8 research outputs found

    Ojo Kuwi song As Communist Discourse Formation In the election of the President of the Republic of Indonesia in 2014

    No full text
    The aim of this research is to find answers to song Ojo Kuwi as media of the Republic of Indonesia’s presidential election campaign of 2014. In addition, another purpose is to reveal the campaign messages that are communicated through this song’s lyric. This case study focuses on the study of Ojo Kuwi song along with talk on the Internet news media. Data collected from Internet news, analysis of musical elements and lyrics Ojo Kuwi. As a result of research, discovered an attempt to revive the collective memory of Indonesian communism society. Furthermore, the messages are communicated in Ojo Kuwi lyrics urge people to choose presidential number 1 candidate by providing an explanation of the shortcomings of his opponent

    Membaca Hasil Pembacaan atas Pemikiran Suka Hardjana: Review Buku Adiwarna Suka Hardjana

    No full text
    Tujuan tulisan ini dibuat adalah sebagai respon atas pembacaan ulang pemikiran Suka Hardjana yang dutuangkan dalam buku kumpulan tulisan berjudul Adiwarna Suka Hardjana. Dalam menghasilkan karya tulis ini, penulis melalukannya dengan melakukan analisis literatur dan berdiskusi dengan para penulisnya dalam forum Bedah Buku.  Sebagai kesimpulan, Suka Hardjana merupakan orang yang mendalami musik tetapi patut dilihat sebagai sosok pemikir lintas disiplin yang profesional dan berdedikasi. Sehingga ia merupakan teladan bagi siapa saja yang gemar dengan ilmu pengetahuan. &nbsp

    World Music di Indonesia: Hibriditas sebagai Jalan Keluar?

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mempertanyakan kembali tentang konsep world musik baik dari segi pengetahuan, praktek dan artisitik musiknya di Indonesia saat ini. Pada tataran ini, tulisan ini memfokuskan membahas mengenai strategi hibriditas sebagai cara menyikapi world music sebagai produk wacana kolonial. Pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur, analisis musik dan pengamatan terhadap fenomena musik. Sebagai kesimpulan, hibriditas merupakan strategi menghadapi hirarki musik Barat dengan “yang lain”, sekaligus mengubah defenisi world music yang pada awalnya sebagai pemberian identitas oleh Barat kepada musik “yang lain”. Tetapi, hibriditas masih terus dapat dipikirkan sebagai salah satu strategi keluar dari wacana kolonial atau tidak.

    Relevansi Selera Musikal dengan Politik Golongan di Indonesia Era Soekarno

    No full text
    The aim of this study is to explain differences in musical tastes in upper social class. The study also describes the relationship between musical tastes with the political groups in the community of Indonesia in Sukarno era. As a conceptual basis, we use the views of Bourdieu about habitus, arenas, andcultural capital. Also used a conceptual view of the Schuessler relationship of musical tastes and ages.This case study concludes that the old group closed with the development of new music tends to assume the old music as the best. On the other side, the young man open to the development of new types of music. Besides, the differences in musical tastes of young and old groups lead to a clash between them. Differences in their taste of music creates an identity as a differentiator between them, resulting in a process of political groups in it.Keywords: musical tastes, political group, age and identit

    Hubungan Strategi Distinction Masyarakat Makassar Dengan Penggunaan Bebunyian Kultural Ganrang Pa‘Balle dalam Upacara Ritual Pernikahan

    No full text
    Penelitian kualitatif ini bertujuan membahas dan mengkritisi penggunaan bebunyian kultural ganrang pa’balle dalam konteks ritual pernikahan masyarakat Makassar. Data yang diperoleh berdasarkan observasi dan analisis literatur menunjukkan adanya perbedaan pola tabuhan ganrang pa’balle jika digunakan dalam pernikahan kalangan karaeng, anak karaeng paninik dan tau samarak. Berdasar dari konsep pemikiran Bourdieu, hal itu merupakan strategi distinction. Strategi ini digunakan oleh kalangan karaeng untuk melegitimasi dominasi relasi kuasanya terhadap kelas di bawahnya dalam konteks arena sosial.Kata kunci: ganrang pa’balle, pernikahan, distinction, dan relasi kuas

