1,720,995 research outputs found
PERAN FOTORESEPTOR PADA TROPISME TANAMAN SEBAGAI RESPON TERHADAP CAHAYA
Tanaman menggunakan cahaya untuk menghasilkan energi kimia melalui fotosintesis. Dalam rangka untuk mendapatkan kondisi optimum pada proses fotosintesis, tanaman memodulasi bentuk untuk memaksimalkan jumlah cahaya yang diterima selama hidupnya. Fototropisme adalah salah satu contoh yang khas dalam memodulasi bentuk dan mudah diamati di bawah kondisi alam. Tulisan ini merupakan review dari berbagai artikel ilmiah sehingga bahan dan metode tidak dijelaskan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa respon tanaman terhadap arah rangsangan cahaya yang disebut fototropisme diperantarai oleh tiga jenis fotoreseptor cahaya, yaitu fototropin, fitokrom dan kriptokrom. Fototropin dan kriptokrom merupakan fotoreseptor cahaya biru/UV-A, sedangkan fitokrom merupakan fotoreseptor cahaya merah. Respon tanaman terhadap cahaya, umumnya sama, yaitu mengakibatkan terjadi respon fototropisme pada daun, batang, petiolus maupun hipokotil. Pada daun, umumnya respon fototropisme berupa pergerakan daun ke arah cahaya ataupun perubahan posisi daun menghadap cahaya dan bentuk daun yang merata. Demikian pula yang terjadi pada batang, petiolus maupun hipokoti
Perbaikan Sifat Kimia Tanah dengan Penanaman Asystasia gangetica (L.) T. Anderson sebagai Cover Crop
This decrease in land productivity is closely related to the reduced organic matter content in the soil, so efforts are needed to overcome it by utilizing asystasia gangetica weeds as a cover crop. The purpose of this study was to determine the benefits of A. gangetica as a cover crop in improving soil chemical properties under shaded and unshaded conditions. The research was conducted at the Experimental Garden of the Faculty of Agriculture, Islamic University of North Sumatra (UISU), Johor Building, Medan. The research method used was a split plot design in a factorial randomized block design. The first factor as the main plot is Shade (N) and the second factor as the subplot is Cover crop (C) with three replications. The results of this study showed that A. gangetica grown as a cover crop was able to improve soil chemical properties by increasing the organic C, total N, and available K content of the soil after treatment. Likewise, the combination of both shaded and unshaded treatments with cover crop A. gangetica (N1C1 and N0C1) was able to improve soil chemical properties by increasing the C-organic, total N, and available K-content of the soil after treatment.Penurunan produktivitas lahan ini sangat terkait dengan semakin berkurangnya kandungan bahan organik di dalam tanah sehingga dibutuhkan upaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan gulma asystasia gangetica sebagai cover crop. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat A. gangetica sebagai cover crop dalam memperbaiki sifat kimia tanah pada kondisi naungan maupun tanpa naungan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), Gedung Johor, Medan. Metode peneitian yang digunakan adalah rancangan petak terpisah dalam rancangan acak kelompok faktorial. Faktor pertama sebagai petak utama adalah Naungan (N) dan faktor kedua sebagai nak petak adalah Cover crop (C) dengan tiga ulangan. Hasil dari penelitian ini terlihat bahwa A. gangetica yang ditanam sebagai cover crop mampu memperbaiki sifat kimia tanah dengan meningkatkan kandungan C-organik, N-total, dan K-tersedia tanah setelah perlakuan. Demikian pula kombinasi perlakuan antara naungan maupun tanpa naungan dengan cover crop A. gangetica (N1C1 dan N0C1) mampu memperbaiki sifat kimia tanah dengan meningkatkan kandungan C-organik, N-total, dan K-tersedia tanah setelah perlakuan
Effect of seedling number per hill and seedling age on plant growth and grain yield Ciherang Rice
Rice (Oryza sativa L.) is an important plant as one of the main food sources in Indonesia. Efforts to increase the productivity of rice conducted with intensification, by intensifying the use of seedling number per hill and seedling age while transplanting. The research were conducted to determine the effects of seedling number per hill and seedling age on plant growth, and grain yield Ciherang rice. The research was done at UPT. Balai Benih Induk (BBI) Perdamean village Tanjung Morawa from March 2012 to June 2012. Reducing seedling number per hill from 5 to 3 and 1 respectively, increased plant growth and grain yield significantly. Increasing seedling age from 7 to 14 and 21 days resulted in significant increasing plant growth and grain yield. In general, transplanting 7-21 day-old seedlings at one seedling per hill increased plant growth and grain yield Ciherang ric
