1,721,010 research outputs found

    Spray Characteristics at Preheating Temperatur of Diesel-Biodiesel-Gasoline Fuel Blend

    Full text link
    Technological developments in diesel engines require improvements to the fuel injection system to meet the criteria for economical, high-power and efficient combustion and meet environmental regulatory standards. One method that has a lot of interest is changing the characteristics of the fuel, with the aim of producing optimal combustion. Spray characteristics have a big role in determining the quality of combustion in diesel engines. A good spray can improve the quality of fuel atomization and the homogeneity of the air-fuel mixture in the combustion chamber so that it can produce good engine performance and low emissions. This study aims to determine the effect of a diesel-biodiesel (Calophyllum inophyllum)-gasoline blendandfuel heating on the spray characteristics. The research was conducted with variations in composition (B0, B100, B30, B30G5 and B30G10) and fuel heating (40, 60, 80, and 100 °C). Fuel injected atapressure of 17 MPa in to a pressure chamber of 3 bar. The spray formed was recorded with a high-speed camera of 480 fps (resolution 224x168 pixel). In B100 biodiesel, the highest viscosity and density cause high spray tip penetration, small spray angle, and high spray velocity. The addition of diesel oil, gasoline, and heating fuel reduces the viscosity and density so that the spray tip penetration decreases, the spray angle increases and the velocity of spray decreases

    Analisis Perbandingan Unjuk Kerja Domestic Refrigerator Dengan Separation Condenser Menggunakan Refrigerant Lpg Dan Refrigerant R-134a

    No full text
    Kebutuhan masyarakat tentang mesin pendingin mempengaruhi kehidupan modern, tidak hanya kualitasnya tetapi kenyamanan, ramah lingkungan dan efisiensi. Secara umum mesin pendingin dikelompokkan menjadi tiga kelompok industri, yaitu: Domestik, Komersial, Industrial. Kelompok domestik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, seperti: home refrigerator, freezer, air conditioner, type window dan type split. Sedangkan kelompok komersial untuk peralatannya sering digunakan di supermarket, seperti: reach-in freezer, service case, produce sale case, water cooler, beverage cooler dan truck refrigeration system. Kelompok industrial peralatannya meliputi :central air conditioner, packing plant, cold storage dan pabrik es (Sapto W. dan Syamsuri H., 2008). Penggunaan mesin pendingin di ruang lingkup rumah tangga seperti kulkas dan air conditioner, tentu menuntut akan efisiensi kerja yang bagus, murah, ramah lingkungan yang tidak mencemari lingkungan yang akan berdampak pada penipisan lapisan ozon karena penggunaan refrigerant jenis CFC (Cloro Flouro Carbon), HCFC (Hydro Cloro Fluoro Carbon), maupun jenis yang lainnya. Untuk memberikan efek yang baik bagi lingkungan mesin pendingin menggunakan refrigerant jenis hidrokarbon seperti : LPG (Liquefied Petroleum Gas), sedangkan untuk meningkatkan performa mesin pendingin, memvariasikan salah satu komponen mesin pendingin, yaitu kondensor. Tujuan penelitian kali ini adalah untuk mengetahui perbandingan penggunaan kondensor tipe separasi dengan kondensor standart menggunakan refrigerant LPG dan refrigerant R-134a terhadap unjuk kerja mesin pendingin. Penelitian tersebut, menggunakan metode eksperimental dengan komponen utama: kompresor, kondensor, pipa kapiler, evaporator. Dengan tambahan alat ukur, seperti: Flow meter, pressure gauge, thermoreader, thermocouple, timbangan dan manifold gauge. Termokopel akan dipasang pada 5 titik yang berbeda diantaranya: keluaran kompresor, keluaran kondensor, masukan evaporator, masukan kompresor, ruang evaporator. Waktu pengambilan data 180 menit dengan interval waktu 15 menit. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa penggunaan refrigerant LPG pada kondensor standart lebih bagus daripada menggunakan refrigerant R-134a, terbukti dapat menaikkan COP (Coefosien Of Performance) sebesar 6,34%. Sedangkan penggunaan kondensor separasi dapat meningkatkan dampak refrigerasi, kapasitas refrigerasi, pelepasan kalor dan rasio pelepasan kalor selama mesin pendingin beroperasi daripada menggunakan kondensor yang tipe standart

    Analisis Pengendalian Kualitas Cacat Produk Sarden Kaleng Kemasan 425 Gram Dengan Menggunakan Metode Six Sigma

    No full text
    Dunia usaha saat ini mengalami kemajuan yang semakin pesat, ditandai dengan banyaknya perusahaan yang bermunculan dengan berbagai macam usaha , bahkan dengan tipe usaha yang sejenis sehingga persaingan yang terjadi diantara pengusaha semakin ketat. Pada dasarnya setiap perusahaan didirikan untuk memenuhi sebagian kebutuhan dari konsumen, disamping itu juga untuk mendapatkan suatu kepuasaan dari konsumen. Dalam hal ini sebuah perusahaan dituntut untuk terus menjaga kualitas produknya supaya tingkat keberhasilan dari proses produksi dapat terpenuhi Ikan sarden merupakan ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai bentuk olahan. Jenis ikan sarden yang banyak terdapat di Indonesia adalah ikan lemuru (Sardinella sp.). Karena nama lemuru kurang dikenal di masyarakat, maka dipergunakanlah nama sarden yang juga merupakan nama genus dari ikan lemuru. (Rasyid,2003) Prinsip pengolahan ikan pada dasarnya bertujuan melindungi ikan dari pembusukan dan kerusakan. Selain itu juga untuk memperpanjang daya awet dan mendiversifikasikan produk olahan hasil perikanan . Adanya diversifikasi produk, maka dapat menambah nilai jual dari ikan itu sendiri dan memberi pilihan bagi konsumen dalam menikmati ikan yang dapat terdiri dari berbagai jenis olahan. Menurut Rasyid (2003), pada pengolahan ikan sarden terdapat beberapa cara yaitu dalam bentuk ikan kaleng, pindang, ikan asin dan tepung. Penelitian ini berupa analisis pengendalian cacat produk sarden kaleng kemasan 425 gram dengan menggunakan metode six sigma .Langkah-langkah yang digunakan yakni DMAIC (Define, measure, analys, improve, control), Metode ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan proses perusahaan dengan nilai DPMO (defects per million opportunities) sebesar 3,4. Berdasarkan hasil perhitungan dan pengolahan data diperoleh jumlah cacat sarden kaleng kemasan 425 gr yaitu cacat penyok sebesar 540 atau 14,67%, cacat kembung (sweels) sebesar 435 atau 11,81%, cacat Knocked down flange (KDF) sebesar 2707 atau 73,52%. Sehingga dapat diketahui cacat kaleng dominan yang ada di PT MAYA yaitu cacat knocked down flange (KDF). Berdasarkan perhitungan Six Sigma dan analisis diagram fishbone dapat diketahui faktor penyebab cacat dominan sarden kaleng knocked down flange (KDF) dibagi menjadi 5 faktor utama yang berpengaruh secara signifikan yaitu manusia, mesin, metode, material dan lingkungan. Dimana poin penting penelitian terletak pada faktor mesin yaitu mesin seamer. Sehingga dianalisis bahwa faktor mesin adalah faktor utama yang dapat menimbulkan cacat, yaitu seaming chuck tidak stabil, seaming roll aus, , putaran seaming roll di setiap kepala head tidak lancar.Seaming chuck tidak stabil, identifikasi tindakanya adalah melakukan pengecekan terhadap baut setelan seaming chuck setiap 1 jam sekali , untuk melihat kondisi baut apakah masih dalam tahap toleransi , dan sebaiknya melakukan penggantian baut penyetel Seaming chuck yang baru apabila drat pengunci sudah mulai aus. Seaming roll aus, Identifikasi tindakanya dengan melakukan perawatan dengan cara memoles dengan menggunakan cairan poles dan kain halus supaya seaming roll terlihat halus dan mengkilat. bilamana sudah dalam kondisi tidak memungkinkan untuk dilakukan perawatan maka harus dilakukan penggantian seaming roll dengan yang baru. Putaran seaming roll di setiap kepala head tidak lancar, identifikasi tindakanya adalah saat satu jam sekali mesin seamer dimatikan beberapa saat dan dilakukan pengecekan apakah putaran dari seaming roll lancar atau tidak, jika masih lancar maka dibiarkan terlebih dahulu untuk beberapa saat sampai waktu inspeksi selanjutnya , apabila masih kurang lancar maka dilakukan proses pelumasan seaming roll

    ANALISIS VARIASI DEBIT AIR DAN KETINGGIAN PENGISI CALCIBOARD TERHADAP EFEKTIVITAS COOLING TOWER FORCED DRAFT COUNTERFLOW

    No full text
    Ketinggian pengisi merupakan salah satu yang berpengaruh terhadap kinerja cooling tower. Dan jumlah debit air yang masuk juga salah satu yang berpengaruh terhadap kinerja cooling tower. Perpaduan antara kedua variasi tersebut diharapkan akan menghasilkan panas yang dibuang ke atsmosfir lebih banyak. Peningkatan debit air yang masuk ini dilakukan dengan mengatur kran yang sudah dihitung sebelumnya, sehingga kecepatan air masuk dapat diketahui. Bahan pengisi yang berfungsi untuk memecah aliran air yang jatuh dari nozzle menjadi butiran-butiran air,dengan maksud memperluas permukaan pendinginan. Bahan yang dipakai yaitu papan calciboard diharapkan bisa memaksimalkan pendinginan. Penelitian ini difokuskan tentang kinerja pendinginan cooling tower dengan variasi penambahan debit air pengaturan kran air dan posisi ketinggian pengisi. Variasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah debit air 6, 12 dan 18 liter/menit. Variasi ketinggian pengisi 50 cm, 100 cm, dan 150 cm. Dari hasil penelitian menunjukkan, kinerja cooling tower pada ketinggian 150 cm dan variasi debit 12 liter/menit mempunyai nilai efektivitas pendinginan sebesar 86,87%. Semakin tinggi pengisi maka efektivitas pendinginan akan semakin naik. Penambahan ketinggian pengisi calciboard mengakibatkan kenaikan kapasitas pendinginan sehingga pendinginannya maksimal. Kapasitas pendinginan tertinggi terjadi pada variasi debit 12 liter/menit dan ketinggian 150 cm dengan nilai sebesar 25,70 kJ/s

    Analisis Thermal Kolektor Pemanas Air Yang Dilengkapi Pcm Parafin – Mentega

    No full text
    Energi merupakan suatu kebutuhan yang penting dalam kehidupan manusia. Kebutuhan energi semakin meningkat dengan adanya kemajuan teknologi di dunia. Karena kebutuhan energi yang meningkat maka membuat usaha manusia untuk mengeksploitasi sumber energi tersebut juga meningkat. Mengingat terbatasnya persediaan sumber energi tersebut, manusia mulai memanfaatkan sumber energi lain seperti energi angin, energi air, ataupun energi matahari, dll. Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai jenis sumber daya energi dalam jumlah yang cukup melimpah. Letak Indonesia yang berada pada 60LU dan 110 LS daerah katulistiwa, maka wilayah Indonesia akan selalu disinari matahari selama 10 - 12 jam dalam sehari. Potensi sumber energi matahari di Indonesia sebagai sumber energi listrik alternatif sangat perlu dikembangkan mengingat, total intensitas penyinaran rata - rata 4,5 kWh per meter persegi perhari. Sejauh ini, salah satu pemanfaatan energi matahari yaitu untuk pemanas air. Pemanas air dengan menggunakan tenaga matahari atau lebih dikenal dengan Solar Water Heater (SWH) terus dikembangkan. Untuk dapat secara langsung memanfaatkan energi panas matahari untuk memanaskan air digunakan suatu perangkat yang dapat mengumpulkan energi matahari yang sampai ke permukaan bumi dan mengubahnya kembali menjadi energi kalor yang berguna. Perangkat ini disebut dengan kolektor surya. Namun, ada beberapa masalah dalam pemanfaatan energi surya adalah sifat radiasi surya yang intermiten, dan besarnya radiasi yang tersedia dipengaruhi oleh waktu, kondisi cuaca dan posisi lintang. Untuk pemecahan permasalahan tersebut, teknologi yang dianggap sangat cocok adalah penyimpanan energi termal (Thermal Energy Storage, TES) (Sharma dkk, 2009). Beberapa kajian dilakukan untuk pemanfaatan material penyimpan panas dari hidrat garam, parafin, dan senyawa organik (Abhat,1981). Parafin wax merupakan salah satu PCM yang memiliki sifat antara lain: densitas energinya cukup tinggi (~200 kJ/kg) dan konduktivitas termalnya rendah (~0,2 W/m.ºC) ,sifat termalnya stabil di bawah 500ºC, tidak berbahaya dan tidak reaktif (Nadjib dkk, 2015). Namun parafin memiliki konduktivitas termal yang rendah sehingga perlu waktu untuk proses peleburan dan pemadatan. yang mengurangi daya keseluruhan dari perangkat penyimpanan panas dan dengan demikian akan membatasi aplikasi (Buddhi D, 1977). Untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan kajian ulang penambahan material yang dapat meningkatkan panas laten parafin. Mentega merupakan salah satu material penyimpan energi termal dalam bentuk panas laten. Mentega memiliki panas spesifik sebesar 2300 J/kgK dengan kisaran temperatur diatas 400C dan konduktifitas termal 0,29 W/mK ( I.H. Tavman dan S. Tavman, 1999). Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan penambahan mentega pada PCM parafin dapat meningkatkan meningkatkan karakteristik PCM meliputi peningkatan panas spesifik PCM (Cp), densitas (ρ), viskositas (v), dan konduktifitas (k), yang bertujuan untuk meningkatkan laju perpindahan panas yang terdapat pada PCM di dalam kolektor surya. Peningkatan laju perpindahan panas pada kolektor akan meningkatkan kinerja kolektor dari segi energi berguna dan efisiensi kolektor. Energi berguna pada proses pemanasan yang paling besar terdapat pada pipa kolektor surya non PCM, hal ini terjadi karena radiasi langsung disalurkan oleh plat dan pipa absorber yang terbuat dari bahan tembaga langsung ke air. Untuk pipa yang dilengkapi PCM energi berguna terbesar didapat oleh PCM parafinmentega 20%. Kemudian PCM parafin-mentega 20% dan yang terendah PCM parafin 100%. Sedangkan pada proses pendinginan energi berguna terbesar terdapat pada PCM parafin 100%. Efisiensi kolektor surya terbaik terdapat pada kolektor surya yang tidak dilengkapi PCM yaitu sebesar 101,41 %. sedangkan kolektor surya dengan penambahan PCM campuran parafin-mentega 20%, 10% dan parafin murni adalah sebesar: 82,09%, 74,85 %, 62,78%. Meskipun memiliki efisiensi yang cukup tinggi kolektor surya tanpa dilengkapi PCM tidak bisa melepaskan panas pada saat proses pendinginan sehingga saat proses tersebut energi berguna pada kolektor surya tanpa PCM sangat kecil. Sedangkan pada kolektor surya yang dilengkapi PCM energi berguna yang dihasilkan pada saat proses pendinginan masih besar

    ANALISIS PARAMETER INJECTION MOLDING TERHADAP WAKTU SIKLUS DAN CACAT FLASH PRODUK TUTUP BOTOL 180 ML MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI

    No full text
    Kebutuhan dan konsumsi plastik di Indonesia masih cukup besar terutama pada industri makanan dan minuman, tercatat terdapat 892 industri kemasan plastik yang menghasilkan rigid packaging, flexible packaging thermoforming, dan extrusion dengan kapasitas yang dapat dihasilkan yaitu kurang lebih 23,5 juta ton per tahun dengan utilitas sebesar 70%, sehingga produksi rata-rata yang dilakukan oleh industri kemasan plastik yaitu sebesar 1,65 juta ton per tahun. Plastik memiliki sifat ringan, mudah dibentuk, anti karat, memiliki nilai ekonomis murah, dan beberapa jenis plastik dapat di daur ulang yang menjadikan plastik lebih dominan diminati baik dari pihak produsen maupun konsumen. Salah satu metode yang digunakan dalam proses pembuatan produk berbahan plastik pada industri kemasan plastik yaitu injection molding

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore