1,720,984 research outputs found
The Impact of Trimurti's Intrinsic and ‎Extrinsic Motivation on Pondok Modern ‎Darussalam Gontor
Until now Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) is still surviving, sustainable, and quality with several national and international recognition. Behind the readiness and success of PMDG, there is an initial motivation of the Trimurti founder of Gontor (hereinafter referred to as Trimurti) which is quite interesting to be studied as The Lessons Learned, especially for other pesantren Kiai. This study aimed to reveal the secrets of intrinsic and extrinsic motivation of Trimurti and its implications for PMDG. This study was a qualitative type, where data was collected using mixed techniques, namely field research and literature research. The data was written in descriptive, analytical, and historical methods through five stages, namely; selection of topics, heuristics, verification, interpretation, and 'historiography'. This research relies on five theories, namely; the Theory of Anatomy of Human Motivation, the Theory of Implications, the Trimurti Theory, the Kiai Theory, and the Modern Pesantren Theory. This study found that the intrinsic motivation of Trimurti includes the local and regional microscale, and their extrinsic motivation includes the national mesoscale and global macroscale which has positive implications in the form of selective protection actions of three pesantren systems and projections of four modern systems in PMDG that contribute extraordinary to the nation, the country, even the world. The author considers Trimurti to be the time to become the Role Model of Lessons Learned and receive the National Hero Title award in the momentum of a century of PMDG (1926-2026)
فكر كى هاجر ديوانتارا التربوى
Dalam sejarah pendidikan nasional Indonesia, nama Ki Hadjar Dewantara disebut sebagai tokoh pendidikan nasional. Hari kelahirannya pada tanggal 2 mei ditetapkan pemerintah sebagai hari pendidikan nasional yang selalu diperingati setiap tahun. Jasa-jasanya dalam bidang pendidikan tidak diragukan lagi. Ia mendirikan Pergruan Taman Siswa di Mataram Jogjakarta pada masa penjajahan yang mempunyai sistem pendidikan bercorak kebangsaan sebagai counter effect terhadap sistem pendidikan kolonial. Lebih-lebih ketika menjabat sebagai menteri pendidikan pengajaran dan kebudayaan pertama, ia menetapkan konsep-konsep baru bagi pendidikan dan pengajaran yang relevan dengan cita-cita bangsa Indonesia, dan menyusun undang-undang yang mengatur tentang azaz-azaz pendidikan dan pengajaran bagi bangsa Indonesia. Berangkat dari pemikiran di atas tidaklah mustahil bahwa Ki Hadjar Dewantara memiliki pemikiran-pemikiran kependidikan yang menarik dan penting untuk diketahui dan dibahas
Berangkat dari sana pula penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang faktor-faktor pendidikan yang meliputi tujuan, pendidik, anak didik, alat-alat, darı lingkungan, berdasarkan kenyataan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan hal-hal yang urgen dan wajib adanya dalam proses pendidikan.
Dengan menggunakan metode historik faktual penulis mengumpulkan dan menelusuri data dari sumber pertarna maupun kedua yang berbicara tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalarn faktor-faktor pendidikan. Dengan cara berfikir deduktif penulis mengumpulkan pandangan umum tentang pendidikan dan faktor-faktornya untuk diambil suatu kesimpulan. Lalu secara induktif penulis memaparkan pandangan-pandangan Ki Hadjar Dewantara secara sistematis untuk generalisasi. Dan sebelum menafsirkan dan menggeneralisasikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara secara utuh, penulis menggunakan tehnik analisa isi berlandaskan pemikiran pendidikan secara umum.
penulis menemukan bahwa tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara berorientasi pada pembinaan manusia beriman dan bertaqwa, merdeka, berakhlak, sehat dan terampil, dan bermanpaat bagi bangsa, negara dan manusia pada umumnya Pendidik mempunyai dua tugas utarna yaitu mendidik dan mengajar, dan dalam proses pendidikan hendaknya ia berpegang pada Sistem Among dan memiliki sifat-sifat yang digariskan. Anak didik mempunyai dua fitrah yaitu fitrah yang dapat berubah dan yang tidak dapat berubah yang memungkinkannya siap menerima laku pendidikan dari segala aspek, disamping faktor-faktor interen yang ada padanya sebagai pendorong bagi perkembangannya. Alat-alat pendidikan meliputi, Pertama, kurikulum pelajaran yang mencakup ilmu pengetahuan, keterampilan, kegiatan-kegiatan dan pembinaan akhlak. Kedua, metodologi pendidikan dan pengajaran. Ketiga, disiplin pribadi (self discipline). Adapun lingkungan pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap pribadi anak menurutnya ada tiga yaitu keluarga, sekolah, dan gerakan pernuda. Dan sentralisasi ketiga lingkungan tersebut dengan sistern asrama dipandang lebih efisien dan efektif dalam pendidikan. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara khususnya dalam faktor-faktor pendidikan tidaklah kontradiktif dengan pemikiran pendidikan Iaları bahkan relevan adanya.
