1,721,141 research outputs found
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berkarakter Berbasis Quantum Teaching Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial Kelas VII SMP; Ahmad Adi Setiawan, 090210101093
Proses pengembangan yang dilakukan mengikuti 3 (tiga) tahapan
pengembangan model perancangan Thiagarajan yang terdiri dari tahap pendefinisian,
tahap perancangan, dan tahap pengembangan. Tahap pendefinisian berisi kegiatankegiatan
analisis yang bertujuan untuk mendefinisikan dan menetapkan kebutuhan
pembelajaran. Tahap ini meliputi 5 langkah pokok, yaitu 1) analisis awal-akhir; 2)
analisis siswa; 3) analisis materi; 4) analisis tugas dan 5) spesifikasi tujuan
pembelajaran. Selanjutnya adalah tahap perencanaan yang bertujuan menyiapkan
prototipe perangkat pembelajaran. Pada tahap ini terdapat empat kegiatan desain yaitu
penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan format, dan desain awal. Tahap
selanjutnya adalah tahap pengembangan, tujuan dari tahap ini adalah menghasilkan
draft perangkat pembelajaran yang telah direvisi berdasarkan masukan dari para ahli
vii
dan data yang diperoleh dari uji coba. Kegiatan pada tahap ini adalah penilaian para
ahli dan uji coba lapangan.
Pengembangan perangkat pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan 3
aspek kualitas, yakni aspek kevalidan, aspek kepraktisan, dan aspek keefektifan. Dari
hasil uji kevalidan, perangkat pembelajaran matematika berkarakter berbasis quantum
teaching telah mencapai kriteria kevalidan dengan koefisien validitas untuk silabus
sebesar 0,924; koefisien validitas rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebesar
0,918; koefisien validitas buku siswa sebesar 0,916; koefisien validitas lembar kerja
siswa sebesar 0,914; koefisien validitas tes hasil belajar sebesar 0,872. Kategori
validitas untuk kelima perangkat pembelajaran tersebut adalah sangat tinggi.
Berdasarkan hasil uji kepraktisan perangkat pembelajaran matematika,
diperoleh bahwa dari hasil pengamatan kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran persentase pada pertemuan pertama sebesar 90,74% dan pertemuan
kedua sebesar 94,44%. Hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa persentase
kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dari pertemuan pertama hingga
pertemuan kedua termasuk dalam kategori baik. Dengan demikian perangkat
pembelajaran matematika berkarakter berbasis quantum teaching telah memenuhi
kriteria kepraktisan.
Berdasarkan hasil uji keefektifan perangkat pembelajaran matematika yang
didapat dari pengamatan aktivitas siswa. Dari hasil pengamatan aktivitas siswa
diperoleh persentase keaktifan siswa pada pertemuan pertama yaitu sebesar 88,42 %
dan pertemuan kedua yaitu sebesar 90,74 %. Hasil analisis data tersebut menunjukkan
bahwa persentase keaktifan siswa pada pertemuan pertama dan kedua termasuk
dalam kategori baik. Dengan demikian perangkat pembelajaran matematika
berkarakter berbasis quantum teaching telah memenuhi kriteria keefektifan.
Sedangkan untuk menguji ketercapaian perilaku berkarakter dan keterampilan siswa
yang diinginkan dalam pembelajaran matematika berkarakter maka dilakukan
pengamatan perilaku berkarakter dan keterampilan siswa. Dari hasil pengamatan
perilaku berkarakter dan keterampilan sosial siswa, maka diperoleh persentase pada
viii
pertemuan pertama sebesar 92,43% dan pertemuan kedua sebesar 85,35%. Hasil
analisis data tersebut menunjukkan bahwa persentase perilaku berkarakter dan
keterampilan sosial siswa pada pertemuan pertama dan kedua termasuk dalam
kategori baik. Dengan demikian perangkat pembelajaran matematika berkarakter
berbasis quantum teaching telah memenuhi kriteria dapat meningkatkan perilaku
berkarakter dan keterampilan sosial siswa.
Setelah uji coba perangkat pembelajaran matematika dilakukan, diberikan
angket respon siswa kepada objek uji coba untuk mengetahui bagaimana respon siswa
terhadap pembelajaran matematika berkarakter berbasis quantum teaching.
Berdasarkan hasil analisis data angket respon siswa, diperoleh rata-rata persentase
respon siswa yang memberi respon positif terhadap semua aspek pembelajaran
matematika yaitu sebesar 98,21%. Dengan demikian pembelajaran matematika
berkarakter berbasis quantum teaching sangat perlu untuk diaplikasikan dalam
pembelajaran pembelajaran di kelas. Selain itu pada pertemuan ketiga juga
dilaksanakan tes hasil belajar dengan alokasi waktu selama 2x40 menit. Soal tes hasil
belajar berupa enam soal uraian dengan bobot soal yaitu no.1,4,5, dan 6 masingmasing
adalah 15 poin sedangkan untuk no.2 dan 3 masing-masing adalah 20 poin.
Berdasarkan analisis data nilai tes hasil belajar yang diperoleh siswa, diperoleh
bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 60 sebanyak 37 siswa dari total 42 siswa,
hal itu berarti bahwa persentase siswa yang mencapai nilai ≥ 60 adalah sebesar
88,095%. Dengan demikian pembelajaran matematika berkarakter berbasis quantum
teaching telah memenuhi kriteria keefektifan.
Berdasarkan hasil analisis data di atas, maka dihasilkan sebuah perangkat
pembelajaran matematika berkarakter berbasis quantum teaching pada pokok bahasan
aritmatika sosial yang memenuhi kriteria kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan.
Dengan demikian, perangkat pembelajaran tersebut sudah dapat dijadikan sebagai
pedoman oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika pada pokok
aritmatika sosial
KEMAMPUAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK KELAS V SD NAHDLATUL ULAMA YOGYAKARTA
Adi Setiawan (14480103), “Kemampuan Literasi Sains Peserta Didik Kelas V SD Nahdlatul Ulama
Yogyakarta”. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, 2019.
Mata pelajaran Sains sangat penting untuk diajarkan dan dipelajari, mata pelajaran ini diberikan
mulai dari Sekolah Dasar hingga tingkat menengah. Di SD Nahdlatul Ulama Yogyakarta peneliti
mengukur kelas V sebagai populasi penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa
tinggi kemampuan literasi sains peserta didik kelas V SD Nahdltul Ulama Yogyakarta.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian Kuantitatif Deskriptif. Populasi penelitian ini
adalah peserta didik kelas V SD Nahdlatul Ulama Yogyakarta, dan untuk sampelnya kelas VB. Teknik
dan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes sebagai pengumpulan data yang utama atau
primer berbentuk soal pilihan ganda. Untuk wawancara, dokumentasi, dan observasi sebagai teknik
pengumpulan data sekunder. Salah satu alasan pemilihan SD Nahdlatul Ulama Yogyakarta sebagai sampel
adalah karena orang tua dan masyarakat memberikan kepercayaan putra-putrinya agar mendapatkan
keberhasilan dalam prestasinya. Berdasarkan PISA 2015 kerangka kerja sains terdapat empat area
yaitu area konteks sains, area kompetensi sains, area pengetahuan, dan area sikap.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains peserta didik kelas VB SD Nahdlatul
Ulama Yogyakarta tahun ajaran 2019/2020 terdapat 4 kriteria. Pertama, Kriteria sangat tinggi
terdapat 4 peserta didik. Kedua, kriteria tinggi terdapat 3 peserta didik. Ketiga, kriteria sedang
terdapat 9 peserta didik. Dan keempat, kriteria rendah terdapat 9 peserta didik. Jadi dapat
disimpulkan dari empat area literasi sains yakni sebesar 77,80 atau kategori sedang
FUNGSI PENGURUS DALAM MEMBINA KARAKTER ISLAMI SANTRI DI PONDOK PESANTREN NURUL HUDA TULUNGAGUNG
Skripsi dengan judul “Fungsi Pengurus dalam Membina Karakter Islami Santri di Pondok Pesantren Nurul Huda Tulungagung” ini ditulis oleh Fajar Adi Setiawan, NIM: 12201173328, Pendidikan Agama Islam (PAI), Tahun 2021 yang dibimbing oleh Dr. Dwi Astuti Wahyu Nurhayati, S.S., M.Pd.
