1,211 research outputs found
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT BUKU ILMU PENDIDIKAN ISLAM YANG DITULIS OLEH HASAN BASRI DAN BENI AHMAD SAEBANI
Penelitian ini bertujuan: 1. Untuk mengetahui tujuan pendidikan Islam menurut Hasan Basri Dan Beni Ahmad Saebani. 2. Untuk mengetahui kurikulum pendidikan Islam menurut Hasan Basri Dan Beni Ahmad Saebani. 3. Untuk mengetahui metode pendidikan Islam menurut Hasan Basri Dan Beni Ahmad Saebani. 4. Untuk mengetahui konsepsi Hasan Basri Dan Beni Ahmad Saebani tentang pendidikan Islam.
Data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif dengan hasil sebagai berikut: Konsep Pendidikan Islam Menurut Hasan Basri Dan Beni Ahmad Saebani Dalam Buku Ilmu Pendidikan Islam.
Hasil dari penelitian ini adalah: 1) Tujuan pendidikan Islam menurut Hasan Basri Dan Beni Ahmad Saebani Adalah: Mewujudkan manusia yang berkepribadian Islam, Melatih dan membimbing agar peserta didik menguasai tsaqafah, Melatih dan membimbing peserta didik agar dapat menguasai ilmu kehidupan (IPTEK), Melatih dan membimbing peserta didik agar memiliki ketrampilan yang memadai. 2) Kurikulum pendidikan Islam menurut Hasan Basri Dan Beni Ahmad Saebani adalah: Kurikulum pendidikan Islam harus mewujudkan tujuan pendidikannya, materi pelajarannya, Kurikulum pendidikan Islam sangat memperhatikan pengembangan menyeluruh tentang aspek pribadi siswa, yaitu dari itelektual, psikologis, sosila dan spitritual, Kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan masyarakat, dunia dan akhirat, jasmani, akal dan rohani manusia. Keseimbangan itu tentunya bersifat relatif karena tidak dapat di ukur secara obyektif, Kurikulum Islam juga memperhatikan perbedaan-perbedaan kebudayaan di tengah masyarakat, baik itu kaitannya dengan kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, keluwesan, seta emneria perkembangan dan perubahan. Kurikulum pendidikan Islam juga memiliki keserasian dengan kdsesuaian perubahan zaman. 3) Metode pendidikan Islam menurut Hasan Basri Dan Beni Ahmad Saebani, adalah: Metode Mutual Education, Metode Kisah Qur’ani dan Nabawi, Metode Perumpamaan, Metode Keteladanan, Metode Ibrah dan Mau’izhah. 4) Konsepsi Hasan Basri Dan Beni Ahmad Saebani tentang pendidikan Islam adalah berdasarkan historis pendidikan Islam, berdasarkan pemikiran dan teori pendidikan Islam, dan berdasarkan metodelogis pendidikan Islam
KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BULAN TAK PURNAMA KARYA AHMAD BASRI AFANDI
This study entitled “the personality of the main shape in the Bulan Tak Purnama novel by Ahmad Basri Afandi” uses a qualitative descriptive method. The object of this research is the Bulan Tak Purnama novel by Ahmad Basri Afandi, which contains the turmoil of Dani’s personality in realizing his instincts. Among them the desire to get married, the desire to make his mother happy, love and sex. The results of this study indicate that the main shape Dani has a person who is virtuous, attention, caring, optimistic, honest, merciful and sincere. This can be proven by looking at the id, ego and superegoes. Literary psychology is a science that understands the reflection and mental activities of humans. The reflection and psychological activity of the human being is in the character of Dani as the main shape in the Bulan Tak Purnama novel by Ahmad Basri Afandi.
Keywords: shape, novel, personality, literature psychologyPenelitian ini berjudul “Kepribadian Tokoh Utama dalam Novel Bulan Tak Purnama Karya Ahmad Basri Afandi” menggunakan metode deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah novel Bulan Tak Purnama karya Ahmad Basri Afandi, yang berisi tentang gejolak kepribadian tokoh Dani dalam mewujudkan naluri-nalurinya. Di antaranya keinginan untuk menikah, keinginan untuk membahagiakan ibunya, cinta dan seks. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tokoh utama Dani memiliki pribadi yang saleh, perhatian, peduli, optimis, jujur, penyayang dan tulus. Hal itu dapat dibuktikan dengan melihat id, ego dan superegonya. Psikologi sastra merupakan ilmu yang memahami cerminan dan aktivitas kejiwaan manusia. Cerminan dan aktivitas kejiwaan manusia tersebut ada dalam diri tokoh Dani sebagai tokoh utama dalam novel Bulan Tak Purnama karya Ahmad Basri Afandi.
Kata Kunci: Tokoh, Novel, Kepribadian, Psikologi sastr
Relationship between RBC parameters, HBA₂ level and molecular findings in Alpha Thalassemia: HTAR experience / Ahmad Izzat Ahmad Basri
Alpha thalassemia is a common recessively inherited blood disorder due to mutation or deletion of one or more alpha globin gene. Nowadays, the initial step for screening of alpha thalassemia is by determining the MCV and MCH values. Further investigation includes Hb analysis and confirmation test by molecular analysis. Among the popular molecular method commonly used today is the polymerase chain reaction (PCR). HTAR usually outsource its molecular tests for alpha thalassemia. However, only about 50% of the outsourced samples were positive for alpha thalassemia. Thus, to avoid performing molecular analysis unnecessarily, this study was proposed to find if there is any relationship between the RBC parameters, HBA₂ level and molecular findings for better screening of patients prior to request for molecular analysis. A total of 197 data which consisted of RBC parameters (TRBC, Hb, RDW, MCV, MCH, MCHC and Retic Count), HBA₂ level and molecular findings from HTAR patients diagnosed with alpha thalassemia in 2014. Independent t-test was conducted to evaluate whether the RBC parameters and , HBA₂ level differed significantly for groups of positive or negative molecular findings. Out of the eight parameters tested, RDW, MCHC and rectic were found to be significantly different between groups of positive and negative molecular analysis. Then, the RDW, MCHC and Retic were then anaylzed using ROC Curve to determine the cut-off values for positive molecular findings, respectively. The cut-off values for MCHC and Retic could be determined while cut-off values for RDW could not be determined as the area under the curve was less than 0.5. The cut-off values for MCHC was equal or greater than 34.15 g/dL while the cut-off value for Retic was equal or greater than 2.1%
The investigation of the dynamic behaviour of a complex structure using the wave-based substructuring method / Ahmad Burhani Ahmad Basri
Analysing the dynamic properties of a complex structure with a large number of substructures frequently leads the modal analysts to carefully select the appropriate methods for the optimal balance between the economics and accuracy of the analysis
sj-pdf-1-dos-10.1177_15593258211047651 – Supplemental Material for Pterostilbene Inhibits the Melanogenesis Activity in UVB-Irradiated B164A5 Cells
Supplemental Material, sj-pdf-1-dos-10.1177_15593258211047651 for Pterostilbene Inhibits the Melanogenesis Activity in UVB-Irradiated B164A5 Cells by Dayang Fredalina Basri, Leong Chen Lew, Raveena Vaidheswary Muralitharan, Tava Shelan Nagapan and Ahmad Rohi Ghazali in Dose-Response</p
Hasan Basri: Perjalanan Birokrat Sejati
Kehadiran tokoh sangat berarti dalam pembangunan bangsa dan negara. Menurut Carlyle, tanpa tokoh tidak akan terjadi perubahan. Ada beraneka ragam tokoh mulai dari pelopor di bidang pendidikan, pemerintahan, pertanian, industri, teknologi dan juga mereka yang berjasa dalam bidang kebudayaan. Berdasarkan tingkat popularitas pula dapat diperhatikan; tokoh lokal, nasional, dan dunia. Akan tetapi yang terpenting dari semua itu adalah perjuangan mereka dalam kemaslahatan umat. Jika kita tempatkan sebagai warga negara, maka tokoh telah berjasa bagi pembangunan bangsa dan negara. Di Indonesia tokoh pada akhirnya akan dikenang sebagai seorang pahlawan. Berbeda dengan usaha perjuangan kemerdekaan para tokoh bangsa lebih dekat dengan sebutan pahlawan perjuang kemerdekaan, namun setelah kemerdekaan tokoh bangsa akrab dengan sebutan pahlawan pembangunan, seperti pada zaman Orde Baru Presiden Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan.
Sesuai dengan jiwa zaman, maka para pemimpin negara pada masa Orde Baru mulai dari tingkat nasional hingga daerah berada pada satu visi dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan ini dikenal dengan PELITA (Pembangunan Lima Tahun). PELITA tentu tidak akan berhasil tanpa perjuangan dari tokoh lokal, seperti halnya gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, hingga RW dan RT. Bupati memiliki peran berarti dalam pengembangan kawasan. Pelaksanaan pembangunan di daerah bukanlah hal yang mudah terutama di periode awal PELITA. Kehadiran kepala daerah tingkat kabupaten barangkali lebih penting karena mereka merupakan ujung tombak pelaksana di lapangan. Seorang bupati lebih banyak terlibat dalam bidang agraria karena sektor pertanian merupakan andalan untuk mengembangkan daerahnya. Para bupati akan menghadapi tantangan besar dalam melaksanakan kebijakan pembangunan, namun berkat kekuatan dan kesabaran hambatan yang dihadapi berhasil dilewati untuk membangun bangsa.
Satu di antara pemimpin di Sumatera Barat yang berperan besar bagi perubahan di daerah adalah Bupati Kabupaten Solok periode 1975–1985, Hasan Basri. Beliau boleh dikatakan sebagai salah satu bupati yang berhasil membangun daerahnya setelah peristiwa pergolakan di Indonesia. Mulai dari peristiwa PRRI hingga peristiwa tahun 1965, berpengaruh besar terhadap hubungan pusat dengan daerah. Banyak orang Minangkabau yang kemudian mengalami trauma, bahkan menukar nama dengan nama-nama Jawa. Selanjutnya, peristiwa 1965 yang bersifat nasional telah menggoyahkan sendi-sendi kebangsaan termasuk Sumatera Barat. Waktu pemulihan cukup beragam. Memasuki tahun 1970-an situasi di Sumatera Barat masih memprihatinkan karena masyarakat mengalami kesulitan pangan akibat inflasi yang tinggi. Situasi inilah yang dihadapi oleh Hasan Basri dalam perjalanannya sebagai birokrat sejak diangkat sebagai Pejabat Wali Kota tahun 1970, Wali Kota Solok tahun 1971–1975, dan Bupati Kabupaten Solok pada periode 1975–1985.
Kehadiran Hasan Basri membuka pintu pembangunan dengan beragam permasalahan, baik sosial, ekonomi, politik, maupun keamanan. Periode awal kepemimpinan Hasan Basri memulai pembangunan di Kabupaten Solok di tahun 1975 dihadapkan dengan situasi yang menantang dan melelahkan. Usaha yang dilakukan oleh Hasan Basri tidaklah kecil karena memulai atau manaruko, banyak bidang yang diusahakan, mulai dari sistem administrasi, pemerintahan, pembangunan di bidang pertanian, peternakan, tata kota, dan kesehatan masyarakat. Dapat dibayangkan pada awal mula Kabupaten Solok berada di tangan Hasan Basri, sehingga dengan demikian penting kiranya dituliskan perjuangan Hasan Basri membangun Kabupaten Solok sebagai salah satu periode penting dalam perjalanan karirnya
The facilities for person with disabilities in Public Hospital at Perak / Nurul Ainaa Afifah Ahmad Basri
The adoption of the Uniform Building by Law has raised awareness of the accessibility of all public buildings, particularly public hospitals, to people with disabilities. The purpose of this study is to look into the facilities provided to people with disabilities (PWDs) in a public hospital in Perak, Malaysia. To understanding the Terms Related to Facilities and People with Disabilities (PWDs) in Public Hospitals in Perak, analysing the Existing Facilities for PWDs in Public Hospitals and determining the Barriers to Providing Facilities for were the three objectives that were used to support the research. The indirect observation method was used to conduct the research on three selected hospitals in Perak, and a questionnaire survey was given to 141 respondents from the case study population. The information gathered through the questionnaire survey. The results of the observation show that most hospitals have handicapped facilities, but there are still certain areas that might be improved. In a word, this study informs hospital administration and the general public about the necessity of providing services for people with impairments
Hasan Basri: Perjalanan Birokrat Sejati
Kehadiran tokoh sangat berarti dalam pembangunan bangsa dan negara. Menurut Carlyle, tanpa tokoh tidak akan terjadi perubahan. Ada beraneka ragam tokoh mulai dari pelopor di bidang pendidikan, pemerintahan, pertanian, industri, teknologi dan juga mereka yang berjasa dalam bidang kebudayaan. Berdasarkan tingkat popularitas pula dapat diperhatikan; tokoh lokal, nasional, dan dunia. Akan tetapi yang terpenting dari semua itu adalah perjuangan mereka dalam kemaslahatan umat. Jika kita tempatkan sebagai warga negara, maka tokoh telah berjasa bagi pembangunan bangsa dan negara. Di Indonesia tokoh pada akhirnya akan dikenang sebagai seorang pahlawan. Berbeda dengan usaha perjuangan kemerdekaan para tokoh bangsa lebih dekat dengan sebutan pahlawan perjuang kemerdekaan, namun setelah kemerdekaan tokoh bangsa akrab dengan sebutan pahlawan pembangunan, seperti pada zaman Orde Baru Presiden Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan.
Sesuai dengan jiwa zaman, maka para pemimpin negara pada masa Orde Baru mulai dari tingkat nasional hingga daerah berada pada satu visi dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan ini dikenal dengan PELITA (Pembangunan Lima Tahun). PELITA tentu tidak akan berhasil tanpa perjuangan dari tokoh lokal, seperti halnya gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, hingga RW dan RT. Bupati memiliki peran berarti dalam pengembangan kawasan. Pelaksanaan pembangunan di daerah bukanlah hal yang mudah terutama di periode awal PELITA. Kehadiran kepala daerah tingkat kabupaten barangkali lebih penting karena mereka merupakan ujung tombak pelaksana di lapangan. Seorang bupati lebih banyak terlibat dalam bidang agraria karena sektor pertanian merupakan andalan untuk mengembangkan daerahnya. Para bupati akan menghadapi tantangan besar dalam melaksanakan kebijakan pembangunan, namun berkat kekuatan dan kesabaran hambatan yang dihadapi berhasil dilewati untuk membangun bangsa.
Satu di antara pemimpin di Sumatera Barat yang berperan besar bagi perubahan di daerah adalah Bupati Kabupaten Solok periode 1975–1985, Hasan Basri. Beliau boleh dikatakan sebagai salah satu bupati yang berhasil membangun daerahnya setelah peristiwa pergolakan di Indonesia. Mulai dari peristiwa PRRI hingga peristiwa tahun 1965, berpengaruh besar terhadap hubungan pusat dengan daerah. Banyak orang Minangkabau yang kemudian mengalami trauma, bahkan menukar nama dengan nama-nama Jawa. Selanjutnya, peristiwa 1965 yang bersifat nasional telah menggoyahkan sendi-sendi kebangsaan termasuk Sumatera Barat. Waktu pemulihan cukup beragam. Memasuki tahun 1970-an situasi di Sumatera Barat masih memprihatinkan karena masyarakat mengalami kesulitan pangan akibat inflasi yang tinggi. Situasi inilah yang dihadapi oleh Hasan Basri dalam perjalanannya sebagai birokrat sejak diangkat sebagai Pejabat Wali Kota tahun 1970, Wali Kota Solok tahun 1971–1975, dan Bupati Kabupaten Solok pada periode 1975–1985.
Kehadiran Hasan Basri membuka pintu pembangunan dengan beragam permasalahan, baik sosial, ekonomi, politik, maupun keamanan. Periode awal kepemimpinan Hasan Basri memulai pembangunan di Kabupaten Solok di tahun 1975 dihadapkan dengan situasi yang menantang dan melelahkan. Usaha yang dilakukan oleh Hasan Basri tidaklah kecil karena memulai atau manaruko, banyak bidang yang diusahakan, mulai dari sistem administrasi, pemerintahan, pembangunan di bidang pertanian, peternakan, tata kota, dan kesehatan masyarakat. Dapat dibayangkan pada awal mula Kabupaten Solok berada di tangan Hasan Basri, sehingga dengan demikian penting kiranya dituliskan perjuangan Hasan Basri membangun Kabupaten Solok sebagai salah satu periode penting dalam perjalanan karirnya
Hasan Basri: Perjalanan Birokrat Sejati
Kehadiran tokoh sangat berarti dalam pembangunan bangsa dan negara. Menurut Carlyle, tanpa tokoh tidak akan terjadi perubahan. Ada beraneka ragam tokoh mulai dari pelopor di bidang pendidikan, pemerintahan, pertanian, industri, teknologi dan juga mereka yang berjasa dalam bidang kebudayaan. Berdasarkan tingkat popularitas pula dapat diperhatikan; tokoh lokal, nasional, dan dunia. Akan tetapi yang terpenting dari semua itu adalah perjuangan mereka dalam kemaslahatan umat. Jika kita tempatkan sebagai warga negara, maka tokoh telah berjasa bagi pembangunan bangsa dan negara. Di Indonesia tokoh pada akhirnya akan dikenang sebagai seorang pahlawan. Berbeda dengan usaha perjuangan kemerdekaan para tokoh bangsa lebih dekat dengan sebutan pahlawan perjuang kemerdekaan, namun setelah kemerdekaan tokoh bangsa akrab dengan sebutan pahlawan pembangunan, seperti pada zaman Orde Baru Presiden Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan.
Sesuai dengan jiwa zaman, maka para pemimpin negara pada masa Orde Baru mulai dari tingkat nasional hingga daerah berada pada satu visi dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan ini dikenal dengan PELITA (Pembangunan Lima Tahun). PELITA tentu tidak akan berhasil tanpa perjuangan dari tokoh lokal, seperti halnya gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, hingga RW dan RT. Bupati memiliki peran berarti dalam pengembangan kawasan. Pelaksanaan pembangunan di daerah bukanlah hal yang mudah terutama di periode awal PELITA. Kehadiran kepala daerah tingkat kabupaten barangkali lebih penting karena mereka merupakan ujung tombak pelaksana di lapangan. Seorang bupati lebih banyak terlibat dalam bidang agraria karena sektor pertanian merupakan andalan untuk mengembangkan daerahnya. Para bupati akan menghadapi tantangan besar dalam melaksanakan kebijakan pembangunan, namun berkat kekuatan dan kesabaran hambatan yang dihadapi berhasil dilewati untuk membangun bangsa.
Satu di antara pemimpin di Sumatera Barat yang berperan besar bagi perubahan di daerah adalah Bupati Kabupaten Solok periode 1975–1985, Hasan Basri. Beliau boleh dikatakan sebagai salah satu bupati yang berhasil membangun daerahnya setelah peristiwa pergolakan di Indonesia. Mulai dari peristiwa PRRI hingga peristiwa tahun 1965, berpengaruh besar terhadap hubungan pusat dengan daerah. Banyak orang Minangkabau yang kemudian mengalami trauma, bahkan menukar nama dengan nama-nama Jawa. Selanjutnya, peristiwa 1965 yang bersifat nasional telah menggoyahkan sendi-sendi kebangsaan termasuk Sumatera Barat. Waktu pemulihan cukup beragam. Memasuki tahun 1970-an situasi di Sumatera Barat masih memprihatinkan karena masyarakat mengalami kesulitan pangan akibat inflasi yang tinggi. Situasi inilah yang dihadapi oleh Hasan Basri dalam perjalanannya sebagai birokrat sejak diangkat sebagai Pejabat Wali Kota tahun 1970, Wali Kota Solok tahun 1971–1975, dan Bupati Kabupaten Solok pada periode 1975–1985.
Kehadiran Hasan Basri membuka pintu pembangunan dengan beragam permasalahan, baik sosial, ekonomi, politik, maupun keamanan. Periode awal kepemimpinan Hasan Basri memulai pembangunan di Kabupaten Solok di tahun 1975 dihadapkan dengan situasi yang menantang dan melelahkan. Usaha yang dilakukan oleh Hasan Basri tidaklah kecil karena memulai atau manaruko, banyak bidang yang diusahakan, mulai dari sistem administrasi, pemerintahan, pembangunan di bidang pertanian, peternakan, tata kota, dan kesehatan masyarakat. Dapat dibayangkan pada awal mula Kabupaten Solok berada di tangan Hasan Basri, sehingga dengan demikian penting kiranya dituliskan perjuangan Hasan Basri membangun Kabupaten Solok sebagai salah satu periode penting dalam perjalanan karirnya
Facilitating higher order thinking skills (HOTs) in ESL reading through computer mediated learning tutorial / Noraini Ahmad Basri
Developing learners' critical reading skills at tertiary level is crucial because learners need the knowledge and skills to be able to read academic materials constructively throughout their university courses. However, L2 learners have difficulties in developing higher order thinking skills (HOTs) such as analyzing, synthesizing and evaluating, all of which are important for critical reading. Among the problems identified in this study are learners' lack of performance in advance reading and critical thinking, learners' motivation in acquiring the skills and the lack of. useful learning supports which can facilitate knowledge acquisition and skills attainment of HOTs. There is an urgent need to seek effective tools that can be used to teach these skills in the classroom. For this purpose, technology has been found to assist learners' vocabulary growth, improve learners' reading comprehension and motivation, and increase their reading performance. This study applies a mixed-method (quantitative and qualitative approaches) at examining the use of a customized computer-mediated learning tutorial (CMLT) in the teaching of higher order thinking skills in ESL reading classrooms. One hundred and eighty-five (185) undergraduate learners who pursued their degree at Universiti Teknologi MARA, Malaysia participated in this study. The experimental group learners were given lessons and activities on Reading and Critical Thinking course through the use of a CMLT. Meanwhile, the control group learners were only exposed to standard textbooks as their reference for the course. The research intervention (CMLT) was developed based on the Instructional System Design model and Gagne Nine Events of Instruction. A pretest posttest and the final examination were administered to find out learners' performance in their Reading and Critical Thinking course. Surveys and interviews were also conducted to solicit information regarding learners' perceived usefulness of the CMLT and their motivation in learning the course after they had been exposed to the intervention. In addition, statistical analyses were performed to determine learners' performance before and after using the CMLT. Results of the findings showed that technology did assist learners in their reading and critical thinking course. The experimental group learners outperformed their counterparts both in their posttest and final examination performances. Moreover, the experimental group learners' motivation showed improvements after they were exposed to the treatment. It is hoped that his study would help educators to use technology as an alternative teaching tool in developing L2 learners' reading and critical thinking skills. There is also a need for language educators to work closely with instructional system designers in coming up with interactive multimedia templates that can be shared. Coming up with common templates will allow new contents to be added easily, modified and improved over time
- …
