4 research outputs found

    Pengaruh Variasi Jumlah Catalyst Bed pada Catalytic Converter Terhadap Kadar Emisi Gas Buang Karbon Monokisda (CO) dan Hidrokarbon (HC) pada Motor Bensin.

    No full text
    RINGKASAN     Akbar, Reynaldi. 2018. Pengaruh Variasi Jumlah Catalyst Bed pada Catalytic Converter Terhadap Kadar Emisi Gas Buang Karbon Monokisda (CO) dan Hidrokarbon (HC) pada Motor Bensin. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd. M.T. Ph.D. (2) Imam MudaNauri, Drs., S.T., M.T.   Kata Kunci :Catalyst bed, Catalytic converter, Karbonmonoksida, Hidrokarbon.                                                                                   Pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Semakin meningkatnya  kendaran bermotor yang digunakan oleh masyarakat, emisi gas buang yang dihasilkan kendaraan bermotor akan semakin meningkat. Beberapa gas yang keluar sebagai polutan dari kendaraan bermotor antara lain adalah karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), dan oksida nitrogen (NOx). Salah satu teknologi yang digunakan untuk mengurangi emisi gas buang adalah catalyst converter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi penambahan jumlah catalyst bed pada catalytic converter terhadap emisi gas karbon monoksida dan gas hidrokarbon pada motor bensin. Sehingga dapat diketahui presentase emisi gas buang antara penerapan variasi jumlah catalyst bed sebanyak 1 catalyst bed, 2 catalyst bed, dan 3 catalyst bed berbahan aluminium oksida dengan penerapan tanpa katalis (standar) pada bahan bakar pertalite. Pengambilan data dilakukan menggunakan gas analyzer untuk mengetahui kadar emisi gas karbon monoksida dan hidrokarbon. Objek penelitian ini menggunakan sepeda motor Honda Supra X 125 CC tahun 2013. Metode yang akan digunakan adalah membandingkan kadar emisi gas buang antara tanpa penggunaan katalis dengan penggunan variasi jumlah katalis sebanyak 1 catalyst bed, 2 catalyst bed, dan 3 catalyst bed. Pengambilan data dilakukan pada 1500 RPM hingga 8000 RPM dengan kelipatan 500 RPM. Hal ini dilakukan untuk memastikan data yang diperoleh telah valid. Hasil penelitian kadar karbon monoksida (CO) menunjukkan bahwa pada  putaran idle 1500 rpm, kondisi standar (tanpa katalis) sebesar 1,6%vol  masih lebih rendah dari penggunaan 1 katalis sebesar 2,59%vol, 2 katalis 3,01%vol, dan 3 katalis 1,8%vol. Pada putaran menengah 4000 rpm, kondisi standar (tanpa katalis) menunjukkan angka 4,86%vol, sedangkan 1 katalis 5,39%vol, 2 katalis sebesar 5,65%vol, dan pada penggunaan 3 katalis sudah dapat menurunkan kadar CO sebesar 3,32%vol. Pada putaran atas 8000 rpm kondisi standar menunjukkan angka puncak yaitu 10%vol. Penambahan jumlah katalis pada putaran atas menunjukkan penurunan sebesar, 1 katalis 6,9%vol, 2 katalis  3,55%vol, dan 3 katalis 6,52%vol. Sedangkan hasil untuk kadar hidro karbon (HC) pada putaran idle 1500 rpm dalam kondisi standar (tanpa katalis) menunjukkan 710ppm, 1 katalis sebesar 1952ppm, 2 katalis sebesar 1915ppm, dan 3 katalis sebesar 1844ppm. Pada putaran menengah 4000 rpm, kondisi standar (tanpa katalis) menunjukkan kandungan HC sebesar 296ppm. 1 katalis sebesar 894ppm, 2 katalis sebesar 1106ppm, dan 3 katalis sebesar 1976ppm. Pada putaran atas 8000rpm, pada kondisi standar (tanpa katalis) kandungan gas HC masih lebih rendah yaitu 155ppm, sedangkan penggunaan 1 katalis sebesar 282ppm, 2 katalis sebesar 1862ppm dan 3 katalis sebesar 582ppm. Pada variasi penambahan jumlah katalis berbahan aluminium oksida, tidak dapat menurunkan kandungan HC di berbagai putaran mesin, baik menggunakan 1 katalis, 2 katalis, maupun 3 katalis. Namun jika dilihat dari rata-rata kandungan emisi gas CO secara garis besar semakin banyak jumlah katalis yang digunakan akan semakin rendah, sehingga penggunaan katalis sebanyak 3 dapat mengurangi emisi CO paling besar. Penelitian variasi jumlah catalyst bed pada catalytic converter terhadap emisi gas buang CO dan HC pada motor bensin ini lebih efektif digunakan untuk mengurangi kadar emisi karbon monoksida (CO) dari pada untuk mengurangi kadar emisi hidrokarbon (HC)

    Pengaruh Water Injection System pada Mesin 100cc Berbahan Bakar LPG Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Spesifik dan Temperatur Mesin

