5 research outputs found

    PENGEMBANGAN FLASHCARD “MARI BERTEMAN” SEBAGAI MEDIA PELATIHAN LITERASI EMOSI UNTUK ANAK

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya media pelatihan literasi emosi dan rendahnya literasi emosi sesuai asumsi kajian mengenai media pelatihan literasi emosi dan isu-isu rendahnya literasi emosi yang marak terjadi di indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pengembangan media flashcard “Mari Berteman” sebagai media pelatihan literasi emosi untuk anak dengan mengadopsi model pengembangan ADDIE. Adapun aktivitas pengembangan produk sesuai prosedur model pengembangan ADDIE melalui tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Pada tahap analisis, data dikumpulkan melalui teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa media pelatihan literasi emosi dibutuhkan guna mengembangkan kemampuan literasi emosi pada peserta didik. Hasil desain diperoleh rancangan awal media yang dikembangkan storyboard, isi media, ilustrasi dan pemilihan warna dan font. Hasil pengembangan media dibuat tiga set flashcard “Mari Berteman” sesuai tahap literasi emosi. Berdasarkan hasil validasi diperoleh persentase kelayakan oleh ahli media sebesar 94% dengan kriteria sangat layak, persentase kelayakan oleh ahli materi sebesar 85% dengan kriteria sangat layak. Hasil implementasi menyatakan respons guru terhadap media sangat positif didukung dengan nilai persentase kelayakan media sebesar 95% dengan kriteria sangat layak dan respons anak terhadap media sangat positif dengan bukti persentase kelayakan media sebesar 94% dengan kriteria sangat layak. Hasil evaluasi dinyatakan bahwa secara keseluruhan media yang dikembangkan sangat layak digunakan dalam pelatihan literasi emosi. This research is motivated by the limited emotional literacy training media and low emotional literacy according to the assumptions of studies on emotional literacy training media and issues of low emotional literacy that are rife in Indonesia. This study aims to produce the development of "Mari Berteman" flashcard media as an emotional literacy training medium for children by adopting the ADDIE development model. The product development activities are according to the procedure of the ADDIE development model through the stages of analysis, design, development, implementation and evaluation. In the analysis phase, data were collected through data collection techniques including interviews, observation and documentation studies. The results of the analysis show that emotional literacy training media is needed to develop emotional literacy skills in students. The design results obtained from the initial draft of the media which developed storyboards, media content, illustrations and selection of colors and fonts. The results of media development made three sets of “Let's Be Friends” flashcards according to the emotional literacy stage. Based on the validation results, the percentage of eligibility by media experts was 94% with very feasible criteria, the percentage of eligibility by material experts was 85% with very feasible criteria. The results of the implementation stated that the teacher's response to the media was very positive, supported by a media feasibility percentage value of 95% with very feasible criteria and the child's response to the media was very positive with evidence of a media eligibility percentage of 94% with very feasible criteria. The results of the evaluation stated that overall the developed media was very suitable for use in emotional literacy training

    Program Leadership & School Culture dalam Mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

    No full text
    Program Leadership and School Culture berfokus pada pembentukan karakter kepemimpinan peserta didik yang memiliki nilai juang, kesabaran, tanggung jawab, kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, serta pengabdian yang ikhlas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana program Leadership and School Culture ikut berperan dalam proses Pembangunan karakter peserta didik di Pondok Pesantren Al-Izzah guna mendukung pencapaian tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs). Hal ini dibuktikan dengan profil lulusan yang ditetapkan oleh Pondok Pesantren Al-Izzah meliputi empat dimensi utama, yaitu: (1) Ketaqwaan, di mana peserta didik memiliki aqidah yang lurus, kemampuan ibadah yang benar, akhlak mulia, dan semangat perjuangan keislaman; (2) Kecerdasan, yang diwujudkan melalui prestasi akademik dan non-akademik, seperti hafalan Al-Qur’an, kemampuan bahasa asing (Inggris dan Arab), pemenuhan standar PISA, hingga kelulusan ujian internasional seperti CIE, TOEFL, dan TOAFL; (3) Kemandirian, meliputi kemampuan menghasilkan karya, menyelesaikan masalah hidup, dan beradaptasi di lingkungan sosial; serta (4) Kepemimpinan, yang mencakup fisik yang sehat, kepribadian tangguh, kemampuan memimpin diri dan orang lain, serta komunikasi publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara dan observasi di Pondok Pesantren Al-Izzah. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai efektivitas program Leadership dan School Culture dalam membangun karakter peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan SDGs, terutama dalam menciptakan generasi yang bertaqwa, cerdas, mandiri, dan berjiwa kepemimpinan Islami. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan lain dalam merancang program serupa guna mendukung pengembangan karakter peserta didik secara keseluruhan yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik

    Implementasi Pengembangan Infografis Terintegrasi sebagai Media dan Suplemen Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar

    No full text
    Learning English requires innovation as a form of learning adaptation to the current changing times, namely the adaptation period for new habits after the Covid-19 intervention. One form of learning innovation is through the development of learning media. The focus of this research is to describe the implementation of integrated infographic learning media with learning videos resulting from the design and development of researchers for learning English in elementary schools. The narrative inquiry method with a qualitative approach is the basis used for this research. Data collection techniques through interviews, observation and assisted by literature study. Learning English is carried out in class IV at SDN Ceungceum, Tasikmalaya Regency by applying a scientific learning model utilizing integrated infographic learning media with the advantage of helping to understand the concept of Types of Energy Sources as well as being used as an addition and extension of insight after learning. The integrated infographic media is designed by adding a QR code and a connected link to learning videos. The response of the students was very enthusiastic during the learning process. Learning outcomes are shown by discussion activities, presentations, and tests to make sentences get very good resultsPembelajaran Bahasa Inggris memerlukan inovasi sebagai bentuk adaptasi pembelajaran pada perubahan zaman saat ini yakni masa adaptasi kebiasaan baru pasca intervensi Covid-19. Salah satu bentuk inovasi pembelajaran melalui pengembangan media pembelajaran. Fokus penelitian ini untuk menguraikan implementasi media pembelajaran infografis terintegrasi dengan video pembelajaran hasil perancangan dan pengembangan peneliti terhadap pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Metode narrative inquiry dengan pendekatan kualitatif menjadi landasan yang digunakan penelitian ini. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi serta dibantu studi kepustakaan. Pembelajaran Bahasa Inggris dilakukan di kelas IV SDN Ceungceum Kabupaten Tasikmalaya dengan menerapkan model pembelajaran saintifik memanfaatkan media pembelajaran infografis terintegrasi dengan kelebihan membantu pemahaman konsep Types of Energy Sources juga dijadikan penambah dan perluasan (suplemen) wawasan selepas pembelajaran. Media infografis terintegrasi dirancang dengan menambahkan QR code dan link sebagai penghubung video pembelajaran. Respons peserta didik sangat antusias selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil belajar ditunjukkan dengan kegiatan diskusi, presentasi, dan tes membuat kalimat memperoleh hasil sangat baik

    Analisis kebutuhan flashcard sebagai media pelatihan literasi emosi pada anak usia sekolah dasar

    No full text
    Dewasa ini, perundungan merupakan masalah yang marak dialami anak usia sekolah dasar. Rendahnya literasi emosi dianalisis menjadi salah satu penyebab masalah tersebut. Namun, media pelatihan literasi emosi (Emotional Literacy) belum banyak dikembangkan. Sehingga, tujuan penelitian untuk memaparsajikan spesifikasi produk yang diperlukan dalam pengembangan flashcard sebagai media pelatihan literasi emosi. Pendekatan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan metode analisis kebutuhan dengan teknik pengumpulan data diantaranya wawancara, observasi dan studi pustaka. Pada tahap ini dilakukan analisis meliputi analisis kebutuhan dan analisis konten media flashcard literasi emosi. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung, kemampuan literasi emosi pada anak usia sekolah dasar masih dinilai rendah. Sedangkan upaya sementara guru untuk mengatasi masalah perilaku dan konflik emosi peserta didik berupa kesepakatan kelas dan nasihat. Sementara itu hasil studi literatur mengemukakan bahwa media flashcard literasi emosi untuk anak usia sekolah dasar belum banyak digunakan dan dikembangkan. Berdasarkan hasil wawancara, media flashcard literasi emosi dibutuhkan untuk  dikembangkan dengan syarat perlu menarik dari tampilan warna, ilustrasi dan isi. Media flashcard pelatihan literasi emosi yang dikembangkan akan memuat lima aspek literasi emosi dengan mengikuti langkah pelatihan literasi emosi Steiner diantaranya: 1) opening the heart; 2) surveying the emotional landscape; 3) taking responsibility

    THE IMPACT OF SOROGAN AND BANDONGAN METHODS ON MAHASANTRI'S PROFICIENCY IN READING THE YELLOW BOOKS

    No full text
    This study aims to identify the impact of two learning methods (sorogan and bandongan) used in the H Mahasantri Complex of Krapyak Islamic Boarding School, Ali Maksum Foundation Yogyakarta. Aiming to find out which learning method is very significant to the ability of Mahasantri to read the yellow book. This research is qualitative in nature with the type of interview study research, the data is analyzed descriptively assisted by written references. This study concludes that the sorogan method and the bandongan method have their own characteristics and uses. in terms of the ability to read the yellow book of Mahasantri, the sorogan method is favored because this method can provide more effective learning. There are many profound positive impacts on the student's scientific development, independence, discipline, and spirituality. The sorogan and bandongan methods can be combined with the aim of improving the quality of education by providing a balance between individual deepening and collective understanding. By combining the two methods, students can learn in more diverse ways, gain a deeper understanding, and overcome the shortcomings that exist in each method
    corecore