15 research outputs found
Academic engagement : penerapan model problem-based learning di Madrasah
Kualitas dan partisipasi peserta didik merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian khusus terutama di madrasah. Kualitas dan partisipasi yang dikaitkan dengan pencapaian program Pendidikan untuk semua di usia wajar 12 tahun dan generasi emas pada 2045 yang telah dicanangkan pemerintah. Pemerintah juga telah berupaya melakukan percepatan intervensi khusus untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) siswa pendidikan menengah, pemberlakuan BOS sampai jenjang SMA, perbaikan sarana-prasarana, dan peningkatan kualitas guru (Kemdiknas, 2010). Namun demikian, pemerintah akan tetap kesulitan mewujudkan program tersebut, karena upaya yang dilakukan pemerintah masih terfokus pada tataran eksternal. Upaya pemerintah seharusnya menyentuh tataran eksternal dan internal, karena soal peningkatan kualitas, partisipasi, dan prestasi akademik siswa tidak ditentukan oleh faktor eksternal semata, tetapi juga oleh faktor internal, seperti academic engagement
Academic engagement = penerapan model problem-based learning di madrasah
xxxi, 206 hlm. : ilus. ; tab. ; 24 cm
Leading Empathic Engagement Through Teamwork Interaction in Classroom
Abstract: Emphatic engagement in the classroom is feeling of students who perceive connected with their friends in learning activities in the classroom. Emphatic engagement is very important to emerge respect to the others, to be awarded of the diversity in life and to realize and concern to human beings. Empathic engagement can be taught from an early age in primary school students. With the right methods, students in elementary school can have a sense of empathy for the involvement of their friends that it will be very useful to give the best practice to adulthood process. The study aimed to explain how an empathic engagement was taught in primary school students. Emphatic engagement is through teamwork interaction in the classroom. Subjects of the research were students aged 9 years in primary school in Lamongan. The results showed that the teamwork interaction in classroom used by teachers in learning could deliver an empathic engagement. Students with an empathic engagement have awareness to always care for their fellow students and seek to participate in every learning activity in the classroom.Key words: empathic engagement, interaction, teamwork Abstrak: Keterlibatan empatik di kelas adalah perasaan siswa yang merasa terhubung dengan teman mereka dalam kegiatan belajar di kelas. Keterlibatan empatik sangat penting untuk memunculkan sikap menghargai terhadap orang lain, untuk dianugerahi keragaman dalam kehidupan dan untuk menyadari serta memperhatikan manusia. Keterlibatan secara empatik dapat diajarkan sejak usia dini pada siswa sekolah dasar. Dengan metode yang tepat, siswa di sekolah dasar dapat memiliki rasa empati atas keterlibatan teman-teman mereka sehingga akan sangat berguna untuk memberikan praktik terbaik untuk proses pendewasaan diri mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana keterlibatan empatik diajarkan pada siswa sekolah dasar. Keterlibatan empatik adalah melalui interaksi kerja tim di kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa berusia 9 tahun di sekolah dasar di Lamongan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi timbal balik di kelas yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran dapat memberikan keterlibatan empatik. Siswa dengan keterlibatan empatik memiliki kesadaran untuk selalu peduli terhadap sesama siswa dan berusaha untuk berpartisipasi dalam setiap aktivitas belajar di kelas.Kata kunci: keterlibatan empatik, interaksi, kerja ti
Pemberdayaan Komunitas Remaja Dropout Sekolah Melalui Gerakan Sadar Literasi Islam Moderat dalam Menangkal Paham Radikal di Desa Tenggulun Solokuro Lamongan
This assistance was carried out in the village of Tenggulun Solokuro Lamongan which was the origin
of the Bali bombing bombers I. Although the movement was not visible, the remnants of the jihadist ideology
certainly could not just disappear from Tenggulun village. This assistance aims to strengthen literacy regarding
moderate Islam in dropout youth from Tenggulun village so that they are fully aware of the importance of peaceful
religious knowledge and also an affirmation of the teachings of moderation of Islam as a religion which is
rahmatan lil ‘alamin. From the mentoring process, the results show that moderate Islamic thinking is very useful
for teens who want to learn peaceful Islam, while according to adolescents dropping out to study moderate Islam is
tantamount to studying Islam that is rahmatan lil ‘alami
Peningkatan Academic Engagement Siswa Melalui Penerapan Model Problem Based Learning di Madrasah Tsanawiyah