    No full text
    The number of motorized vehicles in Indonesia is increasing. Therefore, alternative fuels are needed to meet the needs. One of them is LPG (liquified petroleum gas). However, in its application, the engine temperature becomes hotter, making it less efficient, and specific fuel consumption is not optimal. The Water Injection System is one of the additional technologies that can be used to reduce engine heat. This study will compare the results of specific fuel consumption and engine wall temperature with adding a water injection system on a 100cc engine. The data collection results on specific fuel consumption at 3000 RPM without water injection showed the highest figure at 0.0410 (kg/HP.hour), with the addition of a water injection system, it produced 0.0405 (kg/HP.hour). The average engine working temperature without a water injection system was 90.3 0C while adding a water injection system showed 87.8 0C. Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia semakin meningkat. Untuk itu diperlukan bahan bakar alternatif untuk memenuhi kebutuhan. Salah satunya adalah LPG (liquified petroleum gas). Namun pada aplikasinya, temperatur mesin menjadi lebih panas, sehingga kurang efisien dan konsumsi bahan bakar spesifiknya tidak optimal. Water injection System adalah salah satu teknologi tambahan yang dapat digunakan untuk mengurangi panas mesin. Penelitian ini akan membandingkan hasil specific fuel consumption dan temperatur dinding mesin dengan penambahan water injectiontion system pada mesin 100cc. Hasil pengambilan data specific fuel consumption pada 3000 RPM tanpa water injection menunjukkan angka tertinggi di 0,0410 (kg/HP.jam) dan dengan penambahan water injection system menghasilkan 0,0405 (kg/HP.jam). Temperatur kerja mesin rata rata tanpa water injection system menunjukkan 90,3 0C sedangkan ketika  menambahkan water injection system menunjukkan 87,8 0C

    ANALISIS PENGARUH PERSEBARAN INDUSTRI TERHADAP KERAPATAN VEGETASI DI KOTA CIMAHI

    No full text
    Kota Cimahi merupakan salah satu Kota di Jawa Barat dengan luas mencapai 40,2 km2. Sebagai wilayah administrasi, Kota Cimahi menjadi tempat terpusatnya berbagai macam aktivitas, seperti dalam sektor perdagangan, khususnya sektor perindustrian. Selain itu, di kota Cimahi juga terdapat aktivitas pertanian dan pariwisata. Menurut UU. No. 26 Tahun 2007, ruang terbuka hijau pada wilayah kota memiliki proporsi paling sedikit adalah 30% persen dari luas wilayah kota. Dengan adanya teknologi pengindraan jauh pada saat ini, memudahkan mendeteksi sebaran penutup lahan berupa vegetasi, lalu mendeteksi pola sebaran vegetasi, kerapatan vegetasi dan juga luas vegetasi di wilayah tertentu khususnya di kota Cimahi. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pola persebaran, tingkat kerapatan vegetasi, sebaran vegetasi menggunakan teknik NDVI, dan juga untuk mengetahui hasil analisis dari teknik NDVI tersebut bagi kerapatan dan persebaran vegetasi di Kota Cimahi. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan spektral dan menggunakan algoritma NDVI untuk mengetahui pesebaran dan kerapan vegetasi di Kota Cimahi. Kemudian, untuk teknik pengambilan data berupa data citra satelit Landsat 8 tahun 2019 dan citra satelit Landsat 7 tahun 2008 untuk Kota Cimahi dan pengambilan data sampling. Berdasarkan hasil analisis tersebut, pola persebaran dan kerapatan vegetasi di Kota Cimahi tersebar dalam 5 kelas, yakni kelas tidak ada vegetasi, kelas kerapatan vegetasi sangat rendah, kelas kerapatan vegetasi rendah, kelas kerapatan vegetasi sedang, dan kelas kerapatan vegetasi tinggi. Sebagian besar wilayah Kota Cimahi sudah tidak memiliki lahan hijau yang tersebar di seluruh wilayah berdasarkan hasil analisis dengan teknik NDVI. Hal ini sebanding dengan persebaran bangunan industri di Kota Cimahi</jats:p

    Inovasi Pembelajaran Otomotif melalui Implementasi Sensor Cerdas di SMAN Ambulu Jember

    No full text
    The rapid development of Internet of Things (IoT) technology and smart sensors in the automotive industry opens up great opportunities in the world of education, especially at the high school level. This community service program aims to introduce Arduino-based sensor and microcontroller technology to students of SMAN Ambulu Jember through a workshop approach and project-based learning. The method used in this activity uses the PAR (participatory action research) method with an interactive workshop approach and project-based learning that includes an introduction to types of automotive sensors such as DHT11, HC-SR04, and LDR as well as sensor installation and programming practices. The evaluation results showed a significant increase in students' understanding of the concept of IoT and microcontrollers, as well as a high interest in studying the field. This workshop proves the effectiveness of the interactive learning model in improving students' technological literacy and readiness to face the challenges of industry 4.0
    corecore