1,721,042 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Identifikasi Zona Geomorfologi Perairan Dangkal Pulau Biawak Menggunakan Citra SPOT 6
Pulau Biawak ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi dan Wisata Laut Daerah Kabupaten Indramayu menurut dasar hukum Surat Keterangan Bupati Indramayu pada tanggal 7 April 2004. Oleh karena itu studi tentang kondisi Pulau Biawak seperti gambaran distribusi spasial profil zona geomorfologi perairan dangkal dibutuhkan untuk pertimbangan dalam pengelolaan potensi sumberdaya pesisir dan laut. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah analisis dengan perangkat Benthic Terrain Modeler (BTM) pada data batimetri hasil regresi komposit citra SPOT 6 hasil fusi terhadap kedalaman sebenarnya. Perangkat BTM terdiri atas beberapa tools yang dapat menganalisa bidang rataan perairan dangkal dengan menghasilkan estimasi bathymetric position index (BPI), standardized BPI, dan slope (kemiringan). Fusi citra mampu memperjelas gambaran secara visual berupa perubahan warna yaitu citra multispektral asli memiliki warna yang lebih gelap sedangkan citra hasil brovey transform memiliki warna yang lebih terang dan tampak lebih spesifik serta heterogen di daerah perairan dangkalnya. Algoritma band tunggal dapat menghasilkan peta batimetri perairan dangkal dengan koefisien korelasi sebesar 0.91 dan root mean square error (RMSE) sebesar 0.22 m. Tools BTM dapat memetakan zona geomorfologi perairan dangkal berdasarkan identifikasi lima kelas dari classification dictionary yang digunakan, yaitu 1) crest ridgetop, boulder, ridges; 2) depression; 3) crests; 4) flats; dan 5) slopes
Pemetaan Ekosistem Terumbu Karang dengan Metode OBIA dan Nilai Ekonominya di Pulau Ponelo, Gorontalo
Ekosistem terumbu karang secara ekologi maupun ekonomi mampu menghasilkan produk akhir yang melimpah baik barang maupun jasa. Metode untuk mengetahui nilai ekonomi suatu sumberdaya adalah valuasi ekonomi. Penelitian dengan menyertakan variabel nilai ekonomi sudah banyak dilakukan, namun belum banyak yang menyajikan nya dalam bentuk peta. Dimensi spasial untuk nilai ekonomi belum banyak diteliti. Penerapan pendekatan spasial dengan bantuan Sistem Informasi Geografis untuk valuasi ekonomi diharapkan menghasilkan peta sebaran nilai ekonomi sumberdaya alam yang lebih detil. Penelitian ini bertujuan melakukan pemetaan kondisi terumbu karang di kawasan perairan pantai Desa Ponelo, Gorontalo, menggunakan Citra Sentinel-2A dengan metode OBIA, kemudian mengembangkannya menjadi sebaran spasial nilai ekonomi berdasarkan kondisi terumbu karang tersebut. Pengamatan dilaksanakan observasi lapangan pada bulan Juni hingga Juli 2017. Metode yang digunakan untuk memetakan habitat bentik yakni Object-Based Image Analysis, sedangkan dalam melakukan penilaian ekonomi ekosistem terumbu karang menggunakan metode perkiraan harga pasar. Pemetaan habitat bentik dapat menghasilkan sebanyak 5 kelas habitat bentik yaitu: kelas karang hidup 56,81 Ha; karang mati 90,57 Ha; lamun 18,08 Ha; pasir 82,5 Ha; dan rubble 6,3 Ha. Nilai manfaat yang diidentifikasi untuk menghitung valuasi ekonomi ekosisem terumbu karang di kawasan perairan pantai Desa Ponelo diantaranya ialah manfaat perikanan terumbu, manfaat perlindungan pantai, dan manfaat keanekaragaman hayati. Nilai ekonomi total yang didapat sebesar Rp 144.850.924.637 per tahun atau Rp 569.696.077 per Ha per Tahun
Desain Pengelolaan Berkelanjutan Kawasan Pesisir untuk Budidaya Tiram Mutiara di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Tiram mutiara merupakan salah satu komoditas perikanan dan kelautan yang
