1,720,957 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
ANALISIS PEMANFAATAN SECARA BERKELANJUTANALAT TANGKAP PAYANG KABUPATEN MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT
ABSTRAKMARDIANA, Analisis Pemanfaatan Secara Berkelanjutan Alat Tangkap Payang Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat. Dibimbing oleh Dr. Ir. Danial Sultan, M.Si dan Dr. Ir. Muh. Jamal Alwi, M.Si.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis usaha perikanan tangkap payang di perairan Kabuapten Majene berdasarkan aspek teknis, aspek sosial, dan aspek ekonomi dan menentukan srtategi pemanfaatan perikanan payang secara berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Pangali-ali dan Kelurahan Baru, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Kegiatan penelitian ini berlangsung selama 2 (dua) bulan yaitu pada tanggal 21 Maret sampai 21 Mei 2016. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan dan sekunder dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan metode pustaka. Selanjutnya, data yang dikumpulkan diolah dan dianalisis dengan analisis MSY dan CPUE, anlisis usaha dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan nilai CPUE tertinggi pada tahun 2015 yang mencapai 10,02 ton/alat, sedangkan nilai CPUE terendah pada tahun 2014 yang hanya mencapai 4,36 ton/alat. nilai intersep (a) sebesar 15,11 dan nilai slope (b) adalah -0,03 dengan diketahuinya nilai a dan b maka diperoleh hasil bahwa upaya optimum (f opt) atau jumlah kapal payang di Kabupaten Majene yang dapat dioperasikan untuk melakukan penangkapan ikan adalah maksimal 232,76 atau 233 unit, dengan nilai MSY sebesar 1.759,05 ton/tahun.Analisis R/C Ratio selama penelitian di Kelurahan Pangali-ali dengan 45 trip diperoleh R/C Ratio yaitu 1,97. Sementara Kelurahan Baru dengan 46 trip diperoleh R/C Ratio yaitu 1,94. Hasil analisis Pay Back of Period (PBP) pada Kelurahan Pangali-ali yaitu 0,57 dan Kelurahan Baru yaitu 0,53. Hasil analisis Break Event Point (BEP) pada Kelurahan Pangali-ali yaitu 93,83 kg dan hasil perhitungan nilai produksi pertahun yaitu 1.467,93 kg. Sementara hasil analisis Break Event Point (BEP) pada Kelurahan Baru yaitu 97,96 kg dan hasil perhitungan nilai produksi pertahun yaitu 1.481,79 kg. Dari hasil perhitungan analisis usaha menunjukkan bahwa semua hal yang terkait dengan usaha penangkapan mendapat keterangan layak untuk diusahakan dan dikembangkan alat tangkap payang tersebut. Dengan demikian, secara ekonomi alat tangkap payang sangat menguntungkan. Strategi kebijakan yang perlu dilakukan dalam perikanan payang di Kabupaten Majene yaitu penggunaan alat tangkap payang dengan standar mesh size, redesain alat tangkap payang, penggunaan teknologi alat bantu penangkapan, melaksanakan pelatihan untuk kemampuan manajemen usaha, peninjauan perbaikan PPI untuk difungsikan secara maksimal, dan penegakan hukum dan peningkatan SDM pelaku usaha payan
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
KONTRASEPSI PRIA (Studi Perilaku Sosial Terhadap Penerimaan Metode Vasektomi Pada Akseptor KB Pria di Kota Makassar)
KONTRASEPSI PRIA
(Studi Perilaku Sosial Terhadap Penerimaan Metode Vasektomi
Pada Akseptor KB Pria di Kota Makassar)
MALE CONTRASEPTION
Study of Social Behavior Towards Acceptance of Vasectomy Method
At Men Family Planning Acceptor in Makassar City
Andi Muh. Multazam, Tahir Kasnawi, Muh. Syafar, Arlin Adam
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengungkap perubahan perilaku sosial yang terjadi terhadap pergeseran penerimaan vasektomi sebagai metode kontrasepsi permanen, (2) Untuk menemukan dampak/konsekuensi sosial pasca dilakukannya vasektomi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Informan yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah sebanyak lima belas orang terdiri dari peserta vasektomi yang lebih dari dua tahun melakukan vasektomi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi kemudian dianalisis secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi penerimaan