32 research outputs found

    Tourism Innovation System (SIDA) in Pringgabaya Based on Sea Waves Energy Development Initiative

    No full text
    AbstractPringgabaya is one of the districts on the East Lombok. There are a lot of potential developments on the districts that have been not explored yet. One of the most potential developments is the sustainable and renewable energy development based on sea waves. This mega project near to reach an agreement among the stakeholder and might be execute soon. However, it is need to consider improving added value for the community that affected by the projects. The SIDa development is a nomenclature on the Ministry of Research and Higher Education Indonesia (Indonesia: Menristekdikti) that aimed to improve the added value with stakeholder (University-Government-Private) initiative. One of the recommendations is to build museum of energy as a tourism object (DTW) that further will be develop into multipurpose tourism activities that benefit community in Pringgabaya

    Pengaturan Sirkulasi Stasiun Sudirman dengan Konsep "Flow"

    No full text
    Ruang publik merupakan sebuah ruang bagi warga untuk melakukan interaksi sosial yang harus dimiliki setiap kota yang secara tidak langsung menjadi cermin akan kualitas dari kota itu sendiri. Kota Jakarta dikenal dengan kepadatan penduduk dan mobilitas penduduk yang tinggi dengan penggunaan transportasi kereta sebagai transportasi utama warga kota Jakarta. Stasiun Sudirman adalah salah satu contoh ruang publik tempat meraih penggunaan jasa transportasi commuter-line untuk berpindah tempat sesuai tujuannya. Namun kualitasnya sebagai ruang publik menurun karena kepadatan sirkulasi pengguna dan Fasilitas didalamnya yang kurang menarik. Artikel ini akan membahas tentang penerapan konsep flow melakukan redesain terhadap kualitas sirkulasi di Stasiun Sudirman Jakarta denngan tujuan untuk menjawab permasalahan stasiun dengan membuat alur sirkulasi yang terus-menerus dan menghasilkan interaksi antar pengguna, bangunan, dan sekitar

    Pembentukan Persepsi dalam Arsitektur melalui Dasar-Dasar Penciptaan Sinema

    No full text
    Arsitektur telah memiliki keterhubungan secara tidak langsung dengan sinema sejak pertama kali film diciptakan. Dari kedua bentuk keilmuan ini, terdapat banyak persinggungan tentang bagaimana mereka tercipta. Dalam sinema ada istilah montase yang menjadi teknik paling dasar dalam proses pembentukan film, yaitu bagaimana adegan-adegan dirangkai untuk mencapai sebuah narasi yang diinginkan. Montase adalah gagasan tentang sinekdoke, tentang bagaimana fragmen-fragmen kecil yang akan mengkonstruksi persepsi yang utuh dalam pikiran penikmatnya. Melalui irisan tersebut, proyek ini berusaha mengkonstruksi sebuah rancangan arsitektural melalui cara yang sama dengan bagaimana sinema membentuk dirinya. Karenanya, dilakukan sebuah pendekatan sinematik dalam proses merancangnya. Mulai dari bagaimana memposisikan diri sebagai seorang pengguna melalui penggalan-penggalan adegan sampai merumuskan gubahan bentuk arsitektural yang kemudian disusun untuk dapat memantik persepsi tertentu. Fungsi rancangan sendiri berupa bathing house yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin melarikan diri dari tekanan urban di Kota Surabaya. Dengan nilai-nilai sinematik yang disematkan dalam rancangan, tempat ini akan menjadi sebuah tempat melepas diri dengan penyuntikan realitas yang terbelokan (altered reality) melalui fragmen-fragmen yang akan membentuk persepsi dalam pikiran

    Fragments Within Fragments: The Collective Negotiation of Exquisite Corpse Drawings

    Full text link
    This paper argues for the critical role of collective drawings as a form of representation that highlights the open process. The open process of collective drawing involves actions performed by multiple actors and actions that are not limited to producing drawings together but also require the expression of ideas. Collective drawing encourages negotiations among fragments of the drawing, which opens up various possibilities of representations within the interiority discourse. Exquisite corpse drawings made by Surrealist artists occupy an influential position as drawings produced via an open process regulated by the internal mechanism, manifesting as a continuous act of drawing. This study on exquisite corpse drawings is conducted by dissecting the drawing fragments and examining how the head–torso–feet relationship is negotiated within them. The study reveals that layers of negotiation among fragments represent how the collective act of drawing works. This finding contributes to expanding the internal logic and system of a collective drawing process, allowing diverse interpretations and articulation of the representation works
    corecore