39 research outputs found
PENGEMBANGAN DESA WISATA DAN POTENSINYA DI KABUPATEN PANGANDARAN
ABSTRACTThis research focus is on tourism activities development by utilizing the high intensity of Pangandaran Beach tourism. This research aim is to build the concept of village tourism which is comprehensively based on Community Based Tourism (CBT). The research method uses qualitative approach and contextual technique of regional development in Pangandaran Regency with the following stages (1) collecting secondary and primary data through field review (2) understanding of regional economic context (3) tourism potential analysis (4) conceptualization of tourism village development. The results showed that the development of tourist villages in Pangandaran Regency is an important step to diversify tourist destinations. The tourism village should have specific tourism objects (e.g: caves, rivers, lakes, plantations and typical rural nature, beaches etc.) and be associated with existing Pangandaran Beach tourism activities as the anchor. The government need to provides support for public infrastructure and facilities, builds a tourism forum network, provides stimulation and facilitation through a competition program to become a serious participation of the community.Keywords : Tourism destination diversification, villages tourism, community based tourism ABSTRAKPenelitian ini menjadi salah satu upaya untuk membangun konsep desa wisata di Kawasan Pangandaran yang komprehensif berbasis masyarakat dan berkelanjutan. Pendekatan pengembangan dilakukan dengan Community Based Tourism (CBT). Metode penelitian yang digunakan ialah pendekatan kualitatif dan teknik kontekstual pengembangan wilayah di Kabupaten Pangandaran dengan tahapan (1) mengumpulkan data sekunder dan primer melalui tinjauan lapangan (2) pemahaman konteks perekonomian daerah (3) analisis potensi wisata (4) konseptualisasi pengembangan desa wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata di Kabupaten Pangandaran ialah langkah penting untuk diversifikasi destinasi wisata. Desa wisata yang dikembangkan harus memiliki obyek wisata spesifik (misalnya goa, sungai, danau, perkebunan dan alam perdesaan yang khas, pantai dan lain sebagainya) serta dikaitkan dengan dengan kegiatan wisata yang sudah ada sebagai anchor terdekat, yaitu Pantai Pangandaran. Pemerintah memberikan dukungan prasarana dan sarana publik, membangun jejaring forum wisata dan memberikan stimulasi dan fasilitasi pengembangan melalui program kompetisi untuk menjadi kesungguhan partisipasi masyarakat.Kata kunci : Diversifikasi tujuan wisata, desa wisata, community based tourism.</jats:p
MODEL TERINTEGRASI KAPASITAS DESTINASI WISATA UNTUK BISNIS GOVERNANCE PARIWISATA MENGGUNAKAN FORMULA LITTLE’S LAW
Rebuilding tourism business governance due to the Covid19 pandemic can be started by analyzing the constraints of tourist destinations capacity, including for Indonesia's priority tourist destinations, such as Makassar Raya and its surroundings. This study aims to analyze the capacity of tourist destinations, especially foreign tourists as a source of national foreign exchange. This research approach integrates the carrying capacity of tourism with the quantitative method of Little's Law of operations management. This method measures the flow of tourists within the capacity of tourist destinations, which consists of attractions, amenities and accessibility from the initial arrival of foreign tourists at the airport until they return to their countries.The results of this study indicate that from various aspects of attractions, amenities and accessibility to the capacity of tourist destinations in Makassar Raya and its surroundings, there are bottlenecks at the favorite tourist locations, check-in counters in airports, restaurants & cafes on the weekends. Therefore, in order to increase the capacity of foreign tourist visits, additional capacity is needed for the three kinds of bottleneck.Membangun kembali tata kelola bisnis pariwisata akibat pandemi Covid19 dapat dimulai dengan menganalisis hambatan kapasitas destinasi wisata, termasuk untuk destinasi wisata prioritas Indonesia, seperti Makassar Raya dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kapasitas destinasi wisata, khususnya terhadap turis mancanegara sebagai sumber devisa. Pendekatan penelitian ini mengintegrasikan daya dukung pariwisata dengan metode kuantitatif Aliran Little’s Law dalam lingkup manajemen operasi. Metode ini mengukur kelancaran aliran wisatawan dalam daya tampung kapasitas destinasi wisata, yang terdiri dari atraksi, amenitas dan aksesbilitas dari awal kedatangan wisatawan mancanegara di bandara hingga mereka kembali ke negaranya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari berbagai aspek atraksi, amenitas dan aksesbilitas pada kapasitas destinasi wisata di Makassar Raya dan sekitarnya, terjadi bottleneck pada kapasitas pada lokasi wisata favorit, bandara, restoran & kafe di akhir pekan. Karena itu untuk meningkatkan kapasitas kunjungan wisatawan mancanegara, maka pada ketiga bottleneck tersebut perlu adanya penambahan kapasitas
THE BUSINESS DYNAMIC OF TRADITIONAL MARKET PLACE : DEMAND PREFERENCAE APPROACH
ABSTRACT The focus of this research is to understand the possibility of changes in the behavior of consumer demand for products in traditional markets, whether caused by internal and external factors. Traditional markets tend to focus on fresh agricultural products (perishable goods), daily and low quality durable goods, while the more modern market focus on the product packaging factory. In fact the growing type of manufacturing product, less accomodated in the traditional market. Conveniences and other factors are the important key of appeal of the traditional market. If proportion of such as consumers are greater, the the traditional market would experience faster transition into smaller markets and increasing incompetitiveness. Existence of change in traditional markets is a natural, associated with the diversification and differention of product, consumera levvel of income, technology, education, land use and changes in consumers lifestyles. Keywords: consumer preference, agricultural products, conveniece market DINAMIKA BISNIS PADA PASAR TRADISIONAL DARI SISI PERMINTAAN KONSUMEN DENGAN PENDEKATAN DEMAN PREFERENCE ABSTRAK Fokus dari penelitian ini adalah berupaya memahami kemungkinan perubahan perilaku permintaan konsumen terhadap produk yang ada pada pasar tradisional, baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhinya. Pasar tradisional cenderung fokus pada produk pertanian segar (perishable goods) dan sedikit barang tahan lama kualitas biasa hingga rendah, sedangkan pasar modern lebih pada produk kemasan pabrik. Secara faktual jenis produk pabrikan yang semakin berkembang, kurang terakomodasi di pasar tradisional. Kenyamanan dan ketertiban adalah kunci penting bagi daya tarik pasar tradisional. Bila proporsi yang tidak sesuai preferensinya semakin besar, maka pasar tradisional akan mengalami transisi lebih cepat menjadi pasar sub masyarakat tertentu saja dan semakin tidak kompetitif. Eksistensi pasar tradisional yang mengalami perubahan adalah hal alamiah, terkait dengan perkembangan diversifikasi dan diferensiasi produk, tingkat pendapatan, teknologi, tingkat pendidikan, perubahan tata guna lahan dan perubahan dalam pola hidup konsumen. Kata kunci: preferensi konsumen, produk segara pertanian, kenyamanan pasar.</jats:p
ANALISIS DAN DETERMINAN EFISIENSI SEKTOR KONSTRUKSI DI INDONESIA
The construction sector business, as the backbone of infrastructure development is tend to be in-efficient and burdensome on national infrastructure costs. This study aims to explore the in-efficiency level and its determinants of Construction Sector businesses. Efficiency level is measured by input coefficients of Input-Output Table and use secondary data from Central Statistics Agency in 1995, 1998, 2000, 2003, 2005, 2008,and 2010.The results show, there is in-efficiency in Construction Sector at 2010 and is likely to continue to following years. The dominant source of the in-efficiency is Industrial Sector of Metal Products which provides steel and other metals as main materials in the Construction Sector. The petroleum refining industry that produces fuel accelerates the increase construction costs. The single national price policy of fuel is a instant step to reduce the negative impact of in-efficiency in Construction Sector. Sektor bisnis konstruksi yang menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur menunjukkan gejala in-efisiensi dan membebani biaya infrastruktur nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan tingkat in-efisiensi tersebut dan menggali determinan in-efisiensi yang dihadapi oleh bisnis pada sektor konstruksi. Tingkat efisiensi diukur dengan Koefisiensi Input pada Tabel Input-Output dan menggunakan data sekunder dari Badan Pusat Statistik tahun 1995,1998,2000,2003,2005,2008, dan 2010.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sektor Konstruksi mengalami in-efisiensi pada akhir tahun 2010 dan cenderung akan terus mengalami in-efisiensi pada tahun berikutnya. Sumber in-efisiensi terbesar berasal Sektor Industri Barang dari Logam yang menyediakan kebutuhan baja dan logam lainnya yang digunakan sebagai material penting Sektor Konstruksi. Industri pengilangan minyak bumi yang menghasilkan BBM turut mempercepat kenaikan biaya konstruksi. Kebijakan satu harga nasional menjadi langkah cepat untuk mengurangi dampak negatif in-efisiensi pada Sektor Konstruksi
Prioritas Daerah Pembangunan Menggunakan Indeks Komposit di Jawa Barat
Ketimpangan pembangunan antar daerah adalah tantangan utama dalam kebijakan pembangunan. Penentuan prioritas pembangunan yang tepat menjadi kunci untuk mengatasi ketimpangan ini. Penelitian ini menghadirkan pengembangan dan penerapan Indeks Komposit Prioritas Pembangunan Daerah di Provinsi Jawa Barat sebagai alat evaluasi yang relevan. Metodenya melibatkan pengumpulan data dari sejumlah indikator pembangunan, termasuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), persentase penduduk miskin, dan Gini Rasio. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks komposit ini memberikan gambaran yang jelas tentang tingkat prioritas pembangunan di berbagai daerah provinsi. Hasil dari indeks komposit membagi daerah-daerah menjadi tiga tingkat prioritas: tinggi, menengah, dan rendah. Hal ini membantu Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam merancang kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran. Daerah dengan prioritas tinggi menunjukkan kebutuhan mendesak untuk pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, daerah dengan prioritas menengah dan rendah menunjukkan ruang untuk peningkatan yang lebih baik dalam pembangunan mereka. Penelitian ini juga menyoroti peran infrastruktur dalam percepatan pembangunan, terutama di daerah-daerah dengan prioritas tinggi. Fokus pada pengembangan infrastruktur dasar, seperti irigasi, air bersih, sanitasi, dan transportasi, menjadi kunci dalam upaya pemerataan pembangunan. Pendekatan berbasis ilmiah dan teknoratik digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih rasional dan objektif dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah
EVALUASI INPUT DAN PROSES PROGRAM BADAN USAHA MILIK DESA
Pengembangan perekonomian di tingkat desa merupakan aspek yang sangat penting dalam upaya mensejahterakan masyarakat. Program badan usaha milik desa merupakan inisiatif dari pemetintah untuk mensejahterakan masyarakat. Permasalahan muncul dari berbagai aspek yang terkait dengan optimalisasi program badan usaha milik negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi pada level input dan proses dengan menggunakan model Context, Input, Process, dan Product (CIPP). Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode desktiptif di desa Karanganyar dan Cigondewah Hilir, teknik pengambilan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi, serta analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program BUMDesa sudah memiliki pedoman untuk organisasi pengelola, modal & kegiatan usaha, dan penggunaan & pembagian sisa hasil usaha berdasarkan AD & ART dan program yang dilakukan telah diimplementasikan oleh pada stakeholder di tingkat desa
Analisis Manajemen Operasional Perusahaan Multinasional (PT Nestle Indonesia)
Untuk memenuhi dan mewujudkan tujuan atau visi perusahaan, maka setidaknya ada tiga fungsi dasar manajemen yang harus diimplementasikan pada sebuah perusahaan, yaitu fungsi pemasaran, fungsi operasional, dan fungsi keuangan. Ketiga fungsi tersebut merupakan aspek utama di sebuah perusahaan atau industri demi keberlangsungan hidup perusahaan. Manajemen operasional sendiri merupakan sebuah fungsi manajemen yang utama dalam sebuah perusahaan. Manajemen operasi ini telah berkembang pesat sebab kemajuan teknologi dan munculnya inovasi baru yang telah diterapkan dalam praktik bisnis. Metode yang digunakan pada penelitian adalah literature review. Hasil dari penelitian ini adalah Manajemen operasional merupakan fungsi manajemen yang sangat pokok bagi sebuah perusahaan apapun, salah satunya adalah PT. Nestle Indonesia yang memiliki strategi untuk bersaing untuk mencapai dan memperoleh tujuan. PT Nestle Indonesia juga memiliki strategi yang kunci utamanya adalah mengembangkan produk baru dan tepat guna. Selain faktor dari keunikan produk, perusahaan yang mempunyai kelebihan dalam bersaing juga menerapkan strategi marketing mix yang melingkupi harga yang bisa besaing, tempat atau lokasi yang strategis, dan promosi yang memadai. Supply Chain Management (SCM) adalah suatu konsep atau mekanisme untuk meningkatkan produktivitas total perusahaan dalam rantai suplai melalui optimalisasi waktu, lokasi dan aliran kuantitas bahan. Manufakturing, dalam penerapan supply chain management (SCM), perusahaan-perusahaan diharuskan mampu memenuhi kepuasan pelanggan, mengembangkan produk tepat waktu, mengeluarkan biaya yang rendah dalam bidang persediaan dan penyerahan produk, mengelola industri secara cermat dan fleksibel
Digital Marketing Applications in the Retail Sector: A Systematic Mapping Study
This study investigates the trends, methods, research types, and focus areas of digital marketing applications in retail from 2018 to 2022. Through a systematic mapping of fifty articles, the study aims to identify key contributions by country, prevalent research methods, types, and focal areas. The analysis reveals an overall increase in publications over the period, with a notable decline in 2022. In 2021, the United States and the United Kingdom emerged as the leading contributors to research in this field. Quantitative methods and Validation Research were found to be predominant, with Solution Papers following. A significant focus of recent research has been on Social Media Marketing and Emerging Technologies. The study provides a thorough review of recent developments in digital retail marketing, laying the groundwork for future research advancement
Optimalisasi Pelayanan Perencanaan Kapasitas Air Bersih di Perumda Air Minum Tirta Intan
Perumda Air Minum Tirta Intan as a public service provider company in meeting the needs of the community in Garut Regency carries out a production process according to the results of capacity planning that has been made, but the realization of the resulting product is not achieved and this is repeated every year. The purpose of the study was to determine the planning process for the company's clean water production capacity as well as the obstacles and problems that caused the production capacity not to be realized as an effort to optimize clean water services. The main theory is used in making the right decision by predicting the level of demand accurately, equating technological progress with sales volume, determining the optimum operational size, and building for change. Qualitative research methods and data collection techniques with literature studies and field studies are internships/observations, documents, and interviews conducted to the Production Sub-Section, Engineering Planning Sub-Section, Research and Development Sub-Section, and Subscription Relations Sub-Section. The results of the study indicate that the Perumda Water Drinking Tirta Intan is already quite good in terms of planning its production capacity, but there are still several aspects that need to be improved such as human resource problems, technical and non-technical leaks (illegal connections), infrastructure facilities that need to be updated, and anticipation of sources. new to meet the water needs of the community
Comparative analysis of outsourcing and in house warehouse management system to improve productivity and stock accuracy
This study compares the impact of outsourced and in-house Warehouse Management Systems (WMS) on productivity and stock accuracy in the fast-moving consumer goods (FMCG) sector. Data was collected from a logistics services company in Palembang using quantitative methods, including measurements of productivity per person per hour and stock accuracy per SKU. Productivity was assessed based on items processed per unit time, while stock accuracy compared physical stock with system records. Additional data was gathered through a Google Form survey targeting operational staff and warehouse managers to understand the implementation of both WMS models. The survey covered critical processes such as putaway, picking, and inventory, providing insights into operational efficiency and challenges associated with each model. Dummy variable multiple regression was applied to evaluate the performance impact of each WMS model, supplemented by qualitative insights from structured interviews. Findings reveal that WMS in-house is better than outsourcing WMS. While 12.5% of respondents rated the outsourced WMS as inefficient, none reported inefficiencies in the in-house system. Additionally, 62.5% of respondents found the in-house WMS highly effective, citing smoother implementation and higher reliability. The in-house WMS also demonstrated superior operational efficiency, storage accuracy, and responsiveness. It provided better storage location guidance (33.3%) and faster, more accurate operator navigation (26.5%) compared to the outsourced system. Moreover, only 33.3% of respondents noted delays in resolving technical issues with the in-house system, versus 68.8% for the outsourced system. Statistical analysis further supported these findings, showing significant advantages for the in-house WMS in productivity (p=0.068) and stock accuracy (p=0.000). These results highlight the strategic advantages of adopting an in-house WMS, underscoring its role in enhancing operational efficiency and maintaining competitiveness in the dynamic FMCG market
