1,720,967 research outputs found
KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK DAN NILAI PENDIDIKAN KUMPULAN CERPEN KEDAI BIANGLALA KARYA ANGGUN PRAMESWARI SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA DI SMA
Abstract: This research aims to describe: (1) intrinsic element on a collection of short strories Kedai Bianglala; (2) social aspect on a collection of short stories; (3) the worldview of the author (Anggun Prameswari); (4) the educational values are contained in a collection of short stories; and (5) the relevance of teaching materials in Indonesian language at high school. The research method using descriptive qualitative with approach of genetik structuralism. The results of the research are as follows. First, intrinsic elements contained in a collection of short strories Kedai Bianglala including theme, plot, background, characterization, point of view and mandate. The elements are different between short story one wih another short story. Secondly, The social aspect raised by the author in a collection of short sories of Kedai Bianglala is the point modern view society that is not old-fashioned, but is still overshadowed by the conservative values. The story raised about caring, obedience, and sacrifice. Thirdly, the worldview of Anggun Prameswari raises on the social issues relating of the women story. Fourth, the value of education in the collection of short stories Kedai Bianglala includes the value of religious education, the moral education value, the social education value and the cultural education value. Fifth, a collection of short stories Kedai Bianglala and the result of value contained in the short story is relevan if used of teaching materials in Indonesian Language at high school. Keyword: collection of short stories, Kedai Bianglala, genetic structuralism, educational value, material relevance. Abstrak: Penelitian Ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) unsur intrinsik pada kumpulan cerpen Kedai Bianglala; (2) aspek sosial pada kumpulan cerpen; (3) pandangan dunia pengarang (Anggun Prameswari); (4) nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kumpulan cerpen; dan (5) relevansi sebagai bahan ajar bahasa Indonesia di SMA. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan stukturalisme genetik. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, unsur intrinsik yang terdapat pada kumpulan cerpen Kedai Bianglala meliputi tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, dan amanat. Unsur-unsur tersebut berbeda antara cerpen satu dengan cerpen yang lain. Kedua, aspek sosial yang diangkat oleh pengarang dalam kumpulan cerpen Kedai Bianglala adalah sudut pandang masyarakat modern yang tidak terlalu kolot, namun masih dibayangi oleh nilai-nilai konservatif. Ceritanya mengangkat tentang kepedulian, kepatuhan, dan pengorbanan. Ketiga, pandangan dunia Anggun Prameswari mengangkat tentang isu-isu sosial yang berhubungan dengan kisah-kisah perempuan. Keempat, nilai pendidikan dalam kumpulan cerpen Kedai Bianglala meliputi nilai pendidikan agama, nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial, dan nilai pendidikan budaya. Kelima, kumpulan cerpen Kedai Bianglala dan hasil analisis nilai-nilai pendidikan yang terdapat pada cerpen relevan bila digunakan sebagai bahan ajar bahasa Indonesia di SMA.Kata kunci: kumpulan cerpen. Kedai Bianglala, strukturalisme genetik, nilai pendidikan, relevansi bahan ajar
Kajian Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan Kumpulan Cerpen Kedai Bianglala Karya Anggun Prameswari serta Relevansinya sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas
Rana Harinda Karisa. K1213060. KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK DAN NILAI PENDIDIKAN KUMPULAN CERPEN KEDAI BIANGLALA KARYA ANGGUN PRAMESWARI SERTA RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Sebelas Maret, Juli 2017. Penelitian Ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) unsur intrinsik pada kumpulan cerpen Kedai Bianglala; (2) aspek sosial pada kumpulan cerpen; (3) pandangan dunia pengarang (Anggun Prameswari); (4) nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kumpulan cerpen; dan (5) relevansi sebagai bahan ajar bahasa Indonesia di SMA. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan stukturalisme genetik. Data yang diperoleh berasal dari sumber data yang berupa kumpulan cerpen Kedai Bianglala dan wawancara mendalam dengan pengarang, guru, dan peserta didik. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dengan menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan analisis dokumen dan wawancara mendalam dengan informan. Uji validitas data yang digunakan adalah trianggulasi teori dan trianggulasi sumber data. Analisis data yang digunakan adalah model interaktif yang mencakup pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, unsur intrinsik yang terdapat pada kumpulan cerpen Kedai Bianglala meliputi tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, dan amanat. Unsur-unsur tersebut berbeda antara cerpen satu dengan cerpen yang lain. Kedua, aspek sosial yang diangkat oleh pengarang dalam kumpulan cerpen Kedai Bianglala adalah sudut pandang masyarakat modern yang tidak terlalu kolot, namun masih dibayangi oleh nilai-nilai konservatif. Ceritanya mengangkat tentang kepedulian, kepatuhan, dan pengorbanan. Ketiga, pandangan dunia Anggun Prameswari mengangkat tentang isu-isu sosial yang berhubungan dengan kisah-kisah perempuan. Keempat, nilai pendidikan dalam kumpulan cerpen Kedai Bianglala meliputi nilai pendidikan agama, nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial, dan nilai pendidikan budaya. Kelima, kumpulan cerpen Kedai Bianglala dan hasil analisis nilai-nilai pendidikan yang terdapat pada cerpen relevan bila digunakan sebagai bahan ajar bahasa Indonesia di SMA. Kata kunci: kumpulan cerpen, Kedai Bianglala, strukturalisme genetik, nilai pendidikan, relevansi bahan ajar
Resistensi dan Representasi Perempuan pada Novel Perfect Pain Karya Anggun Prameswari: Kajian Feminisme Liberal
Perempuan merupakan makhluk yang masih seringkali mengalami bias
gender akibat kontruksi yang diciptakan masyarakat. Kontruksi tersebut
melahirkan stereotipe-stereotipe yang dapat merugikan perempuan. Perempuan
dinilai lebih lemah dibanding laki-laki, baik secara fisik maupun pemikiran. Hal
tersebut membuat perempuan berada di bawah dominasi laki-laki dan dianggap
hanya sebagai pelengkap. Gambaran perempuan yang demikian tergambar pada
novel Anggun Prameswari yang berjudul Perfect Pain. Anggun Prameswari
menyuguhkan sebuah cerita tentang kasus KDRT yang dialami oleh tokoh
utamanya, bernama Bidari. Novel ini memvisualkan realita tentang bentuk
ketakutan seorang istri dalam melawan suami yang jelas bersalah. Novel ini bukan
hanya menyuguhkan kasus KDRT saja, namun terdapat luka yang bertahun-tahun
dipendam Bidari akibat tidak diperolehnya hak peningkatan pendidikan dan
ekonomi yang disebabkan larangan ayahnya. Bidari melakukan berbagai
perjuangan untuk mempertahankan hidup demi dirinya sebagai perempuan dan
demi anaknya.
Berdasarkan permasalahan yang terdapat pada novel tersebut, peneliti
menggunakan kajian utama feminisme liberal untuk menganalisis novel Perfect
Pain. Analisis yang dilakukan peneliti bertujuan untuk mendeskripsikan
keterjalinan antarunsur, resistensi dan representasi perempuan pada novel Perfect
Pain berdasarkan kajian feminisme liberal. Peneliti menggunakan metode
deskriptif kualitatif. Langkah-langkah metode penelitian kualitatif yang dilakukan
yaitu: (1) Memperoleh data dengan cara membaca dan memahami novel, serta
mendeskripsikan data-data yang ada. (2) Mengolah data dengan
mengklarifikasikan data-data yang terkait pada unsur-unsur struktural,
ketidakadilan gender, resistensi, representasi dan feminisme liberal. (3) Menganalisis dengan menggunakan pendekatan unsur-unsur struktural,
ketidakadilan gender, resistensi, representasi dan feminisme liberal.
