51 research outputs found
MEDIA AUDIO VISUAL DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN KOSA KATA BAHASA PADA ANAK USIA DINI
Children's language skills have an important role to be improved by learning to use audio-visual media in developing their language vocabulary skills because at the age of 4-5 years children should not be forced to read. The purpose of learning to use audio-visuals is to make it easier for children to recognize some words by seeing pictures on the screen, hearing sounds by playing fairy tale films so that children can increase their vocabulary, which is a little bit more. In this article the author uses a qualitative descriptive research method which is to analyze, describe, and summarize various conditions, situations from various data collected in the form of the results of interviews or observations about the problems studied that occurred in observations carried out on 13 children and interviews with group teachers. A. The data analysis was carried out by collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The results of this study describe the improvement of children's language skills in the learning process with the help of audio-visual media. This research is expected to be a good reference or reference to improve their language skills and also make it easier for children to recognize some letters by looking at pictures that can stimulate intellectually, socially, and emotionally according to their age level.Kemampuan bahasa anak memiliki peranan penting untuk ditingkatkandengan pembelajaran menggunakan media audio visual dalam mengembangkan kemampuan kosa kata bahasanya, dikarenakan pada usia 4-5 tahun anak tidak boleh dipaksakan untuk membaca. Tujuan  dari pembelajaran menggunakan audio visual untuk mempermudah anak mengenal beberapa kata dengan melihat gambar di layar,mendengar suara dengan memutar film dongeng agar anak dapat menambah pembendaharaan kata anak yang sedikit menjadi banyak. Dalam artikel ini penulis menggunakan metode penelitian deskriftif kualitatif yang dilakukan adalah menganalisis, menggambarkan, dan meringkas berbagai kondisi, situasi dari berbagai data yang dikumpulkan berupa hasil wawacara atau pengamatan mengenai masalah yang diteliti yang terjadi di observasi dilakukan terhadap 13 orang anak dan wawancara terhadap guru kelompok A. Analisis datanya dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini mendeskripsikan peningkatan kemampuan bahasa anak dalam proses pembelajaran dengan bantuan media audio visual.Penelitian ini diharapkan sebagai acuan atau referensi baik untuk meningkatakan kemampuan bahasanya juga mempermudah anak mengenal beberapa huruf  dengan melihat gambar juga dapat menstimulus intelektual, social dan emosional sesuai dengan tingkat usianya
PROSES PEMBELAJARAN BERBASIS METODE MONTESSORI DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA DINI (Penelitian Deskriptif Di PAUD Assya’idiyah Kab. Bandung Barat)
Pada penelitian ini, penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut: 1). Perencanaan pembelajaran, pengembangan dan proses kegiatan pembelajaran belum mengacu betul terhadap tahap-tahap perkembangan anak, 2). Keterampilan sosial belum tertampilkan secara optimal mengingat sarana dan prasarana yang menunjang pengembangan keterampilan sosial belum memadai, 3). Pembelajaran anak usia dini masih terfokus pada peningkatan kemampuan akademik (hapalan dan calistung), 4). Rasa egois pada diri anak masih tinggi disebabkan cakrawala sosial anak terbatas dirumah, peserta didik seringkali memikirkan diri sendiri. Kemudian penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana proses pembelajaran metode montessori terhadap keterampilan sosial anak?Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1). Rencana pembelajaran dengan metode montessori dalam upaya meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini dengan bermacam aktifitas di PAUD, 2). Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode montessori dalam mengembangkan keterampilan sosial anak usia dini, 3). Evaluasi proses pembelajaran dengan menggunakan metode montessori untuk meningkatkan keterampilan sosiak anak usia dini, 4). Untuk mengembangkan keterampilan sosial anak yang tertampilkan sebagai hasil pembelajaran dengan menggunakan metode montessori pada anak usia dini.Metode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk mengetahui seberapa besar proses pembelajaran peserta didik dengan menggunakan metode montessori dalam mengembangkan keterampilan sosial anak. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi terhadap sumber data, objek penelitian yaitu PAUD Assya’idiyah, Kecamatan. Cipongkor, Kabupaten. Bandung Barat.Dari hasil penganalisisan data di peroleh sebagai berikut: 1). Perencanaan pembelajaran di PAUD Assya’idiyah sesuai dengan metode Montessori dimulai dari penyambutan, apersepsi, kegiatan inti, istirahat dan kegiatan akhir, 2). Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode montessori mengacu pada beberapa aspek pendidikan yang merupakan prinsip metode montessori, yaitu aspek pentingnya kebebasan, aspek struktur dan keteraturan, aspek realistis dan alami, aspek keindahan dan nuansa dan aspek alat bermain montessori, 3). Evaluasi pembelajaran yang menggunakan metode montessori cukup efektif dalam mengembangkan keterampilan sosial anak, 4). Tertampilkan perilaku anak dari antusias belajar, hasil karya anak dan ketanggapan anak terhadap permasalahan pada kegiatan belajar.Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan penelitian dari hasil pengalaman belajar berkenaan dengan keunggulan pendekatan metode montessori adalah metode montessori ini cukup efektif digunakan pada pembelajaran anak usia dini karena mampu mengembangkan keterampilan sosial anak
PEMBELAJARAN BERHITUNG MELALUI MEDIA PERMAINAN ULAR TANGGA PADA ANAK USIA DINI
Learning to count is one of the important and useful abilities in everyday life, almost all activities cannot be separated from counting. One of the activities of learning to count is through the game of snakes and ladders. The use of snake and ladder game media in the learning process can create pleasant conditions for children. Snakes and ladders game techniques can be developed to assist children's mastery of developmental aspects, especially in the material for developing numeracy skills. The purpose of this study is to improve numeracy skills using the snake and ladder game media. In this study, researchers used a qualitative approach with descriptive methods carried out using field observation techniques and interviews with a study sample of 14 children. Data analysis uses data reduction, data display, and conclusions. The purpose of using this method is to get an overview of learning to count using the game of snakes and ladders for children aged 5-6 years. The results obtained are an increase in the achievement of children's development values in learning count between before and after doing activities using the snake and ladder game media. This can be seen at the end of the research activity, their development value has increased from underdeveloped (BB) until the end of the development value reaches very well developed (BSB), so it can be concluded that by learning to count using snake and ladder media children become more developedPembelajaran berhitung merupakan salah satu kemampuan penting dan berguna dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua aktivitas tidak terlepas dari berhitung. Salah satu kegiatan dari pembelajaran berhitung yakni melalui media permainan ular tangga. Penggunaan media permainan ular tangga dalam proses pembelajarannya dapat menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi anak. Teknik permainan ular tangga dapat dikembangkan untuk membantu penguasaan anak-anak terhadap aspek-aspek perkembangan khususnya pada materi pengembangan kemampuan berhitung. Tujuan dari Penelitian ini yaitu untuk meningkatkan kemampuan berhitung menggunakan media permainan ular tangga. Pada penelitian ini,peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan teknik observasi lapangan dan wawancara dengan sample penelitian sebanyak 14 anak. Analisis data menggunakan reduksi data, display data, dan kesimpulan. Tujuan menggunakan metode tersebut adalah untuk mendapatkan gambaran tentang pembelajaran berhitung dengan menggunakan media permainan ular tangga pada Anak Usia Dini. Hasil penelitan yang diperoleh yaitu adanya peningkatan pencapaian nilai perkembangan anak dalam pembelajaran berhitung antara sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan menggunakan media permainan ular tangga. Hal tersebut dapat dilihat pada kegiatan akhir penelitian, nilai perkembangan mereka meningkat mulai dari belum berkembang (BB) sampai akhir nilai perkembangannya mencapai berkembang sangat baik (BSB), sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa dengan pembelajaran berhitung dengan menggunakan media ular tangga anak menjadi lebih berkembang
PEMBELAJARAN SENI RUPA DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN MEWARNAI
Learning fine arts is one of the lessons that children like because this learning is easy and also in harmony with the potential feelings that exist in children. One of the activities of learning this art is coloring. Coloring is the activity of putting colors or dyes (crayons) on an image. Through coloring activities, it is hoped that children can develop their imagination so that their creative abilities will be more developed. Creativity or creativity that is owned by a person has a level according to the level of development. In this study, researchers used a qualitative approach with descriptive methods carried out using field observation techniques and interviews with a study sample of 15 children. Data analysis using data reduction, data display, and conclusions. The purpose of the researcher using this method is to get a picture of the development of children's creativity, especially in children aged 5-6 years through coloring activities. The results obtained were an increase in the achievement of children's development values in art learning between before and after coloring activities. This can be seen at the end of the research or the 6th meeting, their development value increased from starting to develop (MB) until finally, the value of their development reached very well (BSB). So that it can be concluded that through coloring activities, children's creativity becomes more developed.Pembelajaran seni rupa merupakan salah satu pembelajaran yangsangatdisukai oleh anak-anak, karena pembelajaran ini mudah dan jugaselarasdenganpotensi rasa yang ada dalamdirianak.Salah satu kegiatan dari pembelajaran seni ini adalah mewarnai.Mewarnai merupakan suatu kegiatan membubuhkan warna atau pewarna (krayon) pada suatu gambar.Melalui kegiatan mewarnai, diharapkan anak dapat mengembangkan imajinasinya, sehingga kemampuan kreativitasnya akan lebih berkembang. Kreativitasataudayacipta yang dimilikiseseorangmempunyaitingkatansesuaidengan tingkatperkembangannya.Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptifyang dilakukan dengan menggunakan teknik observasi lapangan dan wawancara dengan sampel penelitian sebanyak 15 oranganak.Analisis data menggunakanreduksi data, display data,dan kesimpulan.Tujuanpeneliti menggunakan metode tersebut adalah untuk mendapatkangambaran tentang perkembangankreativitasanakterutama pada anak usia 5-6 tahun melalui kegiatan mewarnai.Hasil penelitian yang diperoleh yaitu adanya peningkatanpencapaian nilai perkembangananak dalam pembelajaran seniantara sebelum dan sesudah melakukan kegiatan mewarnai. Hal tersebut terlihatpada akhir penelitian,nilai perkembangan mereka meningkat dari mulai berkembang (MB)sampai akhirnya nilai perkembangannyamencapaiberkembang sangat baik (BSB).Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa melalui kegiatan mewarnai kreativitas anak menjadi lebih berkembang
PEMBELAJARAN SAINS MELALUI PENDEKATAN EKSPLORASI LINGKUNGAN ALAM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA DINI
Children's cognitive abilities have an important role, which can be developed through learning science using an exploratory approach, where children can explore the surrounding environment to fulfill their very high curiosity, besides that researchers also see the environmental conditions around Adzikra Kindergarten which are quite supportive for doing science learning. In this study, researchers used a qualitative approach with descriptive methods carried out using field observation techniques with 15 students and interview techniques with group B teachers. The data analysis was done by collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The research objective that the researcher hopes is to get an overview of the data about the cognitive development of students. The research results obtained by the researcher were an increase in children's cognitive abilities at the end of the study, this was indicated by the sincerity and interest of students during the implementation of science learning activities. Seeing these results, it would be nice if educators use science learning as one of the lessons that must be developed and applied to students.Kemampuan kognitif anak pada kenyataannya memiliki peranan penting, yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan eksplorasi, dimana anak dapat melakukan penjelajahan terhadap keadaan lingkungan sekitar untuk memenuhi rasa keingintahuannya yang sangat tinggi, selain itu peneliti juga melihat kondisi lingkungan sekitar TK Adzikra cukup menunjang untuk melakukan pembelajaran sains. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriftif yang dilakukan dengan menggunakan teknik observasi lapangan terhadap 15 orang siswa dan teknik wawancara terhadap guru kelompok B. Analisis datanya dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Tujuan penelitian yang diharapkan peneliti yaitu mendapatkan gambaran data tentang pengembangan kognitif peserta didik. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti yaitu adanya peningkatan kemampuan kognitif anak pada hasil akhir penelitian, hal ini ditandai dengan adanya kesungguhan dan rasa tertarik peserta didik pada saat pelaksanaan kegiatan pembelajaran sains. Melihat hasil tersebut, maka alangkah baiknya jika para pendidik menggunakan pembelajaran sains sebagai salah satu pembelajaran yang harus dikembangkan dan diterapkan kepada peserta didik
PEMBELAJARAN HOLISTIK INTEGRATIF SEBAGAI PENDEKATAN PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI
Layanan pendidikan kepada anak usia dini merupakan dasar yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya hingga dewasa. Kemandirian anak perlu dikembangkan karena membantu anak dalam kreativitasnya untuk kehidupan masa depannya agar tidak tergantung pada orang lain. Banyak kasus kemandirian anak terjadi saat pembelajaran disekolah yang kemudian inkonsistensi saat di rumah seperti anak disekolah sudah dibiasakan membereskan mainannya sendiri, tapi ketika dirumah orangtua yang mengambil peran. Proses pembelajaran PAUD akan berjalan dengan baik jika ada kerjasam dari keluarga. Pembelajaran holistik integratif dapat diimplementasikan untuk membantu penguasaan anak-anak terhadap aspek-aspek perkembangan khususnya dalam meningkatkan kemandirian anak.Tujuan dari observasi yaitu untuk mengetahui bagaimana kemandirian anak dapat ditingkatkan melalui kegiatan pembela- jaran holistik integratif. Pada observasi yang dilakukan peneliti menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan dengan menggunakan observasi secara langsung dan melakukan wawancara langsung dengan sample observasi. Proses analisa data meliputi;Â akumulasi data, penyusutan data, kinerja data dan pengecekan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran holistik integratif di Kober Kadeudeuh dapat meningkatkan kemandirian anak, yaitu lebih percaya diri. Kajian ini ialah keberhasilan studi holistik integratif menambah kemandirian anak. Pengembangan pembelajaran untuk mencapai kesuksesan dalam penyelenggaraan PAUD holistik integratif.Educational services for early childhood are the basis that greatly influences the subsequent development of children into adulthood. Children's independence needs to be developed because it helps children in their creativity for future lives so they don't depend on others. Many cases of independence of children occur when learning at school which is then inconsistent when at home children at school are used to making their own toys, but when at home parents take the role. The PAUD learning process will run well if there is cooperation from the family. Integrative holistic can be implemented to help control children's aspects of development, especially in increasing children's independence. The purpose of the observation is to find out how children's independence can be increased through integrative holistic learning. In the observations made by researchers using a descriptive method with a qualitative approach which was carried out using direct observation and direct interviews with the observation sample. The data analysis process includes; data accumulation, differentiated data, performance data, and checking data. The results of the study indicate that holistic integrative learning activities in Kober Kadeudeuh can increase children's independence, which is more confident. This study succeeded in finding the success of integrative holistic studies in increasing children's independence. Development of learning to achieve success in the implementation of integrated holistic PAUD
PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN BALON UNTUK MENINGKATKAN RASA KEINGINTAHUAN ANAK TERHADAP SAINS DI KELOMPOK B
To explore the potential that exists in children, interesting ways are needed so that children are motivated, excited and interested in attending learning activities in class. The demand as a teacher is creative in creating stimulus learning models that make children not easily bored. One creative learning is learning science. Learning in children must be real, so that children are more interested and willing to follow learning in class. Balloons are synonymous with toys that are very attractive to children, just by looking at balloons children already look happy, especially if the child can play the balloon. The purpose of this study is the application of science learning with balloon media could be an alternative to satisfy the curiosity of early childhood. Research learning activities using the balloon media curiosity of children increased significantly, this is marked by the number of questions or increased the courage of children to ask the teacher. The method used is quasi-experimental, with the treatment of the control class and the experimental class. After researching the results of the pre-test of children's curiosity in science 13.36 and after the treatment was carried out using a balloon media (post-test) the results were 18.36 so that conclusions can be drawn from the data which is quite significant increase of 5 .00. So the conclusion is that the use of science media is quite effective in increasing children's curiosity about science.Untuk menggali potensi yang ada pada anak, di perlukan cara-cara yang menarik agar anak termotivasi, semangat dan tertarik untuk mengikuti kegiatan belajar di kelas. Tuntutan sebagai seorang guru yaitu kreatif dalam membuat stimulus model pembelajaran yang membuat anak tidak mudah jenuh. Salah satu pembelajaran yang kreatif adalah pembelajaran sains. Pembelajaran pada anak harus nyata, agar anak lebih tertarik dan mau mengikuti pembelajaran di kelas. Balon adalah identik dengan mainan yang sangat diminati anak, dengan melihat balon saja anak sudah terlihat bahagia, apalagi kalau anak sampai bisa memainkan balon tersebut. Tujuan penelitian ini adalah penerapan pembelajaran sains dengan media balon bisa jadi salah satu alternatif untuk memenuhi rasa keingintahuan anak usia dini. Penelitian kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media balon rasa keingintahuan anak meningkat cukup signifikan, hal ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan atau meningkat keberanian anak untuk bertanya pada guru. Metode yang digunakan yaitu kuasi eksperimen, dengan perlakuan kelas kontrol dan kelas ekperimen. Setelah dilakukan penelitian hasil pre-test rasa keingintahuan anak pada sains 13,36 dan setelah diadakan perlakuan (treatment) dengan menggunakan media balon (post-test) hasilnya adalah 18,36 jadi dapat ditarik kesimpulan dari data tersebut terjadi kenaikan yang cukup signifikan yaitu 5,00. Jadi kesimpulannya adalah bahwa penggunaan media sains cukup efektif dalam meningkatkan rasa keingintahuan anak terhadap sains. Â
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MINAT BERHITUNG MELALUI PERMAINAN SONDAH MODIFIKASI
This study purpose of was to determine the effectiveness of modification play methods in improving numeracy skills in early childhood. The research method used is a quasi-experimental method using a non-equivalent control group design that is using two classes. Data collection techniques in this study used observation, interviews and documentation studies. The data analysis is done by using descriptive data for qualitative data, and using statistics for quantitative data. Based on the normality and homogeneity test, pretest and posttest data are normally distributed and the variance is homogeneous because all the significance is greater than 0.05. The data of this study have a 0.02 2-tailed significance value which means less than 0.05, so the data has a significant difference in the ability to recognize the concept of numbers between experimental classes given the modification method and the control class given the conventional method. The normalized gain test calculation shows that the N-Gain Score for the experimental class of 78.3% belongs to the very effective category. While the N-Gain Score of the control class was 52.9%, included in the less effective category.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas metode bermain sondah modifikasi dalam meningkatkan kemampuan berhitung  pada anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode metode quasi eksperimen dengan menggunakan desain kelompok kontrol non ekuivalen yaitu menggunakan dua kelas. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Berdasarkan uji normalitas dan homogenitas, kedua data menunjukkan kenormalan dan variansnya homogen karena semua signifikasinya lebih besar dari 0,05. Data penelitian ini memiliki nilai signifikasi 2-tailed  0,02 yang artinya kurang dari 0.05, maka data tersebut memiliki perbedaan yang  cukup signifikan pada kemampuan minat berrhitung antara kelas eksperimen yang diberi metode sondah modifikasi dan kelas kontrol yang diberi metode konvensional. Perhitungan uji gain ternormalisasi menunjukkan bahwa N-Gain Score untuk kelas eksperimen sebesar 78,3% termasuk ke dalam kategori sangat efektif. Sementara N-Gain Score kelas control sebesar 52,9% termasuk ke dalam kategori kurang efektif
PENERAPAN METODE HYPNOTEACHING UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI
Independence is a behavior that must be instilled in children from an early age so that in the future they are ready to face change in the world that occurs at any time. Observations made in group B1 (banana class) in Kober al-jihad showed that there were still some children aged 5-6 years who were less independent, therefore researchers researched to develop the character of early childhood independence using the hypnoteaching method. Concrete, unique, and highly imaginative children’s characters are deemed suitable with the hypnoteaching method which prioritizes interest and comfort for children to reach the child’s subconscious. This study uses a qualitative descriptive with research subjects consisted of 5 boys and 5 girls than data collection techniques using observation, interviews, and documentation. The data analysis used refers to the Miler and Huberman model which consists of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. This research was conducted in the even semester of the 2019-2020 school year. The results of observations show the development at each meeting because without realizing the suggestions given by the teacher have been embedded in the child’s subconscious, which shows that the hypnoteaching method can be used to develop the character of children’s independence. Kemandirian merupakan perilaku yang harus di tanamkan sejak dini pada anak agar di masa depan anak siap menghadapi perubahan pada dunia yang terjadi di setiap waktu. Observasi yang di lakukan pada kelompok B1 (banana class) di Kober Al-Jihad menunjukan masih ada beberapa anak usia 5-6 tahun yang kurang mandiri, karena itu peneliti melakukan penelitian untuk mengembangkan karakter kemandirian anak usia dini menggunakan metode hypnoteaching. Karakter anak yang konkrit, unik dan berdaya imajinasi tinggi dirasa cocok dengan metode hypnoteachingyang mengutamakan ketertarikan dan kenyamanan terhadap anak untuk mencapai alam bawah sadar anak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian terdiri dari 5 anak laki-laki dan 5 anak perempuan serta teknik pengumpulan datanya berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang di gunakan mengacu pada modelMiler dan Hubermanyang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini di lakukan pada semester genap tahun ajaran 2019-2020. Hasil observasi menunjukan perkembangan di setiap pertemuannya karena tanpa sadar sugesti yang di berikan guru telah tertanam di alam bawah sadar anak yang menunjukan bahwa metode hypnoteachingdapat di gunakan untuk mengembangkan karakter kemandirian anak
Peran Guru Dalam Mengembangkan Kemampuan Minat Baca Anak Usia Dini Melalui Metode Read Aloud
Belum muncul dan belum berkembangnya minat baca anak dan cenderung lebih tertarik terhadap mainan didalam kelas, serta belum ada pembiasaan pengembangan minat baca oleh guru yang bersangkutan menjadi salah satu pe rmasalahan. Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mendeskripsikan perencanaan guru dalam mengembangkan minat baca anak usia dini melalui metode read aloud, 2) Untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan guru dalam mengembangkan minat baca anak usia dini melalui metode read aloud, 3) Untuk mendeskripsikan evaluasi guru dan hasil yang dicapai dalam mengembangkan minat baca anak usia dini melalui metode read aloud. Metode yang digunakan untuk penelitian adalah kualitatif dengan metoda deskriptif. Hasil penelitian diperoleh data mengenai : 1) langkah – langkah perencanaan guru dalam mengembangkan minat baca anak melalui metode read aloud, yaitu: pemilihan tujuan pembelajaran, tema dan subtema yang sesuai dengan rencana program semester, penentuan kegiatan belajar yang sesuai dengan aspek perkembangan anak seperti: nilai agama dan moral, sosial emosional, bahasa, kognitif, fisik motorik dan seni, 2) Proses pelaksanaan guru dalam mengembangkan kemampuan minat baca anak usia dini melalui metode read aloud di kelompok B Kober Misykatul Anwar, yaitu: pelaksanaan pembelajaran yang dengan RPPH, penataan lingkungan main yang sudah sesuai dengan tema dan tujuan pembelajaran minat baca menggunakan metode read aloud, 3) evaluasi dan penilaian pengembangan minat baca anak adalah sebagai berikut: guru sudah melakukan penilaian berdasarkan minat belajar, minat membaca, konsentrasi dan kemampuan menyimak, guru mendokumentasikan proses penilaian dengan cara mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan mendisplay kejadian-kejadian selama proses kegiatan berlangsung, teknik penilaian menggunakan observasi dan running record.
- …
