41 research outputs found

    Makna Simbolis Dalam Ritual Tradisi Manten Tebu di Pabrik Gula Semboro Kabupaten Jember

    No full text
    Abstrak Suku Jawa memiliki bermacam-macam tradisi upacara adat yang hingga saat ini masih dilaksanakan. Masyarakat memiliki kepercayaan tradisi adat wajib dilaksanakan, jika tidak dilaksanakan bisa kejadian yang tidak diharapkan, sehingga wajib dilaksanakan dengan prosesi dan sesaji yang lengkap. Seperti tradisi pengantin tebu wajib dilaksanakan karena di dalam prosesi tata laku ada makna simbolis yang bisa menarik perhatian. Tradisi ini menjadi tradisi ritual tahunan dari pabrik gula Semboro. Tradisi dilaksanakan saat buka musim giling. Tempat penelitian di Kebun Hak Guna Usaha (HGU) tanah Spada PT Perkebunan 11 (PTPN XI) Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji Jember dan PG Semboro kecamatan Semboro Jember. Tujuan penelitian untuk mengetahui tata laku upacara dari awal sampai akhir penutup, serta mendeskripsikan makna yang terkandung di dalam simbol-simbol di tata acara serta ubarampe. Rancangan penelitian menggunakan teori Semiotika Charles Sanders Pierce. Sumber data menggunakan wawancara juga dokumentasi yang dilaksanakan langsung di lapangan. Sesudahnya semua data dianalisis dengan cara induktif yang memberi penjelasan mengenai data hasil wawancara. Hasil penelitian ada tata laku slametan, sesaji, ubarampe, dan ujub yang menjadi simbol dari media komunikasi manusia dengan alam gaib. Simbol-simbol dalam ritual ada pesan yang ditujukan untuk kelancaran selama proses giling sehingga pesan tadi memiliki nilai yang positif. Kata Kunci : Pengantin tebu, Semiotik, Pabrik Gula Semboro, Simbolik

    Wujud Kemandirian Wanita dalam Novel Sekar Ratri Karya Rita Nugroho Dwi Krisnawati

    No full text
    Abstract The novel Sekar Ratri by Rita Nugroho Dwi Krisnawati is a literary work in the form of a Javanese novel which tells about a woman who has an independent attitude in doing various things in her life. This study has the aim of research, namely to explain the form of women's independence in the field of work in the novel Sekar Ratri. The theory used in this study is the theory of liberal feminism where the theory fights for rights and equality for all women. The method used in this study is using qualitative methods. This research requires data using descriptive qualitative techniques. So, the data is in the form of words, sentences or phrases or paragraphs contained in the novel. The data source obtained in this study is from the Sekar Ratri novel itself. The form of women's independence can be answered through the formulation of the problem in this study, namely how is the form of women's independence in the novel Sekar Ratri by Rita Nugroho Dwi Krisnawati. The results of this study include women's independence which is divided into 3 areas, namely in the field of work which shows that the main female character is a hard worker and has a strong determination and a woman who never gives up, a form of women's independence in the family which shows that as a woman the work done not only outside the home but women also have to take care of the house independently as housewives and as a wife, the manifestation of women's independence in society shows that women must also be in the public sphere, as social beings women also have an important role in social life. Keywords: Independent, Women, Liberal Feminism.   Abstrak Novel Sekar Ratri karya Rita Nugroho Dwi Krisnawati adalah suatu karya sastra yang berwujud novel bahasa Jawa yang menceritakan tentang wanita yang mempunyai sikap mandiri dalam melakukan berbagai hal dikehidupannya. Penelitian ini memiliki tujuan dari penelitian yaitu menjelaskan wujud kemandiran wanita pada bidang pekerjaan dalam novel Sekar Ratri. Teori yang digunakakn dalam penelitian ini yaitu teori feminisme liberal dimana teori tersebut memperjuangkan hak dan kesetaraan bagi seluruh wanita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini data dijabarkan dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Jadi, data berupa kata, kalimat maupun frasa ataupun paragraph yang terdapat dalam novel. Sumber data yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu dari novel SekarRatri ini sendiri. Wujud kemandirian wanita dapat dijawab melalui rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimana wujud kemandirian wanita dalam novel Sekar Ratri karya Rita Nugroho Dwi Krisnawati. Hasil dari penelitian ini yaitu diantaranya kemandirian wanita yang dibagi menjadi 3 bidang yakni pada bidang pekerjaan yang menunjukan bahwa tokoh utama wanita merupakan sosok pekerja keras dan mempunyai tekad yang kuat serta wanita pantang menyerah, wujud kemandirian wanita dalam keluarga yang menunjukan bahwa sebagai wanita pekerjaan yang dilakukan tidak hanya di luar rumah namun wanita juga harus mengurus rumah sebagai ibu rumah tangga dan sebagai seorang istri, wujud kemandirian wanita dalam masyarakat menunjukan bahwa wanita juga harus mandiri di ranah public, sebagai makhluk sosial wanita juga memiliki peran yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kata kunci: Kemandirian, Wanita, Feminisme Libera

    EMOSI DALAM NOVEL KASRIMPET PIWELING KARYA TULUS SETIYADI (TEORI PSIKOLOGI ALLPORT)

    No full text
    Abstract Allport's theory uses several terms that are considered important, namely traits, attitudes, and habits. Of these three can determine the emotions of every human being. Emotions are prejudices that arise when humans are in certain situations. The purpose of this research is The form of emotion experienced by the characters. The method used is qualitative in the form of a description. The source of the data in this study was the novel Kasrimpet Piweling by Tulus Setiyadi and the data collected in this panel were in the form of words, phrases and sentences. The instrument in this study was the researcher herself in analyzing the novel, also assisted by supporting tools in the form of laptops, novels, books, and stationery used to record and store the data found. Collecting research data by way of literature study. The data analysis technique used is descriptive qualitative analysis. The results of this study are divided into two, namely The Emotional Forms experienced by the Characters, divided into three, namely confusion, love, and disappointment. Keywords: Allport Psychology, Structure of Personality, Emotional form.AbstrakTeori Allport menggunakan beberapa istilah yang dianggap penting yaitu sifat, sikap, dan kebiasaan. Dari ketiga tersebut dapat menentukan emosi setiap manusia. Emosi yaitu prasangka yang timbul ketika manusia berada di situasi tertentu. Tujuan dari penelitian ini yaitu wujud emosi yang dialami tokoh. Metode yang digunakan yaitu kualitatif yang berupa deskripsi. Sumber data dalam penelitian ini berupa novel Kasrimpet Piweling karya Tulus Setiyadi dan data yang dikumpulkan dalam panliten ini berupa kata, frasa lan kalimat. Instrumen dalam penelitian ini yaitu peneliti sendiri dalam menganalisis novel, juga dibantu alat-alat pendukung berupa laptop, novel, buku, dan alat-alat tulis yang digunakake untuk mencatat dan menyimpan data-data yang ditemukan. Mengumpulkan data penelitian dengan cara studi pustaka. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis dekriptif kualitatif. Hasil penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu Wujud Emosi yang dialami oleh tokoh, dibagi menjadi tiga yaitu bingung, cinta, dan kecewa.Kata Kunci : Psikologi Allport, Struktur Kepribadian, Wujud Emosi

    KOMPARASI TRADHISI ING PASAREYAN DEWI SEKARDADU DHUSUN GONDANG KABUPATEN LAMONGAN LAN DHUSUN KETINGAN KABUPATEN SIDOARJO (TINTINGAN ETNOLOGI BUDAYA)

    No full text
    Tradhisi Pasareyan Dewi Sekardadu mujudake tradhisi kang nduweni ancas mengeti lan ngurmati jasa-jasa kang wis ditindakake dening Dewi Sekardadu sarta sarana ngalap berkah para warga anggone nyuwun gampang lancar sajrone panguripan bebrayan. Tradhisi kasebut ditindakake ana ing rong dhusun kang beda kecamatan lan kabupaten, yaiku Dhusun Gondang Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan lan Dhusun Ketingan Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo. TPDSG lan TPDSK ditindakake saben setaun pisan. Ancas saka punjere underan panliten yaiku ngandharake lan njlentrehake (1) mula buka TPDSG lan TPDSK, (2) makna simbol sajrone TPDSG lan TPDSK, (3) wujud komparasi kang ana sajrone TPDSG lan TPDSK, lan (4) upaya pelestarian marang TPDSG lan TPDSK. Panliten iki nggunakake ancangan deskriptif kualitatif kalebu komparatif kanthi pendekatan budaya. Konsep lan teori kang digunakake sajrone panliten yaiku konsep etnologi budaya. Dhata panliten iki kaperang dadi loro yaiku awujud dhata lesan lan dhata tulis. Dhata lesan yaiku asil wawancara saka narasumber. Dhata tulis yaiku catetan-catetan utawa bukti dhokumentasi kang ana lan kasimpen ngenani TPDSG lan TPDSK, dene sumber dhata uga kaperang dadi loro yaiku sumber dhata primer lan sumber dhata sekunder. Tatacara analisis dhata panliten nggunakake patang tahapan yaiku transkrip dhata, verifikasi dhata, idhentifikasi dhata, lan nafsirake dhata. Patang tahapan kasebut cundhuk karo panliten TPDSG lan TPDSK sajrone ngolah informasi saka lapangan dadi sawijine asil panliten kang awujud laporan. Asile panliten nuduhake mula buka anane TPDSG lan TPDSK nduweni sesambungan langsung karo Dewi Sekardadu lan sejarah saka dhusun kang saiki dadi papan panggone pasareyan lan ditindakake tradhisi, makna simbol kang kinandhut sajrone tradhisi sakloron diperang dadi loro yaiku saka tatalaku lan ubarampe. Makna-makna kang piningit nduweni gegayutan marang alam semesta lan prinsip sajrone panguripan bebrayan Jawa. Wujud komparasi antarane TPDSG lan TPDSK kaperang dadi rong aspek yaiku aspek pambeda lan aspek kang padha. Aspek pambeda kalebu saperangan bab kang luwih akeh ditemokake sajrone tradhisi sakloron tinimbang aspek kang padha. Bab kasebut jalaran ana saperangan latar sosial lan psikologi masyarakat kang beda. Upaya pelestarian kang ditindakake tumrap TPDSG lan TPDSK kaperang dadi telu yaiku internalisasi, sosialisasi, lan enkulturasi. Internalisasi yaiku upaya kang tuwuh saka dhiri individu warga, kadeleng saka para warga kanthi cara indhividu melu manyengkuyung lumakune tradhisi. Sosialisasi yaiku upaya pangrembakan lumantar cecaturan ing masyarakat, kalebu tumindak gotongroyong kang dilakokake warga sarwa bebarengan lan enkulturasi yaiku upaya kang tuwuh saka saknjabane desa lan warga yaiku saka organisasi masyarakat lan pamarintah kayadene IPNU, IPPNU, Kartar, Dina Kebudayaan lan Pariwisata lan liya-liyane. Tembung Wigati : Etnologi, internalisasi, sosialisasi, enkulturasi, verifikasi

    Budaya Patriarki Dalam Novel Kupu Wengi Mbangun Swarga Karya Tulus Setiyadi (Kajian New Historicism)

    No full text
    AbstractPatriarchy is a cultural system that develops in society as a result of a mindset towards differences in the degree of women who are considered lower than men. That is creates the notion that women are a class that deserves to be treated as they please because the strata in life below men. This study uses the study of new historicism. New historicism is a theory of study tha focuses on discussing from a historical point of view the reasons why groups are marginalized. The purpose of the research is to find out the forms of patriarchal culture in the Kupu Wengi Mbangun Swarga novel. This research is a qualitative descriptive study using data analysis methods. The source of the research comes from the story excerpts in the novel Kupu Wengi Mbangun Swarga. Data collection techniques using library techniques, namely taking data from nove ang e-journal excerptsthat are still relevant. The results ang renewal are in the form of patriarchal culture, namely discrimination, violence, harassement, and women trafficking. While the impact of patriarchal culture is the loss of freedom and the lack jobs for woman.Key Word : Patriarchal Culture, Women, New Historicism AbstrakPatriarki adalah sistem budaya yang berkembang dalam lingkungan masyarakat akibat dari adanya pola pikir terhadap perbedaan derajat perempuan yang dinilai lebih rendah daripada laki-laki. Hal tersebut menumbuhkan anggapan bahwa sosok perempuan sebagai satu golongan yang layak untuk diperlakukan seenaknya karena berada pada strata terendah dalam kehidupan dibawah laki-laki. Penelitian ini mengunakan kajian New Historicism. New Historicism sendiri merupakan salah satu teori kajian yang memberikan perhatian lebih terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan seperti perempuan. Kajian ini lebih fokus membahas permasalahan dari sudut pandang sejarah penyebabmengapa beberapa kelompok dipinggirkan. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahuibentuk budaya patriarki dalam novel Kupu Wengi Mbangun Swarga dan dampak budaya patriarki dalam Kupu Wengi Mbangun Swarga. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif menggunakan metode analisis data. sumber penelitian berupa kutipan cerita yang terdapat pada novel. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka yankni mengambil data dari kutipan novel dan e-journal yang masih relevan dengan penelitian. Hasil dan pembahasan berupa bentuk budaya patriarki yakni dikriminasi, kekerasan, pelecehan, dan perdagangan perempuan. Sedangkan dampak budaya patriarki yakni hilangnya kebebasan dan minimnya lapangan pekerjaan untuk perempuan. Kata kunci : Budaya Patriarki, Perempuan, New Historicis

    Kontribusi Tren Korean Wave terhadap Popularitas Hanbok di Indonesia

    No full text
    The Korean Wave (Hallyu) has become a global cultural phenomenon that significantly influences various aspects of society, including in Indonesia. One cultural element that has gained increasing popularity along with the rise of the Korean Wave is the hanbok, the traditional clothing of South Korea. This study aims to examine the contribution of the Korean Wave to the growing popularity of hanbok in Indonesia, particularly among younger generations. The research employs a descriptive qualitative method using a literature study approach, by collecting and analyzing data from various scholarly sources, cultural articles, official event reports, and relevant social media content. The results show that the Korean Wave has played a major role in introducing hanbok through popular media, such as Korean historical dramas, K-pop music videos, and cultural diplomacy programs like the Hanbok Experience. Hanbok is now perceived not only as a traditional garment but also as part of a global lifestyle and a symbol of Korean cultural identity admired by Indonesian society. In conclusion, the Korean Wave has made a significant contribution in shaping positive perceptions, increasing interest, and expanding the use of hanbok in Indonesia within the context of contemporary popular culture

    Kepercayaan Tradisional Masyarakat Desa Temon terhadap Air Suci Candi Tikus, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto

    No full text
    Air suci di zaman Majapahit dipercaya sebagai pemandian para Dewaraja. Tetapi karena perubahan zaman, kebudayaan ini juga ikut berubah. Fokus penelitian ini yaitu prinsip dualisme kebudayaan diantaranya yaitu asal usul kebudayaan, wujud dan manfaat kebudayaan, serta perubahan kebudayaan. Tujuan penelitian untuk menjelaskan tentang bentuk kepercayaan tradisional masyarakat terhadap air suci dan memahami perubahan kebudayaan karena adanya kepercayaan ini. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan teori sosiologibudaya Simmel. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Yang menjadi objek utama penelitian ini adalah air suci di Candi Tikus, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sumber data dihasilkan dari wawancara juru kunci candi Tikus dan sesepuh petani yang ada di desa Temon. Data penelitian dianalisis menggunakan cara deskriptif yang memberi penjelasan tentang hasil dari wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Teknik keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber dan teknik. Teknik analisis data dilakukan secara induktif. Hasil penelitian yaitu asal usul kepercayaan terhadap air suci dimulai dari zaman Majapahit kemudian mengalami perubahan kebudayaan di zaman sekarang. Ritual mengambil air suci juga berubah. Sebelumnya mengambil air suci dengan membawa bunga setaman, dupa, dan menyan. Tetapi karena zaman semakin berkembang ritualnya berganti dengan cukup membawa bunga telon dan cukup membaca doa kepada Tuhan. Kata Kunci : Kepercayaan tradisional, sosiologibudaya, dualisme kebudayaa

    Tradisi Tumpeng Sewu di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi

    No full text
    Abstrak Tradisi Tumpeng Sewu yaitu salah satu bentuk folklor setengah lisan yang ada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. TTS (Tradisi Tumpeng Sewu) mempunyai tujuan sebagai bentuk puji syukur masyarakat Desa Kemiren kepada Allah SWT. yang sudah memberikan berkah kepada warga desanya. Bentuk puji syukur ini diwujudkan dengan selametan tumpeng pecel pitik. Rumusan masalahnya yaitu: (1) Asal mulanya, (2) prosesinya, dan (3) makna ubarampe Tradisi Tumpeng Sewu. Tujuan dari rumusan masalahnya yaitu mendeskripsikan (1) Asal mulanya, (2) Prosesinya, dan (3) Makna ubarampe Tradisi Tumpeng Sewu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif pendekatan kualitatif. Tempat penelitian ada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi dan objek yang diteliti yaitu tentang Tradisi Tumpeng Sewu. Sumber data dibagi menjadi dua, satu sumber data primer yaitu informan/narasumber dan observasi pelaksanakan TTS di hari-H, dua sumber data sekunder yaitu jurnal dan buku yang ada hubunganya dengan TTS. Data dalam penelitian ini yaitu data kualitatif di antaranya adalah hasil wawancara narasumber, hasil observasi, dan isinya buku dan jurnal. Intrumen penelitian yaitu peneliti itu sendiri. Teknik mengumpulkan data ada tiga yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data/display, dan menarik kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian TTS mengagambarakan ngenani asal mula TTS yaitu dimulai zaman dulu ketika desa kemiren belum menjadi permukiman, tepatnya ketika masih jadi kebon. Masyarakat ketika itu mempunyai nazar yaitu bila kebonya menghasilkan buah akan dilaksanakan selametan pecel pitik. Taun 2007 tradisi ini dinamai tumpeng sewu, karena setiap kepala keluarga (KK) yang jumlahnya seribu wajib membuat tumpeng pecel pitik. Kemudian prosesinya TTS yaitu dibagi tiga bagian: pertama persiapan dilaksanakan rapat, menyiapkan ubarampe dan perlengkapan. Kedua pelaksanakan digelar acara mepe kasur, lomba-lomba, arak-arakan barong dan selametan. Ketiga berakhir membersihkan tempat acara TTS. Dan terakhir ubarampe didalam TTS ada tumpeng pecel pitik, tumpeng serakat, sega golong, jenang abang putih.   Kata kunci: tumpeng sewu, tradisi, budaya, folklo

    Getting to Know Indonesia Through Local Wisdom: Exploration of Indonesian Arts and Culture in the BIPA Program

    No full text
    This research was motivated by the lack of comprehensive research on the representation of masculinity in classic Indonesian dangdut songs from the 1970s, 1980s, and 1990s. These songs contain authentic social constructions of male roles and characters in society, but have not been analyzed in depth using masculinity theory. This study aims to identify and analyze how male masculinity is represented in the lyrics of classic dangdut songs through the seven dimensions of masculinity proposed by Janet Saltzman Chafetz, namely physical, functional, sexual, emotional, intellectual, interpersonal, and personal characteristics. This study uses a qualitative descriptive method with a critical discourse analysis approach. The results show that masculinity is presented in a multidimensional way: physically strong and tough; responsible as a breadwinner and leader; subtly expressing sexual interest; reflecting emotions such as regret and sadness; thinking logically and wisely; maintaining relationships with responsibility and maturity; and adhering to spiritual values and principles of life. These findings confirm that masculinity in classic dangdut songs is not merely synonymous with dominance, but also reflects the emotional, rational, and spiritual sides of men in Indonesian popular culture

