103,134 research outputs found
Using accreditation of prior experiential learning (apel) to replace a practice placement: A controversial option?
The Accreditation of Prior Experiential Learning (APEL) is established in higher
education, but there are no studies on its use in occupational therapy. Brunel
University wanted to investigate whether APEL could enable occupational therapy
students meeting certain criteria to be exempt from the first-year practice
placement, and so devised an APEL proposal. Practice placement educators and
students were invited to give their opinion on the proposal through a questionnaire;
additionally, the students attended a nominal group discussion.
Three themes emerged from the six practice placement educators who
agreed to participate: logistics, student experience and learning opportunities.
The three students who participated valued APEL for confirming and recognising
learning from previous experience. The low response impedes establishing any
definite views on the topic, but could suggest that APEL is not a controversial
option to practice placement educators and students. Further study is required
on the adoption of APEL in occupational therapy education
Kelimpahan Populasi Tungau pada Berbagai Varietas Apel
Tungau merupakan salah satu jenis fitofag penting pada pertanaman apel yang mengakibatkan penurunan produktivitas.TungauPanonychus citri(McGregor) (Tetranychidae) merupakan fitofag baru pada pertanaman apel dan ditemukan pertama kali tahun 2002. Penelitian tentang jenis-jenis tungau dan kelimpahannya pada tanaman apel varietas anna, manalagi, dan rome beauty belum banyak dilakukan. Pengendalian tungau pada pertanaman apel anna, manalagi, dan rome beauty membutuhkan informasi dasar berupa jenis tungau dan kelimpahannya. Dengan diketahuinya jenis-jenis tungau dan populasinya diharapkan bisa digunakan dalam penyusunan strategi pengendalian tungau pada tanaman apel dan mencegah terjadinya kerusakan pada tanaman apel yang menurunkan produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari jenis-jenis tungau pada tanaman apel anna, manalagi, dan rome beauty, termasuk kelimpahan populasinya, persentase daun yang dihuni tungau, dan preferensi bagian permukaan daun yang disukai oleh tungau. Penelitian dilakukan di lahan apel milik petani Desa Tulungrejo Kec. Bumiaji Kota Batu. Setiap varietas dipilih 10 tanaman apel secara diagonal sistematis dan setiap tanaman diambil empat daun contoh mengikuti arah mata angin. Pengambilan daun contoh dilakukan setiap minggu mulai bulan Mei sampai minggu kesepuluh bulan Juli. Setiap daun contoh diamati semua tahap kehidupan tungau, dihitung, dicatat, dan diuji dengan uji Kruskal Wallis. Dari hasil penelitian ini ditemukan tungau fitofag P. citri, Tetranychus urticae Koch(Tetranychidae) dan tungau predator Agistemus longisetus Gonzalez-Rodríguez (Stigmaeidae) dan Neoseiulus fallacis(Garman) (Phytoseiidae). Perbedaan kelimpahan populasi tungau karena perbedaan varietas, pemupukan, dan sistem penanaman. Kelimpahan populasi tungau pada apel manalagi lebih tinggi dibandingkan apel anna dan rome beauty. Kelimpahan populasi P. citri adalah yang tertinggi di kedua lahan. Rata-rata populasi P. citri pada apel anna, manalagi, dan rome beauty adalah 1,040 ekor; 1,204 ekor; 0,554 ekor per daun sedangkan populasi T. urticae adalah 0,008 ekor; 0,002 ekor; 0,014 ekor per daun. Kelimpahan populasi tungau predator A. longisetus adalah 0,004 ekor; 0,023 ekor; 0,058 kor per daun, sedangkan tungau N. fallacis adalah 0,014 ekor; 0,012 ekor; 0,004 ekor per daun. Pada penelitian ini, populasi tungau yang ditemukan lebih banyak dijumpai pada permukaan daun bagian bawah daripada permukaan daun bagian atas. Semua tungau T. urticaemenempati permukaan daun bagian bawah, 85,10% pada tungau P. citri, dan 88,30% pada tungau A. longisetus. Dari hasil penelitian ini, sebanyak 39,25; 37,75%; 23,25% daun apel anna, manalagi, dan rome beauty dihuni oleh P. citri, sedangkan daun apel yang dihuni oleh T. urticae sebanyak 0,50%; 0,25%; 0,75% berturut-turut pada apel anna, manalagi, dan rome beauty. Fase telur banyak dijumpai pada P. citri (89,42%), T. urticae (58,33%), A. longisetus(74,12%) sedangkan pada tungau N. fallacis adalah imago betina (78,57%)
Pembuatan Sari Apel dengan Ekstraksi Metode Osmosis (Kajian Varietas Apel (Malus sylvestris Mill) dan Lama Osmosis)
Jumlah apel afkir di Malang Raya belum mendapat perhatian dari produsen makanan khas Kota Malang sehingga tidak memiliki nilai ekonomis. Badan Pusat Statistika menyatakan jumlah apel afkir di Malang Raya mencapai 10% dari produksi apel tiap tahun yaitu 840.000 kg. Pengolahan produk pangan dengan teknologi dan ilmu yang modern dapat dijadikan alternatif pengolahan apel afkir dalam menciptakan produk yang memiliki nilai gizi dan kenampakan yang baik serta memiliki umur simpan yang lebih lama. Apel dapat diolah menjadi sari apel alami dengan penambahan gula dan asam sitrat. Ekstraksi dengan metode osmosis akan menghasilkan sari apel dengan mutu yang baik serta dapat memberi nilai tambah dari segi ekonomi, kesehatan dan kualitas produk dengan berbahan baku apel. Adanya pengolahan apel afkir menghasilkan 3.570.000 L sari apel serta dapat meningkatkan nilai ekonomis sebesar Rp. 124.950.000.000 per tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh varietas apel dan lama osmosis dalam varietas apel terhadap kualitas sifat fisik, kimia dan organoleptik pada sari apel.
Metode penelitian yang dilakukan adalah Rancangan Tersarang ( Nested Design ) dengan dua faktor. Faktor I varietas apel terdiri dari 3 level (Apel Manalagi, Apel Romebeauty dan Apel Anna) dan faktor II lama osmosis terdiri dari 2 level (24 jam dan 48 jam). Data hasil pengamatan dianalisa dengan ANOVA dilanjutkan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil).
Varietas apel berpengaruh sangat nyata terhadap VMSA, vitamin C, total fenol, aktivitas antioksidan, gula reduksi, nilai pH dan warna. Perlakuan lama osmosis berpengaruh sangat nyata terhadap VMSA, vitamin C, total fenol, aktivitas antioksidan, gula reduksi, nilai pH dan warna. Perlakuan terbaik menurut parameter fisik dan kimia adalah sari apel varietas Romebeauty dengan lama osmosis 24 jam dengan kandungan vitamin C 2,21 mg/100ml, total fenol 1,12 mg/ml, aktivitas antioksidan 1,89%, gula reduksi 8,67%, total asam 0,38, pH 3,58, tingka t kecerahan 30,4, tingkat kemerahan 3,9 dan tingkat kekuningan 2,5. Sedangkan perlakuan terbaik menurut parameter organoleptik yaitu sari apel varietas Manalagi dengan lama osmosis 24 jam dengan penilaian warna 4,1 (suka), rasa 3,8 (suka) dan aroma 3,9 (suka)
Perbedaan Kadar Quercetin Jus Apel Pabrikan (Factorymade) Dengan Jus Apel Rumahan (Homemade)
Quercetin merupakan salah satu zat flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi kolesterol LDL melawan proses oksidasi lipid. Quercetin dengan konsentrasi tinggi terkandung dalam buah apel (Malus sylvestris L.). Saat ini, buah apel lebih sering dikonsumsi dalam bentuk jus baik dengan cara diolah sendiri di rumah (homemade) maupun yang diolah secara pabrikan (factorymade). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan adanya perbedaan kadar quercetin pada jus apel homemade dan jus apel factorymade. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling, dimana terdapat kriteria tertentu dalam pemilihan sampel. Terdapat 2 kelompok perlakuan, yaitu kelompok “jus apel homemade” yang diolah menggunakan dua varietas apel yang berbeda dan “jus apel factorymade” dengan dua merk yang berbeda. Variabel yang diukur pada penelitian ini adalah kadar quercetin yang terkandung pada jus apel homemade dan jus apel factorymade. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan kadar quercetin yang signifikan pada semua kelompok perlakuan (Anova, p<0,05). Dilihat dari proses pengolahannya, pada kedua kelompok perlakuan tersebut terdapat perbedaan kadar quercetin pada jus apel homemade dan jus apel factorymade (T-Test, p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah jus apel homemade lebih baik daripada jus apel factorymade berdasarkan kandungan quercetinnya
