1,721,006 research outputs found

    Psilaster andromeda subsp. andromeda andromeda? (Muller & Troschel 1842

    No full text
    Psilaster andromeda andromeda ? (Müller & Troschel, 1842) Reports for the Azores: p.p. Psilaster andromeda (D̹ben & Karen, 1846)—? Perrier 1894: 195–196; Perrier 1896a: 17, 1896a: 51; Psilaster andromeda (M̹ller & Troschel, 1842)—? Koehler 1909: 60, pl. 2, fig. 3, pl. 16, figs. 8–9; Koehler 1924: 205; Mortensen 1927a: 59–60, fig. 33; Marques 1980: 100; Gage et al. 1983: 274–275; Psilaster andromeda andromeda (M̹ller & Troschel, 1842)— García-Diez et al. 2005: 47. Type locality: Kattegat (probably off Bohuslan, western Sweden). See: A.M. Clark & Downey (1992: 77–78, figs. 14a, 15a–c, k, I, pl. 21, figs. D–G); Dilman (2006: 180). Occurrence: Northeast Atlantic cold waters, from the Arctic south to the SE of Greenland, the Reykjanes Ridge, Iceland-Faeroe Rise and from Scandinavia to the Bay of Biscay (A.M. Clark & Downey 1992, Dilman 2006) and the?Azores (Koehler 1909); the subspecies P. andromeda florae (Verrill, 1889) is known from south of Newfoundland to SE of Cape May, New Jersey (c. 38°30’N; A.M. Clark & Downey 1992). Depth: 70– 2,965 m (A.M. Clark & Downey 1992, Dilman 2006);? AZO: 140– 1,440 m (Perrier 1894, Koehler 1909). Habitat: soft sediments (mud or ooze; A.M. Clark & Downey 1992); predates on molluscs, echinoderms (young spatangoids), foraminifera, etc. (Mortensen 1927a). Remarks: A.M. Clark & Downey (1992) reviewed the bathymetrical and geographical distributions of Psilaster andromeda and concluded that it could not be established with certainty. One of the main contributing factors is that this highly variable species has been frequently confused with other similar species, such as Persephonaster patagiatus and P. sphenoplax, both overlapping the geographic distribution of Psilaster andromeda andromeda. They further suggest that records south of the Bay of Biscay are zoogeographically unlikely, thus implying that the only known Azorean records by Perrier (1894, 1896a) are misidentifications. Historically, Koehler (1909) had already questioned the validity of the determinations made by Perrier on the material from the Talisman and Hirondelle stating that the later author confused P. andromeda with P. patagiatus. On re-examination of the material taken by Hirondelle Koehler confirmed his suspicions and remarked that all specimens belonged to the latter species. As for the material collected by Talisman, Koehler commented that both species were present. However, A.M. Clark & Downey (1992) suspected that Koehler himself confused P. andromeda with P. sphenoplax. Additionally, on finding a great variability of the diagnostic characters for P. andromeda subspecies Dilman (2006) showed some concerns on their subspecific value.Published as part of Madeira, Patrícia, Kroh, Andreas, Cordeiro, Ricardo, De, António M., Martins, Frias & Ávila, Sérgio P., 2019, The Echinoderm Fauna of the Azores (NE Atlantic Ocean), pp. 1-231 in Zootaxa 4639 (1) on page 79, DOI: 10.11646/zootaxa.4639.1, http://zenodo.org/record/334216

    KINERJA SISTEM RESI GUDANG (SRG) DI PT. FOOD STATION TJIPINANG JAYA KABUPATEN NGAWI JAWA TIMUR

    No full text
    Karakteristik komoditas pertanian dan jumlah panen yang berlimpah menyebabkan terjadi over supply berakibat harga komoditas pertanian rendah tetapi pada masa paceklik harga komoditi pertanian meningkat dan terdapat keterbatasan permodalan bagi petani. Solusi Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan untuk mengatasi minimnya keterbatasan modal dan fluktuasi harga komoditas pertanian yang cenderung rendah pada masa panen dan harga yang melonjak tinggi pada masa paceklik adalah dengan Sistem Resi Gudang (SRG). Obyek dari penelitian ini adalah PT. Food Station Tjipinang Jaya yang terletak di Geneng, Kabupaten Ngawi dengan responden penelitian adalah 38 petani anggota Poktan Sido Rukun. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi Sistem Resi Gudang di PT. Food Station Tjipinang Jaya, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Sistem Resi Gudang di PT. Food Station Tjipinang Jaya dan menentukan rumusan strategi pengembangan pengelolaan Sistem Resi Gudang di PT. Food Station Tjipinang Jaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis Partial Least Square Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dan analisis matriks BCG. Hasil dari analisis adalah terdapat 12 indikator yang valid. Evaluasi inner model menunjukkan bahwa kebaikan model adalah 40,2% masuk dalam model moderat Model tersebut juga memiliki predictive relevance yang baik karena memiliki nilai Q-square diatas 0 yaitu 0,160. Hasil evaluasi inner model menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja Sistem Resi Gudang adalah pelayanan Sistem Resi Gudang dan sosialisasi Sistem Resi Gudang sedangkan komitmen pemerintah tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja Sistem Resi Gudang. Hasil analisis matriks BCG menunjukkan bahwa posisi PT. Food Station Tjipinang Jaya berada di kuadran Stars dengan pertumbuhan pasar sebesar 51,59% dan pangsa pasar relatif sebesar 0,513 kali. Srategi yang dipilih adalah Integration, Market Penetration, Market Development dan Product Development

    PENGEMBANGAN E-MODUL KESETIMBANGAN KIMIA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING TERINTEGRASI VIRTUAL LABORATORY UNTUK SMA/MA

    Full text link
    Perkembangan teknologi dalam bidang pendidikan mendorong terjadinya perpaduan antara teknologi cetak dengan teknologi komputer dalam proses pembelajaran, salah satunya yaitu modul elektronik (e-modul). Materi kesetimbangan kimia sering terkendala dalam penerapannya di sekolah karena sub materi yang banyak dan materi di akhir semester. Salah satu kendalanya adalah tidak terlaksananya praktikum dan waktu yang sangat singkat. oleh karena itu, diperlukan bahan ajar yang dapat mengefisiensi waktu dan juga mengatasi ketiadaan praktikum. Peneltian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar dalam bentuk e-modul kesetimbangan kimia berbasis inkuiri terbimbing terintegrasi virtual laboratory yang valid dan praktis untuk SMA/MA. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research & Development) menggunakan model 4D dengan tahapan define, design, develop, dan desseminate. Pada tahap develop dilakukan uji validitas, revisi, dan praktikalitas, uji validitas dilakukan oleh 5 orang validator. Berdasarkan uji validitas, didapatkan rata-rata momen kappa sebesar 0,840 dengan kategori kevalidan sangat tinggi. Uji praktikalitas dilakukan oleh satu orang guru SMAN 1 Bukittinggi, dua orang guru dan 21 orang siswa SMAN 2 Bukittinggi. Hasil uji praktikalitas dari guru dan siswa sebesar 0,860 dan 0,811 dengan kategori kepraktisan sangat tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa e-modul kesetimbangan kimia berbasis inkuiri terbimbing terintegrasi virtual laboratory untuk SMA/MA valid dan praktis digunakan dalam pembelajaran di sekolah. Pada tahap desseminate, dilakukan penyebaran terbatas yaitu di SMAN 1 Bukittingg

    Validitas dan Praktikalitas E-Modul Berbasis Inkuiri Terbimbing Terintegrasi Laboratorium Virtual pada Materi Hidrolisis Garam kelas XI SMA/MA

    Full text link
    E-modules are one of the innovations in the development of teaching materials that can be integrated with virtual laboratories. The learning model that can be applied in the development of e-modules is a guided inquiry learning model . This research aims to produce a salt hydrolisis e-module oriented on guided inquiry learning model integrated with virtual laboratories  and reveal the validity and practicality of e-modules. The type of this research  is research and development (R&D). the method used in this research is developmental model by using 4-D or 4-P design. They are define, design, develop and disseminate. This research is limited to the stage of development, the validity and practicality test. The data collection instrument is  a questionnaire of validity and practicality. The e-module was validated by 6 experts, they are 3 chemistry lectures of FMIPA UNP and 3 chemistry teachers while practicality test was carried out by 2 chemistry teachers and 15 XII grade students of MIPA SMAS Adabiah 2 Padang. data from validity and practicality test results were analyzed using the cohen kappa formula. Based on the results of the study, it was found that average kappa moment of validity test was 0,83 with a very high validity category, the average kappa moment of teacher practicality was 0,82 with a very high practicality category and the average kappa moment students practicality was 0,82 with a very high practicality category. The results of the analysis of students answer on e-module, it was found average of key question was 90%, average of worksheet was 94,8% and average of evaluation test was 90%. Thus, it was concluded that the salt hydrolysis e-module based on guided inquiry learning virtual laboratories integrated was produced was valid and practical

    Needs Analysis of PBL-based Chemical Bonding Student Worksheets Development for Differentiated Learning

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan bahan ajar yang diharapkan dapat membantu proses pembelajaran pada materi ikatan kimia. Subjek penelitian ini adalah 2 prang guru kimia serta 30 orang peserta didik kelas XI SMAN 2 Padang dan 18 orang peserta didik kelas X SMAN Pembangunan Laboratorium UNP. Instrumen dalam penelitian ini adalah wawancara dengan 2 orang guru kimia dan angket analisis kebutuhan yang diberikan kepada peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi masih belum diterapkan oleh guru serta belum tersedianya bahan ajar sesuai dengan kebutuhan peserta didik pada materi ikatan kimia menggunakan liveworksheets. Kesimpulan dari penelitian ini dibutuhkan LKPD berbasis PBL menggunakan liveworksheets yang diharapkan dapat membantu guru dan peserta didik selama proses pembelajaran berdiferensiasi pada materi ikatan kimia.DOI: 10.23960/jppk.v12.i3.23.1

    Pengembangan Four-Tier Test untuk Mengidentifikasi Miskonsepsi pada Materi Sistem Periodik Unsur Fase E SMA/MA

    Full text link
    Penelitian ini dilatar belakangi oleh banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik di SMA/MA pada proses pembelajaran kimia yang berhubungan dengan kesalahpahaman peserta didik memahami konsep kimia sehingga diperlukan sebuah alat ukur untuk mengetahui permasalahan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan instrumen tes diagnostik four-tier untuk mengidentifikasi miskonsepsi peserta didik pada materi sistem periodik unsur yang memenuhi kriteria instrumen tes yang baik. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development dengan menggunakan model pengembangan Treagust (1988). Berdasarkan hasil validasi terhadap lima orang validator, instrumen tes diagnostik dinyatakan valid secara logis dengan nilai rata-rata 0,88. Berdasarkan hasil uji coba terhadap peserta didik, didapatkan nilai reliabilitas instrumen tes diagnostik pada tingkat pertama (first-tier) dan tingkat ketiga (third-tier) sebesar 0,88 dan 0,90 dengan kategori reliabilitas sangat tinggi, serta memiliki indeks kesukaran, daya pembeda serta fungsi distraktor yang baik. Implikasi penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai alat ukur bagi guru untuk mengetahui miskonsepsi peserta didik SMA/MA pada materi sistem periodik unsur

    PENGEMBANGAN E-MODUL TERMOKIMIA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING TERINTEGRASI VIRTUAL LABORATORY UNTUK SMA/MA

    Full text link
    Termokimia merupakan salah satu materi pada pembelajaran kimia kelas XI semester I di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berisi pengetahuan yang berdimensi faktual, konseptual, dan prosedural yang dapat diajarkan dengan metode dan bahan ajar yang bervariasi. Dengan berkembangnya IPTEK dan adanya peralihan media pembelajaran dari bentuk buku ke arah elektronika, serta diterapkannya kurikulum 2013 dibeberapa sekolah, maka bahan ajar berupa modul cetak bisa dikembangkan menjadi lebih interaktif seperti e-modul (Electronic Modul). Pada e-modul dapat diterapkan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 dan mampu menuntun siswa aktif dalam menemukan suatu konsep. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian dan pengembangan (R&D) dengan model pengembangan 4-D. E-Modul yang dikembangkan divalidasi oleh 3 orang dosen kimia FMIPA UNP dan 2 orang guru kimia SMAN 2 Lubuk Basung. Angket uji praktikalitas dilakukan oleh 2 orang guru kimia SMAN 2 Lubuk Basung dan 26 orang siswa kelas XII IPA 6 SMAN 2 Lubuk Basung. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket validitas dan angket praktikalitas yang hasilnya dianalisis menggunakan formula Kappa Cohen. Hasil uji validitas diperoleh rata-rata momen kappa sebesar 0,87 dengan kategori kevalidan sangat tinggi. Hasil uji praktikalitas terhadap guru diperoleh rata-rata momen kappa sebesar 0,87 dan terhadap siswa sebesar 0,86 dengan kategori kepraktisan sangat tinggi

    Development of Test Instrument Two Tier Based on Higher Order Thingking Skills (HOTS) on Volta Cell Material for SMA/MA Students

    No full text
    HOTS is a thinking ability that can lead students to transfer and connect between concepts, process information, solve problems based on the information obtained and examine creative, innovative and critical ideas. With this HOTS, it can improve students' thinking and creativity skills and prepare their abilities to face the industrial revolution 4.0 in the 21st century. The type of research used is research and development (R&D) with the Plomp development model. Based on the results of the content validity research consisting of questions, stimulus questions, answers to questions (first tier) and reasoning questions (second tier) the CVI value was obtained. 0.95, 0.96, 0.95 and 1. The instrument was tested on class XII students of SMAN 3 Payakumbu and 19 items of first tier and second tier questions were empirically valid. Instrument reliability for first tier and second tier respectively namely 0.97 and 0.91. The practicality of the test instrument by the teacher was obtained by a score of 83.33, the practicality of the student obtained a score of 75.11. Based on the data obtained, the developed test instrument is valid, has very high reliability and is practical.Keywords : test instrument, HOTS, two tier, voltaic cell, Plomp

    Pengembangan Instrumen Tes Two Tier Berbasis Higher Order Thinking Skills pada Materi Sifat Koligatif Larutan untuk Siswa SMA/MA

    No full text
    Tuntutan abad ke-21 menuntut siswa untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir sehingga dapat membekali kompetensi dasar siswa dalam berpikir tingkat tinggi dengan adanya ketersediaan instrumen tes berbasis HOTS. Penelitian ini bertujuan untuk  menghasilkan instrumen tes berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam bentuk two tier yang valid dan realiabel pada materi sifat koligatif larutan. Jenis penelitin yang digunakan adalah research and development (R&D) dengan model pengembangan plomp yang terdiri dari tiga tahapan yaitu preliminary research, prototyping stage dan assestment phase serta teknik analisis data pada validitas konten menggunakan metode CVR dan validitas konstruk menggunakan Aiken V. Berdasarkan hasil penelitian nilai CVR dari validitas konten yang terdiri dari stimulus soal, pertanyaan soal (first tier), jawaban soal dan alasan soal (second tier) yaitu 1 dan validitas konstruk dari aspek materi, penyajian, bahasa dan aturan tambahan berurut-turut 95.17%, 94,11%, 98.67% dan 99.78%. Instrumen tes two tier memiliki tingkat realibilitas pada first tier 0. 82 dan second tier 0.91. Data yang diperoleh dari instrumen tes two tier berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada materi sifat koligatif larutan sudah valid dan memiliki realibiltas  item soal yang sangat tingg
    corecore