Peneliti menggali informasi mengenai biografi pengarang, informasi kasus
KDRT yang terjadi di tahun 2015 dan seputar sastra wangi untuk mengetahui halhal
yang memungkinkan terjadinya proses kreatif pengarang dalam menciptakan
novel Perfect Pain. Pencarian berbagai informasi tersebut berdasarkan pada
permasalahan-permasalahan yang terdapat pada novel. Informasi tersebut
berfungsi untuk menunjang analisis peneliti di feminisme liberal.
Pendekatan struktural berfungsi untuk mengetahui secara murni novel
Perfect Pain melalui keterkaitan setiap unsur-unsurnya. Tema dibagi menjadi dua,
yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor dalam novel ini yaitu ketegaran
perempuan dalam menghadapi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tema
minor terdiri atas tiga hal yaitu, psikologi anak akan terganggu melihat orang
tuanya mengalami KDRT, beban pada pekerjaan yang berlebihan membuat
manusia mengalami gangguan mental, usaha untuk tetap menjadi profesional pada
pekerjaan dan asmara serta terakhir cara mendidik anak menentukan psikologi
anak. Tema tersebut menggambarkan garis besar perwatakan tokoh utama dan
setiap tokoh bawahannya. Tokoh utama dalam novel ini yaitu Bidari. Tokoh
bawahannya yang paling berpengaruh dan banyak berinteraksi dengan tokoh
utama, yaitu Karel, Shindu, Bram, ayah, ibu dan Miss Elena. Bentuk konflik yang
terjadi yaitu konflik antara manusia dan manusia yang dominan terjadi pada Bi
dengan Bram. Konflik antara manusia dan masyarakat dialami Bram dengan
orang-orang di pekerjaannya. Konflik antara manusia dan alam dialami Bi yang
terganggu dengan hawa dingin. Konflik ide satu dan ide yang lain dialami Shindu
dengan Bi, Bi dan ayahnya, ayah dan Shindu serta Shindu dan Miss Elena.
Konflik antara seseorang dan kata hatinya terjadi pada tokoh Bidari. Latar tempat
terjadi di Tangerang dan lingkungan sekitarnya. Latar waktu terjadi pada pagi,
siang, sore dan malam hari. Latar sosial mengarah pada lingkungan perkotaan.
Teori gender digunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk ketidakadilan
gender yang terjadi. Pada novel Perfect Pain, Bi mengalami marginalisasi berupa
larangan untuk kuliah dan bekerja. Bentuk stereotipe dapat diketahui melalui pelabelan negatif yang disampaikan ayah, bahwa Bi sebagai perempuan harus
cantik, menarik, cerdas dan pintar dalam hal mengurus rumah tangga. Tokoh
Bram sebagai suami Bi melakukan pelabelan negatif pula dengan menganggap
bahwa seluruh urusan rumah tangga adalah tanggung jawab istri. Pemikiran
tersebut berimbas pada kekerasan fisik dan batin yang dialami Bi. Bi mengalami
tindak KDRT karena dianggap tidak mampu mengurus rumah tangga. Beban kerja
yang dirasakan Bi begitu terlihat akibat adanya pelabelan negatif dan kekerasan
yang dilakukan suaminya tersebut.
Resistensi yang dilakukan Bi untuk melawan ayahnya yaitu dengan cara
kawin lari dan meninggalkan rumah. Cara tersebut membuat konflik yang
berkelanjutan sampai akhirnya Bi memutuskan untuk berdamai dan memaafkan
ayahnya. Resistensi yang dilakukan Bi untuk melawan suaminya yaitu dengan
pergi dari rumah kemudian melaporkan ke polisi mengenai tindak KDRT yang ia
alami. Proses resistensi Bi dibantu oleh Shindu sehingga ia berani menggugat
cerai Bram dan memilih tinggal di rumah Puan. Rumah Puan merupakan rumah
singgah bagi korban KDRT. Melalui berbagai resistensi yang Bi lakukan untuk
mempertahankan hidupnya, terlihat representasi yang ingin ditampilkan Anggun
Prameswari sebagai pengarang. Perjuangan Bi menggambarkan pentingnya
menjadi perempuan independen dan suka duka yang dialami perempuan berstatus
single parent.
