1,720,965 research outputs found
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI DAKWAH DALAM MENINGKATKAN PENGAMALAN IBADAH DI MAJELIS TAKLIM MASJID ALAMUL HUDA SEGALA MIDER TANJUNG KARANG KOTA BANDAR LAMPUNG
ABSTRAK
Efektivitas dapat diartikan sebagai tolak ukur keberhasilan atau
tidaknya suatu kegiatan untuk mencapai tujuannya. Komunikasi dakwah
adalah proses penyampaian komunikasi atau pesan dari seseorang da‟i
kepada seseorang atau sekelompok jama‟ah yang bersumber dari Al
Qur'an dan Hadist dan mudah di pahami. Menurut tubs dan Moss,
komunikasi bisa dikatakan efektif bila menunjukan setidaknya 5 teori
berikut: pemahaman, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang
semakin baik dan tindakan. latar Belakang pada penelitian Ini
Memfokuskan Teknik Efektivitas Yang Di lakukan Oleh Dai Atau Ustad
Dengan Melakukan Efektivitas Komunikasi dakwah Seperti pemahaman
yaitu Memberikan pemahaman Kepada Jamaahnya, kesenangan yaitu
Memberikan Efek Yang kesenangan Kepada Jamaahnya, Rumusan
Masalah pada penelitian ini adalah bagaimana efektivitas komunikasi
dakwah dalam meningkatkan pengamalan ibadah pada majelis taklim
masjid Allamul Huda Segala mider Tanjung Karang Kota Bandar
Lampung?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas
komunikasi dakwah dalam meningkatkan pengamalan ibadah pada
majelis taklim masjid Alamul Huda Segala Mider Tanjung Karang Kota
Bandar Lampung.
Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian lapangan
(field research). Sifat penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber
data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Sumber
data primer diperoleh dari wawancara yang dilakukan kepada 2 ustadz
dan 5 mad‟u (jama‟ah). Sumber data sekunder diperoleh dari buku,
skripsi, jurnal dan sumber relevan lain. Teknik pengambilan sampel
menggunankan purposive sampling. Metode pengumpulan data dilakukan
dengan wawancara tidak terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Teknik
analisis data dengan cara reduksi data, data display atau penyajian data,
dan penarikan kesimpulan
Hasil penelitian komunikasi dakwah di Masjid Alamul Huda
telah efektif dalam meningkatkan pengamalan ibadah jamaah karena telah
memenuhi 5 indikator efektivitas komunikasi dakwah. Diantaranya
pemahaman, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang semakin
baik dan tindakan. Jamaah setelah menerima pesan-pesan dakwah melalui
komunikasi dakwah ustadz mengalami perubahan signifikan dalam
konsistensi dan kualitas pengamalan ibadah mereka.
Kata Kunci : Efektivitas Komunikasi Dakwah dan Peningkatan
Pengamalan Ibadah Sholat. ABSTRACT
Da'wah communication is the process of conveying
communication or messages from a person or group of people to
another person or group of people sourced from the Al-Qur'an and
Hadith. According to Tubs and Moss, communication can be said to
be effective if it shows at least the following 5 indicators:
understanding, enjoyment, influence on attitudes, improved
relationships and action. The formulation of the problem in this
research is how effective da'wah communication is in increasing the
practice of worship at the taklim assembly of the Allamul Huda All
Mider Mosque in Tanjung Karang, Bandar Lampung City. The aim of
this
research is to determine the effectiveness of da'wah
communication in improving the practice of worship at the taklim
assembly of the Alamul Huda All Mider Mosque in Tanjung Karang,
Bandar Lampung City.
The research method used is field research. The nature of this
research is descriptive qualitative. This means that we will analyze all
the data that has been obtained and then describe it. The data sources
used are primary and secondary data sources. Primary data sources
were obtained from interviews conducted with 2 ustadz and 5 mad'u
(jama'ah) and secondary data were obtained from books, theses,
journals and other relevant sources. The sampling technique uses
purposive sampling. Data collection methods were carried out by
interviews, observation and documentation.
The findings of this research are that da'wah communication
at the Alamul Huda Mosque has been proven to be effective in
increasing the congregation's practice of worship because it has
fulfilled 5 indicators of the effectiveness of da'wah communication.
These include understanding, enjoyment, influence on attitudes,
improved relationships and actions.