ABSTRAKAcademic engagement siswa di madrasah memiliki ide utama yang berhubungan dengan peran serta siswa dalam aktivitas dan kondisi pembelajaran. Siswa yang memiliki peran aktif dalam aktivitas pembelajaran, seperti memperhatikan keterangan saat belajar atau memiliki inisiasi bertanya dalam pembelajaran, tidak saja memudahkan guru untuk mengelola pembelajaran, namun dapat mendorong siswa yang lain untuk berpartisipasi aktif dalam kelas. Academic engagement tidak hanya mendorong partisipasi siswa, tapi juga dapat dijadikan prediktor kesuksesan siswa dalam belajar di sekolah. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui peningkatan academic engagement siswa melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) di madrasah.Penerapan model PBL dalam bahasa Indonesia mendorong pendekatan kolaboratif dan konstruktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu siswa yang lebih banyak terlibat dengan proses pembelajaran berbasis masalah memperlihatkan perilaku yang lebih baik dalam pembelajaran. Penerapan model PBL di madrasah didesain agar para siswa senantiasa melakukan kerjasama dengan siswa yang lain, sehingga dalam memecahkan masalah terdapat kerjasama dalam kelompok, pada gilirannya dapat meningkatkan academic engagement siswa.Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen subjek tunggal dengan desain multiple baseline across subject. Subjek dalam penelitian ini berperan sebagai subjek penelitian yang diintervensi sekaligus sebagai control participant. Jumlah subjek penelitian sebanyak empat siswa, PUC, TIR, EVN dan LMR. Subjek penelitian dipilih berdasarkan hasil identifikasi subjek melalui instrumen academic engagement scale for grade school students (AES-GS) dengan perolehan hasil nilai paling rendah dan hasil observasi terhadap siswa yang menunjukkan nilai stabil rendah. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi. Analisis grafik digunakan dalam menganalisis data, meliputi analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi. Analisis dalam kondisi merupakan analisis yang digunakan untuk menganalisis adanya perubahan dalam satu kondisi. Sementara analisis antar kondisi untuk menganalisis perubahan dari kondisi satu ke kondisi lain yaitu kondisi baseline ke kondisi intervensi.Hasil analisis grafik dan tabel pada kondisi baseline menunjukkan perilaku academic engagement stabil rendah, namun pada kondisi intervensi perilaku academic engagement meningkat. Peningkatan academic engagement pada masing-masing siswa terjadi setelah dilakukan intervensi melalui penerapan model PBL. Masing-masing subjek penelitian memiliki kecenderungan yang berbeda pada setiap perilaku academic engagement yang muncul, sehingga nilai rata-rata tertinggi pada masing-masing perilaku juga berbeda. PUC menunjukkan peningkatan sebesar 2,71 nilai rata-rata dari 1,56 ke 4,27; TIR menunjukkan peningkatan nilai rata-rata 2,56 dari 1,57 ke 4,33: EVN peningkatan nilai rata-rata 2,82 yaitu dari 1,64 ke 4,46; dan LMR menunjukkan peningkatan nilai rata-rata sebesar 2,76 dari 1,64 ke 4,40. Dari jumlah rata-rata secara keseluruhan perubahan peningkatan academic engagement dari masing-masing subjek penelitian yang paling tinggi adalah EVN.Berdasarkan hasil penelitian ini, guru disarankan agar menerapkan PBL pada mata pelajaran yang lain. Kepada pengelola madrasah disarankan agar memberikan wawasan tentang pentingnya peningkatan academic engagement kepada siswa dan guru, serta memberikan berbagai macam pelatihan kepada guru terkait dengan model-model pembelajaran yang dapat meningkatkan academic engagement. Kepada peneliti selanjutnya disarankan agar dapat (1) mencoba menerapkan model PBL pada mata pelajaran yang lain; (2) menerapkan model PBL di jenjang pendidikan yang lebih tinggi; (3) menerapkan PBL dengan menggunakan desain penelitian yang lain seperti eksperimen dengan kelompok kontrol atau survey, (4) mengembangkan berbagai macam strategi yang dapat meningkatkan academic engagement siswa selain dari model problem based learning. Kata kunci: academic engagement, problem based learning, Madrasah Tsanawiyah
Improving The Skills Of Women Workers In The Putting Out System (POS) In Kalirungkut Village For Family Socio-Economic Resilience Using The ABCD Approach
The growth of home workers who implement the putting out system (POS) is increasingly widespread in various cities in Indonesia, one of which is in the Kalirungkut Village, Surabaya. The importance of this research is to support the government's priority programs outlined in Asta Cita. Key points in the government's priority programs are summarized in Asta Cita. This study aims to find strategies to improve the skills of women workers using the putting out system in the Kalirungkut Village, Surabaya and to encourage the socio-economic resilience of the families of women workers using the putting out system using the ABCD approach. The location of this research carried out in the Kalirungkut Village, Surabaya. The research method used a qualitative approach, while data collection techniques included observation, in-depth interviews, and focus group discussions (FGDs). This study found that women workers using the putting out system have discovery, dream, design, and destiny. The conclusion of this study is that women workers in the putting out system are able to recognize the assets they have, formulate realistic dreams, design strategies according to their capacity, and implement concrete steps towards a better life as a socio-economic resilience for their families
HERMENEUTIKA HADIS ALA FATIMA MERNISSI
Hermeneutics is a new method in understanding and meaning of the hadiths. It used by some contemporary moslem scholars. One of them is Fatima Mernissi. She concentrates to misoginic hadiths that discriminate women. In this article, the author tries to see her hermeneutics methodology. The methodology that is offered by Fatima Mernissi in studying hadith is double investigation with psycho-history as her approach. There are two steps in her method, that are historical aspect and methodology aspect. The first step is analyzing situation and condition that happen when hadith released and then, analyzing about the first transmitter, when, why and to whom that hadith is released
HERMENEUTIKA HADIS ALA FATIMA MERNISSI
Hermeneutics is a new method in understanding and meaning of the hadiths. It used by some contemporary moslem scholars. One of them is Fatima Mernissi. She concentrates to misoginic hadiths that discriminate women. In this article, the author tries to see her hermeneutics methodology. The methodology that is offered by Fatima Mernissi in studying hadith is double investigation with psycho-history as her approach. There are two steps in her method, that are historical aspect and methodology aspect. The first step is analyzing situation and condition that happen when hadith released and then, analyzing about the first transmitter, when, why and to whom that hadith is released.</jats:p
HERMENEUTIKA HADIS ALA FATIMA MERNISSI
Hermeneutics is a new method in understanding and meaning of the hadiths. It used by some contemporary moslem scholars. One of them is Fatima Mernissi. She concentrates to misoginic hadiths that discriminate women. In this article, the author tries to see her hermeneutics methodology. The methodology that is offered by Fatima Mernissi in studying hadith is double investigation with psycho-history as her approach. There are two steps in her method, that are historical aspect and methodology aspect. The first step is analyzing situation and condition that happen when hadith released and then, analyzing about the first transmitter, when, why and to whom that hadith is released
Peningkatan Academic Engagement Siswa melalui Penerapan Model Problem Based Learning di Madrasah Tsanawiyah
Abstract: This study was conducted to determine the improvement of students' academic engagement through the implementation of problem based-learning model in the madrasah. This study used single subject design with multiple baseline across subjects. The subjects served as intervention targets as well as the control participant. There are four students as participants. They were chosen based on both the result of subject identification through instruments of Academic Engagement Scale for Grade School Students (AES-GS) and the result of observation to students with the lowest grades. The results of the graph analysis showed the decreased behavior in baseline phase but increased in the intervention phase.
Key Words: academic engagement, problem based learning, Madrasah Tsanawiyah
Abstrak: Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui peningkatan academic engagement siswa melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) di madrasah. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen subjek tunggal dengan desain multiple baseline across subject. Subjek penelitian yang diintervensi sekaligus sebagai control participant. Jumlah subjek penelitian sebanyak empat siswa. Subjek penelitian dipilih berdasarkan hasil identifikasi subjek melalui instrumen academic engagement scale for grade school students (AES-GS) dengan perolehan hasil nilai paling rendah dan hasil observasi terhadap siswa yang menunjukkan nilai stabil rendah. Hasil analisis grafik pada kondisi baseline menunjukkan perilaku academic engagement stabil rendah, namun pada kondisi intervensi perilaku academic engagement meningkat.
Kata kunci: academic engagement, problem based learning, Madrasah Tsanawiya
