109 research outputs found

    STUDI TENTANG PENERAPAN PBK (PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA MTSN TALANGPADANG KABUPATEN TANGGAMUS – LAMPUNG (STUDI DESKRIPTIF PADA MATA PELAJARAN TIK)

    Full text link
    Agus Suprianto. 2009. Studi Tentang Penerapan PBK (Pembelajaran Berbasis Komputer) Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa MTsN Talangpadang Kab.Tanggamus –Lampung. (Studi Deskripsi Pada Mata Pelajaran TIK). Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia. Dari berbagai penelitian dan pengalaman mengajar seorang guru, bahwa pelaksanaan pembelajaran konvensional kerap terkendala pada penguasaan materi, pengelolaan kelas, minimnya media pembelajaran, serta sarana dan prasarana penunjang yang terbatas. Berdasarkan persoalan ini, Kehadiran teknologi berbasis komputer dapat menjadi alternatif untuk menjembatani pembelajaran yang lebih interaktif, efektif, kreatif, dan inovatif serta mampu memberikan stimulus bagi siswa terhadap pembelajaran. Kondisi ini tidak terlepas dari rumusan masalah yang telah dibuat yaitu: (1) Bagaimanakah perencanaan penerapan PBK untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. (2) Bagaimanakah penerapan PBK untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. (3) bagaimana faktor pendukung dan penghambat penerapan PBK untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penyajian dalam penulisan ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap objek, yaitu MTsN Talangpadang, Kabupaten Tanggamus – Lampung. Dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dapat disimpulkan bahwa: (1) Penerapan PBK memerlukan perencanaan yang baik untuk dilaksanakan di kelas, sehingga PBK sebagai media maupun sebagai proses benar-benar mampu memberikan manfaat terhadap guru maupun siswa sebagai peserta didiknya. (2) Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan, jelas dan menarik , interaktif, proses pembelajaran dilakukan kapan dan di mana saja, menumbuhkan sikap positif siswa, merubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. (3) Faktor pendukung dan penghambat implementasi PBK terletak pada sarana prasarana penunjang pembelajaran, dan kemampuan guru dalam mengelola menjalankan program PBK

    BACK MATTER (Author Guidelines, Acknowledgment)

    No full text
    BACK MATTER (Author Guidelines, Acknowledgment

    Optimasi Jenis Dan Kedalaman Pasak Pada Sistem Pentanahan Tegangan Listrik

    No full text
    penelitian tahanan kontak tanah telah dilakukan dengan menvariasikan kedalalan pasak dan elektroda arus yang diuji pada tiga jenis elektroda pantanahan

    Using the Process Approach to Improve the Ability of the Eleventh Graders of SMAN 1 Gurah Kediri in Reading Narrative Texts

    No full text
    ABSTRACT   Suprianto, Agus. 2014. Using the Process Approach to Improve the Ability of the Eleventh Graders of SMAN 1 Gurah Kediri in Reading Narrative Texts.Thesis. English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dra. Sri Andreni, M.Ed.   Keywords: process approach, reading, narrative text   The aim of this study was to improve the ability of the students of class XI IPS 2 of SMAN 1 Gurah Kediri in reading narrative texts. The reading ability was chosen as the focus of the study. This was because the results of the preliminary study showed that 97% of the students had problems in reading. Their reading average score in the preliminary was 67.02. Only 5.5% or 2 out of 36 students passed the standard minimum score of 78. According to the English teacher, this was due to the students’ limited vocabulary. In addition, the students had low motivation in reading. For these reasons, the researcher employed the process approach to improve the ability of the students of class XI IPS 2 of SMAN 1 Gurah Kediri in reading narrative texts.This approach was chosen because the previous studies showed that it was effective. This approach consists of five stages, namely pre-reading, reading, responding, exploring and applying (Tompkins, 2010). The study was a classroom action research that was conducted in two cycles, each of which consisted of four stages, namely planning the action, implementing the action, observing the action, and reflecting on the observation. There were two meetings in Cycle I and one meeting in Cycle II. The subjects were 36 students of class XI IPS2 of SMAN 1 Gurah Kediri. The instruments used to collect the data were interview guides, questionnaires, observation checklists, and field notes. The students’ reading scores were taken from reading exercises. Moreover, the research was successful when at least 50% of students reached the standard score of 78 and at least 50% of the students show good response toward the implementation of the process approach. This study gives two findings. First, in Cycle I, only 11% or 4 out of 36 students reached the minimum passing grade. This happened because the students easily got bored, were reluctant to read, and did not want to read the seriously. Also, some of the students misinterpreted the questions, so their answers did not match the questions. After the action was modified, by asking the students to work in groups and explaining the questions before giving the reading exercises, at the end of Cycle II, 89% or 32 out of 36 students achieved the minimum passing grade and the students were motivated to take part in the class activities. This proved that the process approach succesfully improved the students’ reading comprehension of narrative texts. There are some suggestions offered to the English teachers and future researchers if they want to implement this approach. The teacher should follow the five stages that are pre-reading, reading, responding, exploring, and applying. This process is used, however,  some of the activities at each stage may differ. The teacher may need to modify the activity to suit the atmosphere and the problems of the class. Future researchers who are interested in conducting similar studies are reccomended to focus not only on helping the students achieve the target score but also improve their motivation in reading

    RESISTIVITAS BAWAH PERMUKAAN LAHAN PERKEBUNAN TEBU DI KAWASAN PESISIR PANTAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KELISTRIKAN BUMI KONFIGURASI POLE-POLE

    No full text
    Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok yang penting untuk manusia. Kebutuhan gula nasional diperkirakan mencapai 5,7 juta ton yang terdiri dari 2,8 juta ton Gula Kristal Putih (GKP) dan 2,9 juta ton Gula Kristal Rafinsi (GKR). Guna meningkatkan produksi GKP yang bersumber dari petani perlu untuk melakukan evaluasi terkait kondisi pertanian tebu

    HUBUNGAN KADAR KREATININ SERUM DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIS DI RSD BALUNG JEMBER

    Full text link
    HUBUNGAN KADAR KREATININ SERUM DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIS DI RSD BALUNG JEMBER Agus Suprianto1 , Mohammad Ali Hamid2 , Ginanjar Sasmito Adi3 Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember 1. Mahasiswa Program S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jember 2. Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember 3. Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember Abstrak Menurunya fungsi ginjal pada penderita gagal ginjal kronis ditandai dengan adanya peningkatan kadar kreatinin serum. Peningkatan kadar kreatinin serum yang terus menerus akan berdampak terganggunya metabolisme sistem organ yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas fungsi tubuh yang berdampak pada berkurangnya kualitas hidup manusia. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan kadar kreatinin serum dengan kualitas hidup penderita gagal ginjal kronis di RSD Balung Jember. Metode dalam penelitian ini adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 45 responden menggunakan teknik sampling Purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Wordl Health Oranization Quality of Life (WHOQOL-Breef). Analisis yang digunakan adalah uji Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kreatini penderita gagal ginjal sebagian besar tinggi (62,2%) dan kualittas hidup penderita sebagian besar rendah (62,2%). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ada hubungan positif dengan tingkat korelasi sangat kuat antara hubungan kadar kreatinin serum dengan kualitas hidup penderita gagal ginjal kronis di RSD Balung Jember (p value = 0,001; r= 0,988). Diperlukan upaya untuk mengontrol kadar kreatinin bagi penderita gagal ginjal kronis seperti kepatuhan terhadap jadwal hemodialysis, kepatuhan terhadap diit sehingga apabila kontrol kreatinin terjaga maka penderita dapat mempertahankan kualitas hidupnya. Kata kunci : Kadar Kreatinin, Kualitas Hidup, Gagal Ginjal Kroni

    INTERPRESTASI DATA POTENSIAL DIRI (SP) UNTUK MENDETEKSI KEBOCORAN KOLAM PENAMPUNGAN AIR

    No full text
    Metode Potensial Diri(SP) dilakukan dengan mengukur potensial listrik di permukaan yang terjadi secara alam

    Aplikasi Metode Geolistrik Resistivity Untuk Mengamati Pipa Bawah Tanah.

    No full text
    Metode geolistrik resistivity dapat diaplikasikan untuk mendeteksi keberadaan pipa bawah tanah .Maka dari itu dilakukan penelitian untuk mendeteksi keberadaan pipa yang ditanam pada medium pasir.Penelitian ini dilaksanaan di laboratorium Geofisia FMIPA Unej.Penelitian ini mengunakan geolistrik konfigurasi wenner dan prinsip dari metode ini adalah arus listrik..1.Di Injeksikan ke dalam medium pasir melalui dua elektroda arus dan beda potensial

    Karakterisasi Gunung Api di Wilayah Tapal Kuda Berdasarkan Data Magnetik Satelit Menggunakan Analisis Power Spectrum

    No full text
    Gunung api termasuk gunung yang banyak dijumpai di daerah Indonesia karena berada di daerah cincin api pasifik (Ring of Fire). Ring of Fire adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung api yang mengelilingi cekungan Samudera Pasifik. Tapal Kuda merupakan sebuah nama wilayah di Provinsi Jawa Timur yang merupakan tempat persebaran gunung api aktif. Tapal Kuda dikelilingi oleh beberapa tiga pegunungan besar yaitu Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Pegunungan Iyang (puncak tertingginya Gunung Argopuro), dan Dataran Tinggi Ijen (puncak tertingginya Gunung Raung). Untuk mengetahui struktur geologi bawah permukaan yang ada di daerah gunung api dapat diidentifikasi dengan menggunakan metode magnetik. Metode magnetik adalah salah satu metode geofisika yang digunakan untuk mengukur variasi medan magnetik di bawah permukaan bumi karena adanya variasi distribusi benda termagnetisasi. Metode magnetik dapat digunakan sebagai metode pendugaan struktur bawah permukaan bumi. Interpretasi data mengenai struktur bawah permukaan bumi dapat diidentifikasi dengan analisis power spectrum yang digunakan untuk memperkirakan kedalaman sedimen. Setiap daerah bumi memiliki diskontinuitas kedalaman sedimen yang berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan karena adanya pergerakan antar lempeng tektonik yang menghasilkan gunung, untuk mengetahui kedalaman sedimen dapat menggunakan metode analisis power spectrum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan karakteristik kedalaman sedimen kuarter dan tersier berdasarkan data magnetik satelit WDMAM antara Gunung Lamongan dibandingkan gunung api di Wilayah Tapal Kuda menggunakan analisis power spectrum. Kajian dalam penelitian ini yaitu dimulai dengan menggunduh data anomali magnetik Wilayah Tapal Kuda dengan titik koordinat 7º35’- 8º40’ LS dan 113º0’-114º30’ BT pada situs http://wdmam.org. Kemudian data anomali magnetik dibuat peta kontur anomali magnetik pada software Surfer 13. Peta kontur anomali magnetik tersebut selanjutnya dilakukan koreksi ke kutub pada software magPick. Hasil peta kontur anomali magnetik yang telah direduksi ke kutub kemudian dilakukan overlay dengan peta topografi Wilayah Tapal Kuda. Hasil overlay kemudian dilakukan sayatan (slicing) penampang lintang. Setiap sayatan selanjutnya akan ditransformasikan ke dalam FFT menggunakan software Matlab 2015 yang kemudian akan menampilkan grafik diskontinuitas pada proses analisis power spectrum. Hasil dari penelitian ini yaitu nilai anomali magnetik yang diperoleh dari data WDMAM yaitu sebesar -340 nT sampai dengan 220 nT, namun hasil tersebut belum bisa diinterpretasi sehingga perlu dilakukan koreksi reduksi ke kutub. Nilai anomali magnetik setelah direduksi ke kutub sebesar -400 nT sampai dengan 550 nT. Nilai intensitas medan magnetik lebih rendah dari -50 nT diasumsikan sebagai batuan vulkanik yang telah mengalami pelapukan tinggi seperti batuan breksi yang sudah lapuk sedangkan nilai intensitas medan magnetik lebih besar dari 300 nT diasumsikan sebagai defleksi dari batuan beku atau batuan vulkanik. Gunung Lamongan memiliki nilai intensitas medan magnetik sebesar -50 nT sampai dengan 50 nT yang ditandai dengan warna hijau muda dan tua yang tersusun atas material lava, tuff halus lapili, lahar dan breksi gunung api. Proses sayatan (slicing) dilakukan sebanyak 24 sayatan dan didapatkan nilai diskontinuitas yang berbeda-beda. Gunung Lamongan merupakan gunung api yang memiliki usia lebih muda sehingga memiliki nilai diskontinuitas yang dangkal dibandingkan dengan gunung api di sekitarnya. Nilai rata-rata diskontinuitas dangkal sebesar 925 m yang diasumsikan sebagai kedalaman sedimen kuarter tersusun atas alluvial (batu pasir) dan diskontinuitas dalam sebesar 4658,3 m yang diasumsikan sebagai kedalaman sedimen tersier tersusun atas batuan beku dan basal. Sedangkan Gunung Raung-Ijen memiliki nilai diskontinuitas yang dalam dengan nilai diskontinuitas dangkal sebesar 943,9 m dan diskontinuitas dalam sebesar 11446 m. Hal tersebut diasumsikan Gunung Raung merupakan gunung api yang memiliki usia lebih tua dibandingkan dengan gunung api di sekitarnya sehingga gaya isostasi yang diberikan akan semakin besar, maka massa beban yang diberikan akan semakin berat dan diskontinuitas yang diberikan semakin dalam

    PENENTUAN KARAKTERISTIK FISIS TANAH PADA DAERAH RAWAN LONGSOR DENGAN MENGGUNAKAN RESISTIVITY SOUNDING KONFIGURASI SCHLUMBERGER (Studi Kasus di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember)

    No full text
    Bidang gelincir rawan longsor pada daerah penelitian ditemukan pada titik sounding 7 yang merupakan bidang miring yang mengarah ke jurang, memiliki nilai resistivitas sebesar 6,61 Ωm pada kedalaman sekitar 20,10 — 38,00 m, karena pada titik sounding ini ada sumber air pada kedalaman 30 meter, dengan nilai resistivitas sebesar 6,61 Ωm dapat ditentukan karakteristik fisis struktur lapisan bawah permukaannya menurut tabel Roy E. Hunt (1984), lapisan tanah bawah permukaannya berupa lempung lanauan dan lanauan basah lembek. Gabungan titik sounding 5, 6, 1, 7, 8 dan titik sounding 4 ,3, 2, 9 yang dihubungkan dengan titik sounding 3,6 seperti pada gambar (5.4) dapat dilihat bahwa resistivitas rendah ada pada permukaan sekitar 1,78 — 23,70 m dan juga ada pada kedalaman sekitar 31,60 — 56,20 m
    corecore