5 research outputs found

    Studi Tafsir Nusantara: Analisis Metode Tafsir Alternatif Moqsith Ghozali

    No full text
    Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan landasan dan prinsip-prinsip perumusan metodologi tafsir alternatif yang digagas oleh Abdul Moqsith Ghazali. Untuk mengurai masalah ini, penulis melakukan studi kepustakaan dengan mengkaji tawaranmetodologi tafsirMoqsith Ghazali dalam buku “Metodologi Studi al-Quran”. Studi ini menghasilkan kesimpulan bahwa metodologi tafsir alternatif yang digagas Moqsith Ghozali bertujuan untuk membebaskan ahli hukum dari ketergantungan terhadap teks, merubah kebiasaan lama dari literal ke substansial. Sedangkan yang menjadi landasan dalam perumusan kaidah alternatif tersebut adalah maqās}id al-Sharī’ah.Tiga kaidah baru yang ditawarkan Moqsith adalah al-‘ibrah bi al-maslah}ah lā bi khus}ūs}al-asbāb, jawāz naskh al-nus}ūs} al-juziyyah bi al-mas}lah}ah dan tanqi>h} al-nus}ūs} bi ‘aql mujtama’ yajūzu

    Tafsir Ayat Kepemimpinan Non Muslim Dalam Al-Quran (Telaah Tafsir Maqashidi)

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tiga hal. Pertama, kontroversi kepemimpinan non-muslim di tengah masyarakat indonesia merupakan isu yang tak pernah tuntas dalam ruang-ruang diskusi publik. Kedua, keragaman hasil penelitian terkait tema kepemimpinan non-muslim menurut hemat penulis masih menyisakan ruang perdebatan yang perlu untuk didudukan kembali. Ketiga, kemunculan tafsir maqashidi dianggap membawa wacana baru dalam diskursus tafsir kontemporer. Ada tiga rumusan yang menjadi masalah pokok pada penelitian ini. Pertama, bagaimana konsep kepemimpinan non-muslim dalam Al-Quran melalui tafsir Maqashidi. Kedua, apa urgensi Tafsir Maqashidi dalam memahami ayat-ayat kepemimpinan non-muslim. Ketiga, bagaimana implikasi konsep kepemimpinan non-muslim dilihat dari perspektif tafsir Maqashidi. Setidaknya, ada 12 ayat yang masuk pada kajian ini, ayat 28 surat Ali Imran, ayat 51 surat al-Maidah, ayat 1 surat al-Mumtahanah, ayat 57 surat al-Maidah, ayat 118 surat Ali Imran, ayat 22 surat al-Mujadilah, ayat 144 surat al-Nisa, ayat 73 surat al-Anfal, ayat 71 surat al-Taubah, ayat 8 surat al-Taubah, ayat 100 surat Ali Imran, dan ayat 141 surat an-Nisa’. Dalam memahami ayat diatas, Ada dua perbedaan pendapat. pertama, kelompok tekstualis yang melarang kepemimpinan non-muslim. Kedua, kelompok liberal yang melegalkan secara mutlak kepemimpinan non-muslim. Tafsir Maqashidi hadir menjadi alternatif baru dalam meretas kebuntuan epistemologi penafsiran Al-Quran yang terlalu tekstual dan liberal. Tafsir Maqashidi bukan hanya persoalan memahami teks, menghubungkan teks dan konteks, melainkan juga bagaimana menemukan relevansi maqashid dan dinamikanya di era kekinian. Titik tekan utama dalam tafsir maqashidi adalah kajiannya yang diorientasikan pada maqashid dan maslahah. Maqashid utama dari ayat-ayat diatas bisa dilacak melalui asbāb al-nuzūl. Ayat tersebut berbicara mengenai larangan penghianatan. Adapun Maqashid dalam kepemimpinan dan kaitanya dengan kepemimpinan non-muslim, bisa dilacak secara dasar mengenai konsep kepemimpinan itu sendiri. Secara wewenang, kepemimpinan mencakup segala aspek, baik urusan dunia maupun agama. Secara fungsi, kepemimpin harus mampu menjaga dan memelihara stabilitas urusan dunia dan agama. Artinya, secara maqashid berdirinya sebuah negara adalah demi tujuan bersama mencapai negara yang makmur dan aman, mengantar kesejahteraan dalam menjaga lima hak asasi pokok yang dikenal dalam maqashidi, yakni memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Kredibilats dan integritas seorang pemimpin masuk kepada dlaruriyat (perkara primer) dalam kepemimpinan, sedangkan keberagamaan masuk pada hijaiyyat (kebutuhan skunder). Secara produktif (haytsul wujūd), pemimpin yang adil, amanah dan berintegritas akan mengantarkan bangsanya menjadi bangsa yang aman dan makmur. Secara protektif (haytsul ‘adam) kepemimpinan non-muslim merupakan kritik bagi umat muslim untuk dapat terus menghadirkan generasi-generasi yang mampu memimpin bangsa. Implikasi logis dari pandangan ini adalah, kepemimpinan non-muslim di Indonesia adalah legal, baik secara hukum formal maupun secara hukum agama sejauh hal tersebut dapat mendatangkan kemaslahatan bersama dalam bernegara. Selanjutnya, kepemimpinan harus didasarkan pada keagamaan, integritas dan kapabilitasnya. Apabila dihadapkan pada dua dua pilihan muslim dan non-muslim yang keduanya sama-sama memiliki integritas, maka seorang muslim tetap didahulukan. Berbeda ketika yang satu pemimpin kafir yang adil dan yang lain adalah pemimpin muslim yang dhalim, maka dibolehkan memilih pemimpin non-muslim, hal ini harus didasari rasa tulus untuk kemaslahatan, bukan karena kedekatan atau kekafiran orang tersebut

    Kontekstualisasi Al-Qur’an Dan Pancasila Melalui Penguatan Muslim HUB Sebagai Pola Alternatif Dalam Menghadapi Industri 4.0

    No full text
    AbstractThe Qur’an, which has the status of a Muslim holy book, is experiencing "alienation" because it is considered unable to make practical contributions to various new challenges that arise. Al-Qur’an and Pancasila, which are the two important handles of Indonesian Muslims, are expected to not only keep up with the times. More than that, the al-Qur’an and Pancasila must really be able to fill the void and give an active role through its values, to bring the progress of Indonesia with a distinctive personality in the face of the Industrial 4.0 era. This paper tries to review the strengthening of Muslim Hub as a strategy in dealing with Industry 4.0 through contextualization of the values of the Koran and Pancasila. This study uses Max Weber's theory of Protestant ethics. In a book entitled The Protestant Ethics and Spirit of Capitalism, Weber has done a thorough analysis of the relationship between capitalism and religion. AbstrakAl-Qur’an dan Pancasila harus betul-betul mampu mengisi kekosongan dan memberi peran aktif melalui nilai-nilainya, untuk membawa kemajuan Indonesia dengan kepribadian yang khas dalam menghadapi era Industri 4.0. Tulisan ini mencoba mengulas seputar penguatan muslim hub sebagai strategi dalam menghadapi Industri 4.0 melalui kontekstualisasi nilai al-Qur’an dan Pancasila. Dalam penelitian ini ada dua bukti empiris yang pertama order monastic, dimana orang saleh ternyata juga memiliki prestasi yang gemilang dari sisi material. Kedua sekte protestan yang memiliki prestasi yang gemilang dalam fase awal munculnya kapitalisme modern. Penelitian ini menggunakan teori Max Weber tentang etika Protestan. Dalam buku yang berjudul The Protestan Ethics and Spirit of Capitalism, Weber telah melakukan analisa yang mendalam mengenai relasi kapitalisme dan keagamaan yang menunjukkan betapa agama memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter pemeluknya. Jika ditarik ke kajian yang lebih luas, maka ideologi memiliki peran kuat dalam mempengaruhi perilaku pengikutnya, baik ideologi keagamaan maupun ideologi kenegaraan. Kata Kunci: Kontekstualisasi, Al-Qur’an, Pancasila, Industri 4.0.AbstractIn facing the era of the 4.0 industrial revolution, the Qur’an and Pancasila with their values should significantly contribute to the progress of the Indonesian nation that has unique characters.This article seeks to examine the strengthening of Muslim Hub as a strategy in facing the 4.0 industrial revolution through contextualization of values of the Qur’an and Pancasila. It uses Weber’s theory of “Protestant ethic” discussed in his book, The Protestant Ethics and Spirit of Capitalism. In this book, it is discussed that there are two empirical evidence; first is the monastic order where pious people have a high material achievement; and second is Protestantism that has a great achievement during the initial period of modern capitalism. Weber did a deep analysis of the relation between capitalism and religion, showing that religion is profoundly influential in shaping individual behavior. In this sense, ideology, in terms of either religion or state, plays a significant role in influencing people’s practice. AbstrakAl-Qur’an dan Pancasila harus betul-betul mampu mengisi kekosongan dan memberi peran aktif melalui nilai-nilainya, untuk membawa kemajuan Indonesia dengan kepribadian yang khas dalam menghadapi era Industri 4.0. Tulisan ini mencoba mengulas seputar penguatan muslim hub sebagai strategi dalam menghadapi Industri 4.0 melalui kontekstualisasi nilai al-Qur’an dan Pancasila. Dalam penelitian ini ada dua bukti empiris yang pertama order monastic, dimana orang saleh ternyata juga memiliki prestasi yang gemilang dari sisi material. Kedua sekte protestan yang memiliki prestasi yang gemilang dalam fase awal munculnya kapitalisme modern. Penelitian ini menggunakan teori Max Weber tentang etika Protestan. Dalam buku yang berjudul The Protestan Ethics and Spirit of Capitalism, Weber telah melakukan analisa yang mendalam mengenai relasi kapitalisme dan keagamaan yang menunjukkan betapa agama memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter pemeluknya. Jika ditarik ke kajian yang lebih luas, maka ideologi memiliki peran kuat dalam mempengaruhi perilaku pengikutnya, baik ideologi keagamaan maupun ideologi kenegaraan. Kata Kunci: Kontekstualisasi, Al-Qur’an, Pancasila, Industri 4.0

    ALQURAN DAN RAHASIA ANGKA: Kajian Kitab Tafsir Karya Abu Zahra al-Najdi

    Full text link
    The studies of miracles of the Qur’an have long been dominated by the composition of the versatility, the selection of discussions and the placement of balanced vocabulary, all of which extinguish the miracles of the Qur’an language. The studies continue to develop and emerge the studies of miracles of the Qur’an by looking at the mathematical miracles in the Qur’an. The miracles in the Qur’an were first introduced by Rashad Khalif by discovering the miracles of numbers in Qur’an verses. Some other studies tried to reveal the miracles of the Qur'an through matching and shifting certain aspects in Qur'an. Unlike in the previous studies, Abu Zahra An-Najd tried to relate words with the phenomenon of mathematical miracles that had been studied previously. This study tries to amend I‘jÄz ‘adadÄ« in the Qur'an and the Secret Book of Abu Zahra an-Najdi

    NILAI-NILAI MORAL DALAM BUKU SERI PENGAJARAN BAHASA ARAB LEVEL TIGA “AL QIROAH”