    Hubungan politik konfrontasi Sukarno terhadap barat dengan keputusan pemidanaan kelompok musik Koes bersaudara

    No full text
    Kajian selera musikal sudah dilakukan oleh beberapa sarjana dan peneliti sebelumnya. Berbagai temuan sudah disumbangkan dalam perkembangan kajian ini. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengisi sumbangan teoritis ke kajian selera musikal tersebut. Satu kasus yang dibahas dalam penelitian ini adalah masalah sanksi politis berupa pemenjaraan kelompok musik Koes Bersaudara oleh Soekarno. Hal ini unik karena selama ini Soeakarno dikenal sebagai pemimpin yang memiliki jiwa seni, namun dalam satu kondisi, dia memenjarakan kelompok musik Koes Bersaudara. Masalah inilah yang menjadi dasar dari penelitian ini dengan berfokus pada selera musikal masyarakat kelas menengah ke atas. Tiga hal utama dibahas dalam penelitian ini. Pertama, membahas faktor musikal penyebab Soekarno memenjarakan Koes Bersaudara. Kedua, membahas faktor penyebab Soekarno hanya memenjarakan Koes Bersaudara. Dan ketiga, membahas hubungan antara selera musik Soekarno dengan keputusannya memenjarakan Koes Bersaudara. Studi kasus ini menggunakan beberapa konsep teoritis dalam menganalisis data. Pertama, perangkat teoritis Pierre Bourdieu tentang selera musik sebagai representasi modal budaya dan asal usul sosial masyarakat. Kedua, juga digunakan konsep musik dan identitas dari Simon Frith. Kedua konsep ini akan ditunjang dengan beberapa konsep selera musikal untuk mengisi kekurangan setiap konsep sebelumnya, seperti konsep tentang elemen musikal dalam selera musik. Soekarno berupaya membentuk identitas musik Indonesia sebagai jawaban atas prasangka negatif negara Amerika terhadap Indonesia dan ketidak sepahamannya atas politik Inggris di Kalimantan Utara. Sebagai golongan tua, dia lebih memprioritaskan genre musik lama seperti seriosa, keroncong dan latin dengan gaya irama teratur dan vokal konvensional sekaligus melarang peredaran musik rock’n roll Amerika di Indonesia karena memiliki irama tidak teratur dan menghentak serta identik dengan vokal teriakan histeris. Dengan cara seperti itu, Soekarno membentuk identitasnya sebagai anti Amerika dan Inggris, sedangkan Koes Bersaudara tetap mengidentifikasi diri ke teman sebayanya dengan mempertahankan musik rock’n roll. Koes Bersaudara menganggap pemenjaraannya adalah bagian dari kerja intelijen yang menghadapi Konfrontasi Malaysia sehingga melahirkan sikap nasionalisme didalam dirinya. Di samping itu, Soekarno terbantu menunjukkan ketidak sepahamannya kepada Inggris dan Amerika sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia dapat mandiri secara kebudayaan

    Musik Kakula Yang Politis Melampaui Politik

    No full text
    Abstrak Essai ini merupakan respon atau pembacaan ulang terhadap buku “Musik Itu Politik,  Studi Hubungan Pengaruh Kebijakan Kebudayaan pada Perubahan Musik”. Data, analisis dan kesimpulan buku ini dibaca ulang dengan perspektif politik estetika Ranciere. Musik kakula yang dibahas dalam buku ini dijelaskan dari masa ke masa, yaitu dimulai dari masa pra Kolonial hingga konteks saat ini. Terlihat berbagai macam perubahan yang terjadi akibat pengaruh kebjakan politik setiap eranya. Sejak era pra kolonial hingga era orde baru, musik kakula dikuasai dengan kepentingan politik. Namun, berdasarkan pembacaan ulang yang dilakukan, justru musik kakula mampu bergerak keluar dari politik rezim penguasa dengan menempatkan diri setara dengan kelompok-kelompok dominan. Melalui kakula batas antara “kita vs mereka” ditiadakan, kemudian dimaksud sebagai yang politis.   &nbsp
    corecore