77 research outputs found
Karakteristik Bubur Rumput Laut Turbinaria conoides dan Eucheuma cottonii sebagai Bahan Baku Krim Tabir Surya
Radiasi sinar ultraviolet menyebabkan kulit menjadi kemerahan, penuaan
dan meningkatkan risiko kanker kulit. Kulit tidak dapat menahan sinar matahari
yang berlebih, oleh karena itu diperlukan pelindung tambahan menggunakan krim
tabir surya. Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan kombinasi bubur rumput
laut T. conoides dan E. cottonii yang mempunyai aktivitas antioksidan dan nilai
SPF yang tinggi, mendapatkan formula krim tabir surya terbaik dilihat dari
aktivitas antioksidan, penentuan nilai SPF dan evaluasi fisik sediaan krim.
Bahan utama penelitian adalah T. conoides, E. cottonii dan bahan baku
sediaan krim. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Penelitian tahap pertama yaitu karakterisasi rumput. Penelitian tahap kedua yaitu
formulasi bubur rumput laut T. conoides dan E. cottonii. Penelitian tahap ketiga
yaitu pembuatan sediaan krim dengan formula terbaik. Sediaan krim yang
memiliki nilai terbaik diuji daya iritasi terhadap kulit.
Hasil penelitian menunjukkan T. conoides mengandung senyawa fenol
hidrokuinon, flavonoid, triterpenoid, steroid, dan saponin, sedangkan E. cottonii
hanya mengandung alkaloid. Rendemen ekstrak tertinggi terdapat pada ekstrak
metanol T. conoides (8.17%) dan E. cottonii (9.33%). Total fenol tertinggi
rumput laut T. conoides terdapat pada ekstrak etil asetat (211 ± 5.21 mg GAE/g),
sedangkan E. cottonii pada ekstrak metanol (141 ± 3.33 mg GAE/g). Total
flavonoid tertinggi terdapat pada ekstrak etil asetat T. conoides
(157.15 ± 8.71 mg QE/g) dan E. cottonii (35.17 ± 1.00 mg QE/g). Ekstrak
metanol T. conoides dan E. cottonii memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat
dengan nilai IC50 15.14 ± 9.76 μg/mL dan 23.15 ± 1.49 μg/mL. Aktivitas
antioksidan pada formula bubur rumput laut memiliki nilai IC50
73.38 ± 2.80 μg/mL (1:1), 115.38 ± 1.50 μg/mL (1:2), dan 95.79 ± 1.50 μg/mL
(2:1), sedangkan nilai SPF pada masing-masing formula yaitu 2.4 ± 0.04 (1:1),
1.5 ± 0.03 (1:2), dan 2 ± 0.01 (2:1). Formula (1:1) ditambahkan pada sediaan
krim dengan konsentrasi penambahan bubur rumput laut 0%, 10%, 20% dan 30%.
Hasil pengujian aktivitas antioksidan pada krim 0% (116.88 ± 2.40 μg/mL), krim
10% (54.26 ± 6.20 μg/mL), krim 20% (46.17 ± 3.90 μg/mL) dan krim 30%
(28.49 ± 5.10 μg/mL), dan nilai SPF pada krim 0% (2 ± 0.02), 10% (5.37 ± 0.03),
20% (7.42 ± 0.02), 30% (15.22 ± 0.04) dan krim komersial (5 ± 0.03). Krim
terbaik terdapat pada krim 30% yang memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat
dengan nilai IC50 28.49 ± 5.10 μg/mL dan nilai SPF 15.22 ± 0.04. Hasil evaluasi
sediaan krim menunjukkan krim homogen, memiliki konsistensi yang baik.
Penerimaan konsumen terhadap produk melalui uji organoleptik berkisar antara
normal sampai suka, krim memiliki umur simpan selama 1 tahun berdasarkan
pengujian mekanik dan telah memenuhi persyaratan uji iritasi kulit
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Krim dari Bubur Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dan Sargassum plagyophyllum
Pigmen melanin berperan dalam reaksi pencoklatan pada kulit manusia.
Proses pembentukan melanin dapat direduksi dengan mekanisme antioksidan dan
inhibitor enzim tirosinase khususnya penghambatan pada jalur monofenolase (Ltirosin)
dan difenolase (L-DOPA). Rumput laut K. alvarezii dan S. plagyophyllum
adalah komoditas laut yang ketersediaannya berlimpah di alam dan diketahui
memiliki aktivitas antioksidan dan inhibitor tirosinase. Sediaan bubur rumput laut
yang diduga mengandung senyawa bioaktif diformulasikan ke dalam sediaan krim
yang berfungsi sebagai pencerah kulit. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan
informasi tentang karakteristik dari bahan baku rumput laut, ekstrak kasar dan
bubur rumput laut serta mendapatkan formula terpilih berdasarkan kandungan
kimia, evaluasi fisik dan mikrobiologi pada sediaan krim.
Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu karakterisasi bahan baku yang
meliputi pengambilan, penepungan dan ekstraksi rumput laut. Tahap kedua adalah
pembuatan produk yang meliputi pembuatan sediaan bubur rumput laut dan sediaan
krim. Tahap ketiga adalah evaluasi produk (sediaan bubur dan krim).
Hasil identifikasi rumput laut cokelat oleh Pusat Penelitian Oseanografi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah S. plagyophyllum. Rumput laut
K. alvarezii dan S. plagyophyllum yang digunakan tidak mengandung logam berat
(timah, merkuri dan arsen); mengandung senyawa bioaktif (alkaloid, terpenoid,
steroid, flavonoid, saponin dan tanin), vitamin C, vitamin E dan aktivitas
antioksidan berturut-turut 595.08±0.995 μg/mL dan 598.86±1.494 μg/mL. Nilai
IC50 asam kojat (pembanding), ekstrak metanol dari K. alvarezii dan S.
plagyophyllum pada substrat tirosin berturut-turut 15.566 μg/mL; 2691.478 μg/mL
dan 2195.206 μg/mL. Nilai IC50 asam kojat (pembanding), ekstrak metanol dari K.
alvarezii dan S. plagyophyllum pada substrat L-DOPA berturut-turut 29.156
μg/mL; 2631.648 μg/mL dan 1769.336 μg/mL. Sediaan krim terpilih adalah krim
dengan formula penambahan bubur rumput laut S. plagyophyllum 15% yang
memiliki aktivitas antioksidan (IC50) 491.93 μg/mL dan persen penghambatan
terhadap enzim tirosinase 20% (pada susbtrat L-DOPA dan konsentrasi uji 6000
μg/mL) dengan sifat alir plastis tiksotropik, nilai pH berkisar 5.78-6.21, stabilitas
baik dan tidak ditemukan koloni mikroba
Karakterisasi Sediaan Krim Tabir Surya dari Bubur Rumput Laut Eucheuma cottonii dan Sargassum sp.
Penggunaan krim tabir surya diperlukan untuk melindungi kulit dari
radiasi sinar ultraviolet. Penggunaan bahan yang alami dan aman sangat penting
untuk mencegah efek samping dari penggunaan krim jangka panjang. E. cottonii
memiliki aktivitas antioksidan dan dapat dimanfaatkan sebagai pengemulsi,
pengental, penstabil, dan pembentuk gel dalam sediaan krim. Sargassum sp.
mengandung antioksidan, komponen fenolik, dan sebagai agen fotoproteksi.
Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan rasio penambahan bubur E. cottonii dan
Sargassum sp. terbaik pada krim tabir surya melalui uji total mikroba, aktivitas
antioksidan dan nilai SPF, menentukan kestabilan secara fisik, dan standar
keamanan melalui uji iritasi pada sediaan krim yang dihasilkan.
Bahan utama penelitian adalah E. cottonii, Sargassum sp. dan bahan baku
sediaan krim. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL),
terdiri dari empat perlakuan yaitu penambahan bubur E. cottonii dan
Sargassum sp. dengan taraf (1:1), (1:2), (2:1) dan control dengan dua kali ulangan.
Penelitian tahap pertama adalah pembuatan bubur E. cottonii dan Sargassum sp.