Kadar Quercetin Buah Dan Jus Apel Pada Suhu Dingin (Studi Dampak Penyimpanan Apel Lokal (Rome Beauty Dan Manalagi) Dan Apel Impor (Red Delicious Dan Fuji))
Quercetin merupakan salah satu flavonoid yang dapat melindungi dari dislipidemia dan penyakit kardiovaskuler. Apel merupakan buah dengan tinggi kandungan quercetin. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar quercetin buah apel segar, buah apel disimpan pada suhu dingin selama sebulan, jus apel segar, dan jus apel disimpan pada suhu dingin selama sebulan pada berbagai varietas apel lokal (Rome Beauty dan Manalagi) dan impor (Red Delicious dan Fuji) dan membandingkan kadar quercetin buah dan jus apel sebelum dan sesudah disimpan pada suhu dingin selama sebulan dari berbagai varietas lokal dan impor. Penelitian ini terdiri atas 4 kelompok yaitu apel segar, apel segar disimpan pada suhu dingin selama sebulan, jus apel, dan jus apel disimpan pada suhu dingin selama sebulan. Setiap kelompok dilakukan pengulangan 2 kali. Apel dianalisis bersama dengan kulitnya. Pengukuran kadar quercetin menggunakan spektofotometer dengan cara ekstraksi sampel dalam reagen folin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kadar quercetin antar keempat varietas apel dalam bentuk buah apel segar, buah apel disimpan pada suhu dingin selama sebulan, jus apel segar, dan jus apel disimpan pada suhu dingin selama sebulan (Kruskal Wallis, p>0.05) dan ada perbedaan kadar quercetin pada buah Manalagi, jus Manalagi dan Red Delicious sebelum dan sesudah disimpan pada suhu 40C selama 1 bulan (Paired t-Test, p<0.05 ). Berdasarkan pemenuhan kebutuhan quercetin untuk dapat berfungsi sebagai anti inflamasi (300 mg), jus apel segar Rome Beauty (200 ml) mengandung quercetin paling banyak. Kesimpulan dari penelitian ini tidak ada perbedaan kadar quercetin keempat varietas apel lokal dan impor dengan perlakuan yang berbeda sebelum dan sesudah disimpan pada suhu dingin selama sebulan
Kadar Quercetin Buah Dan Jus Apel Pada Suhu Ruang (Studi Dampak Penyimpanan Apel Lokal (Rome Beauty Dan Manalagi) Dan Apel Impor (Fuji Dan Red Delicious))
Quercetin merupakan senyawa flavonoid yang berfungsi untuk melindungi dari Penyakit Jantung Koroner (PJK) dengan bertindak sebagai antioksidan dari oksidasi LDL (Low Densitiy Lipid). Apel mengandung quercetin dalam jumlah tinggi. Masyarakat sering tidak langsung mengkonsumsi buah dan jus apel melainkan membiarkannya untuk beberapa saat pada suhu ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar quercetin dari buah apel dan jus apel (dengan metode blending) pada apel varietas lokal (Rome Beauty dan Manalagi) dan impor (Fuji dan Red Delicious) sebelum dan setelah penyimpanan pada suhu ruang selama 1 bulan. Penelitian menggunakan metode eksperimental laboratorik pada unit eksperimen apel varietas lokal dan impor dengan empat perlakuan untuk masing-masing unit eksperimen: buah segar, buah setelah disimpan pada suhu ruang selama 1 bulan, jus segar dan jus setelah disimpan pada suhu ruang selama 1 bulan. Kadar quercetin pada seluruh perlakuan diuji dengan metode spektofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kondisi sebelum penyimpanan, tidak terdapat perbedaan kadar quercetin yang signifikan pada buah dan jus apel varietas lokal dan impor (Kruskal Waliis, p>0,05). Kadar quercetin pada kempat varietas apel juga tidak menunjukkan adanya perbedaan saat setelah disimpan pada suhu ruang selama 1 bulan (Kruskal Wallis, p>0,05). Dalam kondisi sebelum dan setelah penyimpanan, kadar quercetin apel dalam bentuk buah tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (Uji T-Berpasangan, p>0,05). Dalam bentuk jus, kadar quercetin apel varietas Rome Beauty, Manalagi dan Fuji juga tidak menunjukkan adanya perbedaan. Namun, perbedaan kadar quercetin yang signfikan antara sebelum dan setelah penyimpanan terjadi pada jus apel varietas Red Delicious (Uji T-Berpasangan, p<0,05)
Thalamita rubridens Apel & Spiridonov 1998
<i>Thalamita rubridens</i> Apel & Spiridonov, 1998 <p> <b>Persian Gulf.</b> Saudi Arabia (Apel & Spiridonov 1998), Bahrain (Apel & Spiridonov 1998), UAE (Apel & Spiridonov 1998), Iran (present study).</p> <p> <b>Iran.</b> <i>Hormozgan Province</i>: Qeshm I. (Salakh).</p> <p> <b>General distribution.</b> Endemic: Persian Gulf.</p> <p> <b>Habitat.</b> Rocky/cobble intertidal to 9 m.</p> <p> <b>Remarks.</b> Apel & Spiridonov (1998) described this species originally from the Persian Gulf, and discussed its morphological affinity with its sympatric congeners, <i>T</i>. <i>prymna</i> and <i>T</i>. <i>crenata</i> (for detailed remarks see Apel & Spiridonov 1998: 295–296). The present record is the second one of the species from the Gulf and the first record from the Iranian coast.</p>Published as part of <i>Naderloo, Reza & Türkay, Michael, 2012, Decapod crustaceans of the littoral and shallow sublittoral Iranian coast of the Persian Gulf: Faunistics, Biodiversity and Zoogeography 3374, pp. 1-67 in Zootaxa 3374 (1)</i> on page 42, DOI: 10.11646/zootaxa.3374.1.1, <a href="http://zenodo.org/record/5253502">http://zenodo.org/record/5253502</a>
ANALISIS BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI APEL DI SENTRA PRODUKSI APEL KABUPATEN MALANG TAHUN 1985 -1999
Pembangunan nasional merupakan rangkaian pembangunan dalam segala bidang kehidupan, antara lain adalah pembangunan ekonomi yang bertujuan menetapkan kerangka landasan struktur ekonomi yang seimbang di berbagai sektor. Pemerintah berupaya untuk menggalakkan sektor nonmigas disamping sektor migas. Salah satu upaya itu adalah terus menggalakkan sektor pertanian pada sub sektor tanaman pangan dan hortikultura. Pembangunan pertanian pada subsektor tanaman pangan dan hortikultura terus diupayakan hingga kini melalui Sapta Karya Pembangunan serta penerapan teknologi Panea Usaha Tani, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan ekspor, meningkatkan kehidupan sosial, pendidikan dan tingkat kehidupan para petani pedesaan, serta memperluas kesempatan kerja di sektor agribisnis. Salah satu hasil hortikultura yang mempunyai potensi untuk dibudidayakan hingga dijadikan usaha agribisnis adalah buah apeI. Salah satu daerah di Jawa Timur yang memiliki potensi budidaya apel sekaligus sebagai sentra produksi apel di Indonesia yang terbesar adalah Kabupaten Malang. Buah apel sebagai buah yang diunggulkan dari Kabupaten Malang periu terus ditingkatkan produksi dan produktivitas serta kualitasnya agar dapat memenuhi kebutuhan apel domestik dan dapat bersaing dengan apel luar negeri. Peningkatan produksi dan kualitas apel dilaksanakan dengan menerapkan Panea Usaha Tani dan penerapan teknik pengelolaan tanaman yang baik.
Dalam penelitian ini akan diteliti apakah apel di Kabupaten Malang selama ini dipengaruhi oleh variabelluas lahan, insektisida, pupuk NPK, dan curah hujan. Peri ode yang diambil adalah mulai tahun 1985-1999. Pemilihan keempat variabel didasarkan pada teori yaitu teori produksi Cobb-Douglas dan studi kepustakaan yang dilakukan, dan diuji apakah keempat variabel tersebut pada kenyataannya berpengaruh terhadap produksi apel di Kabupaten Malang.
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa varia bel luas lahan, insektisida, pupuk NPK, dan eurah hujan secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi apel. Keempat variabel luas lahan, insektisida, pupuk NPK, dan curab hujan berdasarkan "uji parsial t mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produksi apel
Identifikasi dan Pengendalian Hayati Penyakit Busuk Buah Apel di Kota Batu, Jawa Timur
Insidensi penyakit busuk buah apel dilaporkan di Kota Batu yang merupakan sentra produksi apel di Jawa Timur. Identifikasi patogen penyebab busuk buah apel penting dilakukan sebagai langkah awal dalam pengendalian penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui patogen penyebab penyakit busuk buah apel dan mengetahui efektivitas P. fluorescens, B. subtilis, T. yunnanense, T. harzianum, dan Gliocladium sp. dalam mengendalikan penyakit busuk buah apel. Secara morfologi, penyakit busuk buah apel diketahui disebabkan oleh jamur Gleosporium sp. Identifikasi dilakukan dengan mengamati koloni, konidia, dan hifanya. Penelitian disusun dengan rancangan acak lengkap (RAL) 15 ulangan, dan 6 perlakuan yang terdiri dari uji pengendalian hayati Gleosporium sp. menggunakan isolat Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, Trichoderma yunnanense, Trichoderma harzianum, dan Gliocladium sp.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase intensitas penyakit setelah aplikasi agensia hayati lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Secara berurutan intensitas penyakit perlakuan P. fluorescens dari yang terendah sampai tertinggi adalah (2,67%);B. subtilis (6,67%); T. yunnanense (5,33%); T. harzianum (9,33%); Gliocladium sp. (6,67%); dan kontrol (17,33%)
Komposisi Serangga Kanopi Pohon Apel di Desa Poncokusumo Kabupaten Malang
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan, struktur komunitas, diversitas serangga kanopi yang mengunjungi pohon apel di Poncokusumo pada musim bunga dan buah, mendiskripsikan komposisi serangga kanopi pohon apel pada kedua musim, dan mengetahui pengaruh musim dan warna perangkap bejana kuning dengan biru terhadap kelimpahan serangga kanopi pengunjung pohon apel, serta mengetahui struktur komunitas vegetasi dibawah pohon apel pada musim bunga dan buah. Pencuplikan serangga kanopi dilakukan dengan metode perangkap bejana. Masing-masing pencuplikan dilakukan empat kali setiap musim. Analisis vegetasi dibawah pohon apel menggunakan metode Kurva Spesies Area. Data perbandingan kelimpahan, diversitas, struktur komunitas baik serangga maupun vegetasi semak dibawah pohon pada musim bunga dan buah dianalisis dengan indeks nilai penting dan diversitas (Indeks Shannon-Wiener). Pengaruh musim dan warna perangkap dianalisis dengan uji-t tidak berpasangan. Kesamaan komposisi dua musim dan warna perangkap dianalisis menggunakan Indeks kesamaan Bray-Curtis. Hasil menunjukkan Serangga kanopi pohon apel Poncokusumo pada musim bunga lebih banyak dibandingkan musim buah dengan nilai berturut-turut 1014 dan 480 spesimen. Struktur komunitas dengan pola dominan ditunjukkan dengan indeks nilai penting yang diperoleh famili Aphididae pada musim bunga dengan INP 56,87% dan Famili Cecidomyiidae pada musim buah dengan INP 55,26% . Diversitas serangga kanopi di musim bunga dan musim buah berturut-turut dengan nilai 2,37 dan 2,40. Kesamaan komposisi serangga kanopi dengan indeks Bray-Curtis pada musim bunga dan buah sebesar 0,13. Berdasarkan hasil uji-t tidak terdapat perbedaan kelimpahan serangga kanopi secara signifikan antara perangkap warna biru dengan kuning. Struktur vegetasi naungan pohon apel pada musim buah didominasi oleh Capsicum annum dengan INP 37,65
- …