berpotensi memiliki nilai ekonomi tinggi. Peningkatan permintaan terhadap tiram mutiara
tidak diimbangi dengan keberadaan tiram mutiara di alam. Budidaya merupakan salah
satu usaha untuk memenuhi permintaan dan menjaga stok tiram mutiara di alam. Salah
satu wilayah Indonesia yang berpotensi untuk dilakukan budidaya tiram mutiara adalah di
Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan
rekomendasi berupa desain pengelolaan berkelanjutan kawasan pesisir Kupang, Nusa
Tenggara Timur untuk pengembangan kegiatan budidaya tiram mutiara. Penelitian
dilaksanakan pada bulan Desember 2015 hingga Maret 2017. Pengamatan dan
pengambilan contoh air dilakukan pada bulan Desember dan bulan Mei di perairan Selat
Semau, pesisir Kupang-Nusa Tenggara Timur. Penelitian lapang terkait data sosial,
ekonomi, teknologi dan kelembagaan dilakukan di Desa Bolok, Kupang, Nusa Tenggara
Timur. Penelitian laboratorium di Laboratorium-laboratorium Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Metode yang digunakan dalam menganalisis
data meliputi analisis kesesuaian, estimasi daya dukung, identifikasi karakteristik
masyarakat, identifikasi hubungan antar pemanfaatan terhadap kegiatan budidaya tiram
mutiara dan analisis keberlanjutan. Analisis kesesuaian dan estimasi daya dukung
menggunakan pendekatan spasial melalui GIS. Analisis keberlanjutan menggunakan
metode Multi Dimensional Scalling (MDS) melalui RAPFISH.
Analisis spasial menunjukkan bahwa pendugaan luas kesesuaian kawasan pesisir
Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk kegiatan budidaya tiram mutiara selama satu tahun
pada kategori sangat sesuai memiliki luas sebesar 0.36 km2, kategori sesuai memiliki luas
kawasan 42.84 km2 dan kategori tidak sesuai memiliki luas 82.64 km2. Pendugaan daya
dukung budidaya tiram mutiara menggunakan metode tali rentang selama satu tahun
untuk kategori sangat sesuai sebanyak 13 unit dan kategori sesuai sebanyak 659 unit.
Tingkat pendidikan pekerja budidaya mayoritas lulusan SMK yakni sebesar 63.64%,
dengan usia produktif >25 tahun sebesar 60.61% dan jumlah tanggungan keluarga <5
sebanyak 57.58%. Budidaya tiram mutiara merupakan pekerjaan utama bagi pekerja
budidaya tiram mutiara di wilayah tersebut. Sebanyak 95% pekerja budidaya tiram
mutiara merupakan warga lokal.
Analisis hubungan antar pemanfaatan menunjukkan bahwa pemanfaatan
budidaya tiram mutiara dengan konflik tinggi terjadi pada pemanfaatan PLTU. Konflik
sedang terjadi dengan pemanfaatan perikanan tangkap. Konflik rendah terjadi dengan
pelabuhan penumpang dan alur kapal. Tidak ada konflik yang terjadi dengan budidaya
tiram mutiara dan pelabuhan perikanan. Analisis status keberlanjutan pada budidaya tiram
mutiara di Kupang, Nusa Tenggara Timur berdasarkan dimensi ekologi, sosial, ekonomi,
teknologi dan kelembagaan. Status keberlanjutan dimensi ekologi adalah cukup
berkelanjutan dengan persentase 56.26%. Status keberlanjutan dimensi ekonomi adalah
cukup berkelanjutan dengan persentase 53.23%. Status keberlanjutan dimensi sosial
adalah berkelanjutan dengan persentase 81.17%. Status keberlanjutan dimensi teknologi
adalah berkelanjutan dengan persentase 81.59%. Status keberlanjutan dimensi
kelembagaan adalah kurang berkelanjutan dengan persentase 36.89%. Rekomendasi dari
hasil analisis yaitu dibutuhkan perbaikan atribut pada dimensi ekologi dan ekonomi untuk
meningkatkan keberlanjutan dimensi-dimensi tersebut. Dibutuhkan juga perbaikan dan
sinkronisasi peraturan setempat serta partisipasi aktif seluruh stakeholder untuk dapat
mengharmonisasikan pemanfaatan terpadu di wilayah tersebut
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
