1,720,971 research outputs found

    Kelimpahan Populasi Wereng Batang Cokelat, Nilaparvata lugens Stảl (Hemiptera: Delphacidae) dan Cendawan Entomophthorales pada Tanaman Padi.

    No full text
    Wereng batang cokelat (WBC), Nilaparvata lugens Stảl merupakan salah satu hama paling merugikan di Indonesia. Pada keadaan populasi wereng yang tinggi, serangannya dapat menyebabkan tanaman padi mengering seperti terbakar yang disebut hopperburn. Cendawan Entomophthorales diketahui sebagai salah satu musuh alami penting WBC. Namun, sampai saat ini informasi mengenai cendawan Entomophthorales yang menginfeksi WBC di pertanaman padi masih sangat sedikit. Sehingga penelitian ini bertujuan menentukan keberadaan cenda-wan Entomophthorales dan tingkat infeksinya serta hubungannya dengan kelim-pahan populasi wereng batang cokelat pada pertanaman padi di Bogor dan Su-bang. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2015 hingga Juni 2016. Po-pulasi WBC diamati setiap minggu sebanyak 3 kali. Sampel serangga diperoleh dari Desa Cibitung Kulon dan Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Ka-bupaten Bogor dan Desa Kiarasari, Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang. Sampel tersebut dimasukkan ke dalam alkohol 70% dan dibuat preparat dengan pewarna lactophenol cotton blue. Preparat diamati di bawah mikroskop untuk me-nentukan keberadaan fase cendawan yang menginfeksi WBC, yaitu: konidia se-kunder, badan hifa, konidiofor dan konidia primer, resting spores, dan cendawan saprofit. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa WBC terinfeksi cendawan Ento-mophthorales. Fase cendawan yang ditemukan menginfeksi WBC adalah konidia sekunder, badan hifa, konidia primer, dan cendawan saprofit. Rata-rata rata-rata tingkat infeksi cendawan pada WBC sebesar 85.94%, 93.40%, dan 100% masing-masing dari Cibitung Wetan, Cibitung Kulon, dan Kiarasari

    Perlakuan Pupuk Silikat, PGPR dan Jerami terhadap Serang-an Penggerek Batang pada Padi Varietas IPB 3S.

    No full text
    Hama penggerek batang padi (PBP) merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi. Terdapat lebih dari 4 spesies PBP, namun penggerek batang padi kuning (PBPK), Scirpophaga incertulas merupakan spesies yang umum dite-mukan dan mendominasi di lahan sawah. Seluruh spesies PBP menyebabkan geja-la sundep pada tanaman padi fase vegetatif dan gejala beluk pada fase generatif. Pupuk silikat mengandung unsur hara fungsional yang dapat meningkatkan produksi padi. Jerami padi merupakan sumber hara potensial dalam memperbaiki sifat tanah. Penggunaan PGPR (plant growth promoting rhizobacteria) dapat memacu pertumbuhan tanaman padi dan menginduksi ketahanan tanaman. Penelitian bertujuan untuk megetahui pengaruh perlakuan pupuk silikat, PGPR dan jerami terhadap serangan PBP pada padi varietas IPB 3S. Terdapat tiga jenis perlakuan : (P1) Petak padi IPB 3S dengan perlakuan pupuk silikat dan perlakuan benih dengan PGPR; (P2) Petak padi IPB 3S dengan perlakuan pengembalian jerami, pupuk silikat dan perlakuan benih dengan PGPR; (P3) Petak padi IPB 3S dengan perlakuan konvesional. Tingkat serangan dihitung dengan mem-bandingkan jumlah anakan padi yang menujukan gejala dengan total anakan dalam satu rumpun. Hasil menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata terhadap serangan hama penggerek batang pada fase vegetatif. Petak P2 menyebabkan tingkat serangan hama penggerek batang paling rendah dibandingkan petak P1 dan P2. Perlakuan pupuk silikat, PGPR dan jerami dapat menurunkan serangan penggerek batang pada padi varietas IPB 3S

    Kelimpahan Kutuputih, Kutudaun, dan Cendawan Entomophthorales pada Tanaman Hias di Kebun Raya Bogor

