1,720,973 research outputs found
Bara Agni di Kerajaan Mengwi (1823-1871)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latarbelakang konflik politik yang terjadi di Kerajaan Mengwi Pada Tahun 1823-1871, dan dampak dari konflik tersebut bagi kehidupan masyarakatnya. Konflik politik yang terjadi di kerajaan Mengwi (1823-1871) dilatarbelakangi oleh kecurigaan Gusti Agung Ngurah Made Agung Putra bahwa Agung Ketut Besakih adalah anak haram, sehingga Agung Ketut Besakih diasingkan di Kerajaan Klungkung. Gusti Agung Ngurah Made Agung juga telah memfitnah Agung Mayun dengan mengatakan beliau telah menodai putri dari Gusti Agung Ngurah Made Agung Putra, sehingga Agung Mayun diasingkan di Nusa Penida. Gusti Agung Ngurah Made Agung Putra juga telah melakukan kesalahan yang besar dengan mengadopsi Penari Gandrung untuk dijadikan anaknya. Tantangan dari luar kerajaan juga terjadi dengan diserangnya kerajaan Mengwi oleh Tabanan dan Marga tepatnya di Blayu dan Sibang. Utusan Blayu menghadap ke raja Klungkung agar melepaskan Agung Ketut Besakih dan Agung Mayun untuk menyelamatkan Blayu dan Sibang dari serangan musuh, ini disebabkan karena Gusti Agung Ngurah Made Putra telah lengah menjadi raja. Disini Gusti Agung Ngurah Made Agung Putra melarikan bersama dengan anaknya yaitu sipenari gandrung karena telah mengetahui akan dikepung oleh pasukan Munggu. Selama perlariannya akhirnya Gusti Agung Ngurah Made Agung wafa
Inquiry DiscoveryLearning dan Sejarah Lokal : Pembelajaran Sejarah Menghadapi Tantangan Abad 21. Discovery Learning Inquiry and Local History: Learning History Facing 21st Century Challenges
Peran utama pendidikan sejarah adalah mewariskan kehidupan bangsa untuk dilanjutkan dan dikembangkan dalam kemasan kehidupan masa kini menuju kehidupan masa yang akan datang. Pendidikan sejarah dituntut untuk mengembangkan kompetensi siswa agar menjadi insan yang cerdas, kreatif, produktif, agar mampu merawat dan memperkaya warisan generasi sebelumnya. Peran strategis pendidikan sejarah ini bisa tercapai bila pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah diperkaya dengan materi-materi (memadukan materi sejarah dalam kurikulum dengan sejarah lokal) serta metode-metode pembelajaran seperti inquiri discovery learning yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk meneliti dan menemukan, menganalisis serta menyimpulkan sendiri hasil temuannya. Pada akhirnya mereka diharapkan dapat belajar dan mengambil pelajaran dari sejarah bangsany
Konflik Antara Kerajaan Gianyar Dengan Kerajaan Klungkung Tahun 1884-1894
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap latar belakang terjadinya konflik antara Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung, proses terjadinya konflik antara Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung serta dampak dari terjadinya konflik antara Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung. Empat Kerajaan yaitu Klungkung, Bangli, Mengwi dan Badung menyerang Kerajaan Gianyar dari segala penjuru. Hubungan Kerajaan Gianyar dengan kerajaan tetangga dipererat, berkat kemampuan diplomasi patihnya terciptalah perjanjian (Pasobaya) antara 3 kerajaan yaitu Gianyar, Badung dan Tabanan. Pemulihan kedaulatan Kerajaan Gianyar berawal dari gerakan para punggawa yang berdaulat, Tegalalang dan Peliatan. Satu persatu daerah Kerajaan Gianyar yang diduduki oleh Dewa Agung di Klungkung dapat direbut kembali oleh laskar gabungan Gianyar yang menghendaki kebangkitan dan pulihnya kedaulatan Kerajaan Gianyar. Dampak dari konflik antara Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung yaitu kembalinya Dewa Ngurah Pahang ke Gianyar dari tempat pengasingannya di Puri Kawan Klungkung merupakan titik balik dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Bali selatan dan menempatkan Dewa Agung di Klungkung dalam posisi yang sangat terdesak. Berkat duet kepemimpinan itu pula Raja-Raja Badung, Tabanan, Bangli dan Karangasem mengakui realitas kedaulatan Kerajaan Gianyar dan Pemerintah Hindia Belanda di Batavia ikut mengakui dan memperkuat eksistensi Kerajaan Gianya
Kontribusi Faktor Lingkungan Sekolah, Lingkungan Keluarga, dan Motivasi Berprestasi terhadap Nilai Modern Siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Kabupaten Gianyar, Bali
This research was aimed at finding out: (1) modern values of SLTP students at Gianyar Regency; (2) the contribution of the school environment and the family environment both individual or in group toward student's achievement motivation; (3) the contribution of the achievement motivation toward student's modern values and (4) the direct contribution of the school environment and family environment toward students' modern values. The population of this research consists of all SLTP students in Gianyar Regency. The sample consists of 192 students established by using the proportional random sampling technique. The instrument was a questionnaire using to Likert's Scales. This study uses descriptive, regression and path analyses. The test of correlation and regression coefficient significance is (X"” .05 level of significance.The descriptive analysis shows that students' school environment, family environment, achievement motivation and modern values, all are in the mediocre category. The value of regression analysis shows that the contribution of the school environment has coefficient correlation of 0.380 and the value of family environment has coefficient correlation of 0.308 each for the achievement motivation, and the contribution of achievement motivation toward students' modern values has coefficient correlation of 0.487. The result of the multiple regression analysis shows that there is positive and significant contribution of the school and family environment altogether, which has coefficient regression of 0.421 toward achievement motivation. Both variables can explain the students' achievement motivation variance, which is 17.7 %. The result of the path analysis shows that: (1) through achievement motivation there is indirect contribution of school environment, which has coefficient path regression of 0.098 and family environment which has coefficient path regression of 0.062 toward students' modern values, and (2) there is direct contribution of school environment which has coefficient path regression of 0.182 and family environment which has coefficient path regression of 0.329 toward students' modern values. Based on the research findings it can be concluded that there is direct contribution of school environment, family environment, and achievement motivation toward students' modern values. There is also indirect contribution to students' modern values through achievement motivation. Kata kunci: faktor lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, motivasi berprestasi, nilai modern sisw
Peranan Masyarakat Dalam Perang Kemerdekaan: Studi Kasus Desa Marga Dalam Peristiwa Puputan Margarana 20 Nopember 1946
Perjuangan bangsa Indonesia terhadap kekuasaan penjajah telah dimulai sejak masa kerajaan-kerajaan, perlawanan yang gigih tersebut dilakukan di bawah pimpinan para raja, pangeran, tokoh adat dan para pejuang lainnya.Sikap anti penjajahlah yang menggerakkan perlawananan raja-raja serta rakyatnya, peperangan yang dilakukan masih bersifat kedaerahan. Perjuangan tersebut mencapai puncaknya ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, karena Belanda ingin menguasai kembali Indonesia maka seluruh bangsa Indonesia berusaha mempertahankan kemerdekaannya tidak terkecuali Bali dengan Puputan Margarananya.
Penelitan ini mengkaji tentang bagaimanakah peranan masyarakat desa Marga dalam puputan Margarana 20 Nopember 1946.Dalam penelitian sejarah ini metode yang digunakan ada lima yahap yaitu 1) pemilihan topik, 2) heuristik, 3) kritik, 4) intepretasi, dan 5) Historiografi atau penulisan sejarah.
