6,949 research outputs found
SYEKH ABDUL HALIM HASAN, 1901-1969: Akar Tradisi Intelektual di Sumatera Timur Awal Abad XX
Abstrak: Penelitian ini mengkaji biografi dan kiprah intelektual Syekh Abdul Halim Hasan di Sumatera Timur. Keberlangsungan tradisi intelektual di Sumatera Timur dipengaruhi, salah satunya, oleh kemunculan ulama-ulama di kawasan ini. Sebagian mereka berasal dari etnis Melayu, dan tidak sedikit dari mereka merupakan ulama yang berasal dari etnis Mandailing yang merantau dari kawasan Tapanuli ke Sumatera Timur. Studi ini mengkaji bagaimana peran Syekh Abdul Halim Hasan yang berasal dari etnis Mandailing dalam mengembangkan tradisi intelektual Islam di Sumatera Timur. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis-historis, studi ini mengajukan temuan bahwa Syekh Abdul Halim Hasan memberikan kontribusi bagi penguatan tradisi intelektual Islam di Sumatera Timur. Ia tidak saja menghasilkan karya akademik dalam berbagai bidang keislaman, tetapi juga mampu melahirkan ulama berbakat selain turut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan di tanah kelahirannya. Abstract: Syekh Abdul Halim Hasan, 1901-1969: The Roots of Intellectual Tradition of East Sumatra in Early 20th Centuries. This study examines the biography and intellectual work of Syekh Abdul Halim Hasan in East Sumatra. The continuation of intellectual traditions in East Sumatra is influenced, among others, by the emergence of scholars in the region. Some of these scholars were local Malays; but a few of them were from Mandailing ethnic who had migrated from South Tapanuli. This study examines the role of Syekh Abdul Halim Hasan, a migrating scholar from Mandailing, in developing Islamic intellectual traditions in East Sumatra. Using a sociological-historical approach, this study proposes the findings that Syekh Abdul Halim Hasan had indeed contributed significantly in strengthening Islamic intellectual traditions of the region. He authored academic works in various fields of Islam, trained younger talented scholars, and also involved in independence struggle in his homeland. Kata Kunci: Mandailing, Melayu, Sumatera Timur, Syekh Abdul Halim Hasa
ACADEMIC CULTURE INSYEKH ABDUL HALIM HASAN BINJAI INSTITUTE
This research aims to analyze (1) the Implementation of Lecturer and Student Academic Ethics at the Syekh Abdul Halim Hasan Binjai Institute, (2) the Implementation of Lecturer and Student Academic Activities at the Syekh Abdul Halim Hasan Binjai Institute, (3) the Implementation of Lecturer and Student Academic Work at the Sheikh Institute Abdul Halim Hasan Binjai. This type of research is qualitative research with a phenomenological approach: the research data collection instrument used observation, interviews, and documentation techniques. The results of the discussion of research data obtained the following conclusions: (1) Implementing academic ethics for lecturers and students on the Syekh Abdul Halim Hasan Binjai Institute campus applies various forms of sound and correct academic attitudes and behavior values. (2) Implementation of academic activities for lecturers and students on the Syekh Abdul Halim Hasan Binjai Institute campus has implemented all activities while in the campus academic environment, starting from learning activities, research, service, and other activities that support the tri dharma of higher education. (3) Implementing the academic work of lecturers and students on the Syekh Abdul Halim Hasan Binjai Institute campus has produced scientific essays based on facts and written according to the applicable writing methodology
1 emas, 1 perak & 1 anugerah khas PPTnVIC2022 / Suhaiza Hasan and Nor Aimi Abdul Wahab
PERMATANG PAUH, 4 Februari 2022 - 2 Kumpulan Inovasi dari Program Pra Diploma Sains UiTM Cawangan Pulau Pinang telah berjaya merangkul 1 pingat emas, 1 pingat perak dan 1 Anugerah Khas Ruby Prize dalam PPT National Virtual Innovation Competition 2022 (PPTnVIC2022). Kumpulan Inovasi ini telah dibimbing oleh tiga pensyarah daripada JSG iaitu Puan Suhaiza Binti Hasan, Puan Noorezal Atfiynna Mohd Napiah dan Cik Nor Aimi Abdul Wahab. Inovasi PdP PHY083 Brain Booster yang dianggotai oleh Muhammad Ehsan Bin Sayuti, Nurliyana Binti Mohd Nizam dan Husna Binti Basyaruddin telah berjaya merangkul pingat emas dan memenangi anugerah khas (Ruby Prize) yang membolehkan mereka membawa pulang hadiah wang tunai sebanyak RM250 daripada pihak penganjur. PHY083 Brain Booster merupakan satu inovasi yang dihasilkan bertujuan untuk membantu para pelajar Pra Diploma Sains untuk mengukuhkan daya ingatan dan konsentrasi dalam pembelajaran Fizik. Ia berbentuk latihan minda yang juga bertujuan untuk menimbulkan minat dalam menguasai asas ilmu Fizik. Manakala bagi inovasi Chemithon & Physicsthon pula, kumpulan ini disertai oleh Dayang Nur Fatin Nadhirah Binti Awang Damit, Alya Nurazmina Binti Abdul Hamed dan Nur Adriana Nisa Binti Mohd Fuad. Chemithon & Physicsthon merupakan satu teknik baharu yang menggabungkan aktiviti ulangkaji subjek Fizik dan Kimia dan aktiviti fizikal menjelang peperiksaan akhir. Projek ini telah memenangi pingat Perak
PEMIKIRANFIQIH SYEKH ABDUL HALIM HASAN (1901-1969 M) TENTANGAYAT-AYAT MUNÂKAHAT DALAM KITAB TAFSIR AHKÂM
Ayat Ahkam merupakan ayat-ayat yang mengkaji secara spesifik tentang
hukum.Tentu para mufassir memiliki pemikiran yang berbeda dalam memahami
hukum pada ayat tersebut, sehingga terkadang mengarahkannya pada mazhab yang
dianut oleh mufassir. Berbeda dengan Syekh Abdul Halim Hasan, sebagai seorang
mufassir beliau memiliki cara yang berbeda dengan pendahulunya. Dari perbedaan itu
melahirkan pemikiran yang unik.
Rumusan masalah penelitianini adalah pertama, Bagaimana karateristik
penafsiran Syekh Abdul Halim Hasan tentang ayat-ayat munakahat dalam kitabnya
Tafsir Ahkam ?Kedua, Apa keistimewaan metodologi penafsiran hukum Syekh Abdul
Halim Hasan tentang ayat-ayat munakahat dalam Kitabnya Tafsir Ahkam?Ketiga, Apa
pengaruh pemikiran Syekh Abdul Halim Hasan terhadap pemikiran hukum
masyarakat Sumatera Utara? Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplor produk
pemikiran fiqih ulama nusantara agar dapat diaplikasikan dalam konteks masyarakat
Indonesia.
Metode penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library reseach)
yang sifatnya kualitatif analitik melalui pendekatan historical approach (pendekatan
sejarah). Data penelitian ini dengan kajian teks kemudian dianalisis dengan teknik
deskriptif-analitik. Yaitu mengemukakan genealogi fiqih dan tafsir (hukum) baik dari
historisitas, aliran mazhab, dan thuruq istikhrajul dan tatbiqahkam-nya dengan
menganalisa produk-produk fiqih dalam kitabnya Tafsir Ahkam.
Hasil penelitian disertasi ini adalah pertama, Abdul Halim Hasan memiliki
penafsiran hukum yang moderat. Tampak ketika menguraikan persoalan fiqih, beliau
mengemukakan pendapat para ulama/imam mazhab tanpa ta’ashub pada mazhab
tertentu. Kedua, metodologi penafsiran hukum Syekh Abdul Halim Hasan
menggunakan metode riwayah dan dirayah, dengan memberikan perhatian yang
serius pada metode riwayah. Ketiga, pemikiran hukum Syekh Abdul Halim Hasan
sangat berpengaruh terhadap pemikiran hukum masyarakat Sumatera Utara.
Kehadiran kitab Tafsir Ahkam ini memberikan kontribusi untuk memahami pesanpesan
hukum dalam
al-Qur’an khususnya hukum perkawinan.
Dengan
demikian,
Syekh Abdul HalimHasan
memahami
betul kaidah-kaidah
tafsir,serta
metodologi
istikhrajul
ahkam-nya
sehingga menghasilkan
produk fiqih
yang
fleksibel.
Kata
Kunci:
Abdul
Halim Hasan, ayat-ayat munakahat, Tafsir Ahka
PERANAN SYEKH H. ABDUL HALIM HASAN DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI KOTA BINJAI PADA TAHUN 1927 – 1969
Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk menjelaskan dan menganalisis kondisi sosial, keagamaan dan intelektualKota Binjai pada abad ke 20. (2) Aktivitas Syekh H. Abdul Halim Hasan dalam bidang pendidikanIslam. (3) Faktor pendukung dan penghambat perjuangan Syekh H. Abdul Halim Hasan dalam pengembanganpendidikan Islam di kota Binjai. (4) Relevansi warisan perjuangan Syekh H. Abdul Halim Hasanterhadap pendidikan di kota Binjai saat ini. Penelitian ini adalah penelitian studi tokoh dengan metodesejarah dan pendekatan sejarah sosial. Adapun tiga indikator yang akan dikaji yaitu; Pertama, integritastokoh tersebut. Kedua, karya-karya monumental. Ketiga, kontribusi dalam bentuk pikiran. Adapunprosedur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mencakup empat langkah, yakni heuristik, kritiksumber, analisis/ interpretasi, serta historiografi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Kondisi sosial Binjaisecara sosiologis, berkembang menjadi daerah kosmopolit dengan keberagaman warga kotanya, secarakultural mempunyai penduduk dengan kelompok etnik (Jawa, Aceh, Minang, Karo, Toba, Mandailing,Melayu dan lain-lain) dan religius (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha). Kondisi keagamaandi Binjai ditandai dengan lahirnya sebuah madrasah yang bernama Madrasah Jam’iyatul Khairiyah.Kondisi intelektual di Binjai tumbuh seiring dengan lahirnya Arabiyah School. (2) Aktivitas AbdulHalim Hasan di Kota Binjai mengajar dengan mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmusains. (3) Faktor pendukung pendidikan di Kota Binjai, pertama, semangat dan keseriusan para saudagarIslam yang ada di Binjai dalam mensupport dana. Kedua, dukungan dari Sultan Langkat dalam bentukwakaf sebidang tanah. Ketiga, sumber daya manusia yang mumpuni dan memadai serta ahli dibidangnya.Keempat, mata pelajaran yang diajarkan pada madrasah Sementara faktor penghambat yaitu kecurigaanpemerintah Kolonial Belanda terhadap keberadaan madrasah (4) Pemikiran dan upayaAbdul HalimHasan tentang pendidikan Islam dari kelembagaan, menggagas perubahan nama madrasah dariJam’iyatul Khairiyah dengan Arabiyah School. Dari segi manajemen, memiliki gagasan agar gurumengajar sesuai dengan keahlian dan pendanaan di Arabiyah School dilakukan dengan swadayamasyarakat dan iuran secara gotong royong melalui zakat, infaq, dan sedekah.Kata Kunci: Peranan, Abdul Halim Hasan, Pengembangan Pendidikan Islam, Binja
SYEKH ABDUL HALIM HASAN, 1901-1969: Akar Tradisi Intelektual di Sumatera Timur Awal Abad XX
Abstrak: Penelitian ini mengkaji biografi dan kiprah intelektual Syekh Abdul Halim Hasan di Sumatera Timur. Keberlangsungan tradisi intelektual di Sumatera Timur dipengaruhi, salah satunya, oleh kemunculan ulama-ulama di kawasan ini. Sebagian mereka berasal dari etnis Melayu, dan tidak sedikit dari mereka merupakan ulama yang berasal dari etnis Mandailing yang merantau dari kawasan Tapanuli ke Sumatera Timur. Studi ini mengkaji bagaimana peran Syekh Abdul Halim Hasan yang berasal dari etnis Mandailing dalam mengembangkan tradisi intelektual Islam di Sumatera Timur. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis-historis, studi ini mengajukan temuan bahwa Syekh Abdul Halim Hasan memberikan kontribusi bagi penguatan tradisi intelektual Islam di Sumatera Timur. Ia tidak saja menghasilkan karya akademik dalam berbagai bidang keislaman, tetapi juga mampu melahirkan ulama berbakat selain turut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan di tanah kelahirannya. Abstract: Syekh Abdul Halim Hasan, 1901-1969: The Roots of Intellectual Tradition of East Sumatra in Early 20th Centuries. This study examines the biography and intellectual work of Syekh Abdul Halim Hasan in East Sumatra. The continuation of intellectual traditions in East Sumatra is influenced, among others, by the emergence of scholars in the region. Some of these scholars were local Malays; but a few of them were from Mandailing ethnic who had migrated from South Tapanuli. This study examines the role of Syekh Abdul Halim Hasan, a migrating scholar from Mandailing, in developing Islamic intellectual traditions in East Sumatra. Using a sociological-historical approach, this study proposes the findings that Syekh Abdul Halim Hasan had indeed contributed significantly in strengthening Islamic intellectual traditions of the region. He authored academic works in various fields of Islam, trained younger talented scholars, and also involved in independence struggle in his homeland. Kata Kunci: Mandailing, Melayu, Sumatera Timur, Syekh Abdul Halim Hasa
Abdul Halim Hasan and his methodological approach in tafsir Al-Quran Al-Karim=Abdul Halim Hasan dan metodologinya dalam tafsir al-Quran al-Karim
Abdul Halim Hasan was a Malay exegetical writer of Indonesian origin. His work on Qur’Énic exegesis, or tafsir, transcended geographical boundaries and reached audiences around the Malay regions, especially Malaysia. The academic value of this particular tafsir is undeniably outstanding as an early twentieth century exegetical writing. This paper highlights Abdul Halim Hasan and his academic measures in the writing of TafsÊr al-Quran al-Karim. Emphasis was given towards his biography and methodological contribution in tafsir. This qualitative study utilized deductive and inductive method to examine and discuss his tafsir as well as methodology. The result indicated that Abdul Halim Hasan implemented specific methodology in his tafsÊr, benefitting from his reference of the past scholars in this field.