    Kebutuhan Rasa Cinta dan Memiliki dalam Novel Truntum Karya Siti Aminah (Kajian Psikologi Kepribadian Abraham Maslow)

    No full text
    Abstract The need for love and belonging is the third level of need in the Hierarchy of Needs concept. The need for love and belonging can be fulfilled by building relationships. Socialize with other people or certain groups. Through a literary work in the form of Truntum Novel by Siti Aminah, it tells several descriptions of the needs for love and belonging experienced by the characters in it. The need for love and belonging in Siti Aminah's novel Truntum can be classified into five. The need for love and belonging is like the need for love for religion, culture, neighbor, family, and man or woman. The focus of the problem in this study is regarding the description of the need for love and belonging, as well as the identification of forms of love and belonging for the personality of the Javanese people in Siti Aminah's Truntum Novel. Abraham Maslow's Psychological Theory of Personality can help in analyzing the level of love and belonging needs in depth. This study uses a qualitative method. Through data analysis, it can be seen that the form of love and belonging is in accordance with the personality of the Javanese people. Collecting data in this study using library techniques, reading techniques, and writing techniques. The results of this study are the classification of the need for love and belonging which is described in Siti Aminah's Truntum Novel based on its objects, such as love for religion, culture, neighbors, family, and priya or women. To fulfill the need for love and belonging, effort and motivation are needed. So that the need for love and belonging can be fulfilled properly. Identification of forms of love and belonging for the personality of the Javanese people, such as gemati, compassion, and sotya. Keywords: Hierarchy of needs, love and belonging, literary psychology Abstrak  Kebutuhan rasa cinta dan memiliki merupakan tingkat kebutuhan nomer tiga dalam konsep kebutuhan bertingkat (Hierarchy of Needs). Kebutuhan rasa cinta dan memiliki bisa tepenuhi dengan cara membangun relasi. Bersosialisasi dengan orang lain atau kelompok tertentu. Melalui karya sastra berupa Novel Truntum karya Siti Aminah ini menceritakan beberapa gambaran mengenai kebutuhan rasa cinta dan memiliki yang dialami oleh tokoh-tokoh di dalamnya. Kebutuhan rasa cinta dan memiliki Novel Truntum karya Siti Aminah dapat diklasifikasikan menjadi lima. Kebutuhan rasa cinta dan memiliki tersebut seperti, kebutuhan rasa cinta kepada agama, budaya, sesama, keluarga, dan pria atau wanita. Fokus masalah dalam penelitian ini mengenai gambaran dari kebutuhan rasa cinta dan memiliki, serta identifikasi wujud rasa cinta dan memiliki bagi kepribadian masyarakat Jawa dalam Novel Truntum karya Siti Aminah. Teori Psikologi Kepribadian Abraham Maslow dapat membantu dalam menganalisis tingkat kebutuhan rasa cinta dan memiliki secara mendalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Melalui analisis data dapat diketahui wujud rasa cinta dan memiliki yang sesuai dengan kepribadian masyarakat Jawa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka, teknik baca, serta teknik tulis. Hasil dari penelitian ini yaitu pengklasifikasian kebutuhan rasa cinta dan memiliki yang digambarkan dalam Novel Truntum karya Siti Aminah berdasarkan objeknya seperti, rasa cinta kepada agama, budaya, sesama, keluarga, dan priya atau wanita. Untuk memenuhi kebutuhan rasa cinta dan memiliki perlu adanya sebuah upaya dan motivasi. Sehingga kebutuhan rasa cinta dan memiliki dapat terpenuhi dengan baik. Identifikasi wujud rasa cinta dan memiliki bagi kepribadian masyarakat Jawa seperti, gemati, welas asih, dan sotya. Kata kunci: Hierarchy of needs, rasa cinta dan memiliki, psikologi sastr
    corecore