1,720,955 research outputs found
PENGARUH HARGA, PELAYANAN, ATMOSFER KENYAMANAN DAN DESAIN RESTORAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PELANGGAN KINOL BISTRO AND POOL PADANG
Latar Belakang
Era globalisasi saat ini telah menuntut adanya sebuah perubahan dalam segala
bidang. Salah satunya adalah bidang pemasaran yang kian sengit dalam setiap
persaingan. Persaingan bisnis menuntut perusahaan harus mampu bersikap dan
bertindak cepat dan tepat dalam menghadapi persaingan di lingkungan bisnis yang
bergerak sangat dinamis dan penuh dengan ketidakpastian (Pujadi, 2010).
Sebagaimana kita ketahui, tingkat persaingan dunia usaha global sangat
ketat,karena setiap perusahaan senantiasa berusaha untuk dapat meningkatkan pangsa
pasar dan meraih konsumen baru. Perusahaan harus dapat menentukan strategi
pemasaran yang tepat agar usahanya dapat bertahan dan memenangi persaingan,
sehingga tujuan dari perusahaan tersebut dapat tercapai (Hilma Rahmi 2013). Di
samping itu, banyaknya bisnis yang bermunculan baik perusahaan kecil maupun
perusahaan besar berdampak pada persaingan yang ketat antar perusahaan, terutama
persaingan yang berasal dari perusahaan sejenis. Hal ini menyebabkan perusahaan yang
menerapkan konsep pemasaran perlu mencermati perilaku konsumen dan faktorfaktor
yang mempengaruhi keputusan pembeliannya dalam bisnis pemasaran dari sebuah
produk. Perkembangan bisnis di bidang FnB (Food and Beverage) di era saat ini telah
berkembang sangat pesat dan mengalami metamorfosis yang
berkesinambungan. Setiap pelaku usaha di tiap kategori bisnis dituntut untuk memiliki
kepekaan terhadap setiap perubahan yang terjadi dan menempatkan orientasi kepada
kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama dan meningkatkan laba (Kotler, 2009). Oleh
karena itu, setiap perusahaan dituntut bersaing secara kompetitif dalam hal menciptakan
2
dan mempertahankan pembeli yang loyal. Seiring dengan perkembangan ini, gaya hidup
pun mulai mempengaruhi keputusan masyarakat dalam menentukan suatu hal dimana
kebutuhan masyarakat semakin meningkat yang tidak hanya cukup dengan sandang,
pangan dan papan saja. Melainkan tingkat kepuasan yang lebih untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat khususnya di Indonesia.
Persaingan yang semakin ketat dan banyak digemari di era ini adalah bisnis di
bidang makanan. Sejak dahulu, usaha di bidang makanan menempati urutan teratas
dalam pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga masalah pangan dikategorikan ke
dalam kebutuhan primer atau kebutuhan pokok. Hal itu membuat manusia tidak akan
lepas dari kebutuhan untuk makan, karena hanya dengan makan manusia dapat
melangsungkan hidup dan tumbuh kembangnya. Bisnis ini cukup menjanjikan karena
kebutuhan utama yang harus dipenuhi orang yang tidak bisa diingkari adalah makanan.
Secara teoritis, dalam menentukan keputusan untuk mengunjungi tempat kuliner
yang diinginkan, konsumen akan mempertimbangkan beberapa hal seperti harga,
pelayanan, atmosfer kenyamanan, keragaman produk dan desain cafe. Salah satu hal
yang utama yang dipertimbangkan konsumen sebelum memilih tempat kuliner yang
diinginkan adalah harga.Menurut Swastha ( 2010 : 147 ) Harga adalah jumlah uang (
ditambah beberapa barang kalau mungkin ) yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya . Kemudian konsumen juga akan
mempertimbangkan masalah pelayanan di suatu tempat kuliner. Pelayanan adalah
sarana untuk mengidentifikasi dan memenuhi superior need. Dengan kata lain layanan
konsumen dapat menjadi pusat keuntungan perusahaan. Setelah itu, konsumen akan
lebih memilih tempat kuliner dengan tingkat atmosfer kenyamanan yang
diinginkanGiovanni Lokman dkk (2010) Salah satu faktor penentu kesuksesan sebuah
3
restoran adalah jenis produk yang ditawarkan. Jenis makanan yang berkualitas dan rasa
yang lezat menjadi salah satu faktor bagi konsumen dalam keputusan pembelian .
Atmosfer kenyaman menjadi faktor penentu terpenting bagi para konsumen dalam
memilih belanja di suatu toko. Dan yang terakhir, konsumen tentu akan lebih merasa
puas dengan adanya desain toko yang menarik. Desain toko (Store Design) merupakan
strategi penting untuk menciptakan suasana yang akan membuat pelanggan akan merasa
betah berada dalam suatu toko atau gerai.
Dalam menikmati hidangan atau makanan, setiap orang memiliki cara yang
berbeda untuk memenuhinya sesuai dengan selera masing-masing contohnya saja dalam
hal kuliner, seperti cafe, bofet atau pun makanan yang dijual dengan gerobak dipinggir
jalan. Cara tersebut dapat terpenuhi dengan memilih rumah makan yang menarik dengan
pelayanan yang mewah, dengan harapan konsumen akan merasa puas setelah ia
mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar di tempat makan tersebut. Di samping
itu, ada juga yang cenderung memilih rumah makan yang biasa tetapi memberikan
kepuasan dalam rasa makanan yang disantapnya. Sebagian konsumen ada yang
beranggapan dari pada makan makanan yang mewah serta mahal tetapi tidak cukup lezat
rasanya, lebih baik memilih rumah makan yang biasa tetapi cukup lezat sesuai dengan
selera mereka. Ini tergantung kepada selera masing-masing konsumen.
Salah satunya adalah masyarakat Indonesia yang semakin meningkat dalam
memenuhi kebutuhannya untuk memilih tempat kuliner yang diharapkan. Mulai dari
menu makanan yang disajikan, desain cafe, pelayanan yang nyaman, kebersihan, dan
harga. Gaya hidup seperti ini sudah mewabah hampir di semua kalangan terutama usia
remaja hingga dewasa. Seperti hobi berkumpul yang dapat menghabiskan waktu di cafecafe
dengan teman-teman sebayanya ataupun merayakan moment istimewa.
4
Di perkotaan pun sekarang sudah marak muncul cafe-cafe dengan kualitas yang
bermacam-macam, khususnya di Kota Padang. Banyaknya cafe-cafe dengan ciri khas
tertentu bermunculan. Mulai dari KIOSK dengan ciri khas minuman bubble, Coffe Toffe
dengan ciri khas minuman kopinya, Kinol Bistro and Pool dengan ciri khas menu
baratnya, serta cafe-cafe lainnya dengan ciri khas masing-masing.
Mulai dari segi harga, konsumen tentu akan mempertimbang kan harga di cafe
yang akan dikunjunginya, apakah sesuai kantong atau tidak. Kemudian dari segi
pelayanan, apakah pelayanan di cafe yang akan dikunjungi tersebut akan lebih
mengutamakan pelanggan yang dilayani dengan ramah dan tidak lelet. Setelah
konsumen puas dengan pelayanan dan harga, disinilah peran cafe tersebut untuk
mengatur strategi agar bisa mempertahankan konsumen tersebut untuk datang lagi ke
cafe itu. Pelayanan yang dapat memuaskan konsumen akan berdampak terjadinya
pembelian berulang-ulang yang berarti akan terjadi peningkatan penjualan. Contohnya
saja dengan memberikan desain cafe yang nyaman dan dapat mencuri perhatian
konsumen. Kemudian adanya musik untuk lebih menghidupkan suasana yang membuat
konsumen lebih betah untuk duduk lama disana, ataupun memasang televisi layar tancap
jika adanya acara-acara tertentu seperti adanya siaran bola unggulan yang membuat
konsumen ingin “nonton bareng (nonbar)” di suatu cafe. Ini bertujuan untuk
meningkatkan atmosfer kenyamanan konsumen. Desain atmosfer ini perlu dirumuskan
dalam tatanan strategis, karena itu, proses perencanaan haruslah memperhatikan elemen
strategis lainnya seperti pemilihan lokasi, pemilihan menu dan desain cafe. Hal inilah
yang membuat sebuah cafe dapat membangun lingkungan yang baik, sehingga dapat
memperkuat posisinya di mata konsumen.
5
Penelitian ini mengambil objek atas restoran Kinol Bistro and Pool. Restoran ini
merupakan tempat sejarah kota Padang yang dulunya adalah Apotek Kinol yang tutup
sejak beberapa tahun silam dan sekarang berubah menjadi restoran yang melengkapi
barisan panjang kuliner di kota Padang yang diresmikan pada tanggal 9 Mei 2014 lalu
yang bernama Kinol Bistro and Pool yang berlokasi di simpang kinol jalan Imam Bonjol
no. 28 padang. Masuk ke dalam restoran tersebut tidak lagi serasa di Padang, tapi serasa
masuk bar seperti dalam film-film koboi. Interiornya dihiasi dengan gambar-gambar
klasik yang sangat sulit dijumpai saat ini. Warna dinding yang serba hitam, bahkan ACnya
juga diwarnai hitam, sehingga menimbulkan suasana yang cukup romantis. restoran
tersebut dibuka sejak pukul 11.00 WIB sampai 23.00 WIB. Restoran itu juga dilengkapi
dengan 10 unit meja biliar yang dibuka sejak pukul 16.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB.
Restoran ini menggunakan konsep bistro untuk masyarakat ekonomi menengah ke atas.
Sedangkan untuk meja billiar memberikan kenyamanan yang premium.
Suasana baru inilah yang menjadi alasan penulis untuk menjadikan restoran
Kinol Bistro and Pool sebagai objek penelitian karena restoran Kinol Bistro and Pool
merupakan restoran baru yang sedang diminati di Kota Padang. Penelitian ini bertujuan
untuk mengkaji, mendeskripsikan, dan menganalisis aspek-aspek pemasaran yang
dilihat dari aspek harga, kualitas pelayanan, atmosfer kenyamanan, dan desain toko. Dari
permasalahan diatas, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut dalam bentuk skripsi
yang berjudul, “Pengaruh Harga, Pelayanan, Atmosfer Kenyamanan dan Desain Toko
terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Kinol Bistro and Pool Padang
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
Author Under Sail The Imagination of Jack London, 1893-1902
In Author Under Sail, Jay Williams offers the first complete literary biography of Jack London as a professional writer engaged in the labor of writing. It examines the authorial imagination in London's work, the use of imagination in both his fiction and nonfiction, and the ways he defined imagination in the creative process in his business dealings with his publishers, editors, and agents. In this first volume of a two-volume biography, Williams traverses the years 1893 to 1902, from London's "Story of a Typhoon" to The People of the Abyss. The Jack London who emerges in the pages of Author Under Sail is a writer whose partnership with publishers, most notably his productive alliance with George Brett of Macmillan, was one of the most formative in American literary history. London pioneered many author models during the heyday of realism and naturalism, blurring the boundaries of these popular genres by focusing on absorption and theatricality and the representation of the seen and unseen. London created an impassioned, sincere, and extremely personal realism unlike that of other American writers of the time. Author Under Sail is a literary tour de force that reveals the full range of London as writer, creative citizen, and entrepreneur at the same time it sheds light on the maverick side of machine-age literature.Intro -- Title Page -- Copyright Page -- Dedication -- Contents -- Acknowledgments -- Introduction -- 1. Spirit Truth -- 2. From Absorption to Theatricality and Back Again -- 3. "I Will Build a New Present" -- 4. Sons as Authors -- 5. Fathers as Publishers -- 6. The Daughter as Author -- 7. Lovers as Authors -- 8. At Sea with the Family -- 9. Yellow News, Yellow Stories -- 10. The Return Home -- Notes -- Bibliography -- Index -- About Jay WilliamsIn Author Under Sail, Jay Williams offers the first complete literary biography of Jack London as a professional writer engaged in the labor of writing. It examines the authorial imagination in London's work, the use of imagination in both his fiction and nonfiction, and the ways he defined imagination in the creative process in his business dealings with his publishers, editors, and agents. In this first volume of a two-volume biography, Williams traverses the years 1893 to 1902, from London's "Story of a Typhoon" to The People of the Abyss. The Jack London who emerges in the pages of Author Under Sail is a writer whose partnership with publishers, most notably his productive alliance with George Brett of Macmillan, was one of the most formative in American literary history. London pioneered many author models during the heyday of realism and naturalism, blurring the boundaries of these popular genres by focusing on absorption and theatricality and the representation of the seen and unseen. London created an impassioned, sincere, and extremely personal realism unlike that of other American writers of the time. Author Under Sail is a literary tour de force that reveals the full range of London as writer, creative citizen, and entrepreneur at the same time it sheds light on the maverick side of machine-age literature.Description based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries
- …
