2 research outputs found
RANCANG BANGUN SISTEM SCREW PENEKAN ADONAN PADA MESIN PENCETAK PENTOL BAKSO
ABSTRAK Agus dan Wakhid. 2012 Rancang Bangun Sistem Screw Penekan Adonan Pada Mesin Pencetak Pentol Bakso. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Imam Sudjono, M.T., (II) Didik Nurhadi, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: pentol bakso, mesin, sistem screw penekan. Bakso adalah jenis bola daging yang paling lazim dalam masakan Indonesia. Seiring berkembangnya teknologi, maka tercipta sebuah mesin pencetak bakso. Mesin dengan tingkat efisiensi dan keefektifan yang tinggi. Dibandingkan dengan proses pembuatan pentol bakso secara manual, proses produksi menggunakan mesin ini lebih efektif dan efisien. Waktu yang digunakan lebih singkat, pekerja/karyawan yang terlibat lebih sedikit, dan bakso yang dihasilkan jelas lebih banyak. Prinsip kerja mesin pencetak pentol bakso secara umum yaitu terletak pada screw penekan adonan dan penggerak pisau potong. Mesin ini dilengkapi dengan dua buah motor listrik 1 fasa yang terpisah (di bagian atas dan bawah) sesuai dengan fungsinya masing-masing. Cara kerja dari sistem mekanik mesin pencetak pentol bakso yaitu adonan yang masuk melewati rumah nozle terdorong turun oleh putaran poros screw hingga melalui pisau pemotong, lalu adonan terpotong oleh pisau dan membentuk bulatan-bulatan pentol bakso. Terdapat dua buah lengan yang terletak satu sumbu dengan poros lengan dan bantalan lengan. Bantalan dihantam oleh noken sehingga lengan ikut bergerak membawa pisau pemotong. Dihasilkan konsep rancangan (draft design), rancangan teknik (engineering design) serta perhitungan komponen-komponen mesin. Komponen-komponen tersebut dapat dirakit menjadi suatu rangkaian mesin yang utuh yang dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Sistem mekanik mesin pencetak pentol bakso ini dapat menghasilkan sekitar 140 pentol bakso per menitnya atau sekitar 8000 lebih pentol bakso per jam
ANALISIS KETANGGUHAN DAN PATAHAN BAJA ST 60 AKIBAT PERUBAHAN TEMPERATUR DAN SUDUT IMPAK
ABSTRAKTrisasmita, Agus. 2014. Analisis Ketangguhan dan Patahan Baja St 60 Akibat Perubahan Temperatur dan Sudut Impak. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Siswanto, M.A., (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.DKata Kunci: Baja St 60, Uji Impak, Temperatur, Ductile to brittle transition.Pada era global ini penggunaan logam semakin berkembang pesat. Dalam pengaplikasianya bahan logam tersebut seringkali digunakan atau dioperasikan dilingkungan bertemperatur ekstrim, sangat tinggi maupun rendah. Kepekaan terhadap patah getas adalah masalah besar pada kontruksi baja. Material dapat dengan mudah menjadi getas atau patah pada temperatur yang rendah meskipun dalam kondisi normal logam itu ulet. Gejala ini dikenal dengan sebagai Transisi ulet getas (Ductile to brittle transition). Dalam penelitian ini akan dikaji mengenai pengaruh suhu dingin dan variasi sudut impak pada baja St 60 terhadap ketangguhan kejut dengan menggunakan uji impak. Temperatur yang digunakan ialah 28°C (suhu kamar) dan -20°C (perlakuan dingin menggunakan dry ice). Sedangangkan sudut impak yang digunakan yaitu α = 60°, α = 90° dan α = 120°. Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif. Sedangkan desain penelitiannya adalah penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Analisis deskriptif menjabarkan perbandingan spesimen yang diberi perlakuan dan tanpa perlakuan menggunakan bantuan sofware microsoft excel. Objek yang dipakai pada penelitian ini adalah baja karbon sedang St 60.Selisih rata-rata energi yang diserap oleh spesimen baja St 60 yang di treatment menggunakan dry ice dan non treatment pada sudut impak α = 60° yaitu 0,025 Joule, pada sudut impak α = 90° yaitu 0,009 Joule dan pada sudut impak α = 120° yaitu 18,0822 Joule masing-masing lebih besar dimiliki oleh spesimen non treatment pada suhu 28°C dibandingkan dengan yang di treatment menggunakan dry ice dengan suhu -20°C. Sehingga energi rata-rata yang diserap lebih banyak pada spesimen non treatment. Dapat disimpulkan bahwa temperatur berpengaruh terhadap ketangguhan spesimen baja St 60, semakin rendah temperatur maka keuletan dan ketangguhannya semakin berkurang pula. Besarnya sudut impak juga berpengaruh terhadap energi serap dan nilai impak spesimen baja St 60. Semakin besar sudut impak maka semakin besar pula nilai impak dan energi serapnya, sehingga semakin besar sudut impak maka semakin parah kerusakan yang ditimbulkan. Jenis perpatahan spesimen baja St 60 yang di treatment menggunakan dry ice yaitu perpatahan kristalin, sedangkan spesimen yang non treatment perpatahan berserat. Hal ini sesuai dengan fenomena ductile to brittle transition karena pengaruh suhu yang rendah (-20 0C)
