31 research outputs found
Penambahan Selenium Organik Terhadap Kinerja Pertumbuhan Dan Status Kesehatan Ikan Lele Clarias Sp.
Ikan lele Clarias sp merupakan salah satu jenis ikan air tawar cukup menjanjikan untuk dibudidayakan, karena kebutuhan konsumsi ikan yang meningkat setiap tahunnya. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan melakukan intensifikasi budidaya. Intensifikasi budiaya ikan berkorelasi dengan kebutuhan pakan, karena pakan merupakan komponen biaya terbesar dari total biaya produksi. Peningkatan efisiensi pakan dalam rangka menekan biaya produksi dapat dilakukan dengan penambahan selenium organik. Selenium organik ditemukan menjadi bagian integral dari enzim antioksidan yakni glutation peroksidase yang dapat menghancurkan peroksida-peroksida yang terbentuk, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan dan status kesehatan ikan Clarias sp.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan selenium organik terhadap kinerja pertumbuhan dan status kesehatan ikan lele. Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan yaitu dengan dosis 0, 1, 4 dan 8 g Se/kg pakan dengan kadar selenium pakan 0,30, 0,79, 2,26, dan 5,79 mg Se/kg. Ikan uji yang digunakan dengan bobot rata‒rata 5,97+0,06 g dipelihara dalam 12 bak beton bervolume 300 liter dengan kepadatan 150 ekor per bak selama 56 hari. Ikan diberi pakan 3% dari bobot tubuh sebanyak 3 kali sehari pada pukul 07.00, 14.00 dan 20.00 WIB. Parameter yang diamati terdiri dari biomassa ikan, laju pertumbuhan spesifik, tingkat kelangsungan hidup, jumlah konsumsi pakan, efisiensi pakan, retensi protein, retensi lemak, retensi selenium, dan keragaman ukuran ikan. Parameter biokimia darah terdiri dari kolesterol, trigliserida, HDL‒kolesterol dan LDL‒kolesterol, kadar selenium darah, prorein darah dan glukosa darah, serta parameter kesehatan seperti jumlah sel darah merah, jumlah sel darah putih, kadar hematokrit dan kadar hemoglobin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan selenium organik sebanyak 4 g Se/kg pakan dengan kadar selenium pakan 2,26 mg Se/kg pakan adalah perlakuan terbaik dengan total biomassa akhir 2569,7 g, efisiensi pakan 69,9%, retensi protein 34,8%, retensi lemak 63,9%, retensi selenium 28,6%, kadar glukosa darah 88 mg/dL, kadar hemoglobin 7,93 g%, dan jumlah sel darah putih 1,60 sel/mm3×105. Parameter yang memberikan hasil yang berbeda nyata adalah parameter kadar selenium darah (0,63 mg/kg) dan kadar protein darah (14,67%) pada perlakuan penambahan selenium organik pada pakan dengan dosis 8 g Se/kg pakan dengan kadar selenium pakan 5,79 mg Se/kg pakan. Parameter yang tidak berbeda nyata adalah laju pertumbuhan spesifik, tingkat kelangsungan hidup, total kolesterol, trigliserida, HDL‒kolesterol dan LDL‒kolesterol, jumlah sel darah merah dan kadar hematokrit. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penambahan selenium organik pada pakan sebanyak 4 g Se/kg pakan dengan kadar selenium pakan 2,26 mg Se/kg merupakan perlakuan terbaik yang dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan dan status kesehatan ikan lele Clarias sp
Evaluasi Tepung Bungkil Biji Karet Hevea brasiliensis yang Dihidrolisis Cairan Rumen Domba sebagai Pengganti Bungkil Kedelai dalam Pakan Ikan Patin Pangasius sp.
Penelitian ini mengevaluasi penggunaan tepung bungkil biji karet (TBBK) yang dihidrolisis menggunakan cairan rumen domba sebagai pengganti tepung bungkil kedelai terhadap pertumbuhan ikan patin Pangasius sp. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari dengan pemberian lima jenis pakan berbeda sesuai dengan tingkat subtitusi tepung bungkil karet dengan tepung bungkil kedelai. Pakan A, semua protein nabati berasal dari bungkil kedelai. Pakan B, C, D dan E penggantian tepung bungkil kedelai terhadap TBBK pada persentase 12%, 23%, 34% dan 44%. Pemberian pakan dilakukan selama tiga kali sehari secara at satiation. Performa pertumbuhan dan jumlah konsumsi pakan dengan TBBK 0% adalah yang terbaik. Retensi protein tertinggi ditunjukkan pada TBBK 23% dan retensi lemak tertinggi pada TBBK 12%. Peningkatan TBBK lebih dari 0% mengakibatkan penurunan performa pertumbuhan
Evaluasi Perbedaan Lama Waktu Pengukusan Bahan Baku Pakan terhadap Tingkat Kecernaan dan Pertumbuhan Ikan Nila Oreochromis niloticus.
Pakan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam kegiatan
akuakultur. Terdapat dua macam metode pembuatan pakan yang dapat digunakan,
yaitu metode ekstrusi yang menghasilkan pakan terapung dan metode compression
yang menghasilkan pakan tenggelam. Pada umumnya, pakan terapung dinilai lebih
baik dibandingkan dengan pakan tenggelam. Namun, proses ekstrusi yang terjadi
mengakibatkan tingginya biaya produksi pakan sehingga harga pakan lebih mahal
dibandingkan dengan pakan tenggelam. Maka diperlukan metode pembuatan pakan
yang sederhana dan menghasilkan pakan yang berkualitas.
Pengukusan merupakan proses pemasakan bahan baku yang memanfaatkan
uap air yang dihasilkan dari air yang mendidih dan dapat dilakukan sebelum proses
pencetakan pakan. Panas yang terkandung dalam uap digunakan untuk gelatinasi
pati sehingga pakan menjadi lebih kompak. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui lama waktu pengukusan bahan baku pakan ikan nila yang paling
optimum sehingga dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan dan pengaruhnya
terhadap pertumbuhan ikan.
Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila dengan bobot rata-rata 10.37±0.07
g dan ditebar dengan kepadatan 10 ekor per akuarium. Ikan dipelihara selama 60
hari dalam akuarium berukuran 100 x 45 x 40 cm3 dengan sistem resirkulasi.
Penelitian ini terdiri dari enam perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang
digunakan adalah A (pengukusan bahan baku selama 0 menit), B (pengukusan
bahan baku selama 5 menit), C (pengukusan bahan baku selama 10 menit), D
(pengukusan bahan baku selama 20 menit), E (pengukusan bahan baku selama 40
menit), F (pakan pembanding (terapung komersil dengan kadar protein dan ukuran
yang sama)). Ikan diberi pakan tiga kali dalam sehari, yaitu pukul 08.00, 12.00 dan
16.00 WIB. Uji kecernaan dilakukan pada hari ke-46 sampai ke-60 masa
pemeliharaan dengan cara ikan diberi pakan yang mengandung Cr2O3.
Parameter uji yang diamati yaitu adalah biomassa ikan, laju pertumbuhan
harian (LPH), jumlah konsumsi pakan (JKP), tingkat kelangsungan hidup (TKH),
efesiensi pakan (EP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), retensi energi (RL),
kecernaan protein (KP), kecernaan total (KT), aktivitas enzim (amilase, lipase,
protease), kandungan eritrosit dan leukosit, kadar glukosa darah, kandungan
amilosa, kandungan amilopektin, kandungan pati, pellet durability index.
Hasil menunjukan bahwa pengukusan dapat meningkatkan nilai pellet
durability index dan meningkatkan kadar amilosa dalam pakan. Nilai kecernaan
protein tertinggi terdapat pada perlakuan E (40 menit) yaitu 60.26±2.85% dan lebih
rendah apabila dibandingkan dengan pakan pembanding yaitu 67.5±1.59%. Nilai
kecernaan protein terbaik terdapat pada pakan yang dikukus selama 40 menit dan
menunjukan nilai yang tidak bebeda nyata (P>0.05) dengan pakan pembanding
yang dibuat dengan metode ekstrusi, yaitu 90.62±1.11% dan 90.53±1.18%.
Perlakuan pengukusan bahan baku pakan juga memberikan pengaruh yang berbeda
nyata (P<0.05) terhadap parameter biomassa akhir (Wt), laju pertumbuhan harian
(LPH), feed conversion ratio (FCR), efesiensi pakan (EP), jumlah konsumsi pakan
(JKP), retensi energi (RE), retensi lemak (RL), retensi protein (RP). Lama waktu
pengukusan bahan baku pakan selama 40 menit juga menunjukan hasil yang lebih
baik dibandingkan pakan komersil pada parameter kecernaan total, laju
pertumbuhan harian, dan nilai efesiensi pakan
KARAKTERISASI PROTEIN ANTIOKSIDAN BIJI MELINJO (Gnetum gnemon L.) SEBAGAI BAHAN NUTRACEUTICAL PADA FASE GENERATIF
Tanaman melinjo (Gnetum gnemon L.) menjadi salah satu tanaman favorit di Indonesia karena bijinya yang dapat diolah menjadi kerupuk ataupun emping. Biji melinjo yang memiliki kandungan bioaktif protein tinggi (9-10) % yang diyakini memiliki potensi untuk dapat dikembangkan sebagai bahan dasar nutraceutical komersial yang berbasis protein. Biji melinjo memiliki beberapa tahap fase perkembangan mulai dari biji muda hingga biji berwarna merah yang dapat dibedakan dengan cara menggunakan kulit luar (eksokarp). Tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh informasi mengenai penentuan masa panen yang tepat untuk menghasilkan bioaktif protein tinggi yang digunakan sebagai bahan dasar suplemen (nutraceutical) komersial.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Jember pada bulan Agustus 2016 hingga Maret 2017. Penelitian ini menggunakan sampel melinjo berdasarkan fase generatif yakni bunga (strobilus) jantan dan betina, biji muda, biji berwarna hijau, hijau kekuningan, kuning kehijauan, kuning, kuning kemerahan, dan merah dengan mengukur kandungan total protein terlarut, aktivitas antioksidan dengan metode ABTS, elektroforesis SDS-PAGE, dan fraksinasi menggunakan FPLC.
Hasil penelitian menunjukkan total kandungan protein terlarut tertinggi sebesar 6,32 mg/g pada fase hijau. Pengujian aktivitas peredaman menggunakan metode ABTS dengan nilai persen peredaman tertinggi sebesar 66,5 % pada fase hijau. Pengukuran pola pita protein dengan tiga pola dengan berat molekul berbeda ±65 kDa, ±30 kDa, dan ±14 kDa. Hasil pengukuran fraksninasi biji melinjo fase hijau menggunakan FPLC diperoleh fraksi tertinggi pada fraksi keempat, kemudian hasil fraksinasi dianalisis menggunakan metode ABTS untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan hasil menunjukkan persen aktivitas sebesar 44,0 % pada fraksi keempat
Network Security Using Honeypot and Attack Detection with Android Application
Network security is now increasingly needed in the era of the industrial revolution 4.0. As technology grows, cybercrimes are becoming more and more common, including attacks on a resource. At this time, honeypots are also widely used by large industries for network security, besides that honeypots are also useful for them in developing intrusion and preventing systems. Honeypots are usually used in a virtual environment, they will stimulate a fake system to capture data packets on the network and be analysed offline later for all threats and attacks.
This propose of this paper is to detect and prevent building attacks from computer network attackers using an android application. This application can monitor an attack on the server by installing a honeypot tool into the server as an attack detector, then the honeypot log is used as a Rest API using Django framework with MongoDB database. this application can find out if there is an attack on the server, and can block the attacker's IP address
Towards a Resilient Server with an external VMI in the Virtualization Environment
Currently, cloud computing technology is implemented by many industries in the world. This technology is very promising due to many companies only need to provide relatively smaller capital for their IT infrastructure. Virtualization is the core of cloud computing technology. Virtualization allows one physical machine to runs multiple operating systems. As a result, they do not need a lot of physical infrastructures (servers). However, the existence of virtualization could not guarantee that system failures in the guest operating system can be avoided. In this paper, we discuss the monitoring of hangs in the guest operating system in a virtualized environment without installing a monitoring agent in the guest operating system. There are a number of forensic applications that are useful for analyzing memory, CPU, and I/O, and one of it is called as LibVMI. Drakvuf, black-box binary analysis system, utilizes LibVMI to secure the guest OS. We use the LibVMI library through Drakvuf plugins to monitor processes running on the guest operating system. Therefore, we create a new plugin to Drakvuf to detect Hangs on the guest operating system running on the Xen Hypervisor. The experiment reveals that our application is able to monitor the guest operating system in real-time. However, Extended Page Table (EPT) violations occur during the monitoring process. Consequently, we need to activate the altp2m feature on Xen Hypervisor to by minimizing EPT violations
KOMUNIKASI EMPATHY DOKTER PASIEN DALAM COPING STRATEGY PADA WANITA PENDERITA KANKER
Doctor-patient empathy communication is an important part of building a relationship between doctor and patient. It is often encountered in everyday life that there is bad communication between doctors and patients. Positive doctor-patient empathy communication will make it easier for doctors to help the process of treating a patient. This study was to examine the effect of doctor-patient empathy communication on the quality of life of patients using coping strategies as a moderating variable. This study aims to determine the effect of doctor empathy communication on the quality of coping strategies for female patients with cancer and to determine the effect of the quality of coping strategies on the quality of life (well being) of female patients with cancer.
This research involved women with cancer who are members of the community from several communities who are being assisted by several foundations engaged in services for cancer patients in Indonesia, especially in Central Java Province. This research is an explanatory research with a causal approach. To analyze the data obtained from the results of this study, the author uses SEM AMOS analysis tools.
The results of empirical testing from research that has been done, produce two conclusions, namely good empathy communication will be able to explain the increase in coping strategies undertaken by female patients with cancer. This means that if the communication between doctors and patients is based on empathy, it will have an impact on ability, and good coping strategies carried out by patients will be able to improve the quality of life of female patients with cancer in living their lives independently, that is, positive coping strategies built by the patient has an impact on the quality of life (well being) of the patient to live his future life independently, happily and full of confidenc
Evaluation of incubated defatted rubber seed meal with sheep rumen liquor for Pangasius diet
ABSTRACT
The research evaluated the use of rubber seed meal (Hevea brasiliensis; RBS) incubated with sheep rumen liquor as a subtitution of soybean meal in catfish Pangasionodon sp. diet. The fish was cultured for 40 days and fed with the experimental diet containing RBS at five different diet compositions regarding to soybean meal substitution level, i.e. 0% (control), 12%, 23%, 34%, and 44%. Feeding was done three times a day to satiation. No significant different was found on fish-protein retention and survival rate in all treatments. Based on the study result, the use of rubber-seed meal (Hevea brasiliensis; RBS) incubated with sheep rumen liquor could substitute soybean meal in catfish Pangasionodon sp. diet.
Keywords: Hevea brasiliensis, Pangasionodon sp., catfish, sheep rumen liquor, rubber seed meal
ABSTRAK
Penelitian ini mengevaluasi penggunaan tepung bungkil biji karet (Hevea brasiliensis; TBBK) yang diinkubasi dengan cairan rumen domba sebagai pengganti tepung bungkil kedelai pada pakan ikan patin Pangasionodon sp. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari dengan pemberian lima komposisi pakan berbeda sesuai tingkat substitusi tepung bungkil kedelai oleh tepung bungkil karet. TBBK yang ditambahkan untuk mengganti bungkil kedelai adalah sebesar 0%, 12%, 23%, 34% dan 44%. Pemberian pakan dilakukan selama tiga kali sehari secara at satiation. Tidak ditemukan perbedaan signifikan (P>0,05) pada nilai retensi protein dalam tubuh dan kelangsungan hidup ikan uji pada semua perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tepung bungkil biji karet yang diinkubasi dengan cairan rumen domba dapat digunakan sebagai pengganti bungkil kedelai pada pakan ikan patin Pangasionodon sp.
Kata kunci: Hevea brasiliensis, Pangasionodon sp., patin, rumen domba, tepung biji karet