vasektomi sebagai metode kontrasepsi adalah: 1) Jumlah anak; 2) Pengetahuan; 3) Kesadaran diri; 4) Dorongan istri dan; 5) Meniru. Sementara itu, konsekuensi atau dampak dari perilaku vasektomi memiliki tiga aspek yakni aspek ekonomi, kesehatan dan sosial. Dari aspek ekonomi, berdasarkan motif yang meliputi dorongan sehingga seseorang mau ikut vasektomi adalah untuk membatasi jumlah anak dan mengurangi beban ekonomi keluarga. Dari aspek kesehatan, vasektomi tidak memberikan dampak negatif bagi pelakunya. Dari aspek sosial, adanya perubahan sebagian sikap masyarakat terhadap vasektomi dari menolak menjadi menerima karena sebagian masyarakat sudah membuka diri terhadap vasektomi. Meskipun baru sebagian, akan tetapi hal ini turut serta dalam memperkenalkan vasektomi dan mendorong masyarakat lebih banyak untuk melakukan vasektomi.
Kata kunci : Kontrasepsi Pria, Vasektomi, Perilaku Sosial
ABSTRACT
The aim of this research were: (1) To reveal changes in social behavior that occurs to shift acceptance of vasectomy as a permanent contraceptive method, (2) To find the impact / social consequences after doing vasectomy. The approach used in this research was qualitative descriptive analysis. Informants being interviewed in this research were consist of fifteen person who has been participated in vasectomy for more than two years. Data were obtained through in-depth interviews and observations to be analyzed inductively. Results shows that influence factors from the acceptance of vasectomy as a contraceptive method are: 1) Number of children; 2) Knowledge; 3) Self-awareness; 4) Necessity and; 5) Imitate. Meanwhile, the consequences or impact from vasectomy behavior has three aspects that is economic, health and social. From economic aspect, based on the motives which includes encouragement so someone would participate in vasectomy are to limit the number of children and to reduce family’s economic burden. From health aspect, vasectomy did not have negative effect to its participants. From social aspect, changes in some society attitudes toward vasectomy from refusing become receiving was because they have opened themselves to the method of vasectomy. Although only partial, but it’s been helping to introduce vasectomy and encourage more society members to perform vasectomy.
Keywords: Male Contraceptive, Vasectomy, Social Behavior
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rendahnya partisipasi pria dalam KB selain disebabkan oleh faktor sosial-budaya, juga karena kampanye dan sosialisasi yang minim, kurangnya pemahaman tentang kontrasepsi pria, rendahnya minat suami dalam mengakses informasi tentang KB dan kesehatan reproduksi, serta sarana pelayanan KB bagi pria yang masih perlu ditingkatkan dan terbatasnya pilihan alat kontrasepsi yang tersedia (hanya kondom dan vasektomi). (www.radarbanten.com, 2013).
Untuk kondisi Kota Makassar, keputusan keikutsertaan pria dalam ber-KB di dalam beberapa tahun terakhir ini memang diakui mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun hal tersebut belum mampu meningkatkan capaian rata-rata Nasional dikarenakan belum meratanya pencapaian vasektomi di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Hal tersebut diperkuat oleh data BKKBN Makassar yang sejak tahun 2006 memperlihatkan peserta KB Vasektomi hanya sebanyak 5 orang saja, tahun 2007 pesertanya nihil (0), tahun 2008 meningkat lagi menjadi 28 akseptor. Sejak tahun 2009 peserta KB pria Kota Makassar mulai memperlihatkan peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebanyak 102 akseptor, tahun 2010 sebanyak 340 akseptor, tahun 2011 sebanyak 333 akseptor dan tahun 2012 sebanyak 450 akseptor. Adapun jumlah akseptor vasektomi di Kota Makassar yang tercatat sampai dengan tahun 2012 sebanyak 1.344 orang. Peningkatan yang cukup menggembirakan tersebut mengindikasikan sudah semakin meningkatnya kesadaran pria dalam hal perilaku pemilihan alat kontrasepsi yang kemudian berdampak besar terhadap kesehatan reproduksi sang istri.
B. Rumusan Masalah
Sehubungan dengan identifikasi masalah diatas, maka di ajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Mengapa kalangan pria menerima vasektomi sebagai metode kontrasepsi permanen?
2. Bagaimana dampak/konsekuensi sosial yang timbul pasca penerimaan vasektomi?
3. Bagaimana dampak/konsekuensi ekonomi yang timbul pasca penerimaan vasektomi?
4. Bagaimana dampak/konsekuensi kesehatan yang timbul pasca penerimaan vasektomi?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengungkap perubahan perilaku sosial yang terjadi terhadap pergeseran penerimaan vasektomi sebagai metode kontrasepsi permanen, (2) Untuk menemukan dampak/konsekuensi sosial pasca dilakukannya vasektomi, (3) Untuk mengetahui dan menganalisis dampak/konsekuensi ekonomi pasca dilakukannya vasektomi, (4) Untuk mengetahui dan menganalisis dampak/konsekuensi kesehatan pasca dilakukannya vasektomi.
D. Manfaat Penelitian
1. Dalam bidang akademik
a. Memberi nilai tambah ilmiah terhadap keilmuan khususnya dalam bidang sosiologi.
b. Sebagai sarana dan kesempatan bagi penulis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan selama mengikuti pendidikan ilmu sosiologi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan teoritis yang tepat terhadap fenomena yang diteliti.
c. Sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya tentang fenomena sosial yang erat kaitannya dengan penelitian ini.
2. Bagi Praktisi
a. Sebagai bahan referensi bagi masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan gambaran komprehensif tentang pemilihan kontrasepsi vasektomi bagi pria.
b. Sebagai bahan acuan bagi pihak pengambil keputusan khususnya Pemerintah dalam meningkatkan peran serta kaum pria dalam program Keluarga Berencana dalam rangka menekan laju penduduk dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perilaku
1. Pengertian Perilaku
Skinner (1938) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Perilaku ini disebut teori “S – O – R” atau “ Stimulus – Organisme – Respon” dikarenakan terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, kemudian organisme tersebut merespon.
2. Bentuk Perilaku
Jika dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus yang dikemukakan oleh Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2003), maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Perilaku tertutup/terselubung (covert behavior)
2. Perilaku terbuka/tampak nyata (overt behavior)
B. Teori Perubahan Perilaku
1. Teori Lawrence Green
Model teori Green digambarkan sebagai berikut :
Gambar 1. Derajat Perilaku Sosial Perubahan Perilaku Dalam Teori Green
(Sumber: Sarwono, 2007)
2. Teori Perubahan Perilaku Kesehatan Geller
C. Perilaku Sehat Masyarakat Kota
Pengertian sehat dan sakit yang dipahami oleh para pelaku kesehatan masyarakat membedakan pengertian penyakit (disease) dan pengertian sakit (illness). Disease diartikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi penyakit itu bersifat obyektif, sebaliknya sakit (illness) adalah penilaian individu terhadap pengalaman penderitaan suatu penyakit (Sarwono, 1997).
D. Program Keluarga Berencana (KB) dan Kontrasepsi
Jenis/metode kontrasepsi yang ada saat ini secara umum terbagi atas tiga macam, yaitu 1) Metode alamiah (tanpa menggunakan alat kontrasepsi), 2) Metode dengan penggunaan alat kontrasepsi, 3) Metode operatif.
E. Vasektomi dan Pandangan Agama
Sampai saat ini pro dan kontra mengenai vasektomi terus berlanjut. Indonesia sebagai Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam disatu sisi pemuka/tokoh agama menyatakan haram, disisi lain mengatakan tidak haram asalkan tujuannya semata-mata untuk keharmonisan keluarga atau dalam kondisi kesehatan tertentu yang tidak memungkinkan untuk menggunakan metode kontrasepsi lainnya.
F. Vasektomi dan Ekonomi
Dalam kondisi ekonomi seperti ini, pandangan tentang keluarga besar yang ideal mulai pudar dan muncullah pandangan baru tentang keluarga kecil yang ideal. Fenomena pembatasan kelahiran bermula dari pasangan kelas atas di daerah perkotaan dan lambat laun merembes ke semua tingkatan sosial dan juga ke daerah pedesaan.
G. Vasektomi dan Budaya Patriarkhi
Indonesia merupakan Negara dengan budaya dan ideologi patriarki yang masih sangat kental mewarnai berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat. Masyarakat Indonesia lebih cenderung sebagai masyarakat yang patrilineal yang dalam hal ini posisi ayah atau bapak (laki-laki) lebih dominan dibandingkan dengan posisi ibu (perempuan). (Syukrie, 2003, http://www.Glosarium-. Syukrie.com, 2013 ).
H. Vasektomi dan Perilaku Sosial
Perubahan perilaku tersebut oleh Baldwin dan Baldwin (Ritzer dan J.Goodman, 2010) ditegaskan bahwa, Behavioral Sociology memusatkan perhatian pada hubungan antara akibat dari perilaku yang terjadi dalam lingkungan dan dampak yang terjadi di masa datang). Behavioral Sociology juga menggunakan konsep dasar “reinforcement” yang berarti ganjaran. Artinya jika suatu ganjaran yang membawa pengaruh terhadap seseorang, maka perilakunya akan diulang.
I. Kerangka Pikir
Gambar 5. Kerangka Konseptual Perilaku Vasektomi
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian: Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif.
2. Lokasi Penelitian: Lokasi penelitian adalah di tiga kecamatan dalam Kota Makassar yaitu Kecamatan Tamalate, Kecamatan Mamajang dan Kecamatan Tamalanrea.
3. Sasaran dan Sumber Data Penelitian: Jumlah informan yang diminta keterangan adalah sejumlah 15 orang yang terdiri dari masyarakat penerima program gratis vasektomi dari pemerintah. Untuk informan kunci adalah pelaksana program KB Pria BKKBN. Sumber data sekunder yaitu dokter yang menangani tindakan vasektomi, para penyuluh yang melaksanakan penyuluhan dalam rangka pelaksanaan program vasektomi gratis dari BKKBN kota Makassar serta para istri dan keluarga terdekat dari akseptor vasektomi.
4. Fokus dan Deskripsi Fokus: Adapun fokus penelitian ini, yaitu: (1). Mengapa masyarakat khususnya kaum pria menerima vasektomi sebagai metode kontrasepsi permanen, (2) Bagaimana konsekuensi yang dirasakan oleh para akseptor vasektomi pasca vasektomi baik pada dirinya maupun pada lingkungan sosialnya.
5. Instrumen Penelitian: Kehadiran peneliti dalam setting sebagai instrumen utama, mengingat data informasi yang akan digali dalam sebuah proses ditinjau dari berbagai dimensi dan dinamika yang ikut mewarnai perjalanan tersebut.
6. Teknik Pengumpulan data: Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi.
7. Teknik Analisis Data: Teknik analisis data dilakukan sepenuhnya secara deskriptif.
8. Pengabsahan Data: Kredibilitas (derajat kepercayaan), Transferability, Dependability (kebergantungan), dan Konfirmability
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH DAN LATAR PENELITIAN
Gambaran Umum Kota Makassar Sebagai Daerah Penelitian
Kota Makassar terletak antara koordinat 119°24°17°38° Bujur Timur dan kordinat 5°8°6°19° Lintang Selatan, dimana Kota Makassar terdiri atas 14 wilayah kecamatan, dengan 143 kelurahan dengan luas wilayah 175,77 km persegi. Sedangkan batas-batas wilayah administrarif dari letak Kota Makassar, antara lain:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Informan Penerima Vasektomi
Tabel 16. Profil Pelaku Vasektomi di Kota Makassar
No. Nama Profil Pelaku Vasektomi
Usia Jumlah Anak Pendidikan Masa Vasektomi Usia Istri Status Penduduk
1 IN 49thn 4 Orang SMA 3 tahun 45thn Tetap
2 Dg. MN 60thn 13 Orang SMP 1 tahun 58thn Tetap
3 AY 44thn 3 Orang SD 4 tahun 41thn Tetap
4 BA 42thn 5 Orang SMK 4 tahun 40thn Tetap
5 AJ 50thn 2 Orang - 4 tahun 45thn Tetap
6 DT 53thn 5 Orang SD 3 tahun 50thn Tetap
7 DL 51thn 6 Orang SD 5 tahun 49thn Tetap
8 SS 50thn 6 Orang SD 2 tahun 42thn Tetap
9 NU 49thn 3 Orang SD 3 tahun 44thn Tetap
10 AB 67thn 4 Orang - 2 tahun 56thn Tetap
11 SU 38thn 3 Orang SMA 6 tahun 34thn Tetap
12 SA 68thn 6 Orang SD 5 tahun 60thn Tetap
13 TY 47thn 2 Orang SD 5 tahun 40thn Tetap
14 MS 50thn 2 Orang SMA 5 tahun 42thn Tetap
15 AM 46thn 5 Orang SD 5 tahun 42thn Tetap
Sumber: Data Primer, 2014
B. Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Perilaku Vasektomi
(Sumber: Hasil Penelitian, 2014)
Tabel 17. Faktor Penerimaan Vasektomi Sebagai Metode
Kontrasepsi Pria.
No
Informan Faktor Penerimaan Vasektomi Sebagai Metode Kontrasepsi Pria
Jumlah Anak Sikap Istri Keterpaksaan Meniru Kesadaran diri
1. Informan IN
2. Informan Dg MN
3. Informan AY
4. Informan BA
5. Informan AJ
6. Informan DT
7. Informan DL
8. Informan SS
9. Informan NU
10. Informan AB
11. Informan SU
12. Informan SA
13. Informan Dg TY
14. Informan MS
15. Informan Dg AM
Sumber: Hasil Penelitian, 2014
C. Konsekuensi Dari Perilaku Pasca Vasektomi
1. Aspek Ekonomi
Aspek ekonomi memang tidak dirasakan langsung oleh pelaku vasektomi. Akan tetapi aspek ekonomi dari vasektomi memberikan dampak positif tidak hanya bagi pelaku tetapi juga seluruh anggota keluarga.
2. Aspek Kesehatan
Aspek kesehatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dampak kondisi kesehatan yang terkait pasca keputusan melakukan vasektomi. Kesehatan yang dimaksud adalah kondisi kesehatan tubuh para pelaku vasektomi termasuk kesehatan organ reproduksinya. Apakah pasca vasektomi memberikan dampak baik positif maupun negatif pada kesehatan reproduksi pelaku vasektomi.
3. Aspek Sosial
Belum banyaknya penggunaan vasektomi sebagai metode kontrasepsi disebabkan antara lain karena kondisi lingkungan sosial, budaya masyarakat dan keluarga yang masih menganggap partisipasi pria belum atau belum penting untuk dilakukan, pengetahuan dan kesadaran pria dan keluarganya dalam ber KB masih rendah dan keterbatasan penerimaan dan aksesbilitas pelayanan kontrasepsi pria masih terbatas ( BKKBN, 2008).
Tabel 18. Matriks Konsekuensi Pasca Vasektomi
INFOR-MAN Konsekuensi Pasca Vasektomi.
Ekonomi Kesehatan Sosial
IN Sangat senang karena tidak perlu mengeluarkan biaya kontrasepsi lagi. Merasakan manfaat terhadap fisik setelah vasektomi. Lingkungan sekitar menjadikan informan sebagai contoh vasektomi
Dg. MN Tidak perlu lagi menggunakan alat kontrasepsi yang memerlukan biaya. Tidak merasakan keluhan kesehatan setelah melakukan vasektomi. Awal mula lingkungan menolak namun akhirnya kemudian menerima vasektomi.
AY Tidak menyadari keuntungan ekonomi dari vasektomi Tidak merasakan keluhan kesehatan setelah melakukan vasektomi. Masyarakat sekitar menerima perilaku vasektomi.
BA Tidak begitu merasakan dampak ekonomi setelah vasektomi. Kondisi fisik dirasakan membaik pasca vasektomi. Masyarakat sekitar paham dan menerima vasektomi.
AJ Tidak begitu merasakan dampak ekonomi setelah vasektomi. Tidak merasakan perbedaan atau gangguan terhadap kesehatan pasca vasekotmi. Vasektomi cukup diterima di lingkungan masyarakat sekitar.
DT Tidak lagi mengeluarkan biaya kontrasepsi lainnya. Tidak ada gangguan kesehatan khususnya vitalitas dalam berhubungan intim. Reaksi masyarakat yang timbul adalah rasa penasaran mengenai vasektomi.
DL Sangat merasakan manfaat ekonomi dari vasektomi. Tidak merasakan adanya efek samping setelah menjalani vasektomi Masyarakat sektarnya menerima vasektomi.
SS Tidak menyadari keuntungan ekonomi dari vasektomi Tidak merasakan keluhan kesehatan setelah melakukan vasektomi. Masyarakat sekitar tidak mempermasalahkan perihal perilaku vasektomi.
NU Merasakan manfaat ekonomi pasca melakukan vasektomi. Tidak mengalami komplikasi apapun terkait dengan vasektomi. Pandangan masyarakat sekitar mengenai vasektomi cukup baik
AB Tidak merasakan manfaat karena belum pernah menggunakan metode kontrasepsi lain. Tidak merasakan keluhan kesehatan setelah melakukan vasektomi. Masyarakat sekitar menerima informan melakukan vasektomi.
SU Sangat merasakan manfaat ekonomi dari vasektomi. Tidak merasakan keluhan kesehatan setelah melakukan vasektomi. Keluarga dan masyarakat sekitarnya menerima vasektomi.
Dg. SA Merasakan manfaat ekonomi pasca melakukan vasektomi. Tidak ada gangguan kesehatan khususnya vitalitas dalam berhubungan intim. Masyarakat sekitar tidak mempermasalahkan perihal vasektomi yang dilakukan.
Dg. TY Menganggap vasektomi memilki kelebihan di sisi ekonomi. Tidak merasakan perbedaan dari sisi kesehatan terkait vasektomi. Lingkungan sekitar menjadikan informan sebagai contoh vasektomi
D. Pengujian Kredibilitas Data
Pengujian terhadap krdibilitas data akan ditempuh dengan melakukan triangulasi dengan metode triangulasi sumber.
E. Proposisi
Berdasarkan analisis sosiologi terhadap perilaku pemilihan vasektomi pada masyarakat kota Makassar, dapat ditarik beberapa hal yang bersifat substantif, yang berlaku bagi temuan yang dikaji sebagai berikut:
1. Metode vasektomi saat ini cenderung diterima oleh kalangan pria sebagai konsekuensi logis dari penerimaan sosial yang diperlihatkan oleh masyarakat.
2. Perilaku menerima vasektomi bagi pria akan bertahan bahkan cenderung saling mempengaruhi kalangan pria lainnya karena alasan ekonomis dan kesehatan.
3. Peranan istri merupakan stimulus paling kuat membentuk perilaku suami dalam pengambilan keputusan untuk menerima vasektomi sebagai pilihan dalam perencanaan keluarga.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang peneliti rumuskan adalah sebagai berikut:
1. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku penerimaan vasektomi pada masyarakat Kota Makassar antara lain adalah faktor jumlah anak yang juga mempengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan vasektomi.
2. Konsekuensi atau dampak dari pasca perilaku vasektomi memilki 3 aspek yakni; aspek ekonomi, kesehatan dan sosial.
B. Implikasi Hasil Penelitian
Hasil studi dari penelitian ini berimplikasi terhadap beberapa hal. Berikut dideskripsikan beberapa butir implikatif pada aspek berikut:
1. Aspek Temuan Penelitian
a. Diperlukan penyuluhan kepada masyarakat dalam rangka peningkatan pengetahuan mengenai vasektomi
b. Upaya meningkatkan keikutsertaan kaum pria dalam vasektomi dapat dilakukan dengan cara sosialisasi mengenai vasektomi agar masyarakat semakin yakin dan tidak lagi terpengaruh oleh rumor yang selama ini beredar dimasyarakat tentang vasektomi.
c. Pelaku vasektomi dapat memberikan contoh kepada masyarakat bahwa dengan vasektomi tidak akan memberikan dampak negatif baik dari aspek ekonomi, kesehatan dan sosial.
2. Aspek Teoritik- Akademik
Mencermati dampak yang ditimbulkan oleh perilaku vasektomi terhadap kesehatan serta faktor penyebabnya, maka Green kemudian mengembangkan Teori Perilaku Kesehatan yang menyatakan bahwa kesehatan individu atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (Non Behavior causes). Selanjutnya faktor perilaku ini ditentukan oleh tiga kelompok faktor, sebagai berikut: faktor predisposisi, faktor pemungkin (enabling factor) dan faktor penguat atau pendorong (reinforcing factor).
3. Aspek epistemologi.
Studi ini merupakan aplikasi pendekatan behavioral atau perilaku yang muncul sebagai akibat pengaruh dari beberapa faktor. Konsep ini dikenal dalam paradigma behavioral sebagai teori perubahan perilaku.
DAFTAR PUSTAKA
Adam, S. 2010. Makna Bagi Akseptor Tubektomi. Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik, Vol. 22, No.3: 219-224.
Agnesa, Adnan. 2012. Kesehatan Masyarakat. (diakses pada 05 des 2011) http://kesmas-unsoed.blogspot.com/ 2011/07/ pengertian-stress.html
Ahmad L, Sastrawinata. 2009. Aspek Psikologi Pada Ibu yang Telah Sterilisasi. Naskah Lengkap KOGI XIV. Yogyakarta.
Allport, Gordon, W. 1954. Personality: A Pschycological Interpreatation, Henry Holt Company, New York.
Beck, A.T. 2007. Cognitive Therapy of Depression. New York : Guilford Press.
BKKBN, 2008. Grand StrategyPeningkatan Partisipasi Pria Dalam KB dan KR. Jakarta.
BKKBN, 2006. Peningkatan Partisipasi Pria Dalam KB dan KR. Jakarta.
BKKBN, 2006. Tanya Jawab Tentang Peningkatan Partisipasi Pria Dalam Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta.
Biro Pusat Statistik, 2012. Survey Demografi dan Kesehatan di Indonesia 2012. Jakarta. Kantor Departemen Kependudukan dan Keluarga Berencana.
Bunce, Arwen,et all. 2007. Factors Affecting Vasectomy Acceptability in Tanzania. International Family Planning Perspectives, Journal, Volume 33, Number 1 March 2007
Dahlawy. Ahmad. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kes
- …
