100 research outputs found
Insektisida pengganggu pertumbuhan dan perkembangan serangga/ Trisyono
viii, 86 hal.; 23 cm
PEMANFAATAN SERANGGA Helicoverpa armigera UNTUK MENDETERMINASI KEBERADAAN DAN LAJU DEGRADASI TOKSIN Bacillus thuringiensis Cry1Ac DI TANAH
Tanaman kapas yang memproduksi toksin Bacillus thuringiensis CrylAc (kapas transgenik) telah ditanam di Sulawesi Selatan. Salah satu risiko penanaman kapas transgenik adalah adanya efek toksin hasil dekomposisi tanaman terhadap organisme bukan sasaran di dalam ekosistem tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode uji hayati dengan menggunakan larva Helicoverpa armigera sebagai indikator untuk mendeteksi keberadaan dan laju degradasi CrylAc yang ada di dalam tanah. Pengujian dilakukan dengan menambahkan CrylAc ke dalam 1 g tanah kemudian dicampurkan ke dalam 120 g pakan buatan. Pakan yang telah mengandung CrylAc (0,1 1.000.000 ng/120 g pakan) kemudian digunakan untuk memberi pakan larva yang baru menetas. Pengamatan dilakukan satu minggu setelah pemaparan dengan mengamati mortalitas larva, berat, dan instar larva yang hidup. Uji degradasi protein dilakukan dengan menginkubasikan 1 g tanah yang mengandung 100.000 dan 1.000.000 ng CrylAc selama 0 30 hari. Metode pengujian dilakukan dengan cara yang sama dengan pengujian sebelumnya. H. armigera peka terhadap CrylAc dan dengan menggunakan penghambatan pertumbuhan sebagai parameter pengamatan mampu mendeteksi jumlah CrylAc yang rendah. Degradasi CrylAc dalarn kondisi ruangan (26 290C dan panjang penyinaran lampu ± 10 jam/hari) mulai tedadi pada 20 hari setelah inkubasi
Insektisida pengganggu pertumbuhan dan perkembangan serangga
Buku membaahs tentang insektisida. Bahasan pertama tentang manfaat dan risiko penggunaan insektisida dengan beberapa contoh kasus di Indonesia. Kemudian membahas klasifikasi insektisida berdasarkan pada seri waktu penemuan dan juga cara kerja yang berbeda. Buku juga memuat substansi yang cukup komprehensif berturut-turut mulai dari insektisida penghambat sintesis khitin, peniru hormon juvenil, dan agonis ekdison yang merupakan inti dari buku ini. Pembahasan terakhir tentang pentingnya manajemen resistensi, termasuk bagi kelompok insektisida generasi ketiga ini
Classifying, Detecting, and Predicting Infestation Patterns of the Brown Planthopper in Rice Paddies
PEMANFAATAN SERANGGA HELICOVERPA ARMIGERA UNTUK MENDETERMINASI KEBERADAAN DAN LAJU DEGRADASI TOKSIN BACILLUS THURINGIENSIS CRYIAC DI TANAH = THE USE OF HELICOVERPA ARMIGERA TO DETERMINE THE PRESENCE ...
Cotton expressing a Bacillus thuringiensis toxin Cry1 Ac (transgenic cotton) has been planted in South Sulawesi. One of the identified risks is the effect of the toxin resulted from decom¬position of transgenic plants on soil biodiversity. The objectives of this research were to develop a bioassay procedure using larvae of Helicoverpa armigera to estimate the presence and degradation rate of Cryl Ac in soil. Cry/ Ac in 1 ml water was spiked on 1 g soil. The treated soil was mixed with the artificial diet (120 g) during its preparation. The newly hatched larvae were released on diet containing Cry1Ac ranging from 0.1-1,000,000 ng/120 g diet. Observations were made on the 7th day after release by assessing larval mortality, weighing and identifying the instar of surviving larvae. The study on degradation of Cry1 Ac was carried out at the concentrations of 100,000 and 1,000,000 ng with 0-30 days incu¬bation period. Similar bioassay procedures were implemented. Larvae of H. armigera were susceptible to Cry 1 Ac, and using growth inhibition as the end-point observation Cry1Ac could be detected at relatively low concentration. Degradation of Cryl Ac under the condition of 26-29°C and 10:14 L:D was observed to start occurring at the 20th day after incubation.
Key words: Environmental risk assessment, Transgenic cotton, Bacillus thuringiensis, Bioindicator, and Helicoverpa armiger
Kelimpahan artropoda pada pertanaman kapas transgenik Bacillus thuringiensis di Soppeng, Sulawesi Selatan
- …
