1,720,955 research outputs found

    Kepatuhan wajib pajak badan dalam reformasi perpajakan: kualitas pelayanan dan manajemen organisasi

    Full text link
    Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penerimaan pajak adalah sumber pendapatan negara yang dominan. Dibandingkan dengan pos penerimaan lainnya, penerimaan pajak memberikan kontribusi terbesar, baik dalam jumlah maupun persentasenya. Target penerimaan pajak dan realisasinya dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Sejak tahun 1983 pemerintah Indonesia memberlakukan sistem self assessment bagi wajib pajak. Sistem baru ini menggantikan sistem sebelumnya yang dikenal sebagai official assessment. Dalam sistem perpajakan yang menganut self assessment, keberadaan Surat Pemberitahuan (SPT) menjadi suatu hal yang mutlak. Bagi wajib pajak, Surat Pemberitahuan merupakan sarana pertanggung jawaban kewajiban perpajakan. Sementara bagi Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak), Surat Pemberitahuan sebagai sarana pemantauan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan wajib pajak. Artinya, melalui Surat Pemberitahuan tersebut tingkat kepatuhan pajak wajib pajak dan sekaligus tingkat pantauan terhadap kepatuhan wajib pajak yang dilakukan oleh Ditjen Pajak dapat diketahui dengan pasti. Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut: (1). Menganalisis besarnya pengaruh kualitas pelayanan melalui biaya kepatuhan terhadap kepatuhan pajak wajib pajak; (2). Menganalisis besarnya pengaruh karakteristik wajib pajak melalui tata cara pelayanan terhadap kepatuhan pajak wajib pajak; (3). Menganalisis besarnya pengaruh biaya kepatuhan dan tata cara pelayanan terhadap kepatuhan pajak wajib pajak. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan agribisnis dengan subyek penelitian sebanyak 38 responden. Penerimaan pajak yang terus meningkat menunjukkan adanya perubahan yang signifikan juga pada kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal adalah kondisi yang dimiliki atau terjadi di kantor pelayanan pajak. Dalam hal ini termasuk kualitas pelayanan yang diberikan Ditjen Pajak kepada wajib pajak, dan aspek organisasi yang merupakan sistem yang digunakan dalam proses pelayanan. Sementara itu, kondisi eksternal adalah kondisi dari wajib pajak yang terkait dengan kepatuhannya dalam membayar pajak, menepati tenggat pembayaran, dan sebagainya. Dalam penelitian ini akan ditinjau pelayanan yang diberikan oleh kantor pajak terhadap wajib pajak. Kualitas pelayanan yang diberikan akan menentukan tindakan wajib pajak yang diharapkan mewujudkan kepatuhan pajak, sehingga pada akhirnya akan memenuhi target penerimaan pajak. Kepatuhan pajak juga terkait dengan biaya kepatuhan pajak yang harus ditanggung wajib pajak dalam memenuhi kewajiban pajaknya. Di samping itu, kompleksitas lembar isian pajak yang harus diisi, wajib pajak seringkali mengalami kesulitan untuk dapat menghitung kewajiban pajaknya mengingat seringnya frekuensi perubahan peraturan perpajakan dan rumitnya peraturan pelaksanaannya. Gambaran dari hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar responden memenuhi kewajibannya terkait SPT Tahunan dengan tepat waktu. Selain itu, sebagian besar responden juga setuju terhadap berbagai sanksi yang diberikan atas ketidak tepatan atau ketidakakuratan sehubungan dengan SPT Tahunan. Dari hasil pengujian hipotesis pertama, ditemukan hasil yang didapat menunjukkan bahwa kualitas pelayanan dan karakteristik wajib pajak mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap kepatuhan pajak. Nilai t-statistik untuk variabel kualitas pelayanan adalah 7,39 (lebih besar dari 1,96 atau memiliki hubungan yang signifikan) dan nilai R2 (reliabilitas indikator) adalah 0,79. Artinya variabel laten kepatuhan pajak mampu dijelaskan variabel kualitas pelayanan sebesar 79% atau kepatuhan dipengaruhi oleh kepuasan pelayanan sebesar 79%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sisanya sebanyak 21% ditentukan oleh faktor atau variabel lainnya. Demikian juga dengan hipotesis kedua yang menguji pengaruh antara kualitas pelayanan dan biaya kepatuhan terhadap kepatuhan pajak, memperoleh hasil yang mendukung hipotesis. Nilai t-statistik untuk variabel biaya kepatuhan adalah 2,02 (lebih besar dari 1,96 atau memiliki hubungan yang signifikan) dan nilai R2 (reliabilitas indikator) adalah 0,20. Artinya variabel laten kepatuhan pajak mampu dijelaskan dengan variabel biaya kepatuhan sebesar 20% atau dapat dikatakan biaya kepatuhan memberikan pengaruh kepada kepatuhan sebesar 20%. Sedangkan hipotesis ketiga tentang biaya kepatuhan dan tata cara pelayanan, Nilai t-statistik untuk variabel karakteristik wajib pajak adalah 5,54 (lebih besar dari 1,96 atau memiliki hubungan yang signifikan) dan nilai R2 (reliabilitas indikator) adalah 0,63. Artinya variabel laten kepatuhan pajak mampu dijelaskan variabel tata cara pelayanan wajib pajak sebesar 63%. Dari hasil penelitian terdapat suatu model struktural yang secara komprehensif memetakan pengaruh faktor-faktor kualitas pelayanan melalui biaya kepatuhan dan karakteristik wajib pajak melalui tatacara pelayanan terhadap kepatuhan pajak, serta biaya kepatuhan dan tatacara pelayanan terhadap kepatuhan pajak. Di samping faktor di atas, masih ada faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi kepatuhan pajak. Faktor atau variabel tersebut dapat berupa faktor lingkungan eksternal atau faktor kelembagaan diluar institusi pajak. Bagi Ditjen Pajak perlu dipikirkan langkah strategis untuk dmeningkatkan kepatuhan pajak bagi wajib pajak dari sektor agribisnis di luar responden. Satu hal penting yang bisa dicatat dari hasil penelitian ini adalah perlunya peningkatan kualitas pelayanan terhadap wajib pajak. Namun, peningkatan kualitas layanan tersebut tidak hanya menyangkut perbaikan kinerja Ditjen Pajak secara internal, tetapi juga harus dapat menyertakan perbaikan ”biaya kepatuhan” yang ditanggung wajib pajak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya. Artinya, peningkatan kualitas layanan yang ideal adalah bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi meningkatkan kualitas internal Ditjen Pajak, yaitu mendapatkan penilaian dan pandangan positif dari masyarakat. Di sisi yang lain, memperbaiki beban biaya kepatuhan yang harus ditanggung wajib pajak dalam memenuhi kewajiban pajaknya. Beban biaya kepatuhan yang selama ini ditanggung wajib pajak adalah biaya yang terkait dengan nilai pajak, dan pengeluaran lainnya yang diperhitungkan ketika wajib pajak harus melaporkan setoran pajaknya. Perbaikan beban biaya dapat terjadi misalnya adanya perbendaan penafsiran karena kompleksitas peraturan pajak, penghematan pada jumlah tenaga yang terlibat dan biaya lain di luar setoran pajak

    PEMANFAATAN TANAH WAKAF UNTUK KEGIATAN PRODUKTIF(STUDI ANALISIS YURIDIS TERHADAP PENGELOLAAN TANAH WAKAF DI KABUPATEN KUDUS)

    Full text link
    Perwakafan atau wakaf merupakan pranata dalam keagamaan Islam yang sudah mapan.Wakaf tersebut termasuk ke dalam kategori ibadah kemasyarakatan (ijtima’iyyah).Di sini penulis memberikan informasi tentang pemanfaatan tanah wakaf untuk kegiatan produktif.Pemahaman lama masyarakat tentang harta wakaf yang hanya digunakan untuk kepentingan ibadah saja, misalkan untuk masjid dan musola perlu dikembangkan sehingga tanah wakaf bisa di gunakan sebagai salah satu penopang ekonomi ummat dan kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya Undang-Undang No. 41 tahun 2004 membawa pembaharuan hukum dalam pemanfaatan dan pengelolaan tanah wakaf di Indonesia ke arah yang lebih produktif untuk kesejahteraan ummat. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dan termasuk jenis penelitian lapangan (field research).Metode pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi.Adapun pendekatannya memakai pendekatan Yuridis Empiris, serta menggunakan metode analisis data Analisis Deskriptif. Hasil penelitian bahwa Pengaturan pemanfaatantanah Wakaf untuk kegiatan Produktif di Indonesiatelah mengalami banyak perkembangan, yang terbaru di atur di dalam UU No. 41 tahun 2004.Terutama di Pasal 43 ayat 2.Di dalam pelaksanaan pemanfaatan tanah wakaf di Kabupaten Kudus pada organisasi keagamaan Nahdlotul Ulama, Muhammadiyah, dan Yayasan Kesehatan Islam Kudus sudah mengarah kearah yang produktif, dengan dikembangkan dalam bidang kesehatan ekonomi, dan pendidikan.Dan prospek jangka panjang yang bisa di peroleh dari pemanfaatan tanah wakaf untuk kegiatan produktif lebih banyak, dan ini tergantung dari pengelola tanah wakaf atau Nadzir. Dari penelitian ini saran yang dapat diberikan kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama agar melaksanakan sosialisasi tentang wakaf secara periodik, Kepada Kepala KUA agar melaksanakan bimbingan kepada umat Islam, sehingga umat menjadi faham tentang wakaf, tidak hanya dari sudut prosedur wakaf, tetapi juga pemahaman wakaf yang lebih komprehensif

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore