1,720,971 research outputs found
Analisis Kesempurnaan Pengeluaran Darah Paha Broiler Berbasis Kolorimetri dengan Pengolahan Citra Digital.
Meningkatnya minat konsumen terhadap daging ayam menyebabkan para pedagang bersaing untuk memperoleh keuntungan yang besar. Banyak diantara mereka yang dengan sengaja menjual daging ayam bangkai agar mendapatkan keuntungan lebih. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menentukan hewan yang mati sebelum disembelih adalah melalui pengukuran kadar darah dalam daging menggunakan pengolahan citra dengan aplikasi ImageJ. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi citra scanner dan mobile camera menggunakan ImageJ yang dibandingkan dengan spektrofotometer untuk mengukur konsentrasi darah berbasis kolorimetri pada daging ayam broiler. Ekstrak sampel daging yang direaksikan dengan Malachite Green dan H2O2 dianalisis menggunakan spektrofotometer, scanner dan mobile camera. Konsentrasi darah pada daging ayam yang disembelih disertai penggantungan, tanpa penggantungan dan bangkai 8 jam memiliki perbedaan yang nyata (P0.05) baik diukur dengan spektrofotometer, scanner dan mobile camera. Koefisien korelasi absorbansi larutan standar spektrofotometer dengan pengolahan citra scanner dan mobile camera bernilai 0.98 dan 0.97. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa citra scanner dan mobile camera dapat digunakan untuk menganalisis kesempurnaan pengeluaran darah pada daging ayam
Tingkat Absorbansi Alat Spektrofotometer dan Scanner untuk Deteksi Kesempurnaan Pengeluaran Darah pada Daging Puyuh
Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat absorbansi dari aspek penting keamanan pangan yang menjadi perhatian masyarakat saat ini yaitu halal. Salah satu cara mendeteksi daging bangkai di pasaran adalah kesempurnaan pengeluaran darah. Sampel diperoleh dari 9 daging puyuh bangkai, 9 daging puyuh yang disembelih tanpa digantung, dan 9 daging puyuh yang disembelih dengan digantung. Ekstrak sampel daging direaksikan dengan Malachite Green dan H2O2 diuji menggunakan spektrofotometer dan scanner lalu hasil gambar diolah menggunakan ImageJ. Nilai konsentrasi darah daging bangkai, daging yang disembelih tanpa gantung, dan daging yang disembelih dengan penggantungan menggunakan spektrofotometer adalah 0.42%; 0.40%; 0.38%; dan hasil menggunakan scanner secara berurutan adalah 1.35%; 1.10%; 1.07%. Konsentrasi darah dalam daging puyuh menunjukkan perbedaan yang signifikan (p>0.05) antara daging bangkai dan bukan bangkai baik diukur dengan menggunakan spektrofotometer maupun scanner. Simpulan dari penelitian ini adalah spektrofotometer dan scanner dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi kesempurnaan pengeluaran darah
Gambaran Sel Darah Putih Ayam Petelur Yang Diimunisasi Enzim Lipase Dan Adjuvan Jenis Aluminium Hidroksida Serta Quil A
Peran sel darah putih (BDP) berkaitan dengan kekebalan. Gambaran sel darah putih dipengaruhi oleh pemberian imunisasi yang bertujuan untuk meningkatkan antibodi. Aluminium hidroksida dan Quil A merupakan jenis adjuvan yang digunakan dalam penelitian untuk melihat perubahan gambaran BDP ayam petelur yang diimunisasi dengan enzim lipase dan ditambahkan adjuvan tersebut. Empat puluh dua ekor ayam petelur dibagi menjadi tujuh kelompok berdasarkan jenis adjuvan dan dosis imunisasi, yaitu kelompok A (0.25 mg lipase + Al(OH)3), B (0.5 mg lipase + Al(OH)3), C (1 mg lipase + Al(OH)3), D (0.25 mg lipase + Quil A), E (0.5 mg lipase + Quil A), F (1 mg lipase + Quil A), dan G sebagai kontrol negatif (tanpa imunisasi). Imunisasi dilakukan secara berulang sebanyak tiga kali dengan selang waktu empat minggu dan pengambilan sampel darah dilakukan dua minggu sebelum dan setelah imunisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total BDP dan limfosit mengalami penurunan yang nyata akibat imunisasi berulang (P<0.05). Peningkatan total BDP tertinggi terlihat pada imunisasi pertama dengan dosis imunisasi tertinggi yang ditambahkan Al(OH)3 (P<0.05) dan menurun pada imunisasi kedua dan ketiga. Dosis imunisasi dapat meningkatkan rasio heterofil terhadap limfosit yang dapat dijadikan sebagai indikator stres
Perkembangan Tulang Anak Tikus Betina Yang Induknya Diberi Ekstrak Etanol Akar Purwoceng Selama 13–21 Hari Kebuntingan
Tulang merupakan bagian dari sistem gerak yang menentukan performa dari hewan. Perkembangan tulang dimulai pada hari ke-10 kebuntingan pada saat organogenesis. Perkembangan tulang melalui proses proliferasi dan diferensiasi osteoblas yang diatur oleh growth factor seperti insulin like growth factor (IGF I dan II), bone morphogenic proteins (BMPs), fibroblast growth factor (FGF), dan flatelet-derived growth factor (PDGF) dan estrogen. Penelitian ini bertujuan menguji khasiat fitoestrogen pada akar purwoceng (Pimpinella alpina) terhadap pertumbuhan tulang anak tikus betina. Penelitian ini menggunakan dua puluh ekor tikus bunting yang terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas sepuluh ekor tikus bunting yang diberi ekstrak etanol akar purwoceng dengan dosis 25 mg/ml per 300 g bobot badan pada kebuntingan hari ke-13–21. Kelompok kedua terdiri atas sepuluh tikus bunting yang diberi air pada 13–21 hari kebuntingan sebagai kontrol. Anak tikus betina yang menjadi sampel diambil dari induk yang melahirkan anak dengan jumlah 8–9 ekor. Perkembangan tulang dari anak tikus diukur dari hari pertama kelahiran sampai dengan berusia tujuh minggu (49 hari). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa, perkembangan tulang anak tikus betina yang diberi ekstrak etanol akar purwoceng lebih panjang dibandingkan kelompok anak tikus kontrol
Diferensiasi Sel Darah Putih Burung Puyuh (Coturnix coturnix Japonica) Yang Diberi Perlakuan Cekaman Panas.
Pemanasan global telah memicu terjadinya perubahan iklim di bumi sehingga mempengaruhi terjadinya kenaikan tempratur di permukaan bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah leukosit dan diferensiasi darah putih pada 16 ekor burung puyuh yang diberikan cekaman panas selama 24 jam yang dikelompokkan dalam empat grup yaitu A (25 - 26°C), B (28 - 29°C), C (32 - 33°C) dan D (35 - 36°C). Pemberian cekaman panas dilakukan saat puyuh berumur 2 hari. Pengambilan darah dilakukan sebanyak dua kali pada saat puyuh berumur 6 minggu (grower) dan 12 minggu (layer). Secara keseluruhan semakin tinggi cekaman panas maka akan menaikkan jumlah total dari leukosit, heterofil dan monosit tetapi terjadi penurunan pada jumlah total limfosit. Pada temperatur paling tinggi (Grup D) terjadi kenaikan yang signifikan pada fase grower. Jumlah total monosit mengalami kenaikan yang signifikan pada temperatur paling tinggi pada fase grower dan layer. Rasio dari jumlah heterofil dan limfosit merupakan indikator dari indeks stres. Nilai indeks stress berada pada jarak sedang dan maksimum. Hal ini mengindikasikan cekaman panas pada suhu 25-36°C dapat mengakibatkan terjadinya heat stres pada puyuh
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