Dalam penelitian ini masyarakat desa Marga telah memberikan segala bentuk bantuan terhadap pasukan pimpinan I gusti Ngurah Rai, bantuan-bantuan itu berupa, 1) tempat tinggal bagi I Gusti Ngurah Rai beserta para pasukannya, 2) bantuan logistik berupa bahan makanan serta dapur umum bagi pasukan I Gusti Ngurah Rai, 3) penduduk desa Marga menjadi bagian dari pasukan yang bertugas menjaga pos pengintaian, 4) penjaga tempat perlindungan pasuka
Strategi Politik Majapahit Menaklukan Kerajaan Bali 1352- 1380 M
Penelitian ini bertujuan mengetahui strategi politik yang diterapkan oleh Kerajaan Majapahit agar bisa menguasai Bali mengingat banyak dan masifnya perlawanan rakyat Bali Aga terhadap dinasti baru yang ditempatkan di Bali.Rakyat Bali belum bias menerima penaklukan yang dilakukan oleh Gajah Mada terhadap raja Sri astasura Ratna Bumi Banten. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah sehingga prosedur kerjanya mengikuti urutan-urutan penelitian sejarah meliputi heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi. Data dikumpulkan dengan studi pustaka. Data yang terkumpul dikritik dengan kritik sejarah baik kritik ekstern maupun intern untuk mendapatkan fakta yang diperlukan dalam penyusunan cerita sejarah. Fakta yang ada kemudian diinterpretasikan untuk melihat kesalinghubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lainnya serta kedudukan fakta itu dalam kontek cerita sejarah. Berdasarkan hasil interpretasi data tersebut kemudian disusun sebuah cerita sejarah dengan mengikuti prinsip serialisasi, kronologi dan kausalitas. Hasil analisis menemukan bahwa adanya kekosongan kekuasaan di Bali setelah Majapahit berhasil mengalahkan Dalem Bedahulu (Sri Astasura Ratna Bumi Banten sebagai raja bali kuno yang terakhir) maka yang dipilih adalah Sri Kresna Kepakisan yang masih memiliki darah Bali yakni keturunan Daha (Kediri) yang masih memiliki hubungan langsung dengan Airlangga. Airlangga merupakan anak tertua dari pasangan Udayana (Bali) dengan Mahendra data atau Gunapria Dharma Patni (Sindok).Penempatan Sri Kresna Kepakisan sebagai dinasti baru di Bali tetap mendapat penolakan dari masyarakat Bali.Dalam menjalankan pemerintahannya, Sri Kresna kepakisan juga merangkul masyarakat Bali dan mengangkat para arya menjadi pejabat kerajaan. Menghadapi perlawanan dari masyarakat Bali Aga, Sri Kresna kepakisan menggunakan jalur diplomasi. Tuntutan masyarakat Bali Aga agar raja mengubah pandangan dan perlakuannya terhadap masyarakat Bali serta bersedia menjaga kahyangan yang menjadi pusat keyakinan masyarakat Bali aga, maka Balipun bersedia menerima pemerintahan dalem Sri Kresna Kepakisa
Samara Pura Berdarah : Reaksi Kerajaan kelungkung terhadap Intervensi belanda 1849-1908
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang perlawanan rakyat Klungkung menghadapi Belnada serta jalannya peristiwa perlawanan rakyat Klungkung.Sebagai penelitian sejarah maka didahului dengan mengumpulkan data.Data yang digunakan merupakan data sekunder yang berasal dari berbagai buku yang menceritakan tentang perlawanan rakyat Klungkung.Data yang diperoleh kemudia dikritik, diinterpretasikan, dihubung-hubungkan antara fakta satu dengan yang lainnya sehingga ditemukan keterkaitannya.Berdsarkan keterkaitan itu kemudian disusun dalam sebuah cerita sejarah.Kerajaan Klungkung bangkit melawan Belanda karena Belanda berusaha menguasai Klungkung lewat perjanjian-perjanjian yang merugikan Klungkung.Terbunuhnya mentri candu Belanda merupakan pemicu lahirnya perang Kusamba, gelgel dan puputan Klungkung.Dalam peristiwa ini Klungkung diserang dari berbagai arah.Klungkung berusaha bertahan dengan menggunakan benteng-benteng pertahan tetapi gagal. Akhirnya raja memutuskan untuk melawan belanda sampai gugur di medan perang. Puputan
Prahara Di Kerajaan Gelgel : Studi Kasus Pembrontakan I Gusti Agung Maruti terhadap Dalem Dimade Tahun 1651
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang terjadinya pembrontakan yang dilakukan ole I Gusti Agung Maruti, dan jalannya pembrontakan tersebut. Data dikumpulkan dengan studi kepustakaan. Data kemudian verifikasi dengan kritik sejarah. Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan, diadakan interpretasi sehingga menampakan keterkaiatn antara fakta yang satu dengan fakta yang lainnya. Berdasarkan interpretasi data dibuatlah cerita sejarah. I Gusti Agung Maruti melakukan pembrontakan melihat lemahnya kepemimpinan Dalem Dimade dan merasakan dirinya lebih berhak menjadi raja. Dalam pembrontakan, kraton dikepung, raja ditawan, sehingga I Gusti Agung Maruti berhasil menjadi raj
Melaya Pada Masa Revolusi Fisik 1946-1948
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya revolusi fisik di Melaya, untuk mengetahui proses perjuangan rakyat Melaya menghadapi Belanda. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah sehingga mengikuti metode sejarah yakni heuristik, sumber lisan, sumber tertulis, kritik sejarah, kritik ekstern, kritik intern, interpretasi dan historiografi.Data lebih banyak dikumpulkan dari sumber lisan terutama yang mengetahui peristiwa perlawanan rakyat melaya.Juga dilengkapi dengan sumber tertulis sebagai pendukung.
Yang melatarbelakangi rakyat Melaya dibawah komando I Nyoman Nirba berjuang di Desa Candikusuma, Melaya yaitu faktor harga diri, faktor nasionalisme dan faktor ekonomi. Dalam proses perjuangan yang dilakukan oleh I Nyoman Nirba dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap persiapan, dimana dalam tahap persiapan ini I Nyoman Nirba bersama teman-temannya dan masyarakat mempersiapkan segala bentuk alat perang seperti senjata, selain itu dalam tahap persiapan juga dipersiapkan tenaga-tenaga pembantu seperti penghubung, mempersiapkan bahan-bahan makanan untuk para pejuang dll didalam menghadapi peperangan. Jalannya pertempuran, dalam pertempuran I Nyoman Nirba bersama teman-temannya melawan penjajah hanya dengan membawa persenjataan berupa karaben dan berjalan di lereng-lereng maupun di hutan-hutan untuk melawan penjajah Beland
Ekonomi Agraria Masa Bali Kuno
Munculnya peradaban bercocok tanam dan memelihara hewan ketika manusia sudah mulai hidup menetap. Mereka tidak lagi hanya mengambil keperluan hidup berdasarkan apa yang disediakan oleh alam tetapi mereka sudah mampu menghasilkan yang dibutuhkan dalam menyambung hidupnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana ekonomi agraris masa Bali Kuno.Pada dasarnya penelitian ini merupakan penelitian sejarah sehingga prosedur kerjanya mengikuti metode penelitian sejarah yang meliputi pengumpulan data (heuristik), kritik, interpretasi dan historiografi.Data dikumpulkan dengan melakukan studi pustaka.Data yang digunakan adalah data sekunder.
Hasil analisis data menunjukan bahwa pada masa Bali kuno masyarakatnya hidup dari sector agraris.Salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Marakata ada disebutkan istilah-istilah yang berkaitan dengan cara mengolah sawah dan menanam padi seperti amabaki, amaluku,atanem, amantun, ahani, anutu. Proses penanaman padi disebutkan sebagai berikut yaitu dimulai dari pembukaan tanah (amabaki), kemudian mluku (membajak tanah), tanem (menanam padi), mantun (menyiangi padi), ahani, menuai padi) dan nutu (menumbuk padi).Sistem pertanian yang begitu maju sangat didukung oleh system pengairan yang intensif suatu sistem pembagian air untuk mengairi sawah sudah dikenal dan menjadi ciri utama pertanian masyarakat Bali kuno yakni subak. Tanaman yang sudah dibudidayakan selain padi dan gaga juga kapulaga, kasumba, tals (keladi), pipikan (jahe), bawang merah, bawang putih (kesuna), pucang (pinang), durryan (durian), jerk (jeruk), hartak (kacang hijau), camalagi (asam), kapas, kapir (kapuk atau randu). Untuk menunjukan buah-buahan dan umbi-umbian yang bersifat umum (pahla gantung phala bungkah) dipergunakan istilah mulaphala (umbi-umbian) dan sarwaphala (buah-buahan).demikian pula dengan beberapa jenis pepohonan karena menaungi perumahan, pondok (kebwan) harus ditebang demi kelestarian lingkungan seperti pohon pring, hampyal, buluh, petung, waringin, bodhi, skar kuning, men atau mundeh. Dalam peternakan sudah dipelihara sapi, lembu, itik (bebek), wdus (kambing), bawi (babi), asu (anjing), hayam atau pitik (ayam), manuk (ayam jantan), jaran (asba), kebo atau kerambo (kerbau)
- …