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang jelas tentang macam-macam nilai moral yang terkandung dalam buku seri pengajaran bahasa Arab level tiga “Al Qiroah” karya Muhammad Ibrahim Nasir, Al Jazuli Al Amin Ar riyh, Ahmad Baroi Al Amiro, As Sayuti Ibrahim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif melalui analisis isi. Penelitian ini difokuskan pada nilai-nilai moral yang terdapat pada buku seri pengajaran bahasa Arab level tiga “Al Qiroah”. Instrumen penelitian ini adalah Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dibantu dengan menggunakan table klafikasi yang berisikan tiga table klasifikasi yang berisikan tiga jenis nilai-nilai moral yaitu, nilai moral religious, nilai moral sosial kemasyrakatan, dan nilai moral pelestarian alam. Nilai-nilai moral yang terdapat dalam buku seri pengajaran bahasa Arab level tiga “Al Qiroah” adalah sebagai berikut: didalam Nilai moral religious terdapat 13 ungkapan yaitu Ayuhuma Akrom (1), Ilmu Nafi’ 2 (2), Jahiliyatul Yaum wa Jahiliyatul Ams (1), Jaaru Abi Hanifah (2), Amanah (1), Al Hijrah (1), Nahnu Muslimin (2), Fathu Makkah (1), Da’il Qolaqo (1), Al Aroq (1). Didalam nilai moral sosial kemasyarakatan terdapat 17 ungkapan yaitu Al Lisan (1), Ilmu Nafi’ 1 (1), Ilmu Nafi’ 2 (2), Bisyaroh Buhayri (1), Jahiliyatul Yaum wa Jahiliyatul Ams (1), Al Muslimatu Wal Jihad (1), Robitoh Al ‘Alam Al Islamiy (1), Ahdaf Robitoh Al ‘Alam Al Islamiy (2), Amanah (2), Min Nawadiril Hamqo (1), Al Imam AsSyafi’i (1), Al Hijrah (1), Baitur Ridwan (1), Fathu Makkah (1). Didalam nilai moral pelestarian alam terdapat 2 ungkapan yaitu Imu Nafi’ 1 (1) dan Ilmu Nafi’ 2 (1). Penulis menyimpulkan bahwa nilai-nilai moral yang banyak ditemukan dalam buku seri pengajaran bahasa Arab level tiga “Al Qiroah” adalah nilai moral sosial kemasyarakatan, dimana terdapat 19 nilai moral dari 32 nilai moral yang ada, dan terdapat 11 judul cerita dalam buku seri pengajaran bahasa Arab level tiga “Al Qiroah” yang tidak mempunyai nilai moral didalamnya. ************************** This study aims to obtain a clear description of the types of moral values contained in the third level Arabic textbook "Al Qiroah" by Muhammad Ibrahim Nasir, Al Jazuli Al Amin Ar riyh, Ahmad Baroi Al Amiro, As Sayuti Ibrahim. The method used in this research is Qualitative descriptive method through content analysis. This research focuses on moral values contained in the third level Arabic teaching book series "Al Qiroah". The instrument of this research is the researcher herself assisted by using a clarification table containing three classification tables namely, religious moral values, social moral values of the community, and moral values of nature conservation. The moral values contained in the third-level Arabic teaching book series "Al Qiroah" are as follows: in religious moral values there are 13 expressions namely Ayuhuma Akrom (1), Ilmu Nafi’ 2 (2), Jahiliyatul Yaum wa Jahiliyatul Ams (1), Jaaru Abi Hanifah (2), Amanah (1), Al Hijrah (1), Nahnu Muslimin (2), Fathu Makkah (1), Da’il Qolaqo (1), Al Aroq (1). In the social moral values there are 17 expressions namely Al Lisan (1), Ilmu Nafi’ 1 (1), Ilmu Nafi’ 2 (2), Bisyaroh Buhayri (1), Jahiliyatul Yaum wa Jahiliyatul Ams (1), Al Muslimatu Wal Jihad (1), Robitoh Al ‘Alam Al Islamiy (1), Ahdaf Robitoh Al ‘Alam Al Islamiy (2), Amanah (2), Min Nawadiril Hamqo (1), Al Imam AsSyafi’i (1), Al Hijrah (1), Baitur Ridwan (1), Fathu Makkah (1). In the moral value of nature preservation there are 2 expressions namely Imu Nafi’ 1 (1) and Ilmu Nafi’ 2 (1). The author concludes that the moral values found in the third level Arabic textbook "Al Qiroah" series are prominently social moral values, where there are 19 moral values from 32 moral values, and there are 11 story titles in the language teaching book series which has no moral value in it
    corecore