88 research outputs found
ANTIOXIDANT ACTIVITY OF DRIED STRAWBERRIES JUICES (Fragaria vesca L.) EMULGEL PREPARATION USING CANDLENUT OIL AND IT’S DIFFUSION
TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PENGGUNAAN LIP BALM UNTUK PERAWATAN BIBIR DI KALANGAN MAHASISWA FARMASI UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
Telah dilakukan penelitian untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan, sikap, dan penggunaan lip balm pada mahasiswa farmasi Universitas Ngudi Waluyo. Penelitian secara kuantitatif non eksperimental dengan jenis deskriptif analitik. Sampel yang digunakan sebanyak 83 responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling tipe accidental sampling. Pengambilan data secara retrospektif. Instrumen penelitian berupa kuesioner melalui google form. Analisis data dilakukan menggunakan excel dan SPSS statistik versi 26. Penelitian ini menggunakan responden berjenis kelamin perempuan. Jumlah responden sebanyak 83 yang didapatkan dari perhitungan menggunakan rumus slovin dengan taraf kepercayaan 10%. Semester I reguler: 7 (8,43%), III reguler: 7 (8,43%), V reguler: 12 (14,46%), dan VII reguler: 57 (68,67%). Usia 18-20 tahun: 22 (26,51%) dan lebih dari 20 tahun: 61 (73,49%). Tingkat pengetahuan terhadap lip balm termasuk dalam kategori baik dengan skor 83,98%. Tingkat sikap terhadap lip balm termasuk dalam kategori baik dengan skor 79,93%. Tingkat penggunaan lip balm termasuk dalam kategori cukup baik dengan skor 74,38
KAJIAN FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) BESERTA AKTIVITASNYA TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Propionibacterium acnes
ABSTRAK
Latar belakang: Gel merupakan sistem semipadat yang terdiri dari suspensi yang
dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar,
terpenetrasi oleh suatu cairan. Buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)
mengandung flavonoid, tanin dan saponin yang berkhasiat sebagai antibakteri,
yaitu terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji formulasi gel ekstrak buah belimbing
wuluh beserta aktivitasnya terhadap Staphylococcus aureus dan
Propionibacterium acnes.
Metode : Review artikel dengan mengkaji 5 artikel yang terdiri dari 1 jurnal
internasional dan 4 jurnal nasional terakreditasi dan merupakan artikel hasil
penelitian.
Hasil : Hasil studi kelima artikel menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri
terhadap Staphylococcus aureus pada gel yang mengandung ekstrak etanol 96%
sebanyak 3% memiliki zona hambat sebesar 21,67 mm, ekstrak etanol 70%
sebanyak 40% memiliki zona hambat 17,7 mm, dan ekstrak etil asetat sebanyak
10% memiliki zona hambat 18,5 mm. Aktivitas gel terhadap Propionibacterium
acnes dengan ekstrak etil asetat sebanyak 10% memiliki zona hambat 16,7 mm
sedangkan gel dengan ekstrak etanol 96% sebesar 8% memiliki zona hambat 14
mm.
Simpulan : Sediaan gel dengan zat aktif ekstrak buah belimbing wuluh sebesar
3% telah mampu memberikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri
Staphylococcus aureus dengan kategori hambat sangat kuat yaitu zona hambat
sebesar 21,67 mm. Sediaan gel dengan zat aktif ekstrak buah belimbing wuluh
sebesar 8% telah mampu memberikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri
Propionibacterium acnes dengan kategori hambat kuat yaitu zona hambat sebesar
14 m
KAJIAN VARIASI KONSENTRASI MINYAK VCO (VIRGIN COCONUT OIL), TWEEN 80 DAN PEG 400 TERHADAP KARAKTERISTIK SEDIAAN NANOEMULSI
Latar Belakang : Perkembangan nanoteknologi saat ini telah populer dalam
pengembangan sistem penghantaran zat aktif pada suatu sediaan obat. Teknologi
farmasi dalam sistem pengiriman obat untuk mengendalikan ukuran partikel, sifat
permukaan dan pelepasan efek farmakologis zat aktif sehingga obat mencapai
target spesifik pada tingkat yang rasional, salah satunya dengan teknik Self Nano
Emulsying Drug Delivery System (SNEDDS) dengan mengkaji variasi konsentrasi
minyak (VCO), surfaktan (Tween 80) dan ko-surfaktan (PEG 400) terhadap
karakteristik nanoemulsi.
Metode : Penelitian dengan pendekatan kajian jurnal untuk menganalisis,
meninjau dan menarik kesimpulan tentang karakteristik nanoemulsi meliputi
ukuran partikel dan indeks polidispersitas, potensial zeta, viskositas, waktu
emulsifikasi dan % transmitan menggunakan 5 artikel utama yang terakreditasi,
terdiri dari 3 artikel internasional dan 2 artikel nasional hasil penelusuran dengan
kata kunci “Nanoemulsi”, “Virgin Coconut Oil”, “Tween 80” dan “PEG 400”.
Hasil : Berdasarkan hasil yang diperoleh dengan perbandingan konsentrasi VCO :
Tween 80 : PEG 400 (1 : 2 :1 hingga 1: 5 : 1) pada kelima artikel mendapatkan
hasil karakteristik nanoemulsi meliputi ukuran partikel < 100 nm dan indeks
polidispersitas mendekati 0, potensial zeta lebih besar dari +30 mV dan kurang
dari ˗30 mV, viskositas kisaran 10-2000 cPa.s, waktu emulsifikasi < 1 menit dan
% transmitan mendekati 100%. Komposisi minyak, surfaktan dan ko-surfaktan
menjadi faktor penting dalam pembuatan sediaan nanoemulsi untuk menghasilkan
sediaan yang stabil sehingga perlu pemilihan komposisi yang tepat dan
konsentrasi yang sesuai. Sediaan nanoemulsi dilakukan uji stabilitas secara
termodinamika menunjukkan tidak ada pengendapan, cracking maupun creaming
sehingga nanoemulsi dikatakan stabil secara fisik.
Simpulan : Variasi perbandingan minyak VCO, Tween 80 dan PEG 400
mempengaruhi hasil karakteristik sediaan nanoemulsi dan menghasilkan sediaan
nanoemulsi yang stabil secara termodinamika.
Kata Kunci : nanoemulsi, Virgin Coconut Oil (VCO), Tween 80, PEG 40
TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN PENGGUNAAN PEMUTIH KULIT PADA MAHASISWA PRODI FARMASI UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
Latar Belakang : Mayoritas wanita Indonesia memiliki kulit hitam ataupun sawo matang merasa
tidak percaya diri. Pemutih kulit digunakan sebagai alasan estetika atau kosmetik yang digunakan
untuk meningkatkan kilau, kecerahan dan keceriaan kulit selain mencerahkan. Tujuan penelitian
ini adalah untuk menganalisis bagaimana tingkat pengetahuan, sikap dan penggunaan pemutih
kulit pada Mahasiswi Prodi Farmasi Universitas Ngudi Waluyo.
Metode : Penelitian kuantitatif non eksperimental dengan jenis deskriptif analitik. Jumlah sampel
yang digunakan dalam penelitian ini 83 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.
Teknik sampling menggunakan total sampling. Instrument penelitian berupa kuesioner melalui
google form. Analisis data menggunakan excell dan uji validitas dan reliabilitas menggunakan
SPSS.
Hasil penelitian : Berdasarkan karakeristik responden, sebagian besar semester yang ditempuh
terbanyak farmasi semester 7 dengan jumlah 60 (72,29%) responden. Tingkat pengetahuan
terhadap pemutih kulit termasuk kategori sangat baik dengan skor 96%. Sikap mengenai pemutih
kulit termasuk dalam kategori sangat baik dengan skor 76%. Perilaku penggunaan pemutih kulit
termasuk kedalam kategori sangat baik dengan skor 87%.
Simpulan : Hasil yang didapat menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan, sikap dan penggunaan
pemutih kulit pada mahasiswa prodi farmasi dalam kategori sangat baik.
Kata Kunci : Kosmetik pemutih, Pengetahuan, Sikap, Penggunaa
Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Permen Jeli Ekstrak Wortel (Daucuscarota L.): Formulation and Physical Stability Tests of Carrot Extract Jelly Candy (Daucus carota L.)
Carrots contain vitamin A and β-carotene which help maintain eye health. The content of carotenoids in carrots can protect DNA, protein, and fat from oxidative damage and plays a role in maintaining the normal function of the immune system, skin, mucous membranes, and eye vision function. Carrots are formulated in the form of jelly candy as an eye supplement. The aim of this study was to evaluate the characteristics and physical stability of carrot extract jelly candy preparations. Jelly candy was made with various concentrations of gelatin as a jelly former of 8%, 10%, 12%, 14%, 16%, and 18%. Tests for physical characteristics were carried out including organoleptic tests, weight uniformity, pH, water content, and panelist tests. A stability test was observed at room temperature for 7 days. The jelly candy has a characteristic orange color, star shape, distinctive mango aroma, and sweet taste. Jelly candy has a pH of 5 with a weight in the range of 4.17 g - 4.94 g. The water content in each jelly candy is in the range of 38.67% - 48.03%. The panelist test had the highest elasticity at a concentration of 14%, the most attractive color, and shape at a concentration of 18%, smell and taste at a concentration of 8%, 10%, 14%, 16%, and 18% had the same score. The results of the stability test for 7 days showed that the jelly candy experienced a decrease in weight and pH uniformity, mold growth on the surface of the candy, and the water content did not meet the requirements.
ABSTRAK
Wortel memiliki kandungan vitamin A dan β-karoten yang membantu menjaga kesehatan mata. Kandungan karotenoid dalam wortel dapat melindungi DNA, protein, dan lemak dari kerusakan oksidatif serta berperan dalam mempertahankan fungsi normal sistem imun, kulit, membran mukosa, dan fungsi penglihatan mata. Wortel diformulasi dalam bentuk permen jeli sebagai suplemen mata. Tujuan penelitian ini mengevaluasi karakteristik dan stabilitas fisik sediaan permen jeli ekstrak wortel. Permen jeli dibuat dengan variasi konsentrasi gelatin sebagai pembentuk jeli sebesar 8%, 10%, 12%, 14%, 16%, dan 18%. Pengujian karakteristik fisik dilakukan meliputi uji organoleptis, keseragaman bobot, pH, kandungan air, dan uji panelis. Uji stabilitas dilakukan pengamatan pada suhu kamar selama 7 hari. Permen jeli memiliki karakteristik warna orange, berbentuk bintang, aroma khas mangga dan rasanya manis. Permen jeli memiliki pH 5 dengan bobot berada pada rentang 4,17 g - 4,94 g. Kandungan air pada masing-masing permen jeli berada pada rentang 38,67% - 48,03%. Uji panelis kekenyalan tertinggi pada konsentrasi 14%, warna dan bentuk yang paling menarik pada konsentrasi 18%, bau dan rasa pada konsentrasi 8%, 10%, 14%, 16%, 18% memiliki skor yang sama. Hasil uji stabilitas selama 7 hari menunjukkan permen jeli mengalami penurunan pada keseragaman bobot dan pH, serta kandungan air tidak memenuhi persyaratan
KAJIAN FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK MENGKUDU (Morinda citrifolia L.)
Latar Belakang: Antioksidan sintetik sering digunakan karena dapat menetralkan radikal bebas namun dapat menimbulkan efek toksik. Mengkudu (Morinda citrifolia L.) mengandung metabolit sekunder yang dapat berperan sebagai antioksidan. Namun setelah dilakukan penelitian terdapat beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap daya aktivitas antioksidan dari suatu ekstrak tanaman yang diteliti. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji faktor – faktor yang dapat berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan dari ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan mengkaji apa saja metabolit sekunder yang berperan sebagai antioksidan ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia L.). Metode: Jenis Penelitian ini merupakan artikel review menggunakan 6 metode ekstraksi yaitu pemisahan membrane PES, MAE, SE, UAE, SFE, Maserasi. Penentuan fenolik dan flavonoid dengan metode KLT, KCKT, reaksi warna, Folin- Ciocalteu, preaksi AlCl3. Aktivitas antioksidan dengan metode yaitu DPPH dan FRAP. Hasil: Ekstrak daun dan ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L) berpotensi sebagai antioksidan alami, ditinjau dari nilai IC50 dan persen aktivitasnya. Metode ekstraksi UAE dan SE efektif untuk penyarian antioksidan. Suhu diatas 60°C dan waktu ekstraksi yang lama dapat menurunkan aktivitas antioksidan, pelarut metanol, kloroform dan etanol 70% diperoleh hasil yang paling baik untuk digunakan pada senyawa antioksidan. Metabolit sekunder yang berpengaruh pada aktivitas antioksidan adalah flavonoid dan fenolik. Selain itu metabolit sekunder yang diduga berpengaruh pada aktivitas antioksidan adalah tannin, alkaloid dan antrakuinon. Simpulan: Faktor yang berpengaruh pada aktivitas antioksidan ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia L.) adalah sampel yang digunakan, metode ekstraksi, waktu ekstraksi, pelarut dan suhu. Senyawa yang berperan pada aktivitas antioksidan adalah flavonoid dan fenolik.metabolit sekunder yang diduga juga berpengaruh adalah tannin, alkaloid dan antrakuinon
KAJIAN ANALISA KUALITATIF DAN KUANTITATIF RHODAMIN B PADA SEDIAAN PRODUK LIPSTIK
Latar belakang: Lipstik merupakan salah satu riasan bibir yang banyak diminati di kalangan
masyarakat. Beberapa produsen lipstik masih ada yang menggunakan pewarna yang dilarang
oleh Pemerintah dalam produknya. Pewarna sintetik sering digunakan sebagai pewarna karena
harganya relatif murah, warna yang dihasilkan lebih menarik, dan pewarna sintetik lebih stabil
dibandingkan dengan pewarna alam. Bahan pewarna yang sering digunakan adalah Rhodamin
B. Penggunaan Rhodamin B jangka panjang dalam makanan dan kosmetik dapat menyebabkan
kanker dan gangguan fungsi hati.
Metode: Penelitian dilakukan dengan metode mereview menggunakan jurnal acuan yang
terdiri dari empat jurnal nasional dan satu jurnal internasional dengan membandingkan hasil
penelitian.
Hasil: Berdasarkan haasil penelitian Menunjukan penggunaan Rhodamin B pada produk
lipstik yang beredar di masyarakat dari beberapa sampel yang di ujikan dapat ditunjukkan
hasil yaitu 3 sampel produk lipstik menggandung Rhodamin B dan kadar yang terkandung
yaitu Kadar 73,225 μg/g, 92,61 μg/g dan kadar 0,3120 μg/g.
Kesimpulan: : Dari 37 sampel yang di ujikan 3 sampel mengandung Rhodamin B dengan
Kadar 0,3120 μg/g - 73,225 μg/g. Sehingga perlu dilakukan pengawasan lebih lanjut.
Keywords: Rhodamin B, Lipstik, Kualitatif, kuantitatif
- …
