1,721,004 research outputs found

    Perancangan dan realisasi prototip elektrokardiograf 3-LEAD berbasis PC

    Full text link
    Di Indonesia, dan sebagian besar negara lainnya. Peningkatan jumlah penderita masalah jantung cukup signifikan, sehingga perlu pendeteksian sejak awal agar dapat dilakukan perawatan sejak dini. Usaha ini sangat tepat di terapkan di Puskesmas karena tersebar di seluruh kota maupun desa di Indonesia untuk tujuan ini, maka akan dikembangkan sistem EKG (elektrokardiograf, yang cukup murah dan mudah digunakan karena keterbatasan keuangan dan sumber daya manusia di Puskesmas. Sistem yang dikembangkan akan berfungsi untuk pendeteksi dini masalah jantung dengan merekam 3-lead sinyal EKG; (lead I. II. dan III). Dengan sistem berbasis PC juga akan memberi banyak keuntungan Dalam tesis ini telah dilakukan pengembangan EKG 3-lead berbasis PC (personal computer) dengan elektroda pada tubuh berdasarkan metoda Segitiga Einthoven Tiap lead sinyal EKG akan dideteksi melalui pasangan plat elektroda Ag- AgCI pada tubuh pasien. Sistem EKG yang telah dikembangkan terdiri dari dua modul yaitu modul perangkat keras dan perangkat lunak. Modul perangkat keras terbagi menjadi 2 blok utama. Blok pertama terdiri dari penguat instrumentasi (IC INAl14) yang dihubungkan bertingkat terhadap penguat tak membalik. Rangkaian ini menghasilkan penguatan 500 kali (1Ox50) dan CMRR (commonmode rejection ratio) di atas 90dB. Rangkaian driven right leg digunakan untuk menghindari terjadinya ground loop demi keamanan pasien. Serangkaian filter juga digunakan untuk melewatkan sinyal EKG (0,05Hz-100Hz) dan menapis frekuensi lainnya. Penguat tak membalik juga berfungsi sebagai filter low pass aktif dengan frekuensi cutoff 100Hz. Filter high pass Butterworth orde 2 akan melewatkan sinyal-sinyaI dengan frekuensi di atas 0,05Hz. Filter notch Twin-T digunakan untuk menapis sinyaI dengan frekuensi 50Hz yaitu derau jala-jala listrik. Selanjutnya untuk pemrosesan sinyal digital dibutuhkan filter anti-aliasing, digunakan filter low pass Butterworth orde 2 dengan frekuensi cutoff 200Hz. Rangkaian clamping berfungsi untuk memberikan tambahan tegangan dc sekitar 2V pada sinyal EKG. Rangkaian ini diperlukan karena penggunaan ADC (analog to digital converter) unipolar. Blok kedua dari modul perangkat keras adalah PC interface yang terdiri dari rangkaian ADC, rangkaian mikrokontroler, dan rangkaian-rangkaian optoislator. ADC0809 adalah ADC unipolar yang dapat mengkonversi sinyal analog 0-5V. ADC ini menghasilkan sinyal digital 8-bit dengan error ±1 LSB (least significant bit). Mikrokontroler AT89S52 mempunyai 3 fungsi utama. Pertama, untuk mengontrol proses pengambilan sampel sinyal dengan mengatur perioda konversi pada ADC setiap 5ms. Kedua, untuk menyimpan data EKG sementara di register. Ketiga, untuk melakukan komunikasi melalui pori paralel pada PC untuk proses – pengiriman sinyal EKG. Ground perangkat keras dan PC dipisahkan secara optik dengan menggunakan rangkaian optoisolator (PC817) untuk menghindari arus bocor dari /PC' ke pasien. Modul perangkat lunak telah dikembangkan dengan menggunakan dua bahasa pemrograman yaitu Assembly dan Turbo C. Sistem berbasis mikrokontroler AT89S52 diprogram dengan bahasa assembly. Proses selanjutnya di PC dilakukan dengan pemrograman C yang mempunyai 3 kategori fungsi. Pertama, dapat merekam data pribadi pasien (terbatas pada nama, tanggal lahir, dan jenis kelamin) dan tanggal serta waktu pemeriksaan EKG ke dalam file (.dat), Kedua, untuk melakukan komunikasi dengan mikrokontroler untuk menerima sinyal EKG melalui port paralel PC. Kemudian, sinyal EKG dibaca dan ditampilkan dalam bentuk grafik di monitor. Juga dapat dilakukan perekaman sinyal EKG ke file(.dat). Ketiga, untuk membaca data dari file ( dat ) Data pribadi pasien dan tanggal serta waktu pemeriksaan EKG ditampilkan dalam bentuk teks ke minitor, dan rekaman sinyal EKG ditampilkan dalam bentuk grafik Prototip sistem ini telah diuji di laboratorium Teknik Biomedika. Sistem EKG yang telah direalisasikan dapat memberikan penguatan total 501,75 kali, Peredaman maksimum sinyal derau 50Hz jala-jala ;listrik sehesar 26,02dB. Rentang frekuensi cutolf filter low pass Butterworth orde 2 adalah 100-11 OHz, 40db/dekade. Frekuensi cutoff filter high pass di bawah O,O5Hz, Dari perealisasian perangkat keras tersebut maka sistem dapat mendeteksi sinyal EKG dengan amplitudo (-)2 -(+)6mV, bandwidth sinyal 0,05-100Hz. Pengujian keseluruhan sistem dilakukan dengan melakukan perekam sinyal-sinyal EKG dengan input dari simulator EKG (phantom) dan beberapa subyek, kemudian disimpan ke dalam file (.dat). Jumlah sampel maksimum dalam perekaman yaitu 9866 sampel untuk masing-masing lead sinyal EKG (sama dengan perekaman selama 170 detik). Operator dapat menentukan secara manual lamanya perekaman. Terjadi penurunan amplitudo sinyal yang disebabkan karena kualitas modul perangkat keras, khususnya filter notch. Beberapa sinyal artefak juga tampak pada sinyal EKG, misalnya yang disebabkan oleh pergerakan anggota tubuh dan karena aktivitas pernafasan. Pengujian di lapangan yang meliputi pengiriman file hasil rekaman ke FTP server melalui operator telepon genggam GSM dan CDMA serta Internet dapat dilakukan dengan baik. Usaha ini sangat bermanfaat untuk daerah terpencil, namun masih terlalu mahal untuk aplikasi di Puskesmas. Meskipun telah diperoleh beberapa kemajuan positif, namun ada beberapa masalah yang harus diatasi seperti: derau, ukuran file, keamanan pasien, dan managemen data. Untuk pengembangan lebih lanjut, sistem EKG berbasis PC ini dapat diterapkan sebagai salah satu aplikasi pada sistem telemedika Puskesmas yang sedang dikembangkan di laboratorium Teknik Biomedika