Kata kunci : fungsi pengurus, karakter Islami dan santri
Pendidikan karakter merupakan sebagai upaya yang diusahakan untuk membantu manusia dalam memahami apa saja dalam melaksanakan nilai-nilai etika, terutama pada para santri. Fenomena yang ada sekarang dalam membina karakter perlu dipertanyakan kembali, karena masih banyak di antara mereka yang terlibat tawuran, mabuk-mabukan yang akibat pergaulan yang kurang baik dan selain itu akhlak mereka masih kurang terhadap orang yang lebih tua. Sehingga dalam hal ini pembinaan karakter sangat berperan dalam merubah sikap para pendidik. Oleh karena itu penelitian ini berlatarbelakang masalah tersebut. Internalisasi dalam membina karakter Islami yang memfokuskan pada karakter disiplin, jujur dan sopan santun pada para santri melalui peran pengurus sangat dibutuhkan. Salah satu peran pengurus tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan dan membentuk karakter melalui beberapa upaya yang dilakukan oleh pengurus pondok.
Fokus penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah: (1) bagaimana fungsi pengurus dalam membina karakter disiplin santri? (2) bagaimana fungsi pengurus dalam membina karakter jujur santri? (3) bagaimana fungsi pengurus dalam membina karakter sopan santun santri?. Adapun Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan fungsi pengurus dalam membina karakter disiplin santri di Pondok Pesantren Nurul Huda Tulungagung. (2) Untuk mendeskripsikan fungsi pengurus dalam membina karakter jujur santri di Pondok Pesantren Nurul Huda Tulungagung. (3) Untuk mendeskripsikan fungsi pengurus dalam membina karakter sopan santun santriidiiPondokiPesantreniNurul HudaiTulungagung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, dan triangulasi.
Hasil peneltian ini menunjukkan bahawa: (1) fungsi pengurus dalam membina karakter disiplin santri yaitu menerapkan beberapa kegiatan khusus keagamaan, memberikan hukuman positif, menerapkan kebiasaan menaati aturan, menanamkan tanggung jawab, memberikan keteladanan dan nasihat; (2) fungsi pengurus dalam membina karakter jujur santri yakni menanamkan terlebih dahulu pada diri pengurus dari sikap jujur sehingga santri meniru dari apa yang pengurus contohkan, dengan memberikan bimbingan, motivasi, dan dorongan dalam setiap kegiatan demi meningkatkan karakter jujur pada santri; (3) fungsi pengurus dalam membina karakter sopan santun santri yakni dengan memberikan motivasi dan arahan pada santri dalam hal sopan santun, memberikan contoh dalam hal bersikap sopan santun di lingkup pondok maupun masyarakat
EVALUASI DISTRIBUSI PROGRAM BANTUAN PANGAN NON TUNAI (BPNT) (Studi Pada Desa Galih Lunik Kec. Tanjung Bintang Kab. Lampung Selatan)
ABSTRAK
EVALUASI DISTRIBUSI PROGRAM BANTUAN PANGAN NON TUNAI
(BPNT)
(Studi Pada Desa Galih Lunik Kec. Tanjung Bintang Kab. Lampung Selatan)
Oleh :
Lintang Adi Setiawan
Kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat
perhatian pemerintah di negara manapun. Program Pemerintah yang berorientasi dalam
upaya pengentasan kemiskinan dan dapat memberikan dampak langsung kepada
masyarakat yaitu Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Penyaluran BPNT di
Desa Galih Lunik yang dilakukan peneliti, bahwasanya banyak ditemukan data
Penerima Keluarga Manfaat yang tidak sesuai menerima bantuan tersebut.Banyaknya
masyarakat yang kurang mampu tetapi tidak mendapatkan bantuan tersebut. Hal inilah
yang menjadi faktor kesalahan dalam pendataan sehingga menyebabkan terjadinya
permasalahan di aspek penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai di Desa Galih Lunik,
kurangnya tepat sasaran dan tidak mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun
2017 Tentang Penyaluran Bantuan Secara Non Tunai.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Penelitian ini bersifat deskriptif analisis tepatnya berupa studi kasus, penelitian ini
menggunakan pendekatan institusional dimana suatu objek masalah mencakup
peraturan, prosedur, dan organisasi formal pemerintahan. Pendekatan ini memfokuskan
institusi negara sebagai kajian utama, bagaimana organisasi itu, apa tanggung jawab
dari setiap perannya, dan bagaimana institusi itu berinteraksi. Teknik pengumpulan data
yaitu Obsevasi, Wawancara dan Dokumentasi. Teknik Analisis Data yang digunakan
oleh peneliti yaitu reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Distribusi Pelaksanaan Program Bantuan
Pangan Non Tunai Di Desa Galih Lunik belum sepenuhnya tepat dalam memenuhi
indikator yaitu efektifitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas dan ketepatan.
Adapun upaya dari pihak Desa Galih Lunik telah melakukan pendataan terbaru atau
data tunggu yang disampaikan kepada Dinas Sosial, dengan demikian Distribusi
Program Bantuan Pangan Non Tunai di Desa Galih Lunik dapat dikatakan belum
berjalan dengan baik dikarenakan kurangnya evaluasi dan sosialisasi terkait data
penerima manfaat BPNT oleh Dinas Sosial dan pendamping BPNT agar dapat
tersalurkan tepat sasaran kepada masyarakat.
Kata Kunci : BPNT, Distribusi, Evaluasi.
ABSTRACT
EVALUATION OF THE DISTRIBUTION OF THE NON-CASH FOOD
ASSISTANCE (BPNT)
PROGRAM
(Study at Galih Lunik Village, Tanjung Bintang District, South Lampung Regency)
By :
Lintang Adi Setiawan
Poverty is one of the fundamental issues that is the center of attention of the
government in any country. Government programs that are oriented towards poverty
alleviation and can have a direct impact on the community, namely the Non-Cash Food
Assistance Program (BPNT). The distribution of BPNT in Galih Lunik Village, which
was carried out by researchers, found that there were many data on Beneficiary
Families that were not suitable for receiving this assistance. There were a large
number of poor people who did not receive this assistance. This is the factor for errors
in data collection, which causes problems in the distribution aspect of Non-Cash Food
Assistance in Galih Lunik Village, the lack of proper targeting and not referring to
Presidential Regulation Number 63 of 2017 concerning the Distribution of Non-Cash
Assistance.
This type of research is a qualitative research with a descriptive approach. This
research is a descriptive analytical research in the form of a case study, this research
uses an institutional approach where an object of the problem includes regulations,
procedures, and formal government organizations. This approach focuses on state
institutions as the main study, how they are organized, what are the responsibilities of
each role, and how these institutions interact. Data collection techniques namely
Observation, Interview and Documentation. Data analysis techniques used by
researchers are data reduction, presentation and conclusion.
The results of this study indicate that the distribution of the Implementation of the
Non-Cash Food Assistance Program in Galih Lunik Village is not fully appropriate in
fulfilling the indicators namely effectiveness, efficiency, adequacy, adequacy,
responsiveness and accuracy. As for the efforts of the Galih Lunik Village to carry out
the latest data collection or waiting data submitted to the Social Service, thus the
Distribution of the Non-Cash Food Assistance Program in Galih Lunik Village can be
said to have not gone well due to the lack of evaluation and socialization regarding the
BPNT beneficiary data by the Office. Social and BPNT assistants so that they can be
channeled right on target to the community.
Keywords: BPNT, Distribution, Evaluation
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Kabupaten Jember
National or regional food security does not necessarily guarantee food security at the household or individual level. Although Jember Regency was classified as a highly food-secure region in 2024 based on Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) data, the reality of household-level food security urgently needs to be addressed. The objective of this research was to analyze household food security conditions based on Engel's Law and Jonsson & Toole's theory. Data from Susenas 2024, analyzed using the Jonsson and Toole method, revealed that the majority of households in Jember still face food vulnerability. Specifically, only about 35.49% (427 households) fell into the food-secure category. Conversely, nearly half, 49.34% (597 households), were in the food- vulnerable category. Additionally, approximately 7.60% (92 households) experienced food scarcity, and 7.77% (94 households) were in a state of food insecurity
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