Abdul Halim Hasan merupakan ulama tafsir Melayu yang berasal dari Indonesia.
Pengaruh tafsirnya melangkaui sempadan ke seluruh Nusantara terutamanya Malaysia.
Nilai akademik bagi karya tafsirnya ini tidak dapat disangkal lagi sebagai sebuah
tafsir berpengaruh awal kurun ke dua puluh. Artikel ini bertujuan untuk melihat latarbelakang
bagi pengarang tafsir ini, Haji Abdul Halim Hassan, dan karya akademiknya,
TafsÊr al-Quran al-Karim. Fokus utama akan diberikan terhadap biografi penulis sumbangannya
dari sudut metodologi dalam penafsiran al-Quran. Kajian ini adalah suatu
kajian kualitatif yang akan menggunapakai kaedah deduksi dan induksi, bagi menkaji
dan menyususun metodologi yang dipraktik oleh beliau dalam penulisan tafsirnya.
Kajian mendapati beliau menggunakan kaedah khusus didalam penafsirannya yang diambil
dari kefahamannya keatas penulisan tafsir oleh ulama-ulama terdahulunya
Dampak Pemikiran Tauhid Muhammad Bin Abdul Wahhab Dan Abul Hasan Al-Asy'ari Terhadap Dakwah Kontemporer
Tawhid da'wah is the main mission of the Prophets and Apostles sent by Allah SWT. Muhammad bin Abdul Wahhab and Abul Hasan al-Asy'ari are influential figures in the hazanah of tauhid thinking. His thoughts spread throughout the world and many were followed by Muslims. This led to a number of differences in istinbath a problem and caused his followers to form a firqah that defended the founders of Manhaj. In this study wanted to find out how Muhammad bin Abdul Wahhab and Abul Hasan al-Asy'ari's views on asthma wa traits, and know how the impact of Muhammad bin Abdul Wahhab and Abul Hasan al-Asy'ari's thoughts on contemporary da'wah. This research is a library research study. From the results of the study it appears that Muhammad bin Abdul Wahhab's view of asthma wa is the character of what Allah and His Messenger have set in the Qur'an and hadith. Asma wa traits are part of ushul iman, tauqifiyah cases, without takyif (asking how), tasybih (liking), takwil (changing meaning). Whereas Abul Hasan al-Asy'ari's view is to believe in asthma wa traits in accordance with the Qur'an and sunnah with no resemblance to His creatures (tajsim/tasybih). The impact of his thoughts on contemporary da'wah is the division of three groups of tauhid voters, namely: the wahhabiyah/salafiyah group, the al-Asya'iroh group, and the group that benefits from the two
In memory of Shah Abdul Hannan
Shah Abdul Hannan was a great believer in Islam and lover of his country. He would reach out to any groups that work for one or both of these two entities. He had friends in major political parties and through them conveyed advice to the leadership for the betterment of Bangladesh. He always highlighted the good attributes of people and hardly spoke ill of others. I can write reams of paper to describe his honesty and magnanimity and his ability to love and forgive others. Suffice to say here that the country owes a profound debt of gratitude to Shah Abdul Hannan. I hope posterity will emulate his selflessness, nobility of character and intense patriotism. It is also my hope that his legacy will continue across future generations. I pray to God for his recompense in the life hereafter
- …
