12 research outputs found
TEKNIK PENGGUNAAN PUPUK METODE TEMPEL MISEL ORGANIK-ANORGANIK PADA TANAMAN KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) DENGAN PENGUJIAN BERBAGAI DOSIS DI ZONA AKAR: inkubasi, kacang hijau, kompos, misel, organik-anorganik
Penggunaan pupuk yang tepat gunan dan efisien memerlukan teknik sederhana yaitu metode tempel misel organik-anorganik dengan proses inkubasi. Metode ini sudah terbukti pada praktek penanaman padi metode SRI (the Sistem of Rice Intensification) pada sawah bukaan baru. Pembuktian untuk tanaman kacang hijau sangat diperlukan sebagai karakter tanaman berumur pendek pada jenis leguminosa. Fungsi tanaman kacang hijau tidak dapat diragukan apalagi pada kondisi pandemic Covid-19 saat ini, karena ada kandungan asam amino Lysine yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan virus. Metode tempel misel organik-anorganik berasal dari hasil kompos dalam hal ini kompos asal feses sapi melalui inkubasi 21 hari. Pembuatan 1 t.ha-1 pupuk diperlukan 80% kompos, 20% tanah lempung berliat, dan berturut-turut Urea, SP-36 dan KCl sebanyak 15, 12.5, dan 7.5 kg. Perlakuan dosis pupuk di zona akar berturut-turut 0, 1, 2, 3 dan 4 t.ha-1 dengan pengulangan sebanyak 4 kali dalam media tanam polibag 6 kg tanah Ultisol. Pengujian dapat memberikan informasi bahwa (1) berbagai dosis pupuk metode tempel organik-anorganik mampu meningkatkan pertumbuhan dan komponen hasil tanaman kacang hijau, (2) penggunaan dosis pupuk 2 t.ha-1 menunjukkan hasil terbaik terhadap pertumbuhan tanaman, komponen hasil dan hasil biji kacang hjau, dan (3) penggunaan dosis pupuk metode tempel organik-anorganik berlebihan sebesar 3-4 t.ha-1 cenderung melambatkan waktu berbunga termasuk penundaan waktu panen, meningkatkan tinggi tanaman dan bahkan menurunkan hasil biji. Karena pengujian ini pada skala pot terbatas, maka disarankan untuk penerapannya di lapangan pada luasan tertentu (125 m2
PENGARUH PENERAPAN DOSIS PUPUK ORGANIK ANORGANIK DIINKUBASI PADA ZONA AKAR TANAMAN KEDELAI (Glycine max L. Merrill) TERHADAP KOMPONEN HASIL DAN PRODUKSI BIJI
Aplikasi dosis pupuk organik anorganik dengan proses inkubasi ke zona akar tanaman kedelai adalah penerapan bentuk pupuk yang berasal dari penggabungan kompos dan pupuk sumber N, P dan K dipasaran. Metode ini sudah terbukti dalam praktek penanaman padi metode SRI (the Sistem of Rice Intensification) pada sawah bukaan baru. Fungsi tanaman kedelai tidak diragukan lagi saat ini karena sebagai sumber makanan seperti tempe, tahu dan lainnya. Metode tempel misel organik-anorganik berasal dari hasil kompos dalam hal ini kompos asal feses sapi dengan inkubasi 21 hari. Pembuatan 1 t.ha-1 pupuk diperlukan 80% kompos, 20% tanah lempung berliat, dan berturut-turut Urea, SP-36 dan KCl sebanyak 15,0, 12,5, dan 7,5 kg.ha-1. Perlakuan dosis pupuk di zona akar berturut-turut 0,0; 1,5; 3,0 dan 4,5 t.ha-1 dengan pengulangan sebanyak 5 kali dalam media tanam polybag 8 kg tanah Ultisol. Aplikasi takaran pupuk organik anorganik-terinkubasi (Inorganic Organik Fertilizers-incubated, IOF-i) sebesar 3 t.ha-1 mampu memperbaiki pertumbuhan tanaman, meningkatkan komponen hasil seperti jumlah polong per tanaman dan berat 100 biji serta menghasilkan berat biji per rumpun dan per hektar tertinggi. Hasil terbaik mencapai 20,48 g.rumpun-1 atau setara dengan 2,56 t.ha-1.
Kata kunci: IOF-I, kedelai, kompos, misel, pupuk organik anorganik-inkubas
Perancangan Media Situs penjualan Pompa Di PD. Planeet
Semakin tingginya teknologi dalam berkomunikasi, banyak perusahaan membangun sebuah situs atau website sebagai media untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Peranan DKV dalam hal ini sangat dibutuhkan dalam membangun situs dengan memberikan unsur kreatif ke dalam komunikasi yang dibangun agar dapat diterima oleh masyarakat. Desain Komunikasi Visual merupakan strategi perancangan yang dibangun dengan unsur seni melalui konsep komunikasi dan ide kreatif serta teknis untuk menyampaikan pesan yang tepat guna kepada khalayak dalam bentuk visual.
Dalam era teknologi yang semakin canggih saat ini, kebutuhan perusahaan akan sebuah situs tidak lagi menjadi kebutuhan yang sekunder tetapi sudah menjadi kebutuhan primer. Ini dikarenakan perubahan perilaku sosial dimasyarakat dalam memanfaatkan teknologi internet, dimana masyarakat dapat berkomunikasi secara luas dengan menggunakan komputer atau laptop atau dengan handphone yang dimilikinya
Kampanye Sosial Kacang Merah Untuk Meningkatkan Kualitas Imun Pada Anak
Pada saat musim hujan, banyak daerah di Jawa Barat yang menjadi rawan banjir, salah satunya adalah Kota Bandung. Kondisi ini semakin diperparah pada keadaan dimana banyak daerah hunian yang tidak layak huni bagi masyarakat karena kepadatan dan lingkungan yang kotor. Fenomena ini berdampak buruk bagi kesehatan khususnya pada kesehatan anak, karena membuat bibit penyakit semakin berkembang. Salah satu dari penyakit yang diderita oleh anak disebabkan oleh bakteri, parasit, virus ataupun organisme asing yang merusak organ di dalam tubuh karena menurunnya sistem imun. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam menanggapi permasalahan tentang bagaimana menjaga tubuh anak tetap sehat dalam kondisi lingkungan yang buruk adalah dengan memberikan informasi kepada masyarakat tentang kewaspadaan pada saat musim hujan terhadap bahaya bakteri yang mengancam kesehatan anak serta mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga kualitas makanan yang dibutuhkan anak khususnya makanan yang dapat menguatkan sistem kekebalan tubuh. Upaya ini dilakukan agar masyarakat semakin menyadari bahayanya bakteri, parasit, virus dan organisme asing lainnya yang mengancam kesehatan anak khususnya pada saat musim hujan. Sehingga masyarakat lebih siap dalam menghadapi situasi yang buruk sekalipun misalnya bencana banjir. Dengan informasi yang diberikan kepada masyarakat diharapkan dapat mengurangi tingkat penderita penyakit yang disebabkan oleh bakteri, parasit, virus dan organisme asing lainnya saat menurunnya imun pada anak. Adapun salah satu jenis makanan yang dapat meningkatkan kualitas imun adalah kacang merah. Kacang merah memiliki kandungan protein yang tinggi, kaya akan vitamin dan mencukupi kebutuhan mineral yang diperlukan tubuh dalam menguatkan imun dan juga membantu proses metabolisme serta pertumbuhan tubuh. Kacang merah mudah diperoleh di kota Bandung dan mudah diolah dengan berbagai cara untuk dijadikan makanan dan minuman yang disukai oleh anak sebagai menu makanan sehat sehari - hari bagi anak
The Effect of Bioorganic Dosage with N, P Fertilizer on Rice Production of Sri Methods and Increased Nutrient Content of Paddy Soil Intensification
The System of Rice Intensification (SRI) operates under aerobic conditions so that helpful microbes are active and abundant. Effective N-fixing rhizobacteria and indigenous phosphate solubilizers Azotobacter and Pseudomonas grow well in the organic compost Bioorganic because it resembles their natural habitat. The purpose of this research is to find out the right dose of Bioorganic fertilizer and the most N and P doses needed to optimize the SRI method of rice crop production. This research uses a factorial randomized block design. The first factor is Bioorganic fertilizer dosage (1, 3, and 6) t ha-1. The second factor is the dose of N and P fertilizers to use (0, 25, 50, and 75)% of the recommended dosage. The results of this study inform you about Bioorganic fertilizers containing Azotobacter and Pseudomonas fluorescens indigenous. Azotobacter bacteria produce the availability of nutrients N, which functions as Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), these bacteria quickly colonize the root system, regulate hormonal balance, nutrition, and encourage resistance to pathogens. Pseudomonas fluorescens bacteria acts as a provider of phosphorus and nutrients in the generative phase. Both of these microbes have a role in SRI method of rice plant metabolism to increase vegetative and generative growth of rice plants with SRI method with production reaching production of 8.80 t ha-1 in B2 (3 t ha-1) and N2P2 (50%) with the production of 9.21 t ha-1, so the use of inorganic fertilizers is more efficient. Rice soil nutrient status increased pH from slightly acidic to neutral, C-organic increased from 1.27% (low) to 9.30-10.68% (high), N total from 0.13% (low) to 0.45-0.58% (high), P- available from 13.0 ppm reaching 18.0-20.0 ppm (moderate), the Bioorganic application has not been able to increase the C: N, CEC value and base saturation. Nutrient uptake of N and P on the leaves of rice plants is better at dose B2. Bioorganic applications increase the nutrient content of paddy soils planted with the SRI method compared to initial soil nutrient analysis
Restrukturisasi Birokrasi Dan Pengembangan Good Governance (Aspek Kompetensi Administrasi, Transparansi Dan Efisiensi Dalam Restrukturisasi Birokrasi Pemerintah Kota Tanjung Pinang)
Penelitian ini berjudul Restrukturisasi Birokrasi dan Pengembangan Good Governance (Aspek kompetensi Administrasi, Transparansi dan Efisiensi dalam Restrukturisasi Birokrasi Pemerintah Kota Tanjung Pinang). Penelitian ini didasarkan pada sebuah fenomena babwa dalam praktik otonomi daerah menurut Undang- undang Nomor 32 Tahun 2004, sebagaimana yang diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007, pemerintah daerah diberi kebebasan untuk menetapkan penamaan/nomenklatur, jenis dan jumlah Satuan Kerja Peranglrat Daerah (SKPD) yang disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan dan beban kerja yang ada di tingkat Pemerintah Daerah. Dengan kebijakan pemerintah yang demikian, secara implisit sebenarnya terlihat nuansa kesadaran bahwa praktik pembentukan kelembagaan birokrasi Pemerintah Daerah yang uniform sudah tidak relevan lagi dengan dinamika lingkungan internal maupun eksternalnya. Nuansa implisit lainnya sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Pemerintah tersebut adaJah bahwa organisasi yang dibentuk Pemerintah Daerah haruslah disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini bersifat terapan, yaitu dalam rangka menerapkan, menguji dan mengevaluasi kemampuan suatu teori dalam rangka memecahkan permasalahan-permasalahan praktis menyangkut restrukturisasi birokrasi yang diIaksanakan oleh Pemerintah Kota Tanjung Pinang dalam kaitannnya terhadap pengembangan Good Governance. Hasil penelitian menemukan bahwa secara umum proses restrukturisasi Satuan Kerja Organisasi Perangkat Daerah di Kota Tanjungpinang masih sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 dan berdasarkan potensi yang dimiliki, yaitu meliputi: luas wilayah, jumlah penduduk dan jumlah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Selain itu, proses penetapan besaran organisasi perangkat daerah di Kota Tanjungpinang telah berpedoman pada perumpunan bidang yang diwadahi oleh Dinas atau Badan terkait. Restrukturisasi Birokrasi yang diIaksanakan oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang belum mengarah pada pengembangan Good Governance. Restrukturisasi birokrasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Tanjung Pinang tidak dalam kerangka mengakomodasi terjadinya peningkatan kompetensi administrasi, peningkatan transparansi maupun peningkatan efisiensi dari Birokrasi Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan
PENGARUH DOSIS DAN UMUR SIMPAN PUPUK ORGANO-KOMPLEKS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI METODE SRI (The System of Rice Intensification)
Sawah yang baru dibuka memiliki sifat fisik yang buruk dan status hara rendah, disamping gangguan Fe2+ terlarut yang tinggi pada zona perakaran apabila tergenang, sehingga dalam kurun waktu 5-10 tahun belum dapat normal dan hasil selalu rendah yaitu 1,0-2,5 t/ha dan menyebabkan kebutuhan pupuk lebih besar. Pupuk Organo-Kompleks (OK) dapat menjawab kondisi tersebut dan tidak memerlukan waktu 5-10 tahun. Karakteristik pupuk OK diuji dalam dosis dan umur simpan terhadap pertumbuhan dan produksi padi metode SRI. Penelitian dilaksanakan bulan Juni 2019 sampai bulan November 2019 di rumah plastik. Pengujian secara faktorial, faktor pertama dosis OK (A1 = 10 t/ha dan A2 = 20 t/ha) dan faktor kedua umur simpan OK, B1= maksimum 1 bulan; B2= 6 bulan dan B3= 12 bulan dengan kombinasi A1B1; A1B2; A1B3; A2B1; A2B2; dan A2B3 (4 ulangan), data pengamatan dianalisis dengan pengolah data Statistic-8 dan dengan uji lanjut BNT 5%. Peningkatan dosis OK 2x lipat (20 t/ha) dapat meningkatkan pertumbuhan (tinggi tanaman dan bobot jerami), komponen hasil (jumlah malai/rumpun, jumlah biji/malai, bobot 1000 biji, dan persentase gabah bernas) dan hasil gabah. Penyimpanan pupuk OK mampu bertahan hingga 6 bulan dan seterusnya berdampak terhadap penurunan potensinya pada tanaman. Peningkatan dosis OK tidak menaikkan hasil pada lama simpan di atas 6 bulan
Identifikasi Molekuler Trichoderma spp. Indigenous dari Rizosfer Beberapa Varietas Padi Asal Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh
Peranan mikroba meningkatkan hasil padi metode SRI beragam dipengaruhi jenis, kombinasi mikroorganisme, daya adaptasi, dan teknik aplikasi. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi mikroba indigenous mampu meningkatkan hasil tanaman padi metode SRI. Jenis mikroba tanah jamur Trichoderma spp. umumnya banyak ditemukan merupakan jamur tanah biasanya ditemukan pada rizosfer tanaman, termasuk rizosfer tanaman padi. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis Trichoderma spp. indigenous secara makroskopis dan molekuler asal rizosfer beberapa varietas padi di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh. Metode yang digunakan adalah eksplorasi, isolasi dan karakterisasi. Eksplorasi Trichoderma spp. indigenous diambil dari tanah rizosfer padi di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh. Isolasi dan karakterisasi jamur Trichoderma spp. indigenous dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh dan teknik molekuler dengan Amplifikasi PCR di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika di Solok. Hasil penelitian diperoleh isolat T1-KK (Kuriak Kuning), T2-PW (Pandan Wangi), T3- J (Junjuang) ketiganya asal Kabupaten Lima Puluh Kota, T4- S (Sokan), T5-KM (Ketan Merah), T6-SB (Siliah Baganti) asal Kota Payakumbuh. Hasil amplifikasi PCR diperoleh jenis isolat Trichoderma spp dari masing-masing isolat tersebut adalah T1-KK jenis jamur Trichoderma asperellum, T2-PW jenis jamur Trichoderma harzianum dan Trichoderma asperellum, T3-J jenis jamur Trichoderma harzianum dan Trichoderma asperellum, T4-S jenis jamur Thichoderma asperellum, T5-KM jenis jamur Trichoderma harzianum dan Trichoderma asperellum, dan T6-SB jenis jamur Trichoderma harzianum dan Trichoderma asperellum
Restrukturisasi Birokrasi Dan Pengembangan Good Govermance (Aspek Kompetensi Administrasi, Transparansi Dan Efisiensi Dalam Restrukturisasi Birokrasi Pemerintah Kota Tanjung Pinang)
The basis of this study was the regional autonomy under the Act No. 32 of 2004 as mandated by Government Regulation No. 41 of 2007. Local authorities are given the freedom to determine the name, the type and number of Regional Fasilities for Units of Activities (SKPD) tailored to the needs, capabilities and existing workload among local governments. With such a government policy, it implicitly reveals that the practice of establishing a uniform local government bureaucracy is no longer relevant to the dynamics of both the internal and external environments. The study found that generally speaking the process of restructuring the Regional Organization Units in Tanjungpinang was still in accordance with Government Regulation No. 41 of 2007 which was based on regional potentials , such as total land area, number of residents and amount of available budget
THE EFFECT OF INDIGENOUS AZOTOBACTER ISOLATE ON RICE RESULTS OF SRI AND LAND QUALITY METHODS
Nonsymbiotic N-fixing bacteria including rhizobacteria play a role in providing N elements for plants. Some types of rhizobacteria can function as Ryzobacteria Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Indigenous rhizobacteria are more adaptive and efficient because rhizobacteria colonies develop well in the soil in accordance with their habitat, so N fixation is greater. Pot experiments were carried out using a Completely Randomized Design with a combination of 3 types of indigenous N fixing isolates, namely: I1: Isolate A1.bk, I2: Isolate A2.bb.p, I3: Isolate A3.tt.k, I4: Isolate (Isolate A 1.bk + A 2.bb.p), I5: Isolate (Isolate A 1.bk + A3.tt.k), I6: Isolate (A 2.bb.p + A3.tt.k), I7: Isolate (A1.bk + A2.bb.p + A3.tt.k), repeat 3 times with 21 pots. Analysis of the quality of the initial and final rice field research. Azotobacter single isolate for fixing N is very low so that the protection of vegetative and generative growth is not significantly different, except single isolate I3 for observation of the number of filled grains and production ha-1 shows significant differences with other single isolates. The response of Azotobacter isolates to the growth and rice production of the SRI method was determined by the type and combination of indigenous Azotobacter isolates. Azotobacter indigenous isolates are stronger giving high yields for vegetative, generative growth and soil quality. The results of rice plants showed that the combination isolate I4 (A1.b.k + A2.bb.p) was the best isolate for all observations of vegetative and generative growth parameters. The stronger the ability of indigenous Azotobacter isolates to live the better N fixation and soil nutrient content. The results of the analysis of soil nutrients at the end of the study there is an increase in soil nutrients in pH, N, P, K, base saturation, which shows the characteristics of moderate soil fertility