ANALISIS PENGARUH HARGA JUAL BERAS DAN JAGUNG TERHADAP TINGKAT INFLASI DI SUMATERA UTARA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan fluktuasi harga bahan pangan di Sumatera Utara,dampak fluktuasi harga komoditas pangan terhadap inflasi di Provinsi Sumatera Utara, bagaimana tingkat inflasi di Sumatera Utara. Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, model VAR (Vector Autoregression) atau VECM (Vector Error Correction Model) dan Uji kausalitas Granger.Hasil dari analisis deskriptif menunjukkan perkembangan harga komoditas pangan di Provinsi Sumatera Utara pada Januari 2018 hingga Agustus 2020.Pada umumnya memiliki kecenderungan yang berfluktuatif. Hasil analisis VAR menunjukan pada jangka pendek harga jagung dan inflasi berpengaruh secara signifikan, pada hubungan jangka panjang seluruh variable tidak saling berhubungan secara signifikan.Hasil dari uji kausalitas Granger hanya terjadi hubungan kausalitas satu arah, yaitu harga jual jagung terhadap harga jual beras
(Plant Community Composition Under Mature Oil Palm Stands)
Komposisi tumbuhan di bawah tegakan suatu pohon mencerminkan dampak fitur lingkungan seperti penutupan tumbuhan bawah secara spontan di lorong-lorong tegakan pohon serta merupakan metode konservasi tanah yang sering dilakukan dan memiliki beberapa keuntungan, seperti mengurangi erosi, meningkatkan retensi unsur hara setelah hujan, meningkatkan kandungan karbon tanah dan unsur hara lainnya. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi komposisi komunitas tumbuhan, dan mengetahui spesies tumbuhan dominan. Penelitian dilaksanakan di erkebunan kelapa sawit rakyat umur 15 tahun di Desa Naga Rejo, Kecamatan Galang, Deli Serdang, Sumatera Utara. Identifikasi komposisi komunitas tumbuhan di bawah tegakan kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan metode kuadrat 1 m x 1 m. Spesies tumbuhan yang mendominasi di bawah tegakan kelapa sawit adalah A. trapeziformis dari jenis pakuan, diikuti oleh A. gangetica dari jenis berdaun lebar, P. ensiformis dari jenis pakuan, C. acrescens dari jenis rumputan, serta N. biserrata dari jenis pakuan dengan indeks keanekaragaman jenisnya tergolong sedang (H' = 2.03).The composition of vegetation under a tree stand reflects the impact of environmental features such as spontaneous cover of undergrowth in tree stand aisles and is a soil conservation method that is often used and has several benefits, such as reducing erosion, increasing nutrient retention after rain, increasing carbon content soil and other nutrients. The aim of this research is to identify the composition of plant communities and determine the dominant plant species. The research was carried out in a 15 years old smallholder oil palm plantation in Naga Rejo Village, Galang District, Deli Serdang, North Sumatra. Identification of plant community composition under oil palm stands was carried out using the 1 m x 1 m quadrat method. The dominant plant species under oil palm stands is A. trapeziformis from the fern type, followed by A. gangetica from the broadleaf type, P. ensiformis from the fern type, C. acrescens from the grass type, and N. biserrata from the fern type with index its species diversity is classified as moderate (H' = 2.03)
KARAKTER FISIOLOGI LATEKS DAN HUBUNGANNYA DENGAN PRODUKSI LATEKS KLON GT 1 DI KEBUN KARET RAKYAT KABUPATEN LANGKAT
Kadar sukrosa, fosfat anorganik dan thiol merupakan karakter fisiologi pada tanaman karet yang erat hubungannya dengan kemampuan tanaman dalam pembentukan lateks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara karakter fisiologi dengan produksi lateks pada klon GT 1 dan waktu aplikasi stimulan yang tepat tanpa mengganggu kesehatan tanaman karet. Penelitian ini dilaksanakan di kebun karet rakyat desa Harapan, Kecamatan Sei Lapang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara.  dan Laboratorium Fisiologi Balai Penelitian Sungei Putih pada tahun 2018. Klon yang diuji dalam penelitian ini yaitu klon GT 1 pada umur 20 tahun. Penelitian ini menggunakan metode Analisis Statistik Uji Korelasi dan Regresi. Berdasarkan analisa statistik hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa kadar sukrosa berkorelasi negatif dengan produksi lateks, Bulan Juni produksi lateks tinggi dipengaruhi oleh faktor fisiologi lateks sebesar 57,25%. Kondisi tersebut merupakan waktu yang tepat untuk aplikasi stimulansia pada klon GT 1.Â
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KARET KLON GT 1 MELALUI KOMBINASI KOSENTRASI STIMULAN DAN WAKTU PENYADAPAN DI KEBUN KARET RAKYAT DELI SERDANG
Produktivitas karet rakyat di Indonesia masih rendah karena mutu penyadapan di lapangan yang belum sesuai dengan anjuran. Penelitian bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman karet klon GT 1 melalui kombinasi kosentrasi stimulan cair dan waktu penyadapan. Percobaan dilakukan di Desa Naga Rejo Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Metode penelitian yang diterapkan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diujicobakan adalah kombinasi kosentrasi stimulan (0,0, 2,5, dan 3,5%) dan waktu sadap (pagi, siang, dan sore). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang diberi stimulan 2,5% dan 3,5% dan disadap pada pagi hari memiliki karakteristik fisiologi dan pH lateks yang berada dikisaran optimal. Hasil lateks tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan kosentrasi stimulan 2,5%15d baik disadap pada pagi, siang dan sore. Penyadapan pada siang dan sore hari dengan kosentrasi stimulan 3,5% tidak disarankan pada klon GT 1 umur 10 tahun. Peningkatkan produktivitas dapat dilakukan dengan perlakuan kosentrasi stimulan 2,5%15d dan disadap pada pagi hari
Respon pertumbuhan dan produksi tanaman jagung (Zea mays L.) terhadap sistem tanam dan pemberian pupuk kandang sapi
Respon tanaman terhadap lingkungan merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tanaman jagung terhadap sistem tanam dan pemberian pupuk kandang sapi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UISU Gedung Johor, Medan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan pertama adalah sistem tanam yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: sistem tanam biasa (75 cm x 20 cm), sistem tanam lajar 4:1 (20 cm x 40 cm), dan sistem tanam lajar 2:1 (20 cm x 50 cm). Perlakuan kedua adalah dosis pupuk kandang sapi yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: 0, 5, 10, dan 15 t/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam lajar 2:1 dan pemberian pupuk kandang sapi sebanyak 15 t/ha mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman jagung, sedangkan interaksi perlakuan antara sistem tanam dan dosis pupuk kandang sapi belum mampu mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman jagung
Tempe sebagai sumber antioksidan: Sebuah Telaah Pustaka
Kedelai merupakan bahan pokok tahu dan tempe, yang merupakan makanan utama masyarakat Indonesia. Tempe merupakan bahan makanan hasil fermentasi kacang kedelai atau jenis kacang-kacangan lainnya menggunakan jamur Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae. Tempe umumnya dibuat secara tradisional dan merupakan sumber protein nabati. Di Indonesia pembuatan tempe sudah menjadi industri rakyat. Tempe mengandung berbagai nutrisi yang diperlukan oleh tubuh seperti protein, lemak, karbohidrat, dan mineral. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh. Hal ini dikarenakan kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe juga merupakan makanan asli Indonesia tinggi kandungan antioksidan terutama isoflavon faktor-II (6,7,4' tri-hidroksi isoflavon) yang bermanfaat untuk pencegahan dan penurunan kejadian penyakit kanker payudara dan jantung korone
PRODUKSI KARET DAN KONDISI FISIOLOGIS LATEKS KLON GT 1 PADA BERBAGAI UMUR DAUN DAN CURAH HUJAN
Faktor genotipe, lingkungan, dan interaksi genotipe dengan lingkungan memengaruhi perkembangan dan kemampuan menghasilkan lateks yang tinggi. Salah satu faktor dominan adalah kondisi lingkungan yaitu curah hujan bulanan dan sistem eksploitasi yang memengaruhi hasil lateks klon GT 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan yang erat antara beberapa variable fisiologi lateks, umur daun, dan hasil lateks klon GT 1. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa fisiologi lateks berfluktuasi yang dipengaruhi oleh umur daun dan kadar air tanah (curah hujan). Perkembangan daun memengaruhi kondisi fisiologis lateks. Pada kondisi daun masih berwarna coklat-hijau cenderung fisiologis lateks rendah dan diduga distribusi fotosintat lebih banyak dialokasikan untuk perkembangan daun. Aktivitas fisiologi lateks mulai meningkat kembali pada saat daun berwarna hijau muda
- …
