1,721,094 research outputs found
KONSEP WAHDATUL WUJUD DALAM TEKS THORIQOH AKMALIYAH
Wahdatul wujud terdiri dari dua kata dalam bahasa yaitu wahdat dan wujud, Wahdat berarti (tunggal, manunggal, kesatuan) sedangkan al-wujud berarti (ada, eksistensi, atau keberadaan). Thoriqoh secara bahasa arab berasal dari kata thoriq yang berarti jalan atau berarti metode mendekatkan diri kepada Allah. Thoriqoh Akmaliyah merupakan salah satu thoriqoh yang ghoiru mu’tabaroh. Dari sini terdapat memunculkan masalah yang berupa bagaimana konsep wahdatul wujud dalam teks primer thoriqoh akmaliyah dan bagaimana tahapan-tahapan munuju ke wahdatul wujud dalam thoriqoh akmaliyah? Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan informasi dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Wahdatul Wujud dalam thoriqoh akmaliyah bahwa terdiri dari kata wahdat dan al-wujud, yang wahdatul wujud secara bahasa yaitu wahdah berarti satu dan wujud adalah Allah (dzat). Sedangkan secara istilah bersatu dengan dzat (bersatu dengan Allah). Yaitu seluruh alam semesta beserta isinya berasal dari Allah. yaitu: Alam Akhadiyah, Alam Akhadiyah, Alam Wakhidiyah, Alam Arwah, Alam Misal, Alam Ajsam, Alam Insan Kamil, Alam Dunya, Alam Barzah, Alam Kubur, Alam Akhirat. beberapa tingkatan supaya bisa menuju Allah Ta’ala. antara lain: Tingkat ‘Ubad, Tingkat Muhibbin, Tingkat Muttaqin, Tingkat Sholihin, Tingkat ‘Arifin. terdapat empat belas tingkatan iman didalam thoriqoh akmaliyah, sebagai tahapan untuk mencapai tingkat wahdatul wujud diantaranya yaitu: Iman Ikror, Iman Tashdik, Iman Tashdik Ikror, Iman Yaqin, Iman Tauhid, Iman Tauhid dan Iman Hakikat, Iman Ma’rifat, Iman Hakikat, Iman Ghoib (supranatural), Iman Ghoibul Ghoib, Iman Baqo’, Iman Baqoul Baqo’, Iman Kamil, Imannya orang ahli Arifin (Amil Mukamil).
Kata Kunci: Wahdatul Wujud, Thoriqoh Akmaliyah
Wahdatul wujud consists of two words in the language namely wahdat and wujud, Wahdat means (single) while al-wujud means (existence,). Thoriqoh in Arabic comes from the word thoriq which means path or means a method of getting closer to Allah. Thoriqoh Akmaliyah is one of the thoriqoh that is ghoiru mu'tabaroh. From here there are problems that arise in the form of how the concept of wahdatul wujud in the primary text of thoriqoh akmaliyah and how the stages of heading to wahdatul wujud in thoriqoh akmaliyah? This research uses the literature research method. In this study, researchers collected information using primary data and secondary data. Wahdatul Wujud in thoriqoh akmaliyah that consists of the words wahdat and al-wujud, which wahdatul wujud linguistically is wahdah means one and wujud is Allah (dzat). While in terms of united with dzat (united with Allah). That is, the entire universe and its contents come from Allah. ie: Alam Akhadiyah, Alam Akhadiyah, Alam Wakhidiyah, Alam Arwah, Alam Misal, Alam Ajsam, Alam Insan Kamil, Alam Dunya, Alam Barzah, Alam Kubur, Alam Akhirat. several levels in order to get to Allah Ta'ala. among others: 'Ubad Level, Muhibbin Level, Muttaqin Level, Sholihin Level, 'Arifin Level. there are fourteen levels of faith in thoriqoh akmaliyah, as stages to reach the level of wahdatul wujud including: Iman Ikror, Iman Tashdik, Iman Tashdik Ikror, Iman Yaqin, Iman Tauhid, Iman Tauhid and Iman Hakikat, Iman Ma'rifat, Iman Hakikat, Iman Ghoib (supernatural), Iman Ghoibul Ghoib, Iman Baqo', Iman Baqoul Baqo', Iman Kamil, Iman the expert of Arifin (Amil Mukamil).
Keywords: Wahdatul Wujud, Thoriqoh Akmaliya
Tarekat Akmaliyah dan Sekelumit Jejaknya di Trenggalek (Beberapa Dugaan Sementara
Artikel ini menunjukkan beberapa temuan awal tentang persebaran ajaran Tarekat Akmaliyah di Seputaran Trenggalek
KONSEP ZUHUD DALAM TAREKAT AKMALIYAH (STUDI LAPANGAN TERHADAP DOKTRIN ZUHUD)
Skripsi ini adalah upaya Ilmiah untuk mencoba mengangkat dan meneliti ajaran tarekat Akmaliyah mengenai konsep Zuhud-nya. Konsep zuhud dalarn tarekat ini menjadi menarik karena kemungkinan besar berbeda dengan konsep zuhud yang dipahami para mutashowwif. Perbedaan ini diakibatkan oleh konsepkonsep yang ditanamkan pada awal masuk tarekat. Ada beberapa elemen yang penting dalam tarekat lain menjadi tidak penting dalarn terkat Akmaliyah. Seperti konsep mursyid dan murid, dalarn tarekat ini murid dan mursyid secara lahiriyah bukan hubungan manusia dengan manusia. Mursyid/guru adalah guru sejati yang tertanam dalam setiap diri manusia. Manusia dengan manusia adalah sesarna yang hanya mempunyai hak saling bertukar pikiran (musyawarah) tidak ada yang lebih mulia. Mursyid dalam rupa manusia hanya Nabi SAW dengan tuntunan yang telah diajarkan melalui Al-Qur'an dan sunnah. Menurut mereka ajaran ini merupakan kesempumaan atas tarekat yang yang lain. Syathariyah, Naqshabandiyah dan Khalwatiyah merupakan nama-nama dari wirid yang mana wirid merupakan pembuka bagi pintu hati yang ada dalam setiap bagian dari jiwa manusia yang terbagi atas empat bagian yaitu nafsu amarah, lawwamah, sujiyah dan muthmainnah dan keempat nafsu itu merupakan kendaraan bagi manusia dalam mengarungi kehidupan dunia untuk kembali kepada Sang Pencipta.
Tarekat ini merupakan sebuah varian tarekat yang tidak banyak diketahui oleh khalayak, bahkan cenderung tertutup. Ketertutupan ini menjadikan tarekat ini sangat eksklusif. Karena sangat tertutup maka untuk mengetahui lebih banyak mengenai tarekat ini diperlukan sebuah pendekatan yang efektif. sifat eksklusif sangat kuat melakat dalarn tarekat Akmaliyah, maka methode yang paling tepat digunakan adalah wawancara terbuka dengan pendekatan.fenomenologi etnograji, yaitu mengamati kehidupan para penganut Tarekat Akrnaliyah dengan cara terlibat aktif dalarn kehidupan dan gerakan mereka. Cara itu merupakan usaha untuk dapat mendiskripsikan kehipan dan cara pandang mereka terhadap dunia.
Dalam pembahasan ini yang dijadikan obyek penelitian hanya konsep zuhud dan prakteknya dalam kehidupan. Pertama, secara urnum aliran ini seperti aliran tarekat yang lain akan tetapi, ajarannya sangat dekat sekali dengan cara berfikir kosep kejawen bahkan sedikit banyak mempunyai persamaan dengan ajaran Serat Wirid Hidayat Jati (ini secara urnum menjadi acuan utama para pengarnal kebatinan). Kedua, zuhud dalam pandangan tarekat ini adalah kemarnpuan seorang manusia menciptakan keselarasan dalam diri sendiri dan semua aspek yang terjadi dalam lingkaran kehidupan secara umum. Ketiga, meskipun dekat sekali dengan konsep kejawen yang sinkretis dan tidak terlalu peduli dengan syariat (kebanyakan hal ini dilakukan oleh para pengamal Ajaran kebatinan) akan tetapi dalam tarekat Akmaliyah syari'at Islam adalah dasar hukum yang hams dipegang dan menjadi tuntunan kehidupan seorang muslim yang harus ditegakkan. Kontribusi penelitian ini adalah mencoba mengetengahkan sebuah varian tarekat yang selama ini belum sepenuhnya terungkap dan merupakan sebuah khazanah budaya islam di Jawa yang perlu untuk digali keberadaannya sebagai sebuah hasil dialog pemikiran dan kebudayaan
Tinjauan Pustaka Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Preferensi Menabung Pada Bank Umum (Studi Pada Mahasiswa Malang) Bintan Akmaliyah
Sistem perbankan di Indonesia yang menganut dual banking system memaksa masyarakat untuk melakukan pilihan menggunakan bank umum konvensional atau bank umum syariah. Walaupun belum berpenghasilan mahasiswa sebagai konsumen potensial juga dihadapkan dengan pilihan tersebut. Tulisan ini ingin melihat landasan teori dan penelitian terdahulu tentang produk, promosi, dan pelayanan bank umum syariah serta perilaku dalam pemilihan kedua bank umum. Pendekatan studi literature digunakan untuk menjawab tujuan tersebut. Landasan teori yang terdiri dari teori preferensi, preferensi menabung menurut ekonomi islam, teori perilaku konsumen prespektif ekonomi, teori perilaku konsumen prespektif pemasaran, perbankan di Indonesia, perbankan syariah, hubungan produk dengan preferensi, hubungan promosi dengan preferensi, hubungan pelayanan dengan preferensi, hubungan tabungan yang dipilih orang tua dengan preferensi. Beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Raihan Daulay (2006), Zainab (2011), Fitri Maisya (2012), Khoirul Uyun (2012), Chusnul Chotimah (2014)
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
