1,721,005 research outputs found
CAGAR BUDAYA SURABAYA KOTA PAHLAWAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR (Studi Kasus Mahasiswa Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Negeri Surabaya)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Mengetahui kemampuan
mahasiswa mengidentifikasi jenis cagar budaya Surabaya kota pahlawan; (2)
Pemahaman ini bertujuan untuk mengetahui Surabaya disebut kota Pahlawan
dalam pembelajaran sejarah; dan (3) Keberadaan cagar budaya tersebut dapat
dimanfaatkan sebagai sumber belajar.
Penelitian ini dilakukan di lingkungan fakultas ilmu sosial program studi
pendidikan sejarah Universitas Negeri Surabaya. Metode penelitian yang
digunakan bersifat kualitatif dengan bentuk studi kasus tunggal terpancang.
Sumber data terdiri atas narasumber, arsip/dokumen dan tempat aktivitas. Data
digali melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumen terkait. Untuk
validitas data dilakukan dengan teknik trianggulasi data dan trianggulasi sumber.
Analisa data menggunakan model analisis interaktif untuk mendapatkan simpulan
berdasarkan reduksi dan sajian data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum semua mahasiswa mengetahui
jenis cagar budaya Surabaya yang mendukung disebut sebagai kota Pahlawan.
Pengetahuan ini mendorong tingkat pemahaman Surabaya sebagai kota Pahlawan
perlu ditingkatkan dalam pembelajaran sejarah dengan cara mengidentifikasi jenis
dan keberadaan cagar budaya. Proses identifikasi dengan observasi lapangan
mendorong mahasiswa dapat mengetahui keberadaan cagar budaya pendukung
Surabaya disebut kota pahlawan dan memanfaatkannya sebagai sebagai sumber
belajar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
memanfaatkan cagar budaya sebagai salah satu sumber belajar dalam
pembelajaran sejarah. Diharapkan pemanfaatan ini dapat melestarikan cagar
budaya sebagai sumber informasi untuk memperkuat identitas suatu kota dalam
kegiatan pembelajaran
PERAN MAYJEN SUNGKONO DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI JAWA TIMUR TAHUN 1945 – 1950
Sungkono lahir di kota Purbalingga pada tanggal 11 Januari 1911. Pada peristiwa 10 November 1945 Sungkono merupakan salah satu tokoh penggerak semangat juang rakyat Surabaya. Sungkono diangkat sebagai kepala BKR Kota Surabaya ketika peristiwa 10 November 1945. Penelitian ini akan membahas mengenai (1) Bagaimana latar belakang Mayjen Sungkono sebelum tahun 1945 dan karier di dunia militer; (2) Bagaimana peran Mayjen Sungkono di Jawa Timur tahun 1945 – 1950. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas empat tahap yaitu tahap Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Sumber dalam penelitian ini didapat melalui wawancara dengan anak dan kerabat dar Sungkono juga wawancara dengan para veteran pejuang 45, didapat juga melalui arsip perihal persemian Sungkono sebagai kepala divisi Brawijaya, Arsip keterlibatan Sungkono dalam peristiwa 10 November 1945 sampai tahun 1950. Tahap kedua yakni kritik sumber yaitu kritik intern menemukan data yang menunjukan peran Sungkono periode tahun 1945 – 1950. Tahap Ketiga yakni interpretasi data. Melalui berbagai literature serta wawancara memperoleh fakta tentang peran Sungkono dalam peristiwa 10 November 1945 dan selama menjadi Kepala Divisi Brawijaya . Fakta-fakta tersebut menjadi pondasi peneliti dalam menganalisis fakta sesuai dengan tema penelitian disertai dukungan sumber sekunder. Tahap keempat yakni historiografi untuk menuliskan hasil penelitian karya sejarah secara kronologis sesuai dengan tema penelitian. Hasil penelitian menjelaskan Sungkono yang terlahir dari pasangan Ki Tawireja dan Ibu Rinten. Sungkono mulai dikenal dikalangan rakyat Surabaya ketika terjadi pemberontakan tujuh kapal pada tahun 1930. Pada jaman Jepang Sungkono telah bergabung dalam anggota PETA. Tanggal 4 September 1945 Sungkono terpilih sebagai komandan BKR Kota Surabaya. Sebagai komandan BKR Kota Surabaya Sungkono Sebagai bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan seluruh kota. Dengan cara kota harus dipertahankan dari usaha pendudukan oleh musuh. Sebagai komandan BKR Kota Surabaya Sungkono menggerakan pasukan dengan dibantu Polisi Istimewa dibawah pimpinan Moh. Jasin, Pemuda Republik Indonesia (PRI) beserta rakyat dan pemuda lainnya yang belum jelas induk pasukannya untuk mengepung markas Gubeng. Sungkono juga menjabat sebagai gubernur militer pada peristiwa pemberontakan PKI Madiun. Sumbangsih yang diberikan Sungkono bukan hanya pada bidang militer juga bidang sosial, politik dan pendidikan. Pada tahun 1950 Sungkono berpindah ke Jakarta menjadi “Penasehat Umum” Menteri Pertahanan di Jakarta
WAYANG SULUH MADIUN TAHUN 1947-1965
Pada zaman revolusi alat penyebar informasi di Indonesia masih minim. Wayang kemudian menjadi salah satu media penyebaran informasi untuk masyarakat Indonesia karena masih ada keterbatasan masyarakat dalam membaca, memiliki, dan berlangganan surat kabar. Masalah tersebut mengakibatkan masyarakat menjadi hidup sengsara dan pendidikan tidak mampu menjangkau masyarakat kecil, sehingga dapat menyulitkan pemerintah dalam menyebar luaskan informasi mengenai program pemerintah. Wayang suluh oleh Pemerintah melalui Departement Penerangan dianggap mampu memberikan informasi untuk menambah wawasan serta pengetahuan kepada masyarakat Indonesia dalam upaya membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan.Permasalahan penelitian ini yaitu, (1) Bagaimana latar belakang tumbuhnya wayang suluh? (2) Bagaimana ciri-ciri dan fungsi wayang suluh? (3) Bagaimana perkembangan wayang suluh di Madiun pada tahun 1947-1965?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah terdiri dari, (1) Heuristik, mencari sumber sejarah sesuai topik yang akan diteliti (2) Kritik, menganalisis sumber untuk mendapatkan fakta sejarah (3) Intepretasi, menganalisis sumber yang sudah dikritik kemudian diintepretasi sesuai dengan tema penelitian (4) Historiografi, penulisan sumber yang sudah terbentuk rekonstruksi peristiwa sejarah.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wayang suluh tumbuh ketika Pemerintah Indonesia berusaha menanamkan kesadaran masyarakat untuk berbangsa dan bertanah air. Usaha tersebut dilakukan akibat serangan dari Belanda terkait peristiwa Agresi Militer Belanda I dan II yang ingin menguasai kembali Indonesia. Selain peristiwa Agresi Militer Belanda I dan II juga ada peristiwa Madiun tahun 1948 yang mengakibatkan kehidupkan masyarakat Indonesia sengsara. Berdasarkan masalah tersebut wayang suluh kemudian dirancang dan diperkenalkan kepada masyarakat Madiun oleh bapak Sukemi sebagai karyawan Departemen Penerangan Madiun. Wayang suluh pertama kali dipertunjukkan tanggal 10 Maret 1947 di Gedung Balai Rakyat Madiun Jawa Timur.Ciri dan fungsi dari wayang suluh Madiun yaitu tokoh wayang suluh Madiun lebih digambarkan seperti wajah asli tokoh perjuangan di Indonesia dan tokoh yang hidup dalam masyarakat. Lakon yang dibawakan dalam wayang suluh Madiun bercerita seputar peristiwa pada masa revolusi dan program pemerintah. Wayang suluh berfungsi sebagai (1) corong pemerintah dalam menyampaikan informasi; (2) menambah wawasan; (3) meningkatkan rasa nasionalisme masyarakat Indonesia.Dalam perkembangannya wayang suluh Madiun tahun 1947-1965 dibagi menjadi 2 periodisasi, yaitu tahun 1947-1949 dan tahun 1950-1965. Periode tahun 1947-1949 tokoh wayang suluh Madiun digambarkan seperti wajah asli tokoh-tokoh perjuangan Indonesia dan tokoh-tokoh Belanda yang berperan dalam penjajahan. Lakon wayang suluh lebih menceritakan peristiwa pada masa revolusi. Waktu dan durasi pentas dengan durasi 3-4 jam atau selama 6 jam yang dilaksanakan sore atau malam hari. Sorot lampu (blencong) masih menggunakan lampu minyak.Periode tahun 1950-1965 tokoh wayang suluh Madiun lebih menggambarkan tokoh-tokoh atau pelaku yang hidup dalam masyarakat. Sedangkan lakon menceritakan program pemerintah, mengangkat permasalahan pembangunan di Indonesia. Waktu pentas dilaksanakan selama 2-3 jam dimulai pada pukul 20.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB. Sedangkan sorot lampu (blencong) sudah menggunakan blencong berupa lampu petromax.Kata Kunci: wayang suluh, ciri dan fungsi, perkembangannya
PENGGABUNGAN KABUPATEN ADIKARTO DENGAN KABUPATEN KULON PROGO MENJADI KABUPATEN KULON PROGO PADA TAHUN 1951
Kabupaten Kulon Progo merupakan wilayah dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kabupaten Adikarto merupakan wilayah dari kadipaten Pakualaman. Pada tahun 1951 kedua wilayah digabung menjadi satu menjadi Kabupaten Kulon Progo. Penggabungan wilayah merupakan yang pertama di Indonesia pada masa itu, dan pada masa itu juga terjadi pemekaran wilayah di Indonesia bahkan sampai sekarang, termasuk berdirinya Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dari Propinsi Jawa Tengah, sehingga menjadikan Yogyakarta menjadi propinsi tertua kedua setelah 8 propinsi pertama milik Indonesia. Berdasarkan dengan latar belakang tersebut, maka diperoleh beberapa rumusan masalah yaitu 1). Apa yang melatarbelakangi adanya penggabungan kabupaten Adikarto dengan Kabupaten Kulon Progo menjadi Kabupaten Kulon Progo pada tahun 1951. 2). Bagaimana perkembangan Kabupaten Kulon Progo pasca integrasi di bidang politik, ekonomi, sosial dan kesehatan tahun 1951-1956. Berdasarkan dengan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggabungan kedua kabupaten dan dampak dari hasil penggabungan kedua kabupaten tersebut dalam berbagai bidang pada masa itu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.Hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut, penggabungan Kabupaten Adikarto dengan Kabupaten Kulon Progo menjadi Kabupaten Kulon Progo merupakan sebuah kebijakan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan KGPAA Paku Alam VIII. Adanya kebijakan ini untuk mempersiapkan kabupaten-kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi Kabupaten yang mandiri, mengingat akan berlakunya Undang-Undang Otonomi Kabupaten. Dampak negatif dari penggabungan dari segi politik, ekonomi, sosial, dan kesehatan tidak ada bahkan masyarakat menerima dan mendukung serta mengalami peningkatan karena adanya bantuan dari pemerintah propinsi dan pemerintah pusat. Namun dari segi politik terdapat masalah, yakni sampai tahun 1953, DPRD Kabupaten Kulon Progo yang baru masih belum terbentuk, dan nasib anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarta masih membingungkan. Namun pada tahun 1955 baru terbentuk anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo Baru setelah pemilihan umum.Kata Kunci: Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Adikarto, Kebijakan, Integrasi, Proses dan Dampa
BENTUK KERUKUNAN ANTARA UMAT BERAGAMA DI VIHARA AVALOKITESVARA CANDIH POLAGAN GALIS PAMEKASAN MADURA TAHUN 1959-1962
Vihara Avalokitesvara yang terdapat di dusun Candih desa Polagan Galis Pamekasan, merupakan tempat peribadatan Umat Budha dalam wajah penampilan cita-cita Pancasilais. Di komleks Vihara terdapat tempat ibadah Mushallah dan pura. Kerukunan tersebut terpancar ke masyarakat Candih. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Vihara Avalokitesvara di sebabkan oleh kerukunan umat agama dan membawa misi pancasilaisRumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar belakang berdirinya Vihara Avalokitesvara Pamekasamn Madura?, (2) Bagaiman bentuk kerukunan antara umat agama Budha dan agama Islam di Vihara Avalokitesvara?, (3) Apa wujud kerjasama Vihara Avalokitesvara di masyarakat Candih Polgan Galis Pamekasan Madura. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalam metode penilitian sejarah meliputi Heuristik, Kritik, Interpretasi dan histeriografi.Hasil penelitian menunjukan bahwa latar belakang berdirinya Vihara Avalokitesvara dengan ditemukannya tiga buah patung di dusun Candih Polagan Galis Pamekasan. Pemberian nama Vihara Avalokitesvara diambil dari nama salah satu Bodhisattava dalam agama Budha. Patung tersebut akan dikirim ke Proppo tepatnya desa Jamburingin. Namun patung-patung tidak sampai ke desa Jamburingin, sehingga di temukan terbenam di dusun Candih. Bentuk kerukunan umat beragama yang terjalin di masyarakat Candih tercermin dari adanya tempat ibadah umat Budha yaitu Vihara Avalokitesvara yang membawa misi Pancasilais. Dalam komplek bangunan Vihara terdapat tempat ibadah ama lain seperti Mushallah dan Pura. Kerukunan masyarakat Candih terlihat dengan rumah-rumah mereka yang dibangun berselang-seling. Gotong royong selalu dikedepankan baik dalam lingkungan masyarakat maupun masyarakat dengan pihak Vihara Avalokitesvara. eujud kerjasama yang terjalin antara Vihara dengan Masyarakat adalah a) akses jalan sepanjang 1700m dari jalan raya, b) keterlibatan masyarakat Candih dalam setiap perayaan di Vihara AvalokitesvaraKata Kunci : Bentuk, Kerukunan umat beragama, Kerjasama
WISATA RELIGI MAKAM KANJENG SEPUH SIDAYU TAHUN 2000-2011
Makam Kanjeng Sepuh merupakan makam adipati Sidayu ke-8 yang berada di Desa Kauman, Kecamatan Sidayu,Kabupaten Gresik. Makam Kanjeng Sepuh sendiri banyak dikunjungi masyarakat sekitar berkat jasa-jasanya semasahidup. Wisata religi makam Kanjeng Sepuh berbeda dengan makam wali-wali pada umunya yang ramai pengunjung padahari jum’at legi. Makam Kanjeng Sepuh biasanya ramai pada hari jum’at pahing yang kemudian menjadi tradisi di sana.Hal yang menarik untuk diteliti dari makam Kanjeng Sepuh yaitu (1) Bagaimana makam Kanjeng Sepuh Sidayu menjadiwisata religi pada tahun 2000-2011?; (2) Bagaimana nilai tradisi jum’at pahing di makam Kanjeng Sepuh Sidayu tahun2000-2011?. Adapun hasil dari penelitian ini adalah makam Kanjeng Sepuh sejak dulu sudah dikunjungi masyarakatsekitar. Sejak munculnya Peraturan Daerah Kabupaten Gresik No 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi dan TataKerja Dinas-Dinas Daerah Kabupaten Gresik. Makam Kanjeng Sepuh mulai diperhatikan oleh pemerintah daerah yangkemudian menjadikan pertambahan jumlah pengunjung. Puncak keramaian makam Kanjeng Sepuh terjadi hanya padahari jum’at pahing. Kebiasaan mengunjungi makam ini memiliki nilai dan fungsi bagi kehidupan masyarakat sekitar.Terutama dalam bidang sosial, budaya, religi, dan ekonomi.Kata Kunci: Wisata religi, Kanjeng Sepuh, Siday
PENDIDIKAN KARAKTER ALA KH. MASYHUR DI PONPES AL ROSYID DANDER BOJONEGORO TAHUN 1959-1974
Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan manusia. Artinya sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia adalah lembaga pondok pesantren yang memiliki peranan penting dalam usaha memberikan pendidikan agama. Komunitas pesantren merupakan suatu keluarga besar di bawah asuhan seorang kiai atau ulama, yang dibantu oleh beberapa kiai dan ustad.Penelitian ini menitik beratkan pada pondok pesantren yang berada di wilayah Ngumplakdalem Dander Kabupaten Bojonegoro. Al Rosyid merupakan sebuah pondok pesantren yang ada di wilayah Kendal Ngumplakdalem Dander Bojonegoro. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 1959-1974 di bawah kepemimpinan KH. Masyhur. Di pondok ini diajarkan ilmu-ilmu agama yang representatif dan kompeten secara kognitif, tetapi juga ranah efektif dan menyiapkan anak didiknya mempunyai kepribadian yang baik dengan kebutuhan masyarakat.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana pola pendidikan karakter ala KH. Masyhur yang diterapkan di Pondok Pesantren Al Rosyid? (2) Bagaiman relevansi pendidikan karakter saat ini dengan pendidikan karakter yang di terapkan oleh KH. Masyhur?. Penelitian ini menggunkaan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang pendidikan karakter santri di Pondok Pesantren Al Rosyid desa Ngumplakdalem Dander Bojonegoro telah menerapkan proses pendidikan karakter yang dilakukan KH. Masyhur melalui berbagai macam kegiatan. KH. Masyhur mengajarkan karakter pada santri yang diterapkan dari mata tertidur sampai gelapnya malam yaitu dari jam 4.30 sampai dengan 21.30 WIB, dimana KH. Masyhur memberikan pengajaran kitab-kitab klasik, membaca AL Qur’an dan juga sholat berjama’ah. Pola pendidikan karakter ala KH. Masyhur diantaranya menerapkan pengajaran Ma’hadiyah, dengan menggunakan sistem wetonan atau badongan. Secara nasional pembentukan atau pendidikan karakter yang paling mendukung nilai Pancasila adalah pendidikan pondok pesantren, salah satunya Pondok pesantren Al Rosyid. Pendidikan pondok pesantren ini selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan syariat Islam, juga mewujudkan karakter Islami dan karakter pendidikan nasional untuk membentuk kepribadian yang berahklak baik dan berguna bagi bangsa.Relevansinya pendidikan karakter ala KH. Masyhur dengan adanya pengawasan yang diawasi langsung oleh kyai/ustad selama 24 jam. Aktivitas yang dilakukan oleh para santri atau murid di pondok pesantren diterapkan dengan pembelajaran-pembelajaran nilai kehidupan dalam cara berperilaku sopan, baik, tanggung jawab, disiplin dan juga akhlak yang baik.Kata kunci : pendidikan karakter, pondok pesantren, KH. Masyhu
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THE POWER OF TWO (DIMODIFIKASI) BERBANTUAN INSASTORY INSTAGRAM TERHADAP KREATIVITAS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI IPS DI MAN 1 BOJONEGORO TAHUN PELAJARAN 2020/2021
The research activities was discussed about the influence of cooperative learning model type The Power of Two (modified) assisted by Instagram Instastory on the creativity of students in the history subjects of class XI IPS in MAN 1 Bojonegoro that has the purpose of whether there is an influence of cooperative learning model type the power of two (modified) assisted instastory instagram to the creativity of participants students in the history subjects of class XI IPS MAN 1 Bojonegoro and determine how much the model of cooperative learning type the power of two (modified) assisted by Instagram Instastory affects the creativity of students in the History Subjects class XI IPS MAN 1 Bojonegoro year 2020/2021. The research used Pre-Experimental and One-Shot Case Study as research design. The population includes all students of grade 11 IPS in MAN 1 Bojonegoro which amounted to 144 people and class XI-US 2 as a sample or an experimental class. The data analysis used is with Simple Linear Regression Test Technique. Based on the results of the calculation analysis obtained the results that the cooperative learning model type The Power of Two (modified) assisted by Instagram Instastory has a significant influence on the creativity of students of grade XI IPS MAN 1 Bojonegoro in history subjects with an average percentage result of 24,3% on the creativity of learners, while the rest of the effect on it can be influenced by other factors such as interest in learning, motivation, and literacy skills, etc. Portofolio assigments have very creativity criteria with a percentage of 90,08% and oral tests with an average pecentage of 93,92% with excellent criteria.Keywords: Cooperative Learning, The Power of Two, Instastory Instagram, Student Creativity