Tahap kedua adalah pembuatan sediaan krim tabir surya. Penelitian tahap ketiga
adalah uji iritasi pada sediaan krim terpilih dengan uji human 4 - hour patch test.
Parameter pengamatan antara lain uji total mikroba, aktivitas antioksidan, Sun
Protective Factor (SPF), evaluasi fisik sediaan krim (uji sensori, homogenitas,
konsistensi) dan uji stabilitas (uji pada suhu yang berbeda yaitu suhu rendah 4 ±
2oC, suhu ruang 28 ± 2oC, tinggi 40 ± 2oC, cycling test dan centrifugal test).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa krim tabir surya terbaik adalah krim
dengan ratio penambahan bubur E. cottonii dan Sargassum sp. (1:1) berdasarkan
uji Bayes. Mikroba tidak ditemukan pada sediaan bubur E. cottonii dan
Sargassum sp. serta sediaan krim tabir surya. Aktivitas antioksidan sediaan bubur
E. cottonii 127.23 ± 2.77 μg/mL, Sargassum sp. 119.66 ± 0.25 μg/mL dan pada
krim tabir surya 83.4± 0.03 μg/mL. Nilai SPF sediaan krim adalah 7.03 ± 0.01
sehingga dapat dikategorikan memiliki kemampuan ekstra (6-8). Penerimaan
konsumen terhadap produk melalui uji sensori berkisar antara normal sampai suka.
Hasil pengukuran konsistensi sediaan krim pada minggu ke-0 dan ke-12
menunjukkan bahwa sediaan krim merupakan semisolid. Krim tabir surya
memiliki kestabilan fisik yang baik, tidak mengalami perubahan warna, bau dan
pemisahan fase. Nilai pH sediaan krim pada penyimpanan 12 minggu dengan
suhu yang berbeda berkisar antara 6 - 7. Sediaan krim aman digunakan secara
topical dan aman tanpa menyebabkan iritasi kulit
The influence of hpmc to co-processed chitosan-sodium starch glycolat as matrix tablet floting formulation
PEMANFAATAN MALTODEKSTRIN DARI PATI SINGKONG SEBAGAI BAHAN PENYALUT LAPIS TIPIS TABLET
The Use of Maltodextrin from Tapioca Starch as a Film Coating Tablet Material. Maltodexrin is a modifi ed starch product which can be use as a material fi lm coating tablet. The aim of the research was to study the capability of maltodextrin as a material fi lm coating exipient. Maltodextrin DE 5-10 was made by hidrolysis of tapioca starch with α-amylase enzyme from NOVO (Termamyl L120®), at 80° C, for 65 minute. Maltodextrin was used as a fi lm coating material at concentration 10%,15%,20% dan 25%. As a comparative fi lm coating material was used HPMC. The evaluation of the coating tablet was done accordance to Farmacope Indonesia third and fourth edition. The result show that maltodextrin DE 5-10 from tapioca starch can be used as fi lm coating at concentration 10-25% with concentration 10% gave better result a HPM
Pemanfaatan Maltodekstrin Dari Pati Singkong Sebagai Bahan Penyalut Lapis Tipis Tablet
The Use of Maltodextrin from Tapioca Starch as a Film Coating Tablet Material. Maltodexrin is a modifi ed starch productwhich can be use as a material fi lm coating tablet. The aim of the research was to study the capability of maltodextrin asa material fi lm coating exipient. Maltodextrin DE 5-10 was made by hidrolysis of tapioca starch with α-amylase enzymefrom NOVO (Termamyl L120®), at 80° C, for 65 minute. Maltodextrin was used as a fi lm coating material at concentration10%,15%,20% dan 25%. As a comparative fi lm coating material was used HPMC. The evaluation of the coating tabletwas done accordance to Farmacope Indonesia third and fourth edition. The result show that maltodextrin DE 5-10 fromtapioca starch can be used as fi lm coating at concentration 10-25% with concentration 10% gave better result a HPMC
FORMULATION AND EVALUATION OF COSMETIC FOUNDATION USING EPIGALLOCATECHIN GALLATE AS A SUN PROTECTION
Objective: The objective of the study was to obtain a lotion foundation using epigallocatechin gallate (EGCG) as an active ingredient designed with asun protection factor (SPF) value around 30 that can effectively protect facial skin from ultraviolet radiation (UVR) exposure and that is safe to use.Methods: In this study, we determine SPF value using UV–visible spectrophotometry at a wavelength between 290 and 320 nm. The preparationformula of the foundation was made with an EGCG concentration of 0.4%, a concentration which can yield the desired SPF value of about 30. Physicalstability was performed at low (4±2°C), ambient (25±2°C), and high (40±2°C) temperatures; cycling and centrifugation tests were also conducted.Safety was evaluated by eye irritation test using hen’s egg test on chorioallantois method and skin irritation test using the Draize and patch testsmethod.Results: The SPF values of 0.04% EGCG and lotion foundation containing 0.4% EGCG were 31.02±0.72 and 33.20±0.59, respectively. The results ofcycling and centrifugal tests indicated that lotion foundation showed an absence of crystals and lack of any phase separation between oil and waterphases. The physical stability test showed no significant changes for all parameters. Safety tests resulted in neither skin nor eye irritation.Conclusion: The EGCG foundation developed was physically stable with a good appearance and did not irritate the skin or eyes thus are safe to usealso can effectively protect skin against UVR exposure
PREPARATION AND CHARACTERIZATION OF CO-PROCESSED EXCIPIENT-PREGELATINIZED CASSAVA STARCH PROPIONATE AS A MATRIX IN THE GASTRORETENTIVE DOSAGE FORM
The gastroretentive dosage form is designed to prolong the gastric residence time of the drug delivery system whichalso results in the development of an appropriate excipient. The purpose of this study is to develop and characterize coprocessedexcipient made from carrageenan (kappa-iota = 1:1) and pregelatinized cassava starch propionate (PCSP) inratios of 1:1, 1:2, and 1:3. PCSP was prepared with propionic anhydride in an aqueous medium. The product was mixedwith carrageenan (kappa-iota = 1:1), as well as characterized physicochemical and functional properties. The coprocessedexcipient was then used as a mucoadhesive granule and floating tablet. The USP Basket was selected toperform the dissolution test of the granules in HCl buffer (pH 1.2) and distilled water for 8 hours each. Mucoadhesiveproperties were evaluated using bioadhesive through a vitro test and wash-off test. As for the floating tablet, the USPPaddle was selected to perform the dissolution test of the tablets in 0.1 N HCl for 10 hours. The floating lag time andfloating time were tested in 0.1 N HCl for 24 hours. The result of these studies indicated that co-processed excipientcarrageenan-PCSP can retard dosage form in gastric and drug controlled release, thus making it a suitable material forthe gastroretentive dosage form
FORMULATION AND DISSOLUTION PROFILE STUDY OF TRANSFERSOME-LOADED MICROSPHERES FROM GREEN TEA LEAF EXTRACT
Objective: The aim of this study was to prepare transfersome-loaded microspheres which had good characteristics and physicochemical stability toincrease bioavailability of the polyphenol component of green tea leaf extract in the body.Methods: Transfersomes were prepared using a thin-layer hydration method. Green tea leaf extract transfersomes were formulated in the ratio of95:5, 90:10, and 85:15 based on their phospholipid and Span 80 content.Results: The most successful formula produced transfersomes of a spherical shape, 78.75 nm in size with a polydispersity index of 0.187, zetapotential of −37.5 mV, and entrapment efficiency of 47.96±5.81%. Subsequently, the transfersome was loaded into a microsphere using the spray-drymethod. The microspheres had a non-spherical, wrinkled shape, their size was 2058.44 nm, their polydispersity index was 0.545, their entrapmentefficiency was 59.27±0.59%, their moisture content was 5.21%, and their swelling index was 289.36% after 4 h. The total cumulative amount ofEpigallocatechin-3-gallate after a dissolution test was 69.15±7.66%.Conclusion: The physicochemical stability of transfersome-loaded microspheres was not significantly different from that of transfersome powder
- …
