95 research outputs found

    PENCEGAHAN BROWNING FASE INISASI KALUS PADA KULTUR MIDRIB DAUN KLON KARET (HEVEA BRASILIENSIS MUELL ARG) PB 330

    No full text
    Perbaikan teknik perbanyakan dan mutu bibit klonal karet (Hevea brasiliensis Muell Arg) dapat dilakukan melalui teknik kultur jaringan. Kendala teknik tersebut diantaranya masih tingginya intensitas browning pada tahap inisiasi kalus. Browning umumnya disebabkan oleh senyawa fenolik yang biasanya muncul dan terakumulasi ketika eksplan dilukai. Penelitian ini bertujuan mengetahui metode eliminasi browning yang efektif diantara perlakuan perendaman eksplan dalam asam askorbat, arang aktif+sukrosa, subkultur berulang yang diinkubasi dalam ruang gelap dan terang. Bahan eksplan yang digunakan adalah eksplan midrib daun klon karet PB 330 yang ditanam pada media induksi kalus MS+2,4-D 5 ppm. Masing-masing menggunakan 10 botol sebagai ulangan dan ditanam sebanyak 2 eksplan per botol. Pengamatan meliputi waktu awal browning, waktu rata-rata eksplan mengalami browning, intensitas browning dan jumlah eksplan browning hingga 35 hari setelah tanam (HST). Data dari 10 eksplan untuk masing-masing perlakuan selanjutnya dianalisis dengan analisis ragam dari Rancangan Faktorial dan uji lanjut dengan Duncan Multiple Range Test untuk data yang berbeda nyata. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perendaman eksplan dalam 100 mg/L asam askorbat steril selama 30 menit, yang diinkubasi dalam ruang gelap efektif menurunkan intensitas browning hingga 7,5% dengan jumlah eksplan yang mengalami browning dapat ditekan hingga 30%. Diterima : 6 Januari 2016 / Direvisi : 30 Mei 2016 / Disetujui : 24 Juni 2016 How to Cite : Admojo, L., & Indrianto, A. (2016). Pencegahan browning fase inisasi kalus pada kultur midrib daun klon karet (Hevea brasiliensis Muell Arg) PB 330. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 25-34. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/22

    Flavonoid Production in Callus Cultures from Mesocarp of Stelechocarpus burahol

    No full text
    Stelechocarpus burahol is one of the medicinal plants that contains flavonoids. The study was carried out to know flavonoid production of cultures in vitro S. burahol from mesocarp explants. Mesocarp explants were cultured on MS medium containing different combination and concentration of plant growth regulators i.e. picloram (5, 7.5 and 10 mg/L) and 2, 4-D (10, 15 and 20 mg/L) under dark condition. Induction of callus formation started on the 20.29th to the 29.86th days. Medium supplemented with Picloram and dark state proved to be the best condition for optimum callus induction from mesocarp explants of S. burahol. Callus grown on medium with the addition of 7.5 mg/l Picloram produces the highest flavonoid. The maximum production of the secondary metabolite was obtained from 8 weeks old callus. However, by the time of callus ageing, its output has declined. It could be concluded that callus cultures from mesocarp S. burahol can be used for flavonoid production. How to CiteHabibah, N. A., Moeljopawiro, S. Dewi, K. &amp; Indrianto, A. (2016). Flavonoid Production in Callus Cultures from Mesocarp of Stelechocarpus burahol. Biosaintifika: Journal of Biology &amp; Biology Education, 8(2), 214-221.</p

    Growth Pattern and Copper Accumulation in Callus of Datura metel

    No full text
    This experiment was aimed to evaluate the copper accumulation using callus culture of Datura metel L. The culture was established from leaves onto MS contained NAA 2.5 mg/L and Kinetin 0.5 mg/L as the control. The exposure of the culture was carried out by 2 copper compounds as treatment, i.e. CuCl2.2H2O and Na2CuEDTA at level concentration 0.; 0.1; 5; 10; 15; and 20 µM. The growth pattern of callus in control showed increasing growth rate in 36 days, whereas exponential stage was reached at 12-20th doi*. Whilst, after 10 doi, the treatment showed constant growth pattern. The absorption rate of the culture was increased by the addition of the CuCl2.2H2O at 5 – 15 µM of level concentration but declined at 20µM. The maximum rate of accumulation of Cu (0,1519 mg g-1) was obtained at 15 µM. Instead, the addition of Na2CuEDTA at 5 – 20µM of level concentration showed the significant increment while the maximum accumulation was obtained at 20µM (0,1420 mg g-1). The existence of chelator in copper compound reduced the rate of toxicity while all tolerance index values were between 66,24 and 97,28 %.The results suggested the role of callus of D. metel as  that fairly absorbed and accumulated Cu2+. Exposure with CuCl2.2H2O indicated higher accumulation than Na2CuEDTA.How to CiteNurchayati, Y., Santosa, S., Nugroho, L. H., &amp; Indrianto, A. (2016). Growth Pattern and Copper Accumulation in Callus of Datura metel. Biosaintifika: Journal of Biology &amp; Biology Education, 8(2), 135-140. </p

    Cytological And Ultrastructural Features Of Initiation Of Wheat Microspore Embryogenesis

    No full text
    Cytological and ultrastructural features of wheat microspores before and after starvation as well as during the first days of in vitro initiation of embryogenesis are described. It is shown that the microspores subjected to stress starvation at 33°C are characterized by the fragmentation of the vacuole, and the formation of cytoplasmic strands that pass through the vacuole and connected a nucleus-containning cytoplasmic pocket with the subcortical cytoplasm. Sporo-phytic development is started when starved pollen are transfered to non-stress condition, in which 25% of the population of viable embryogenic pollen divided symetrically within 48 hours. Another visible sign of this pathway is mediated by deviation of intine development and proliferation of all cytoplasmic contains. Keywords : microspore, embryogenesis, stress, ultrastructure, Triticum aestivum L

    INDUKSI EMBRIOGENIK MIKROSPORA CABAI MERAH BESAR (Capsicum annuum L) DENGAN STRES : I. Langkah awal produksi galur murni

    No full text
    Induksi embriogenik mikrospora cabai merah besar (Capsicum annuum L) dapat dilakukan dengan stres panas dan pelaparan (starvasi karbohidrat). Stres diperlukan untuk mengubah perkembangan gametofitik (mikrospora membelah asimetrik) kearah sporofitik (mikrospora membelah simetrik) untuk membentuk embrio. Mikrospora pada stadium uninukleat akhir dikulturkan secara aseptik didalam medium starvasi karbohidrat (medium B) masing-masing pada 25o

    Induksi Kalus Embriogenik Pada Wortel (Daucus carota L.) Menggunakan 2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid (2,4-D)

    No full text
    Kalus yang dapat berkembang menjadi embrio somatik adalah kalus yang bersifat embriogenik. Kalus embriogenik dapat diinduksi dari suatu eksplan menggunakan senyawa-senyawa stressor atau perlakuan yang memberi cekaman. Penelitian ini bertujuan menginduksi kalus embriogenik pada wortel (Daucus carota L) menggunakan 2,4-D. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap yaitu; (1) Tahap perkecambahan  in-vitro, menggunakan medium ¼ MS; (2) Tahap induksi dan pemeliharaan kalus, menggunakan medium MS + 2,4-D 2 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan biji wortel dapat berkecambah dengan baik pada medium ¼ MS dengan rata-rata persentase perkecambahan mencapai 98 % dan panjang hipokotil 3,84 cm. Efisiensi pembentukan kalus mencapai 90.83 %, Warna kalus umumnya putih bening atau putih kekuningan dengan tekstur friable atau remah. Ciri fisik ini merupakan ciri umum kalus yang bersifat embriogenik, yakni kalus yang dapat berkembang menjadi embrio somatik jika di sub kultur pada medium baru yang sesua

    INDUKSI EMBRYOGENIK MIKROSPORA CABAI MERAH BESAR (Capsicum annuum. L) DENGAN STRES : Langkah awal produksi galur murni

    No full text
    Cabai merah besar merupakan tanaman hortikultura penting yang peranannya bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia sangatlah besar. Untuk membuat hybrid cabai unggul yang baru diperlukan induk silangan yang homozigot. Cara konvensional masih menghadapi banyak kendala, selain memerlukan ketelitian dan ketekunan juga harus melalui beberapa kali siklus hidup. Oleh karena itu kemampuan untuk menghasilkan tanaman langsung dari sel-sel gametofit jantan (mikrospora) merupakan terobosan baru, karena tanaman dobel haploid homozigot dapat diperoleh dalam satu generasi saja. Inisiasi pembelokan perkembangan normal mikrospora kearah perkembangan embriogenik merupakan langkah awal dari generasi tanaman dobel haploid. Stres merupakan salah satu faktor penting yang mengatur pembelokan jalur perkembangan tersebut. Penelitian tahap pertama ini bertujuan untuk mengembangkan metoda induksi embriogenik mikrospora yang efisien dengan menerapkan praperlakuan stres pada mikrospora. Penetapan stadium perkembangan mikrospora dilakukan dengan mengisolasi dari berbagai ukuran kuncup bunga. Anther yang mengandung mikrospora pada stadium uninukleat akhir diisolasi secara aseptis dengan stirrer. Mikrospora kemudian dikulturkan didalam medium starvasi karbohidrat (medium B), kultur masing-masing diinkubasi pada 25o

    Pengaruh Medium Pupuk Organik Cair (POC) terhadap Karakter Morfologi dan Jumlah Tunas Protokorm Anggrek Vanda limbata Blume x Vanda tricolor Lindl.

    No full text
    Kultur embrio anggrek secara in vitro pada media tumbuh yang sesuai akan menghasilkan tanaman anggrek dalam jumlah besar namun dalam waktu yang singkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan konsentrasi pupuk organik cair (POC) yang efektif terhadap pertumbuhan dan perkembangan embrio anggrek Vanda limbata  Blume x Vanda tricolor Lindl. Percobaan dilakukan dengan menggunakan protokorm anggrek Vanda limbata  Blume x Vanda tricolor Lindl. yang berumur 4 minggu (fase 2) yang ditanam pada medium perlakuan. Medium perlakuan yang digunakan adalah medium POC yakni Fertile, Fish Emultion dan Nasa dengan beragam konsentrasi (1; 1; 2; 2,5; 3; 3,5 ml/L) yang ditambahkan air kelapa 150 ml/L, sedangkan medium VW sebagai kontrol positif dan medium agar sebagai kontrol negatif. Pengamatan pada medium perlakuan dilakukan selama 2 bulan. Pengamatan dilakukan untuk mengukur parameter morfologis (panjang daun, jumlah daun, panjang akar, dan jumlah akar) serta jumlah tunas yang dihasilkan hingga pengamatan minggu ke-8. Setelah 2 bulan, tanaman kemudian disubkultur ke medium VW yang ditambahkan air kelapa dan ekstrak pisang. Data kuantitatif yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair terhadap parameter yang diukur kemudian jika terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh medium POC terhadap pertumbuhan dan perkembangan embrio anggrek menunjukkan respon yang berbeda-beda pada setiap fase pertumbuhan. Pada protokorm anggrek Vanda limbata  Blume x Vanda tricolor Lindl. berumur 4 MSP, POC Fertile 1,5 memberikan hasil yang berbeda nyata dibandingkan dengan medium VW pada parameter jumlah daun dan jumlah tunas dengan nilai 4,67 dan 6,00.Kata kunci: Pupuk Organik Cair, Perkecambahan In Vitro, Embrio, dan Anggre
    corecore