1,721,077 research outputs found
Pengaruh Internal Cash Flow, Sales Growth Dan Firm Size Terhadap Capital Expenditure Pada Perusahaan Telekomunikasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2021
AGUS HERMAWAN, NIM: 1908205040, “Pengaruh Internal Cash Flow, Sales Growth Dan Firm Size Terhadap Capital Expenditure Pada Perusahaan Telekomunikasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2021”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parsial internal cash
flow, sales growth, dan firm size terhadap capital expenditure, dan untuk
mengetahui pengaruh simultan ınternal cash flow, sales growth, dan firm size
terhadap capital expenditure.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif serta teknik pengumpulan
data melalui studi dokumentasi dengan mengambil data sekunder berupa laporan
keuangan perusahaan yang telah dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia. Populasi
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perusahaan sektor telekomunikasi yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. Sampel yang digunakan
sebanyak 14 perusahaan dengan digunakan metode purposive sampling sebagai
penentu. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi data panel
dengan bantuan pengolahan data menggunakan aplikan Eviews 12.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa secara parsial Internal cash flow
berpengaruh secara signifikan terhadap Capital expenditure, dan Sales Growth
berpengaruh secara signifikan terhadap Capital Expenditure sedangkan Firm Size
tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Capital Expenditure. Serta
secara simultan Internal Cash Flow, Sales Growth dan Firm Size memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap Capital Expenditure. Sementara untuk nilai
Adjusted R Square sebesar 0,6048 yang berarti kemampuan variabel independen
dalam memengaruhi variasi variabel dependen adalah sebesar 60,48%.
Kata kunci: Internal Cash Flow, Sales Growth, Firm Size, dan Capital
Expenditur
Tinjauan Kriminologi Terhadap Pelaku Tindak Pidana Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik Melalui Media Sosial (Studi Polrestabes Medan)
Indonesia termasuk adalah pengguna media sosial terbanyak ketika Tercemarnya atau rusaknya nama baik seseorang secara hakiki hanya dapat dinilai oleh orang yang bersangkutan. Dengan kata lain, korbanlah yang dapat menilai secara subjektif tentang konten atau bagian nama dari informasi atau dokumen elektronik yang ia rasa telah menyerang kehormatan atau nama baiknya. Kontribusi memberikan perlindungan terhadap harkat dan martabat seseorang sebagai salah satu hak asasi manusia. Oleh karena itu, perlindungan hukum diberikan kepada korban, dan bukan kepada orang lain. Tujuan penelitian ini pula untuk mengetahui modus penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media sosial dan untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media sosial serta untuk mengetahui cara pencegahan penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media sosial. Penelitian ini adalah penelitian yuridis empiris dengan pendekatan sosiologis yang diambil dari data primer dengan melakukan wawancara dan data sekunder dengan mengolah data dari bahan hukum primer, sekunder dan bahan hukum tersier. Berdasarkan hasil dari penelitian dapat dipahami bahwa modus penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media social itu banyak jenis dan polanya berupa memposting berita pribadi seseorang atau keburukan seseorang, membuat akun palsu hingga hasutan agar terjadinya konflik tersebut baik secara disengaja maupun tidak disengaja, lalu faktor penyebab terjadinya penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media social pula banyak faktor maupun sebab musababnya dari kurangnya minat membaca masyarakat maupun masyarakat yang kurang cerdas memahami kegunaan media sosial untuk hal positif serta masyarakat yang kurang mengerti isi aturan tersebut sehingga masyarakat sulit mengkontrol ruang lingkup tata bahasa yang digunakan, lalu cara pencegahan penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media social dengan cara pemerintah bekerja sama dengan semua aparat yang ada mengoptimalkan pemaparan suatu aturan agar dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk saling menjaga keharmonisan antar masyarakat, ketika ada berita tidak betul saling memfilter, ketika ada berita yang tidak sedap saling mengklarifikasi, begitu pula yang diajarkan dalam Isla
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DALAM MEMPROMOSIKAN OBJEK WISATA JOGJA EXOTARIUM
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi pemasaran Jogja Exotarium dalam mempromosikan objek wisatanya. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi pemasaran oleh Agus Hermawan dan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini sesuai dengan langkah-langkah strategi komunikasi pemasaran dalam kajian Agus Hermawan yaitu a) khalayak sasaran objek wisata Jogja Exotarium yaitu wisatawan nusantara dengan segmen pelajar dan keluarga; b) tujuannya meningkatkan jumlah kunjungan dan mengenalkan Jogja Exotarium pada masyarakat; c) pesan berbeda-beda sesuai dengan media yang digunakan; d) saluran personal berupa presentasi kepada calon konsumen, menyebarkan brosur, pameran dan mengikuti kegiatan yang diadakan Dinas Pariwisata; e) anggaran promosi ditetapkan dengan metode tujuan dan tugas; f) bauran promosi yang digunakan yaitu periklanan, promosi penjualan, acara, humas publisitas, pemasaran langsung, pemasaran dari mulut ke mulut dan penjualan personal; g) mengukur hasil promosi dilakukan dengan melihat data kunjungan pengunjung dan bertanya langsung pada beberapa pengunjung; h) mengoordinasi proses komunikasi yang terintegrasi, dilakukan oleh bagian pemasaran. Kata kunci: strategi, bauran, komunikasi pemasaran, IMC, objek wisata Jogja Exotariu
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
