1,213 research outputs found

    NUR MUHAMMAD MENURUT TAREKAT TIJANIYAH

    Get PDF
    Nur Muhammad merupakan salah satu topik penting dalam bidang tasawuf. Sebab konsep ini adalah sebuah teori sufistik tentang awal penciptaan makhluk di alam semesta. Konsep ini banyak muncul di kalangan para sufi falsafi, misal Ibn Arabi, Al-Hallaj, Al-Jilli, dan lain-lain. Mereka bersepakat bahwa Nur Muhammad mengandung pengertian “sempurna”. Sebab ia merupakan bentuk tajalli (penampakan diri) Tuhan. Kesempurnaan tajalli Tuhan hanya ada pada Insan Kamil (manusia sempurna). Namun, dalam hal ini terdapat keraguan dalam memahami konsep tersebut. Salah satunya adalah dalam pemakaian hadist dhoif dan hadist shahih yang mereka pakai dalam menjelaskan tentang Nur Muhammad. Dari permasalahan tersebut akan berakibat kurangnya pengetahuan tentang bagaimana wujud Tuhan yang bersifat transenden atau misteri yang sering dikutip para sufi falsafi kanzan mahfiyun dalam penciptaan makhluk yang bersifat imanen (baharu). Oleh karena itu, penelitian ini menarik untuk dibahas, dikarenakan adanya beberapa keraguan dalam pemahaman konsep tersebut. Adapun kajian yang memiliki kesamaan dari para sufi tersebut adalah Tarekat Tijaniyah, institusi tasawuf kenamaan yang memfokuskan pemikirannya pada konsep Nur Muhammad dengan berdasarkan ajarannya, berupa shalawat al-Fatih dan shalawat Jauhariyah al-Kamal. Agar lebih spesifik dalam kajian ini, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap konsep Nur Muhammad menurut Tarekat Tijaniyah. Penelitian ini termasuk penelitian tasawuf falsafi dan jenis penelitiannya adalah “library research”. Adapun metode yang digunakan, pertama, Metode Deskriptif, peneliti menggambarkan konsep Nur Muhammad beserta dasar-dasarnya secara ringkas, yang mengacu pada pemahaman para ulama Sufi, kemudian sekilas tentang sejarah Tarekat Tijaniyah dan penyebarannya, biografi Syeikh Ahmad Tijani, unsur-unsur penting yang ada di dalamnya, serta ta’lim dan ‘amaliyah-nya. Kedua, Metode Analisis, peneliti menganalisa tentang Nur Muhammad, kemudian dijelaskan serta dibandingkan sampai mendapat hasil yang maksimal. Setelah menyelesaikan penelitian ini, penulis menyimpulkan, bahwa yang disebut Nur Muhammad menurut Tarekat Tijaniyah yaitu awal dari segala ciptakan Allah dari hadhrah al-ghaib (eksistensi kegaiban). Adapun dasar-dasar dari konsep ini, terletak pada ajarannya, berupa shalawat al-Fatih dan shalawat Jauhariyah al-Kamal. Menurut Syaikh Ahmad Tijani, shalawat al-Fatih merupakan shalawat yang terdiri dari lafadz al-Fatih lima ughliq dan al-Khatim lima sabaq. Al-fatih lima ughliq yang berarti wujud Nabi Muhammad sebagai pembuka hati dari keterbelengguan al-rahmah al-ilahiyah, syirik, dan jahl bagi para makhluk di alam semesta. Sedang al-khatim lima sabaqa artinya bahwa wujud Nabi Muhammad sebagai pembuka dan penutup kenabian dan kerasulan. Sedangkan shalawat Jauhariyah al-Kamal merupakan kelanjutan dari pemikiran Syaikh Ahmad Tijani dalam shalawat al-Fatih, tentang Nur Muhammad. Hal ini dapat terlihat dari sembilan hakikat rahmat dari sifat-sifat Tuhan. ,(عين الرحمة الربانية) , bagian, yaitu: pertama, bagian pertama نور) , Nabi Muhammad sebagai pemilik al-haq (al-haqiqah). Bagian ketiga عين الحق , ( ) Bagian kedua الكنز) , rahmat Nabi Muhammad seperti nur bagi seluruh makhluk alam. Bagian keempat ,(الأكوان الجوهر bermakna (الياقوتة) , Nabi Muhammad sebagai pusat ilmu pengetahuan. Bagian kelima ,(الأعظم Nur Muhammad bagaikan kilat yang berisi rahmat Tuhan ,(البرق) , yakni permata. Bagian keenam Nabi Muhammad ,(صاحب الحق الرباني) , kepada setiap orang yang menghadap-Nya. Bagian ketujuh Nur Muhammad memancarkan al- ,(طلعة الحق , ( sebagai pembawa agama Allah. Bagian kedelapan cahaya yang tersimpan oleh Allah. ,(النور المطلسم) , haq dari dzat al-haq, Allah. Bagian kesembilan ,(عرض) tidak butuh tempat (dinisbatkan kepada Allah) dan ,(جوهر) Dikatakan lain, nur Muhammad itu butuh tempat (makhluk), yang selalu butuh terhadap dzat-Nya. Akhirnya, seraya mengakui segala kekurangan dalam kajian ini, penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya tentang Nur Muhammad menurut tarekat tijaniyah, dengan merelasikan terhadap pemikiran kontemporer, dengan analisis worldview Islam. Usaha ini tentunya tidak boleh menjadikan sebuah kajian terlepas dari kritik, yang diharuskan disetiap kajian akademis

    NUR MUHAMMAD CONCEPT IN HIKAYAT NUR MUHAMMAD KONSEP NUR MUHAMMAD DALAM HIKAYAT NUR MUHAMMAD Iffah Fauziah Rahardy

    No full text
     Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan hasil analisis suntingan teks litografi Hikayat Nur Muhammad dalam penelitian filologi. Selama ini teks litografi masih jarang digunakan dalam penelitian filologi. Oleh karena itu, peneliti memilih teks ini. Dalam hal ini, peneliti membandingkan dua teks litografi yang berada di British Library dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Berhubung teks yang digunakan merupakan teks jamak, peneliti menggunakan metode landasan (legger) yaitu memilih satu naskah yang dianggap memiliki kualitas yang lebih unggul, yaitu tes litografi koleksi Universiti Kebangsaan Malaysia. Dalam analisis resepsi sastra, peneliti mengungkap konsep Nur Muhammad secara lebih sederhana. Hikayat Nur Muhammad selama ini hanya ditanggapi secara umum, yaitu sesuai dengan konsep tasawuf sehingga cukup sulit dipahami oleh orang awam. Oleh karena itu, pada penelitian ini, peneliti memformulasikan kembali Nur Muhammad secara lebih mudah agar dapat dipahami oleh pembaca awam.Dalam memformulasikan konsep Nur Muhammad, peneliti berpandangan bahwa konsep ini dapat dipahami melalui tiga hal, yaitu proses penciptaan manusia, tujuan diciptakannya manusia, serta ‘kembali’nya manusia kepada Sang Pencipta. Allah menciptakan alam sebagai makrokosmos yang nantinya akan dihuni oleh manusia sebagai mikrokosmos. Dalam menghuni alam ini manusia memiliki tugas utama, yaitu beribadah kepada Allah. Penghambaan manusia diwujudkan dalam lima aspek, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji. Setelah tugas sebagai manusia terselesaikan, manusia akan ‘kembali’ kepada Allah dan akan menempati ‘tempat terakhir’ sesuai dengan amal perbuatannya.Kata kunci: Hikayat Nur Muhammad, litografi, resepsi sastra, Nur Muhamma

    Pioneers of Library Movement in Pakistan

    Get PDF
    The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders

    NUR MUHAMMAD DALAM PEMIKIRAN SUFISTIK DATU ABULUNG DI KALIMANTAN SELATAN

    Get PDF
    Nūr Muhammad adalah satu terma yang penting dalam bidang tasawuf. Tulisan ini adalah hasil penelitian tentang Nūr Muhammad dalam tasawuf perspektif Syeikh Abdul Hamid Abulung, seorang ulama sufi yang hidup di tanah Banjar Kalimantan Selatan pada abad ke-18 Masehi, bertujuan untuk menjelaskan pemahaman Nūr Muhammad dalam ilmu tasawuf Syeikh Abdul Hamid Abulung meliputi konsep, metode, dan pengalaman kerohanian. Kajian ini melibatkan penelitian perpustakaan dan lapangan. Penelitian menemukan bahwa paham Nūr Muhammad dalam perspektif Syeikh Abdul Hamid Abulung bukan sekadar teori kosmologi saja, tetapi sebuah konsep tentang Tuhan dan hubungannya dengan alam ciptaan-Nya yang apabila dipahami dan diamalkan dengan baik dapat menghantarkan seorang untuk menghampiri Tuhannya. Dalam konsep Nur Muhammad dalam tasawuf Syeikh Abdul Hamid Abulung terdapat sebuah metode yang dikenal sebagai mushāhadah. Mushāhadah diamalkan melalui salat dā‟im dan zikr. Konsep Nūr Muhammad yang diamalkan dengan metode mushāhadah, memungkinkan pengamalnya mendapat pengalaman kerohanian yang tinggi, yaitu kesadaran akan Wujud ke-Maha Esa-an Allah yang tiada wujud selain-Nya. Kesadaran salik yang demikian membolehkannya memasuki alam fanā', baqā', ittihād, dan hulūl. Konsep Nūr Muhammad dalam perspektif Syeikh Abdul Hamid Abulung mengandung teori, metode dan juga pengalaman kerohanian yang luar biasa

    Tafsir sufistik tentang Nur Muhammad : studi hermeneutis terhadap penafsiran Ibnu ‘Arabi

    Get PDF
    Pembahasan Nur Muhammad telah ada sejak abad kedua Hijriyah. Tidak hanya oleh madzhab keagamaan tertentu dan para sufi, tetapi juga para mufassir. Hal ini tidak terlepas dari tafsir sufistik yang pada saat itu mulai bermunculan, karena melihat pentingnya sisi esoterik dan eksoterik dalam penafsiran al-Qur’an, sehingga hasilnya dapat menyentul wilayah hakikat sekaligus syariah. Ibnu ‘Arabi sebagai sufi sekaligus mufassir, mampu menghasilkan penafsiran tentang Nur Muhammad secara komprehensif. Penelitian ini secara spesifik akan menjawab rumusan masalah yang penulis kemukakan, di antaranya: Bagaimana penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dalam Tafsirnya? Dan Bagaimana implementasi penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dalam konteks kekinian? Oleh karena itu, penulis menggunakan content analisis sebagai metode penelitian, serta alat bantu analisis berupa hermeneutika untuk menjawab kontekstualisasi penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dalam konteks kekinian. Adapun hasil penelitiannya adalah sebagai berikut: Pertama, Ibnu ‘Arabi berpendapat bahwa kata nūr di dalam al-Qur’an ada beberapa pengertian, yaitu pemberi hidayah, pemberi cahaya, penghias, yang dzahir atau tampak jelas, pemilik cahaya, dan cahaya tetapi bukan cahaya yang biasa dikenal. Di samping itu, ada pengertian lain menurut Ibnu ‘Arabi bahwa nūr di dalam al-Qur’an dalam ayat-ayat tertentu dengan istilah Nur Muhammad. Ibnu ‘Arabi juga menyebut Nur Muhammad dengan istilah rūh al-‘alam. Menurut Ibnu ‘Arabi, konsep Nur Muhammad merupakan tajalli (penampakan) Allah yang menjelma dalam Nur Muhammad, dan dari sanalah awal mula segala penciptaan di dalam semesta. Penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya faktor historis, sosiologis, dan filosofis. Dari sisi historis, Ibnu ‘Arabi dipengaruhi oleh para guru sufinya serta ilham yang beliau dapatkan dari mimpi-mimpinya. Dari sisi sosiologis, karena Ibnu ‘Arabi ingin memadukan penafsiran secara esoterik dan eksoterik, sehingga mampu menjawab problem sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Dari sisi filosofis, Ibnu ‘Arabi ingin memadukan trilogi ajaran Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan. Sebab menurutnya, tasawuf tidak hanya ada di dalam al-Qur’an, tetapi seluruh ayat al-Qur’an mengandung tasawuf, aqidah, dan sekaligus syari’ah. Kedua, dalam konteks kekinian seharusnya Nur Muhammad juga memiliki andil penting dalam kehidupan, tidak hanya menjadi pemikiran yang hanya terbukukan dalam tumpukan sejarah. Setiap manusia perlu melakukan segala daya dan upaya untuk mengimplementasikan makna Nur Muhammad, yaitu menjadi Insan Kamil, dalam pengertian yang sebaik-baiknya. Bagi orang yang menempuh jalan sufi, mereka dapat mengikuti jalan tarekat (thariqah). Tarekat diartikan sebagai sebuah metode, cara, atau jalan yang ditempuh sufi menuju pencapaian spiritual tertinggi, pensucian diri, pensucian jiwa, dalam bentuk dzikir kepada Allah. Sedangkan bagi manusia secara umum, yang harus dilakukan untuk memaksimalkan potensi Nur Muhammad adalah dengan menyembah Allah dengan sebenar-benarnya serta tidak berbuat syirik. Setiap manusia harus mampu mengontrol diri untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Sebab, menyembah atau sujud kepada Allah juga harus dibarengi dengan perbuatan yang adil dan ihsan. Hal ini berkaitan erat dengan kehidupan sosial bermasyarakat, baik itu dalam hal ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Setiap hamba harus mengontrol diri untuk tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang menimbulkan kerugian bagi sesamanya.   ABSTRACT: Nur Muhammad's discussion has been around since the second century Hijriyah. Not only by certain religious madzhab and Sufis, but also interpretators. This is inseparable from the sufistic interpretation that at that time began to emerge, because it saw the importance of esoteric and exotic sides in the interpretation of the Qur'an, so that the results can reflect the area of nature as well as sharia. Ibn 'Arabi as a Sufi as well as interpretator, was able to produce a comprehensive interpretation of Nur Muhammad. This research will specifically answer the formulation of problems that the author put forward, including: How is ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad in his interpretary? And how is the implementation of Ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad in the current context? Therefore, the author uses analytical content as a research method, as well as analytical tools in the form of hermeneutics to answer the contextualization of Ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad in the current context. The results of his research are as follows: First, Ibn 'Arabi argued that the word nūr in the Qur'an there are several meanings, namely the giver of guidance, light giver, decorator, who dzahir or clearly visible, the owner of light, and light but not the light commonly known. In addition, there is another sense according to Ibn 'Arabi that nūr in the Qur'anin certain verses with the term Nur Muhammad. Ibn 'Arabi also mentions Nur Muhammad with the term rūh al-'alam. According to Ibn 'Arabi, the concept of Nur Muhammad is the tajalli (appearance) of God incarnated in Nur Muhammad, and from there the beginning of all creation in the universe. Ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad was influenced by several factors, including historical, sociological, and philosophical factors. Historically, Ibn 'Arabi was influenced by his Sufi teachers and the inspiration he got from his dreams. From the sociological side, because Ibn 'Arabi wanted to combine esoteric and exotic interpretations, so as to be able to answer social problems that occurred in society. Philosophically, Ibn 'Arabi wanted to combine a trilogy of Islamic teachings, namely faith, Islam, and ihsan. For according to him, Sufism is not only in the Qur'an, but all verses of the Qur'an contain Sufism, aqidah, and at the same time shari'ah. Second, in the current context Nur Muhammad should also have an important role in life, not only be a thoughtthat is onlyburiedin the pileof history. Every human being needs to do all the power and effort to implement the meaning of Nur Muhammad, namely to be Insan Kamil, in the best sense possible. For people who follow the Sufi path, they can follow the path of order(thariqah). Tarekat is defined as a method, way, or path taken by Sufis to the highest spiritual achievement, self-purification, sanctification of the soul, in the form of dzikr to God. While bagi man in general, what must be done to maximize the potential of Nur Muhammad is to worship God in real time and notto associate. Every human being must be able to control himself not to do corruption in the earth. And who is more unjust than he who worships Allah, and is a witness against you, and turns back on you, and turns your backs on you, and turns your backs on you, and has no helper over It is closely related to social life in society, be it in economic, political, and so forth. Every servant must control himself not to fall into deeds that cause harm to others

    Nur Muhammad Dalam Kitab Insân Kamîl Karya Abdul Karim Al-Jîlî Dan Kitab Al-Durr Al-Nafis Karya Muhammad Nafis Al-Banjari

    Get PDF
    Penelitian ini bertolak dari berkembangnya pengajian-pengajian yang bertemakan tasawuf, baik itu amali maupun falsafi. Tasawuf falsafi adalah ajaran tasawuf yang telah berbaur dengan ajaran filsafat. Salah satu tema pokok dalam kajian tasawuf falsafi adalah tentang Nur Muhammad. Para sufi dengan menggunakan konsep Nur Muhammad ini ingin menjelaskan bagaimana hubungan Tuhan dengan alam dan manusia. Salah satu pengembang konsep ini pada masa awal adalah ‘Abdul Karim al-Jîlî dari Jailan, dan terus berkembang sampai ke Kalimantan Selatan yang dikembangkan oleh Muhammad Nafis al-Banjari. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dalam kitab Insân Kamîl dan Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr al-Nafis dan Bagaimana perbedaan dan persamaan konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis al-Banjari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dalam kitab Insân Kamîl dan Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr al-Nafis dan mengetahui Perbedaan dan persamaan, serta mengkomparasikan konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis al-Banjari. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library Research). dengan menggunakan pendekatan kualitatif dalam memaparkan serta membandingkan konsep Nur Muhammad ‘Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis. Subjek penelitian adalah kitab Insân Kamîl dan Kitab al-Durr al-Nafis. Teknik yang digunakan dalam memperoleh data yaitu studi teks. Hasil data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan metode deskriptif komparatif. Dari analisis diperoleh bahwa, konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dalam kitab Insân Kamîl dan Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr al-Nafis sebagai wasilah (penghubung) antara Tuhan dengan alam dan manusia. Perbedaan konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis al-Banjari bisa dilihat dari bagaimana al-Jîlî berpendapat bahwa Nur Muhammad memiliki ragam wajah sedangkan Muhammad Nafis berpendapat hanya Huwiyat al-‘alam. Persamaan konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis al-Banjari bisa dilihat dari bagaimana al-Jîlî dan Muhammad Nafis berpendapat bahwa Nur Muhammad yang secara aktual berad

    Nur-i-Afshan V.50 no.40 October 1922

    No full text
    Contents: G̲h̲azal [Poetry] by Naṣīruddīn Naṣīr - Rubāʻiyāt-i fārsī [Poetry] by Ḥashmatulláh - Hindu Mishnrī Sosā’iṭī aur ḥuqūq mastūrāt [Article] by Barkatullāh - Hamen̲ Eshiyāʼī Yasuʼ Masīḥ darkār he [Article] - Panjāb men̲ Nashnal Mishnrī Sosā’iṭī [Article] - Kaʻbah [Article] by Muḥammad Ḥusain - K̲h̲abrain̲ [News] - Mard-i K̲h̲udā [Article] by Mīr ʻĀlam This volume of Nur-i-Afshan published weekly on Fridays from Lahore

    A CRITICAL EXAMINATION OF THE ISLAMIC COMMUNITY’S INTERPRETATION OF IMA HADITHS IN THE BOOK OF ADILLAH

    Get PDF
    ABSTRACT This study explores the teachings of Islam Jama’ah, a religious movement officially banned in Indonesia and deemed heretical by the Indonesian Ulema Council (MUI). Despite this, the movement has gained significant momentum, even establishing legally recognized organizations. Its core beliefs are the necessity of bai'at (allegiance), obedience to its leadership, and exclusivity in Islamic practice. The focus of this research is the "Kitab Adillah," a sacred text central to the doctrine of Islam Jama’ah, particularly its "lima bab" (five chapters), which serves as the foundation of the group’s practices and religious understanding. The study seeks to critically analyze the interpretation of hadiths related to the lima bab from an Islamic jurisprudence perspective, revealing contradictions between Islam Jama’ah’s teachings and mainstream Islamic beliefs. This research aims to understand better how these interpretations impact religious practices and contribute to broader theological discussions. Keywords: Islam Jama’ah; Kitab Adillah; Five Chapter

    FAHAM ULAMA HADITS DAN SUFI TERHADAP KEYAKINAN TENTANG NUR MUHAMMAD

    Get PDF
    Nur Muhammad adalah suatu ajaran tentang keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Muhammad SWA dari NurNya [Allah SWT]. Sejak semula dari Nur Allah itu dicipta Nur Muhammad, hal ini telah menjadi aqidah para penganut thariqat atau mereka yang bertasawuf dalam Islam. Bila Nabi Muhammad SWA diciptakan berasal dari NurNya, demikian halnya seluruh makhluk juga diciptakan dari Nur Muhammad. Dari NurNya, Allah SWT menciptakan Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad, Allah SWT menciptakan seluruh makhluq. Keyakinan tentang Nur Muhammad mempunyai konsekwensi terhadap wujud yang satu, yaitu wihdatul wujud, kesatuan wujud Khaliq dan makhluq, kesatuan wujud Allah SWT dengan alam semesta. Sebagaimana Al Bushthami mengatakan,” Aku heran kepada orang yang mengenal Allah, bagaimana mungkin dia menyembahNya?” Juga Al Bushthami mengatakan,”Mahasuci aku, mahasuci aku, alangkah agungnya aku.” Jadi siapa yang telah mengenal Allah swt., dia merupakan emanasi dari Allah swt. sehingga melekat padanya sifat-sifat ketuhanan yaitu rububiyah dan uluhiyah. Oleh karenanya mana mungkin Allah menyembah Allah? Itulah wihdatul wujud sebagai salah satu konskwensi dari ajaran tentang Nur Muhammad
    corecore