping strategy with energy intake and child nutritional status. The study design was a crosectional study.  Research was conducted in Pandeglang Distric, in April - May – July 2009. A purposive sampling were applied to select 220 households. The data collected include socio economi, food coping strategy, intensity of food insequrity and, food intake. The Rank Sperman and Pearsons test were applied to analyse correlation between variable socio economic, food insecurity intensity, food coping strategy and energy intake. Logistic regression was used to analyze determinant of food insecurity intensity. Multiple regression was used to analyse determinant of energy intake. The results showed that there were significant correlatin between intensity of food insequrity with household expenditure, and food coping startegy. Determinan of food insecurity intensity were household expenditure per capita (OR=0.033) and type of food insecurity program (OR=6.664). determinan of energy intake were food insecurity intensity, household expenditure percapita and household size

    Perencanaan Kebutuhan Pangan pada Repelita VI di Tiga Propionsi di Indonesia (Penerapan Pedoman Pola Pangan Harapan)

    Full text link
    IndonesianPola Pangan Harapan (PPH) adalah metoda perencanaan persediaan/kebutuhan pangan untuk konsumsi penduduk yang mampu menyediakan energi dan zat gizi lain yang dibutuhkan oleh penduduk dengan jumlah yang cukup, seimbang dengan mutu pangan yang lebih baik. Dengan menggunakan data Susenas 1990, untuk mendapatkan mutu pangan yang mengarah ke PPH, maka setiap orang harus mengurangi konsumsi pangan sumber karbohidrat dan lemak. Sebaliknya meningkatkan konsumsi pangan sumber zat gizi lain seperti protein vitamin dan mineral. Dengan demikian tantangannya adalah pangan yang disediakan di setiap propinsi pada Repelita VI harus mengikuti kecenderungan tersebut
    corecore