Keywords: Effectiveness of Da'wah Communication and Increasing
the Practice of Prayer Services
IMPLEMENTATION OF GOOD MORAL EDUCATION WHEN RESERVING AT ALAMUL HUDA MADRASAH IN THE PERSPECTIVE OF THE PROPHET'S HISTORY
Technological developments that are happening at this time are not only used as a medium of communication, learning media, and so on, and have greatly influenced people's behavior towards student morals when reciting the Koran. The most influential on student morals when reciting is the mobile phone. Mobile phones make students when reciting the Koran not focused or not pay attention to the teacher during the lesson. A student, when reciting the Koran, carries a cell phone, which makes it seem as if he doesn't respect his teacher when explaining lessons, his students instead play alone, especially since the Madrasah provides wifi for their students. So if the students don't have a quota, they use the wifi in the madrasa. And it causes the students to lack good manners in their daily life, especially the good ones that are applied during the time of reciting the Koran at Madrasah Alamul Huda
Perbedaan Penentuan Awal Bulan Kamariah dalam Penghitungan Masa Iddah Bagi Perempuan Perspektif Fikih
Women who have just been separated from marriage, either by divorce or by the death of their husband, must go through the iddah period. One of the calculations for the iddah period is the number of months. However, sometimes there are differences in the calculation of the number of months so that it has implications for time uncertainty about whether or not the period ends iddah. This study aims to explain the differences in determining the beginning of the lunar month and its implications for calculating the iddah period for women, and iddah from a fiqh perspective. This study uses a literature study research method. The data source used is secondary data, while the data analysis uses qualitative descriptive. The results showed that the difference in determining the beginning of the lunar month was due to the different methods used among Muslims, namely ruqyah and reckoning. The implications for determining the beginning of the month affect the calculation of the iddah period for women, especially regarding rights and obligations. Iddah itself is nothing but a waiting period for a woman to know that the uterus or womb is clean from pregnancy or for purposes ta'abbudi.Perempuan yang baru terlepas dari ikatan pernikahan baik secara perceraian maupun ditinggal wafat suaminya harus melalui masa iddah. Salah satu penghitungan masa iddah adalah dengan jumlah bilangan bulan. Namun demikian terkadang terdapat perbedaaan penghitungan bilangan bulan sehingga berimplikasi terhadap ketidakpastian waktu tentang berakhir tidaknya masa iddah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan penentuan awal bulan Kamariah dan implikasinya terhadap pehitungan masa iddah bagi perempuan, dan iddah perspektif Fikih. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kepustakaan. Sumber data yang digunakan berupa data sekunder, sedangkan analisis data menggunakan diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya perbedaan dalam penentuan awal bulan Kamariah dikarenakan metode yang digunakan dikalangan umat Islam masing-masing berbeda yakni rukyah dan hisab. Implikasi terhadap penentuan awal bulan tersebut berpengaruh terhadap penghitungan masa iddah bagi perempuan terutama terkait hak dan kewajiban. Iddah sendiri tidak lain merupakan masa tunggu bagi seorang perempuan untuk mengetahui bersihnya rahmi atau rahim dari kehamilan atau untuk tujuan ta’abbudi.
Panduan Praktis: Microsoft Power Point 2007; Tuntunan Langsung Praktek Mengoperasikan Dan Membuat Presentasi Dengan Versi Terbaru Microsoft PowerPoint
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Metodologi syarah hadis Syaikh ‘Uṡaimīn : telaah kitab Fatḥu Żī al-Jalāli wa al-Ikrām bi Syarḥ Bulūg al-Marām
Kitab Bulūg al-Marām adalah kitab yang disusun oleh Imam al-Ḥafiẓ ibn Ḥajar al-‘Asqalānī (773 H-852 H), didalamnya berisi tentang hadis-hadis hukum (fikih). Keistimewaan yang ada pada kitab Bulūg al-Marām yaitu dijelaskannya derajat suatu hadis (sāḥīḥ, ḥasan dan ḍa’if), disebutkan ‘Illāt (cacat) yang ada pada suatu hadis jika ditemukan, disusun dengan metode tematik tentang hukum (fikih) dan kemudian diakhir kitab ditutup dengan Kitab al-Jāmi’, bab yang berisikan hadis-hadis akhlak, sehingga pembaca dapat mengambil manfaat lain dari kitab ini. Keistimewaan inilah yang menjadikan kitab Bulūg al-Marām banyak disyarahi oleh para ulama sejak zaman klasik sampai zaman kontemporer ini, para ulama pun mensyarahi dengan berbagai latarbelakang, metode maupun pendekatan yang berbeda-beda.
Salah satu kitab yang mensyarahi kitab Bulūg al-Marām adalah kitab Fatḥu Żī al- Jalāli wa al-Ikrām bi Syarḥ Bulūg al-Marām karya Syaikh ‘Uṡaimīn (1347 H-1421 H), sebuah karya dari ulama kontemporer yang mencoba mensyarahi kembali kitab Bulūg al-Marām dengan latarbelakang keilmuan yang dimiliki, metode dan pendekatan yang berbeda dengan kitab-kitab syarah sebelumnya.
Berdasarkan kenyataan diatas, lantas bagaimana sebenarnya metode dan pendekatan yang digunakan Syaikh ‘Uṡaimīn dalam mensyarahi kitab Bulūg al-Marām? Apa kelebihan dan kekurangannya dibandingkan salah satu kitab syarah sebelumnya yaitu kitab Subul as-Salām karya Imam aṣ-Ṣan’ānī? Ini yang memotivasi penulis untuk melakukan penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dan termasuk dalam penelitian kualitatif yang menggunakan metode analisis data dengan metode induktif-komparatif. Sumber data utama adalah kitab Fatḥu Żī al- Jalāli wa al-Ikrām bi Syarḥ Bulūg al-Marām karya Syaikh ‘Uṡaimīn (data primer) serta kitab-kitab dan buku-buku penunjang yang erat kaitannya dengan penelitian diatas (data sekunder).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa secara garis besar metode yang digunakan Syaikh ‘Uṡaimīn dalam kitab Fatḥu Żī al- Jalāli wa al-Ikrām adalah menggunakan metode syarh tafshīli atau syarah dengan penjelasan secara rinci dengan menggunakan pendekatan kebahasaan dan pendekatan hukum.
Salah satu keunikan yang membedakan dengan kitab syarah sebelumnya adalah disertakannya persoalan-persoalan hukum sesuai dengan tema pembahasan yang kemudian Syaikh ‘Uṡaimīn menjawab persoalan tersebut dengan singkat namun disertakan juga dalil al-Qur’an dan hadis karena memang Syaikh ‘Uṡaimīn dikenal dengan ulama yang ahli ber-istinbat dalam menentukan suatu hukum. Akan tetapi dalam sistematika penyusunan kitab ini Syaikh ‘Uṡaimīn kurang memperhatikan segi konsistensi dalam penggunaan metode maupun pendekatan yang digunakan.
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi pembaca sehingga mampu memilih kitab syarah untuk dijadikan sebagai acuan yang tepat dalam memahami makna dan hukum yang terkandung dalam suatu hadis
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