Berdasarkan kajian ini adalah baik bila lembaga-lembaga pendidikan yang bercorak nasional kembali memahami akan pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara secara utuh, apalagi jika perguruan Taman Siswa bertindak sebagai pelopor realisasi konsep-konsep Ki Hadjar tersebut khususnya dalam sistem aurarna. Dan dari kajian awal yang relatif singkat dan sederhana ini, hendaknya dilakukan kajian yang lebih lengkap atau lebih mencakup dan mendalam tentang pemikiran-pemikiran kependidikannya Dan alangkah lebih baiknya bila kajian lebih lanjut tentang pemikiran kependidikannya dibandingkan dengan ahli pendidikan lain seperti K.H. Imam Zarkasyi -salah seorang pendiri Pondok Modern Gontor-dalam sistem asrari
Psikologi Remaja: Petunjuk bagi Guru dan Orangtua
Saat ini, terjadi fenomena yang sangat memprihatinkan di kalangan remaja, seperti sikap arogan dengan menjadikan terminologi 'babe gue' sebapai senjata, suka berhura-hura, chatting, bergerombol, memberontak orangtua dan guru, melakukan penyimpangan seksual (free sex, sumen leven, married by accident), mengonsumsi miras dan narkoba, dsb. Fenomena itu terbukti, antara lain dari hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BBN) dan Universitas Indonesia (UI) tahun 2004 yang menunjukkan, ada 10 kota yang tertinggi persentase penyalahgunaan narkoba, Palu (8,4 %), Medan (6,4 %), Surabaya (6,3 %), Maluku Utara (5,9 %), Padang (5,5 %), Bandung (51 %), Kendari (5 %), Banjarmasin (4,3 %), Yogyakarta (4,1 %), dan Pontianak (4,3 %), belum lagi Jakarta yang tidak dimasukkan dalam survei ini. Yang lebih mengejutkan, adalah biaya ekonomi terbesar di sepuluh kota itu, justru untuk pembclian narkoba, yang mencapai Rp 3,6 triliun, mayoritas penggunanya adalah remaja, bahkan usia lermudanya adalah umur 7 tahun. Penelitian lain dari LSM Partisan terhadap narapidana di 4 penjara di Jakarta dan sekitarnya, menunjukkan bahwa 60 % atau 6.180 dari 10.300 narapidana itu terkait secara langsung atau tidak langsung dengan kasus narkoba bahkan berpotensi relatif Iinggi terjangkit HIV/AIDS (Republika, 30 November 2005). Berdasarkan data UN-AIDS (United Nation for AIDS), Indonesia termasuk negara paling cepat penyebaran AIDS. Data ini diperkuat oleh data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, bahwa hingga media 2005, di Indonesia terdapat 7.095 orang penderita HIV dan setengahnya positif mengidap ADS. Jumlah tersebut tersebar di 31 provinsi; Jawa Barat, tertinggi, (57 AIDS dan 12 MIV), Papua (19 AIDS dan 1 HIV), Sumatra Utara (19 AIDS), Jawa Timur (15 AIDS), dan DKI Jakarta (10 AIDS) (Pikiran Rakyat, 1 Desember 2005).
Fenomena mengerikan itu ternyata banyak terjadi pada kalangan remaja. Mengapa remaja? Secara psikologis, masa remaja merupakan masa yang begitu unik, penuh teka-teki, dilematis dan sangat rentan. Unik karena pertumbuhannya banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya sehingga karakter mereka berbeda-beda. Penuh teka-teki karena kepribadian mereka susah ditebak. Dilematis karena masanya merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju usia dewasa sehinnga cenderung coba-coba. Dan sangat rentan karena selalu berorientasi pada popularitas secara menggila dan instan.
Bila fenomena mengerikan itu tak segera disikapi dengan cepat dan tepat, dan remaja dibiarkan berkembang sendiri tanpa arahan yang benar, apa jadinya masa depan mereka kelak? Tentunya berbagai generasi timpang akan bermunculan, pejabat korup, penindas, penipu, bandar judi, germo, pengedar miras dan narkoba, pemimpin perusahaan yang kejam, anggota masyarakat tak bermoral, dan profesi lain yang merugikan publik
Upaya Fasilitas Masyarakat terhadap pelatihan dan pentas seni tari dan lagu daerah bagi anak anak sebagai upaya dalam proses pengembanagn budaya di dusun Cilimus desa Mekarsari kecamatan Cimaung
Implementation of sharia business ethics in Indonesian Sharia Banking: Case study of Bank BJBS KCP Cimahi
Relevansi Hirarki Lima Kebutuhan Dasar Maslow dan Syatibi dan penerapannya Dalam Tripusat Pendidikan
Application of amanah value to payment product at Bank Syariah Indonesia KCP Bandung Moh. Toha
- …