Representasi yang ingin ditampilkan Anggun Prameswari mencerminkan
gerakan feminisme liberal. Tokoh Bi berani melakukan upaya pembebasan diri
untuk mendapatkan hak sipilnya. Hak tersebut berupa kebebasan memilih tempat
tinggal, memilih pasangan dan memilih pendidikan. Bi memutuskan jalan hidup
untuk menjadi single parent dengan menetap di rumah Puan. Dukungan dan
fasilitas yang Bi peroleh dari rumah Puan membuat ia mampu melanjutkan
keinginannya, yaitu berpendidikan dan bekerja. Pendidikan yang diperoleh Bi
memang bukan pendidikan formal, tetapi mampu meningkatkan taraf
perekonomian Bi. Bi berhasil membuka bisnis katering dengan sukses berkat
pelatihan-pelatihan yang ia dapat melalui rumah Puan
PENGEMBANGAN BUKU AJAR MATEMATIKA BERBASIS OPEN ENDED UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA KELAS VII SMP NEGERI SE-KABUPATEN TULUNGAGUNG
Tesis dengan judul “Pengembangan Buku Ajar Matematika Berbasis Open Ended untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VII SMP Se-Kabupaten Tulungagung ” ini ditulis oleh Della Anggun Prameswari, NIM. 1880512220017, dengan pembimbing Dr. Muniri, M.Pd dan Dr. Sutopo, M.Pd.
Kata Kunci: Buku Ajar Matematika, Open Ended, dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis.
Dalam menyelesaikan soal matematika terkadang siswa masih kesulitan jika soal yang diberikan berbeda dengan contoh yang sudah dijelaskan oleh guru. Sehingga siswa berasumsi bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan memberikan dampak pada kurangnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Buku ajar matematika berbasis open ended dimunculkan oleh peneliti sebagai bahan ajar yang akan diberikan kepada siswa dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dengan buku ajar matematika berbasis open ended, penulis menyajikan lebih dari satu cara penyelesaian soal berbeda yang benar guna memberikan banyak sudut pandang untuk siswa. Sehingga siswa tidak bertanya-tanya lagi bagaimana cara penyelesaian soal tersebut dan diharapkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dapat meningkat.
Sehingga tujuan penelitian pengembangan ini untuk membantu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui buku ajar matematika berbasis open ended kelas VII semester 1.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Research and Develpoment (RnD) yang mengacu pada model penelitian ADDIE dengan menggunakan lima tahap pengembangan yaitu Analysis (Analisis), Design (Perancangan), Development (Pengembangan), Implementation (Implementasi), dan Evaluation (Evaluasi). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A dan VII B di SMPN 1 Boyolangu dan SMPN 2 Campurdarat. Subjek penelitian sebanyak 147 siswa yang terdiri kelas VII A dan VII B di SMPN 1 Boyolangu serta SMPN 2 Campurdarat. Data penelitian ini berupa observasi awal lapangan, hasil pengerjaan soal siswa angket respon siswa, dan angket respon guru dengan instrumen penelitiannya yaitu lembar soal, angket respon siswa, dan angket respon guru.