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Peningkatan Ketrampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher-Order Thingking Skills) Dalam Penguasaan Materi Mata Kuliah Wireless Communication Dengan Sistem Pengajaran Pendekatan Student Centered

    Full text link
    Mata kuliah Wireless communication adalah mata kuliah yang diberikan bagi mahasiswa semester 7., yang termasuk kelompok mata kuliah keahlian berkarya ( MKB ) dengan beban studi 4 SKS. Pada mata kuliah ini, mahasiswa mempelajari Prinsip-prinsip dasar dari sistem komunikasi bergerak (mobile), Sistem komunikasi tanpa kabel (Wireless), dan Sistem Komunikasi selular. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi pada kuliah ini, antara lain : Dalam perkuliahan, mahasiswa biasanya kurang mempersiapkan diri dengan baik (membaca/mempelajari bahan/ materi perkuliah),Dalam menyelesaikan tugas (soal latihan), mahasiswa kurang mandiri (menunggu hasil pekerjaan temannya), perlu banyak melakukan diskusi dengan rekan-rekannya; Dalam tanya jawab yang dilakukan di kelas, biasanya hanya mahasiswa tertentu saja yang aktif. Permasalahan-permasalahan tersebut kemungkinan disebabkan oleh metode pengajaran yang masih menggunakan metode ceramah (konvensional). Selain itu mahasiswa masih belum dapat mengembangkan pola berpikirnya, untuk dapat berpikir menjadi lebih tinggi.Untuk mengatasi beberapa kelemahan tersebut di atas, perlu dilakukan perubahan metode pembelajaran, sehingga mahasiswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Metode diterapkan adalah metode Collaborative Learning. Pembelajaran Collaborative Learning juga efektif untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama, komunikai dan tanggung jawab mahasiswa. Hal ini dikarenakan terjadinya proses kegiatan yang ada didalam kelompok-kelompok kerja yang kecil, sehingga mendorong setiap anggita berpartisipasi aktif dalam penyelesaiannya. Presentase meningkatnya taraf berpikir (menuju High Order Thinking) dari mahasiswa, dengan meningkatnya presentase mahasiswa dalam memperoleh nilai A, terjadi kenaikan presentase distribusi nilai A dari 11 % (sebelum pelaksanaan), menjadi 84,6% sesudah pelaksanaan, sesuai dengan rancangan penilaian. Kepuasan mahasiswa terhadap metode Collaborative Learning, berdasarkan skala Likert (1-10), dengan skor 7,99% (artinya mahasiswa dapat menikmati pembelajaran dikelas dengan menggunakan metode tersebut

    Komposter Otomatis-Elektrik Tenaga Surya untuk Pengolahan Sampah Organik

    Full text link
    Sampah merupakan sisa hasil pengolahan, secara umum sampah banyak menimbulkan kerugiankerugian, seperti polusi bau, gangguan kesehatan, dan menimbulkan kerugian ekonomi untuk pengakutan (penimbunan sampah) ke tempat pembuangan akhir, namun dari sisi kerugian tersebut dapat ditimbulkan sisi keuntungan dengan melakukan pengolahan sampah tersebut untuk dapat difungsikan positif. Pengolahan sampah organik dapat menghasilkan kompos (pupuk) untuk tanaman, yang dapat bernilai ekonomi. Pengolahan sampah organik untuk dijadikan kompos (secara cepat) memerlukan komposter (alat pembuat kompos beserta bahan pendukung). Komposter akan mengubah sampah organik dengan mikroba, supaya mikroba dapat bekerja menguraikan sampah dengan baik, maka diperlukan proses mengaduk sampah-sampah yang sudah diurai mikroba, setiap beberapa waktu. Realisasi perancangan alat menggunakan, Komposter elektrik otomatis (akan melakukan proses komposter secara otomatis, masukan bahan akan diolah dengan pengadukan secara otomatis setiap harinya, hasilnya kompos (padat dan cair)), Tenaga Surya dari Solar panel 100 wp, bateray 100 Ah, smart inverter 850 watt, yang akan menggerakkan komposter elektrik dengan daya 330 watt. Oleh karena itu dibuat suatu alat pengolah sampah tersebut, secara elektrik-otomatis dengan sumber energy surya, sehingga proses pengolahan ini dapat dilakukan secara otomatis dengan sumber energi dari alam juga (energi terbarukan). Kondisi lokasi yang akan digunakan di daerah mojoarum, kelurahan mojo, kecamatan gubeng, surabaya, dekat tempat pembuangan sementara (TPS)

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore