1,721,210 research outputs found

    Telaah materi buku ajar akhlak tasawuf madrasah aliyah kelas 12

    No full text
    Anam, Choirul, 2023, Telaah Materi Buku Akhlak Tasawuf Madrasah Aliyah Kelas12. Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan. Jurusan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Dosen Pembimbing Nur Kolis, Ph. D Kata Kunci : buku ajar, materi ajar, buku akhlak tasawuf.                  Penelitian ini merupakan bentuk telaah buku ajar yang menjadi acuan dalam proses pembelajaran peserta didik sesuai kurikulum yang ditetapkan. Dalam pemilihan buku ajar, perlu mempertimbangkan empat unsur kelayakan sesuai dengan ketentuan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Keempat unsur kelayakan tersebut yaitu: kelayakan isi, kelayakan penyajian materi, kelayakan bahasa, dan kelayakan kegrafikan. Terkait buku ajar yang beredar di madrasah dalam konteks pendidikan, menurut Muslich terdapat beberapa keganjilan pada buku ajar yang beredar, yaitu (1) terdapat buku yang tidak sesuai dengan pesan kurikulum, (2) terdapat buku teks yang berisi pokok-pokok materi yang hanya berupa ringkasan, (3) terdapat buku teks yang uraiannya sangat teknis, (4) terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pola pikir siswa, dan (5) terdapat buku teks yang kurang applicable (relevan). Dengan adanya masalah diatas peneliti  akan mengkaji buku ajar akhlak tasawuf madrasah aliyah kelas 12. Fokus penelitan ini untuk mengetahui layak atau tidaknya buku ajar. Pertayaan yang ingin dijawab dari penelitian ini adalah (1) Bagaimana kesesuaian materi buku ajar akhlak tasawuf MA kelas 12 dengan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD)? (2) Bagaimana penyajian kedalaman dan keluasan materi dalam buku ajar Akhlak Tasawuf MA kelas 12?. Metode penelitan yang digunakan adalah penelitan kualitatif, dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) pada buku ajar Akhlak tasawuf MA Kelas 12. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu studi dokumen yang ada pada buku ajar Akhlak tasawuf MA Kelas 12 dan KMA 183 tahun 2019. Sedangkan untuk menjawab permasalahan, teknis yang digunakan adalah content analysis. Analisis data dilakukan secara sistematis dan logis dimulai dari membaca dan menelaah data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, Buku Ajar Akhlak Tasawuf MA kelas 12 dilihat dari aspek KI dan KD yang terumuskan dalam buku tersebut telah sesuai dengan pesan kurikulum Akidah Akhlak, serta pokok-pokok materi yang disajikan dengan rinci. Rinciannya memberikan pemahaman mendalam kepada siswa Madrasah Aliyah kelas 12. Kedua, Penyajian kedalaman dan keluasan materi dalam buku ajar Akhlak Tasawuf MA kelas 12 sangat sesuai dengan pola pikir siswa. Uraian yang sangat sederhana membuatnya mudah dipahami oleh siswa Madrasah Aliyah. Selain itu, buku ini juga terbukti applicable (relevan)

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Konsistensi pengaturan perkawinan beda agama perspektif Hierarki Hukum di Indonesia

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Pengaturan Perkawinan beda agama yang masih belum diatur dengan tegas. Adanya pernikahan beda agama ini karena terdiri dari 6 (enam) agama yang diakui oleh Negara Indonesia, dan juga adanya aliran kepercayaan lokal yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia. Dalam Undang-Undang No. 1 Perkawinan Tahun 1974 melarang pernikahan beda agama hanya saja tidak diperjelas, dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 Tentang Adminisitrasi Kependudukan justru memiliki celah untuk melaksanakan perkawinan beda agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tentang konsistensi pengaturan perkawinan beda agama yang ada di Indonesia dengan perspektif hierarki hukum yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian hukum normatif menggunakan pendekatan PerUUan. Adapun bahan hukum diperoleh dari peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan dan berbagai bahan hukum sekunder lainnya. Hasil dari penelitian ini: 1. Memuat peraturan perundang-undangan, putusan-putusan pengadilan serta bahan hukum sekunder lainnya yang mempunyai masing-masing pendapat berbeda, kemudian dijadikan perbandingan dan pertimbangan atas ketidakpastian hukum yang ada dari perkawinan beda agama. 2. Dalam hierarki hukum, Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang perkawinan dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan berada dalam posisi sama, namun keduanya tidak konsisten dalam mengatura perkawinan beda agama, sehingga dalam penerapannya para Hakim pengadilan juga tidak konsisten dalam menetapkan permohonan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia tentang perkawinan beda agama, dan penulis memberi kesimpulan bahwa pengaturan hukum perkawinan beda agama tersebut masih tidak konsistensi/inkonsistensi. ABSTRACT This research is motivated by the Regulation of Marriage between religions which is still not regulated firmly. The existence of interfaith marriages is due to the 6 (six) religions recognized by the Indonesian State, and also the existence of local beliefs which are very numerous in Indonesia. In Law No. 1 of 1974 Marriage prohibits interfaith marriages, but it is not clarified, in Law No. 23 of 2006 concerning Population Administration it has a gap to carry out interfaith marriages. The purpose of this study is to analyze the consistency of the regulation of interfaith marriages in Indonesia from the perspective of the hierarchy of laws in force in Indonesia. This research is included in the type of normative research or library research using a statutory approach. The data obtained comes from the court judges' decisions on the application for interfaith marriages and using laws relating to interfaith marriages. The results of this study: 1. Contains laws and regulations, court decisions and other secondary legal materials that have different opinions, then used as a comparison and consideration of the existing legal uncertainty of interfaith marriages.. 2. In the legal hierarchy, Law No. 1 of 1974 concerning marriage and Law No. 23 of 2006 concerning Population Administration are in the same position, but both are inconsistent in regulating interfaith marriages, so that in its application the court judges are also inconsistent in determining applications made by the Indonesian people about interfaith marriages, and the author concludes that the legal regulation of interfaith marriages is still inconsistent. مستخلص البحث الدافع وراء هذا البحث هو تنظيم الزواج بين الأديان الذي لا يزال غير منظم بشكل صارم. يرجع وجود الزواج بين الأديان إلى أنه يتكون من 6 (ستة) ديانات معترف بها من قبل الدولة الإندونيسية، وأيضًا هناك العديد من المعتقدات الدينية المحلية في إندونيسيا. في القانون رقم 1. زواج عام 1974 يحظر الزواج بين الأديان، لكن الأمر لم يتم توضيحه في القانون رقم 1. وفي الواقع أن القانون رقم 23 لسنة 2006 بشأن إدارة السكان به ثغرة في إجراء الزواج بين الأديان. الغرض من هذه الدراسة هو تحليل مدى اتساق ترتيبات الزواج بين الأديان في إندونيسيا من منظور التسلسل الهرمي القانوني المعمول به في إندونيسيا. ويندرج هذا البحث ضمن نوع البحث المعياري أو البحث المكتبي باستخدام منهج الحالةالنهج التشريعي. البيانات التي تم الحصول عليها تأتي من قرارات قضاة المحكمة فيما يتعلق بطلبات الزواج بين الأديان واستخدام القوانين المتعلقة بالزواج بين الأديان. نتائج هذا البحث: 1. تحتوي على القوانين واللوائح، وأحكام المحاكم وغيرها من المواد القانونية الثانوية التي لكل منها آراء مختلفة، ثم تستخدم للمقارنة والنظر في الشكوك القانونية الموجودة في الزواج بين الأديان. 2. في التسلسل القانوني القانون رقم (1) لسنة 1974 في شأن الزواج والقانون رقم (1) لسنة 1974 في شأن الزواج. القانون رقم 23 لعام 2006 بشأن إدارة السكان في نفس الموقف، لكن كلاهما غير متسق في تنظيم الزواج بين الأديان، بحيث يكون قضاة المحكمة أيضًا غير متسقين في تطبيقهم في تحديد الطلبات المقدمة من الشعب الإندونيسي فيما يتعلق بالزواج بين الأديان، ويخلص صاحب البلاغ إلى أن القانون القانوني لا تزال لوائح الزواج بين الأديان تفتقر إلى الاتساق/التناقض

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    MODEL PEMBINAAN DISIPLIN SANTRI (STUDI KASUS PONDOK PESANTREN DARUL FIQHI KABUPATEN LAMONGAN)

    Full text link
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan model pembinaan disiplin, hambatan dan upaya pesantren dalam pembinaan disiplin santri di pondok pesantren Darul fiqhi Lamongan. meggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menujukan bahwa model pembinaan disiplin santri di pondok pesantren Darul fiqhi Lamongan dilakukan dengan cara: keteladanan, komunikasi, pelatihan, nasihat/teguran dan pemberian penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Hambatan yang dialami yaitu: kurangnya kesadaran pada diri santri, pengaruh lingkungan tempat tinggal dan pergaulan., kurangnya pengawasan dan pembiasaan disiplin dari orang tua, minimnya pengetahuan siswa terhadap tata tertib, kurangnya hubungan interpersonal antara konselor serta pengurus pondok dengan santri. Upaya dalam mengatasi hambatan yaitu: memberikan pemahaman ilmu agama dengan mempelajari hadist-hadist, meningkatkan pemahaman santri tentang pentingnya mematuhi peraturan, meningkatkan pendekatan/hubungan interpersonal antara konselor dengan santri terutama santri yang bermasalah terhadap tata tertib. Kata kunci: Disiplin, Santri, Pondok Pesantren Abstract The goal of this research is describe the formation of coaching models discipline , barriers and efforts in the development of the discipline of boarding school students in boarding schools Darul Fiqhi Lamongan. Data from this research obtained through observation, interviews, and documentation. Data analysis uses reduction of data, present of data and conclude of data. The results of the study addressed the coaching model of discipline that boarding school students in Darul Fiqhi Lamongan done by: exemplary, communication, training, advice/warning and rewards and punishment. Experienced barriers are: lack of self-awareness in students, the influence of neighborhood and socially., Lack of supervision and discipline habituation of parents, lack of knowledge of students to the discipline, lack of interpersonal relationship between the counselor and caretaker cottage with students. Efforts to overcome the obstacles which are: to provide an understanding of religious knowledge by studying hadith, enhancing students understanding of the importance of complying with regulations, improve the approach/interpersonal relationship between a counselor with troubled students, especially students of the discipline. Keywords: discipline, Students, Boarding School

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Analisis Pelatihan Dan Pengembangan Terhadap Kepemimpinan Organisasi Pembelajaran (Studi Pada Satuan Paskibra Satya Providers Ose Red Sma Laboratorium Universitas Negeri Malang)

    Full text link
    Kelebihan daripada penelitian ini adalah sifat kepemimpinan dan kedisiplinan yang tinggi ada pada siswa-siswi (generasi muda) bilamana mereka masuk di dalam organisasi paskibra yaitu satuan pasukan satya providers ose red dapat disingkat menjadi satuan pasukan SATDIVERS dengan konsep one voice yaitu satu suara. Serta pelatihan dan pengembangan yang ada di SATDIVERS menyesuaikan dengan sumberdaya manusia yang ada di organisasi tersebut dan adanya kerjasama dengan purna SATDIVERS sebagai motivator dan pelatih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelatihan dan pengembangan, mengetahui kepemimpinan, dan organisasi pembelajaran dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian yang digunakan berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa pelatihan dan pengembangan mempunyai pengaruh yang penting di dalam sebuah organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan dan pengembangan setiap tahunnya mengalami perubahan yang disesuaikan dengan sumberdaya manusia. Untuk kepemimpinan mempunyai andil dalam proses pelatihan dan pengembangan dikarenakan kepemimpinan memiliki tujuan yang dicapai secara bersama dan membentuk karakter siswa-siswi yang bertanggung jawab. Serta organisasi pembelajaran mempunyai pemikiran dan kebudayaan yang berbeda untuk disatukan menjadi satu agar tercipta satu tujuan dalam kelompok kecil ataupun kelompok besar. Hal ini menunjukkan dalam struktur organisasi setiap elemen memiliki peran dan fungsi yang berbeda akan tetapi bisa disatukan demi terwujudnya tujuan, visi dan misi bersama. Dalam interpretasi bahwasanya pelatihan dan pengembangan,kepemimpinan dan organisasi pembelajaran dapat dijabarkan lebih dalam dan dapat dimaknai serta dapat disimpulkan dari hasil wawancara

    Kajian Persepsi Dan Pengetahuan Petani Terhadap Kekritisan Lahan Di Daerah Aliran Sungai (Das) Lekso Kabupaten Blitar

    Full text link
    Kerusakan hutan dan lahan di Indonesia telah banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Salah satunya adalah kritisnya lahan disejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang semakin tahun semakin meningkat. DAS Lekso merupakan salah satu lahan kritis di Indonesia yang terletak di Kabupaten Blitar dengan luas wilayah 164 km² dengan panjang sungai 24 km. Pengendalian lahan kritis tidak terlepas dari aspek kemasyarakatan di dalam DAS, yang mencakup strategi dalam mencari mata pencaharian, perkembangan persepsi dan pengetahuan dalam mengelola lahan, aspek kepemilikan lahan, nilai-nilai lokal yang dianut, dan kesejahteraan dari petani itu sendiri. Upaya penerapan kaidah-kaidah konservasi sumberdaya lahan dalam sistem budidaya tanaman pada prinsipnya bergantung dari persepsi dan pengetahuan petani sebagai pelaku yang menentukan pengelolaan usahatani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui perbedaan persepsi dan pengetahuan tentang konservasi sumberdaya lahan antara petani milik, petani hutan dengan non-petani, dan menganalisis hubungan persepsi dan pengetahuan petani tentang konservasi sumberdaya lahan dengan kekritisan lahan di DAS Lekso. Penelitian dilaksanakan di 7 desa yang berada dalam Kecamatan Gandungsari dan Kecamatan Wlingi di DAS Lekso, Kabupaten Blitar pada bulan April - Juni 2017. Pengumpulan data persepsi dan pengetahuan tentang konservasi sumberdaya lahan menggunakan instrumen penelitian berupa kuisioner dengan metode wawancara pada 60 responden. Sedangkan nilai kekritisan lahan didapatkan dari hasil penilaian yang diperoleh berdasarkan pengukuran kekritisan lahan yang meliputi : penutupan lahan, kelerengan, tingkat erosi, dan manajemen (kawasan hutan lindung), Produktivitas, kelerengan, tingkat erosi, jumlah batuan dan manajemen (kawasan budidaya pertanian). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani hutan dan petani milik memiliki persepsi tentang konservasi lebih baik dari pada persepsi non-petani. Sebagian besar petani hutan dan petani milik memiliki pengetahuan tentang deskripsi hutan lebih baik dari pada pengetahuan non-petani. Sebagian besar petani hutan memiliki pengetahuan tentang kaidah konservasi lebih baik dari pada petani milik dan non petani. sebagian besar responden baik petani hutan, petani milik dan seluruh non-petani memiliki pengetahuan sangat buruk tentang teknologi konservasi sumber daya lahan, hanya beberapa responden yang memiliki pengetahuan buruk dan tidak ada responden yang memiliki pengetahuan sedang, baik, dan sangat baik. Nilai kekritisan lahan petani hutan relatif beragam yaitu kritis, agak kritis dan potensial kritis, sedangkan petani milik memilliki lahan agak kritis dan potensial kritis. Tingkat persepsi petani tentang konservasi sumberdaya lahan dan pengetahuan tentang deskripsi hutan, kaidah konsevasi dan teknologi konservasi sumberdaya lahan tidak mempengaruhi tingkat kekritisan lahan petani di DAS Lekso
    corecore