56 research outputs found
Peran TIK sebagai Media Komunikasi Pembangunan dalam Membangkitkan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Perempuan Pesisir di Jawa Barat
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang berkembang pesat di Indonesia, juga dibarengi dengan berkembangnya ekonomi kreatif. Pemerintah terus mendorong berkembangnya ekonomi kreatif sebagai salah satu pendapatan yang dapat meningkatkan taraf hidup. Perempuan pesisir juga ikut membantu ekonomi keluarga dengan membuat berbagai jenis olahan hasil tangkapan ikan. Namun realitasnya, perempuan pesisir yang telah sukses mempunyai produksi hasil tangkapan ikan, namun belum sepenuhnya menggunakan TIK khususnya internet secara sederhana dalam pemasaran produk mereka.
Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana peran TIK sebagai media komunikasi dalam pembangunan di Kabupaten Indramayu dan Sukabumi? (2) bagaimana pemanfaatan TIK oleh perempuan pesisir dan permasalahannya dalam membangkitkan ekonomi kreatif di Indramayu dan Sukabumi? (3) bagaimana model pemanfaatan TIK berbasis pemberdayaan perempuan dan ekonomi kreatif? Penelitian bertujuan untuk (1) untuk menganalisis peran TIK sebagai media komunikasi dalam pembangunan di Kabupaten Indramayu dan Sukabumi; (2) untuk menganalisis pemanfaatan TIK oleh perempuan pesisir dan permasalahannya dalam membangkitkan ekonomi kreatif di Indramayu dan Sukabumi; (3) untuk menyusun model pemanfaatan TIK untuk kalangan perempuan pesisir yang disesuaikan dengan pemberdayaan perempuan berbasis konsep ekonomi kreatif.
Penelitian dilakukan di pesisir Jawa Barat khususnya di Kabupaten Indramayu (Pantai Utara) dan Kabupaten Sukabumi (Pantai Selatan) pada Bulan Oktober 2017-Januari 2018. Penelitian kualitatif dengan informan penelitian yang diambil secara purposive dengan kriteria yaitu perempuan pesisir di kedua kabupaten baik yang bekerja sebagai nelayan maupun bukan, baik yang suaminya bekerja sebagai nelayan maupun bukan nelayan, merupakan ibu rumah tangga dan terlibat dalam kegiatan ekonomi dalam hal pengelolaan ikan baik secara individu maupun kelompok. Pengumpulan data dengan melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam dan telaah dokumen ilmiah. Pengolahan data kualitatif melalui klasifikasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Selain pengolahan data kualitatif tersebut, software Nvivo 12 juga digunakan dalam menganalisis data kualitatif untuk mendapatkan gambaran pemahaman perempuan pesisir mengenai TIK dan ekonomi kreatif untuk menjawab tujuan penelitian kedua.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa TIK belum sepenuhnya dapat bermanfaat sebagai media komunikasi dalam pembangunan. Peran TIK sebagai media informasi pembangunan yang dilihat dari fungsi pengaja, fungsi kebijakan dan fungsi mengajar. Di Kabupaten Indramayu, fungsi penjaga dengan adanya Koran Lokal Mulih Harjo yang memberikan informasi pembangunan di Indramayu, maka di Sukabumi lebih maju dengan adanya aplikasi Sukabumi Smartcity yang bertujuan sebagai integritas data dan informasi yang diperlukan, serta dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara umum dan luas, namun belum
sepenuhnya dapat dimanfaatkan dikarenakan beberapa konten aplikasi tersebut yang masih kosong. Fungsi kebijakan di Indramayu berupa top down dan bottom up yang telah diterjemahkan dalam kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat. Hal in dikarenakan tingkat pendidikan informan yang lebih tinggi dibandingkan informan di Sukabumi; sehingga fungsi kebijakan di Sukabumi masih bersifat top down. KIM menjadi sarana sebagai fungsi mengajar baik di Kabupaten Indramayu maupun Sukabumi. KIM dibentuk dengan harapan agar informasi pembangunan dapat diketahui secara luas dan kebijakan pembangunan selayaknya dari, oleh dan untuk rakyat.
Perempuan pesisir belum sepenuhnya memanfaatkan TIK terutama internet. Berdasarkan kompetensi literasi digital, maka informan masih berada pada tahap mengakses dan mengelola, belum sampai pada kemampuan mengintegrasi, mengevaluasi dan menciptakan. Tingkatan literasi digital, para informan belum dapat dikategorikan pada Level I menurut teori karena masih kurangnya keterampilan dan pengetahuan tentang internet. Peneliti bahkan meletakkan (menambahkan tingkatan) informan ini pada Level Dasar sebelum Level I. Hasil produktivitas ekonomi kreatif para perempuan tersebut belum mampu menjangkau pasar ekspor dan TIK tidak dimanfaatkan karena beberapa permasalahan yang ditemui antara lain keterbatasan atau masalah manajemen waktu, biaya internet yang relatif masih mahal, kurangnya keterampilan perempuan dan beban ganda perempuan itu sendiri. Pemahaman perempuan pesisir tentang TIK dan ekonomi kreatif, berdasarkan hasil analisis Nvivo 12 memperlihatkan bahwa informasi dan tik menjadi pemahaman perempuan yang ada di Kabupaten Indramayu dan Sukabumi. Ekonomi kreatif dipahami sebagai bandeng dan terasi untuk di Kabupaten Indramayu, sementara ikan dan abon di Kabupaten Sukabumi. Hal ini dikarenakan perbedaan produksi yang lebih khas untuk masing-masing daerah.
Perempuan pesisir yang menjadi informan penelitian ini belum semuanya memanfaatkan internet seperti media sosial dan aplikasi lainnya dalam memperluas pasarnya dan masih melakukan pemasaran secara tradisional, yaitu word of mouth (WOM). Hal ini dikarenakan permasalahan perempuan dalam mengakses internet yang sama yang terjadi di kedua kabupaten antara lain keterbatasan atau masalah manajemen waktu, tarif internet yang dirasa masih mahal, keterampilan, dan beban ganda perempuan, pendidikan yang rendah, serta faktor usia untuk di kabupaten Sukabumi yang sudah sangat sepuh sehingga rentan untuk mengetahui tentang TIK. Menariknya walaupun ada yang berpendidikan rendah namun informan ini telah mulai memanfaatkan media sosial seperti whatsapp untuk mempromosikan hasil produksinya. Realitasnya, tingkat literasi digital perempuan pesisir di Kabupaten Indramyu dan Sukabumi yang menjadi informan dalam penelitian masih rendah.
Model pemanfaatan TIK berbasis pemberdayaan perempuan dan ekonomi kreatif merupakan model input, proses, output dan outcome dengan feedback. Model ini diharapkan dapat memberikan arah dalam meningkatkan partisipasi perempuan dalam akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan potensi pesisir yang ada, sehingga akan meningkatan pengetahuan, keterampilan literasi digital dan pemanfaatan TIK guna penguatan ekonomi perempuan pesisir
AKSESIBILITAS ANAK DAN KONSTRUKSI DIRI PADA FACEBOOK
Facebook is not only used by teens or adult, but also children of primary school age, ranging from grade 4 (four) to grade 6 (six) or starting from the age of 8-12 years. This is an interesting fact because basically a requirement to have an account on Facebook is aged 17 years and over. So these children manipulate their data in order to have Facebook. The purpose of this study is to determine the children’s access to the facebook identify their activities in using Facebook, describe the shift
of social interaction (direct interaction or face to face ) into digital interaction and to assess the use of facebook as a forum for self-construction. Type of research is qualitative research. This research is conducted in the Elementary School (SDN) in the city of Bengkulu with purposive method where a public elementary school located in the suburbs or border; then it is set that SDN 71 Bengkulu City. Results show that children of school age have made use of facebook as a tool to communicate with other friends from various means at their disposal . In terms of social interaction and digital
interactions, it can not be said that the child has fully entered the digital interaction
NEW COMMUNICATION AND TECHNOLOGY DAN DIVIDE ANTARA YANG PUNYA (HAVES)DAN YANG TIDAK PUNYA
Netnography Study of Followers of @zerowaste.id_official in Obtaining Information and Education about Zero Waste
<p>The Instagram account of @zerowaste.id_official continuously campaigns for a lifestyle of zero waste in order people can start to sort and choose waste. This research is follow-up previous research about netnography study of the Instagram account of @zerowaste.id_official. This research focuses on followers of the account. Qualitative research using the netnography method was carried out especially for followers of the @zerowast.id_official to explore the information and education they received. Informants were randomly selected within the posting period in March, April and May 2023 and were analyzed qualitatively. The results show that posts from the account of @zerowaste.id_official are quite useful to start living with minimal waste and explain what should be done to minimize the waste generated. The informants also gave their opinion in terms of the posts and sometimes there was feedback from @zerowaste.id_official regarding the question or suggestion.</p>
TREN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL SELAMA PANDEMI DI INDONESIA
The internet users in Indonesia show a significant numbers and they use it mostly for social media. This research is conducted to explore the trend of social media usage during the pandemic in Indonesia. It is in order to have a decription in how internet used during the pandemic. The research method is done by study literature from many kinds of articles, scholarly journals, books, manuscripts and others sources related to the theme of this article. The result is social media is used by housewive to generate their family income during the pandemic. Interestingly, during the pandemic, the housewive become actively used social media to do online business such as food and beverage and other things
BAHASA DALAM KOMUNIKASI GENDER
Language is an activity that absolutely must be done in communication.Gender differences affect the language used in communication.Men and women show different languages when communicating in all fields.This is interesting to discuss because gender affects the way or style of language used by men and women.Likewise, the culture that creates gender stereotypes in communication. This article discusses the language differences between men and women in communicating with the aim of describing gender differences in language and cultural stereotypes
- …