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING BERBASIS CONCEPT MAPPING TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI MIPA 5 DI SMA NEGERI18 SURABAYA
History lessons have three important elements: people, space, and time. History lessons focus on the memory ofcharacters, times, events and places, it triggers the perception of students that learning history is very boring. Learningrevolves around the text rather than the context, repeating the material or knowledge listed in the learning module andknown by students. The tendency of students to receive material instantly from the teacher, makes their curiosity low, sothat when an evaluation of learning outcomes is carried out they are still not optimal. The application of Concept Mappingbased Discovery Learning in this case is intended so that students have the opportunity to be actively involved in learningso that they are able to find patterns in concrete and abstract situations, also students predict a lot of additional informationprovided and students are given a place to practice skills by pouring ideas and ideas through concept maps on historicaltopics that will be developed. This study aims to determine whether there is an effect of the Concept Mapping-basedDiscovery Learning model on student learning outcomes and how much influence it has. This type of research uses a preexperimental design approach in the form of a One-Shot Case Study with a sample of XI MIPA 5 SMAN 18 Surabaya.The data collection technique used the method of observation, giving posttests and student response questionnaires to theConcept Mapping-based Discovery Learning learning model. Data processing used normality test, homogeneity test andt one sample test. The results of the study are shown as follows: (1) the implementation of the Discovery Learning learningmodel based on Concept Mapping is 95% with very good criteria. (2) The learning outcomes of students stated that theyachieved AKM 74 completeness, namely by obtaining an average posttest result of 82.9 with a percentage of 75% AKMcompleteness. (3) The response of students to learning outcomes showed 83.7% in the very good category.Keywords: Concept Mapping based Discovery Learning, Learning Outcomes
PELESTARIAN KESENIAN REOG SINGO MANGKU JOYO DI SURABAYA TAHUN 1990-2010
Kesenian Reog Singo Mangku Joyo merupakan salah satu grup kesenian reog di Surabaya. Kesenian ini berdiri pada tahun 1990 dan dianggap sebagai grup kesenian reog tertua di Surabaya. Hal yang menarik untuk diteliti dari kesenian ini yaitu (1) Bagaimana kehidupan seniman dalam mempertahankan kesenian Reog Singo Mangku Joyo di Surabaya tahun 1990-2010?; (2) Bagaimana upaya seniman reog melestarikan kesenian Reog Singo Mangku Joyo di Surabaya tahun 1990-2010? Adapun hasil dari penelitian ini yaitu kesenian Reog Singo Mangku Joyo di Surabaya muncul akibat adanya masyarakat urban. Kehidupan seniman di dalam grup kesenian tradisional ini tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh, sehingga masih banyak seniman yang harus mencari pekerjaan lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Meski kehidupannya kurang sejahtera namun anggota seniman kesenian tradisional ini tetap melestarikan keberadaan Reog Singo Mangku Joyo. Upaya pelestarian kesenian tradisional Reog Singo Mangku Joyo dilakukan oleh pihak dalam dan pihak luar. Upaya pelestarian dari pihak dalam dilakukan dengan cara saling menjaga tali silahturahmi antar anggota, melakukan latihan rutin, hubungan kekerabatan sosial dengan masyarakat, dan melakukan pewarisan tradisi atau regenerasi. Sedangkan upaya pelestarian dari pihak luar adalah pembinaan yang dilakukan oleh TNI Angkatan Darat (Bekangdam V/Brawijaya).Kata Kunci: Pelestarian, Reog Singo Mangku Joyo, Senima
- …