Hasil penelitian dan pengembangan ini menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa (1) Dua validator ahli media dan materi memberikan presentase 90,46% dengan kategori sangat valid. (2) Produk buku ajar matematika berbasis open ended dengan presentase 80% - 100% telah memenuhi kriteria efektif sehingga dinyatakan efektif digunakan. (3) Produk buku ajar matematika berbasis open ended dengan presentase 85% dinyatakan praktis digunakan karena dari uji kepraktisan terhadap pembelajaran menggunakan buku ajar matematika berbasis open ended telah memenuhi kriteria praktis (4) Produk buku ajar matematika berbasis open ended diketahui mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan sebagian besar nilai rata-rata mengalami terus peningkatan, namun ada beberapa anak yang nilainya naik turun dan nilainya tetap dengan rata-rata yakni 76,21; 76,29; 78,31; dan 82,15 di SMPN 1 Boyolangu serta 76,33; 78,30; 80,4; dan 83,44 di SMPN 2 Campurdarat. Saran dari peneliti supaya buku ajar ini dapat dikembangkan lebih baik lagi dan menambah materi hingga satu tahun ajaran yakni semester 1 dan semester 2
ANALISIS KARAKTERISTIK BERPIKIR INTUITIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL RELASI DAN FUNGSI DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA DAN PERBEDAAN GENDER SISWA MTs PSM TANEN REJOTANGAN
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Analisis Karakteristik Berpikir Intuitif Siswa dalam Menyelesaikan
Soal Relasi dan Fungsi Ditinjau dari Kemampuan matematika dan Perbedaan Gender Siswa
di MTs PSM Tanen Rejotangan” ini ditulis oleh Della Anggun Prameswari, NIM.
12204183211, pembimbing Dr. Muniri, M.Pd.
Kata Kunci: Karakteristik Berpikir Intuitif, , Kemampuan Matematika, Relasi dan Fungsi,
dan Gender.
Ketika menyelesaikan soal matematika, terkadang siswa membutuhkan proses mental
yang berbeda agar dapat menyelesaikan soal matematika khususnya materi relasi dan fungsi.
Kemampuan matematika siswa dalam menyelesaikan soal secara cepat dan segera
dipengaruhi oleh aktivitas mental yang ditopang oleh berpikir intuitif. Dalam kemampuan
matematika setiap siswa pun berbeda-beda, tidak dipungkiri juga siswa laki-laki dan
perempuan memiliki kemampuan matematika yang berbeda. Kemampuan matematika tinggi,
sedang, dan rendah juga mempengaruhi siswa dalam melibatkan berpikir intuitifnya untuk
menyelesaikan soal. Karena siswa yang tidak dapat menyelesaikan soal secara analitis, tentu
akan menggunakan intuisinya guna menjadi jembatan agar siswa dapat menyelesaikan soal
matematika yang diberikan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik
berpikir intuitif apa yang dilibatkan siswa dalam menyelesaikan soal relasi dan fungsi yang
ditinjau dari kemampuan matematika dan perbedaan gender.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa MTs PSM Tanen Rejotangan kelas VIII B semester
genap. Subjek penelitian sebanyak 6 siswa yang terdiri 2 siswa berkemampuan matematika
tinggi, 2 siswa berkemampuan matematika sedang, dan 2 siswa berkemampuan matematika
rendah. Data penelitian ini berupa hasil jawaban tes dan hasil wawancara siswa dalam
menyelesaikan soal relasi dan fungsi.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes,
wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan instrumen penelitian ini yaitu lembar tes soal relasi
dan fungsi dan pedoman wawancara.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa (1) Karakteristik berpikir intuitif yang
dilibatkan oleh siswa berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal relasi dan
fungsi yakni; self evidence, theory status, globality, implicitness dan coerciveness. (2)
Karakteristik berpikir intuitif yang dilibatkan oleh siswa berkemampuan matematika sedang
dalam menyelesaikan soal relasi dan fungsi yakni; theory status, globality dan implicitness.
(3) Karakteristik berpikir intuitif yang dilibatkan oleh siswa berkemampuan matematika
rendah dalam menyelesaikan soal relasi dan fungsi yakni; extrapolativeness, implicitness, self
evidence, dan globality
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