    No full text
    Keindahan dari tanaman hias dapat berkurang dengan adanya serangan OPT (organisme pengganggu tanaman), salah satu OPT tanaman hias berasal dari kelompok kutu-kutuan, ordo Hemiptera. Serangan serangga tersebut dapat menyebabkan gangguan pada tanaman berupa menurunnya fungsi fisiologis dan nilai estetika sebagai tanaman ornamental. Apabila populasi tinggi dapat menyebabkan kematian pada tanaman. Cendawan Entomophthorales merupakan salah satu entomopatogen yang berperan sebagai musuh alami serangga, termasuk kutu. Banyak penelitian yang melaporkan cendawan Entomophthorales cukup efektif dalam mengendalikan populasi serangga hama terutama kutu-kutuan. Meskipun demikian, penelitian tentang cendawan pada kutu-kutuan yang menyerang tanaman hias belum banyak dilaporkan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan. Penelitian dilakukan mulai bulan Maret 2017 hingga Juni 2017. Pengambilan tanaman sampel dilakukan pada beberapa lokasi di Kebun Raya Bogor (KRB) dengan metode purposive sampling. Identifikasi terkait fase cendawan Entomopthorales dilakukan di Laboratorium Patologi Serangga Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tujuan penelitian ini adalah melihat infeksi cendawan Entomophthorales kutuputih pada tanaman hias di Kebun Raya Bogor. Tanaman yang paling banyak terserang kutuputih adalah Jatropha padogrica, rata-rata populasi kutuputih yang diamati dari 10 tanaman pada spesies ini yang diamati selama 3 minggu berjumlah 13 individu. Tanaman yang paling banyak terserang kutudaun adalah Asplenium nidus, rata-rata populasi kutudaun yang diamati dari 3 tanaman pada spesies ini selama 3 minggu berjumlah 12 individu. Sebanyak 29 preparat kutu putih yang diduga terserang cendawan Entomophthorales dibuat dan diidentifikasi. Individu kutuputih yang terserang cendawan Entomophthorales berjumlah 57 individu. Stadia cendawan yang ditemukan adalah badan hifa, konidia sekunder, konidia primer, dan cendawan saprofit. Tingkat infeksi cendawan paling rendah pada terjadi pada kutuputih yang menyerang tanaman Malvasviscus arboreus dan paling tinggi pada kutuputih yang menyerang J. padogrica

    Eksplorasi Cendawan Entomophthorales pada Tungau Merah dari Tanaman Ubi Kayu di Daerah Bogor, Garut dan Rembang

    No full text
    Tungau merah merupakan hama penting pada ubi kayu yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi mencapai 95%. Cendawan Entomophthorales merupakan musuh alami dari tungau merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menghitung tingkat infeksi cendawan Entomophthorales yang menginfeksi tungau merah dari tanaman ubi kayu di lapangan. Sebanyak 50-100 tungau merah diambil sebanyak 4 kali di semua lokasi dan kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi alkohol. Preparat tungau merah dibuat dengan media larutan lactophenol-cotton blue dan diidentifikasi menggunakan mikroskop cahaya. Stadia cendawan Entomophthorales yang ditemukan adalah badan hifa, konidia sekunder, konidia primer dan cendawan saprofitik. Tingkat infeksi cendawan Entomophthorales paling rendah 22.58% di Desa Babakan Raya dan paling tinggi 55.07% di Desa Cikarawang

    Parasitization Levels and Species of Egg Parasitoid on Yellow Rice Stem Borer (Scirpophaga incertulas) at Paddy Field, Karawang District

    No full text
    Produksi padi di Indonesia masih mengalami penurunan signifikan yang disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman (OPT), salah satunya adalah penggerek batang padi kuning (PBPK), Scirpophaga incertulas. Pengendalian hama tersebut yang umum dilakukan oleh petani adalah penggunaan insektisida. Aplikasi insektisida apabila dilakukan dengan tidak bijaksana akan berdampak negatif. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian hama yang ramah lingkungan sesuai konsep pengendalian hama terpadu (PHT) seperti aplikasi feromon sintetik. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat parasitasi dan spesies parasitoid telur S. incertulas pada pertanaman padi yang mendapat perlakuan feromon sintetik (Z11-Hexadecenal 33%). Penelitian ini dilakukan di pertanaman padi milik petani di Desa Sukaraja, Kecamatan Rawamerta, dan Desa Sindangmukti, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat mulai dari Februari sampai Juni 2020. Penelitian dilakukan pada lahan 80 ha yang dibagi menjadi beberapa petak lahan. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu perlakuan kontrol (pertanaman padi tanpa feromon) dan perlakuan feromon dengan dosis 10 dispenser/ha, 20 dispenser/ha, dan 30 dispenser/ha. Pengambilan kelompok telur dilakukan setiap 2 minggu sebanyak 4 kali. Peubah yang diamati yaitu kemunculan larva PBPK dan imago parasitoid, serta tingkat parasitisasinya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan feromon sintetik dapat memengaruhi tingkat parasitasi kelompok telur pada pengamatan 10 MST dan tingkat parasitasi butir telur pada pengamatan 6 MST, tetapi tidak memengaruhi terhadap jumlah larva PBPK yang menetas, imago parasitoid yang muncul, dan spesies parasitoid yang ditemukan.The rice production in Indonesia have significant declined due to plant pests and diseases, one of them is yellow rice stem borer (PBPK) Scirpophaga incertulas. Insecticide applications have been commonly used by farmers for controlling this pest. Unwise application of insecticides will have a negative impact. Therefore, integrated pest management (IPM) needs to be carrierd out and one of strategy is synthetic pheromone application. This research aims to determine the type of egg parasitoids and its parasitization level of S. incertulas in paddy field applied by synthetic pheromones (Z11-Hexadecenal 33%). This research was carried out in farmers' rice fields at Sukaraja Village, Rawamerta District, and Sindangmukti Village, Kutawaluya District, Karawang Regency, West Java from February to June 2020. The research was carried out on 80 Ha of land which was divided into several plots of land. The experiment was conducted using a randomized group (RBD) with 4 treatments and 5 replications. The treatments used were control treatment (rice cultivation without using pheromone) and treatment of rice planting with 10 dispenser/ha, 20 dispenser/ha, and 30 dispenser/ha. Eggs were sampled biweekly for 4 times with variables were observed of the appearance of PBPK larvae, parasitoid imago, and parasitization levels. The results of this study indicated that the use of synthetic pheromones affected the parasitization levels of egg group at 10 MST and parasitization levels of egg at 6 MST, but does not affected the number of hatched PBPK larvae, emerge parasitoids adults, and parasitoid species found

    Pengaruh Cendawan Endofit Entomopatogen Lecanicillium lecanii (Zimm) Zare & Gams terhadap Biologi dan Populasi Kutudaun Myzus persicae Sulzer (Hemiptera: Aphididae) pada Tanaman Tembakau

    No full text
    Cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii tertentu dilaporkan sebagai endofit. Penelitian mengenai kemampuan L. lecanii endofit dalam mengendalikan kutudaun belum pernah dilaporkan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan kolonisasi L. lecanii pada berbagai bagian tanaman tembakau dan pengaruhnya terhadap biologi dan populasi kutudaun M. persicae. Perlakuan terdiri atas empat macam, yaitu kontrol (K), perlakuan benih dengan L. lecanii selama 12 jam (P1), perlakuan bibit dengan penyemprotan L. lecanii seminggu setelah pindah tanam (P2), dan perlakuan kombinasi (P3), yaitu kombinasi P1 dan P2. Tanaman tembakau semua perlakuan diinfestasi kutudaun M. persicae seminggu setelah penyemprotan cendawan. Pengamatan yang dilakukan meliputi aspek biologi yang terdiri atas siklus hidup, keperidian, dan lama hidup serta populasi kutudaun. Penelitian ini menunjukkan bahwa L. lecanii uji mampu mengolonisasi daun tembakau secara endofitik. Cendawan L. lecanii endofit dapat memperlambat siklus hidup, menurunkan keperidian, dan memperpendek lama hidup sehingga menurunkan pertumbuhan populasi M. persicae

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore