1,720,961 research outputs found
EPISTEMOLOGI, LOGIKA DAN BAHASA
Abstrak:Ada keberkaitan erat antara kajian mengenai pengetahuan dan kajian mengenai bahasa sebagai media untuk mengungkapkan apa yang diketahui. Para filsuf umumnya tertarik untuk membahas hubungan antara pikiran, kata dan realitas. Sebagian dari mereka telah tiba pada sebuah kesimpulan bahwa ternyata kata-kata berada di persimpangan jalan: apakah ia ingin mencerminkan apa yang ada di dalam pikiran ataukah ia ingin mencerminkan apa yang ada di dalam realitas. Kemudian bagaimana cara membedakan antara kalimat (proposisi) yang benar dari kalimat yang keliru. Analisis gramatikal berhenti hanya sebatas hubungan antara kalimat dengan kaidah-kaidah gramatikal sebagai uji kebenaran suatu proposisi. Tetapi bagaimana menguji kebenaran isi (properti, esensi, substansi) suatu proposisi? Banyak teori filosofis yang dikemukakan namun tetap saja bahwa seperti hal pikiran merupakan suatu misteri, kata-kata dan kalimat juga membentuk misterinya sendiri
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Logika aristoteles dalam perspektif Ibn Taimiyyah: studi atas motif kritik dan implementasi
Melalui penerjemahan karya-karya filsafat Barat (Yunani) ke dalam bahasa Arab, akulturasi Islam terhadap Barat itu telah melahirkan filsafat Islam dan mendorong para filsuf Muslim untuk menyerap pendapat para filsuf Yunani kuno dan berupaya menemukan argumentasi mengenai kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Sedangkan para pemikir Muslim yang mengedepankan otoritas wahyu jelas bersikap kritis terhadap filsafat Barat (Yunani) dan mempersoalkan kesesuaian antara filsafat Barat (Yunani) dan ajaran Islam. Kasus Ibn Taymiyyah menjadi unik sebab pada zamannya, kebebasan berpikir di kalangan kaum Muslimin telah mendorong munculnya berbagai sekte yang memecah belah dan melemahkan kaum Muslimin sehingga mereka tak berdaya menghadapi agresi Mongol. Menurut Ibn Taymiyyah, kenyataan pahit ini diakibatkan langsung oleh ulah sebagian pemikir Muslim yang menggunakan sumber-sumber asing dalam membahas keyakinan ketuhanan khususnya dan keyakinan keagamaan umumnya. Kritik Ibn Taymiyyah terhadap logika Aristoteles jelas merupakan konsekwensi logis dari keprihatinan Ibn Taymiyyah terhadap perpecahan akidah di kalangan kaum Muslimin dan penerapan sumber-sumber asing dalam pembahasan masalah-masalah keagamaan, misalnya konsepsi ketuhanan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para filsuf Muslim seperti al-Farabi dan Ibn Sina. Dengan mengkritik logika Aristoteles, Ibn Taymiyyah telah menunjukkan kehampaan sumber asing ini dalam diskursus tentang konsepsi ketuhanan dan bahkan dalam diskursus epistemologi sekalipun. BAB VI Zaimul Am Logika Aristoteles dalam Perspektif Ibn Taymiyyah 250 Dalam konteks ini, kritik Ibn terhadap silogisme Aristoteles telah membuktikan dua hal. Pertama, silogisme tidak memberikan faedah keilmuan sebab apa yang mungkin diketahui melalui silogisme mungkin pula diketahui tanpa silogisme. Kedua, silogisme Aristoteles berkaitan dengan metafisika yang menurut Ibn Taymiyyah hanya membahas apa yang ada di dalam pikiran namun tidak ada di dalam realitas. Ibn Taymiyyah juga menolak pernyataan Aristoteles dan para pengikutnya bahwa konsep tidak dapat diperoleh kecuali melalui definisi. Menurut Ibn Taymiyyah, pernyataan ini bersifat negatif dan karenanya tidak dapat dijadikan dasar bagi pengetahuan. Sebaliknya, Ibn Taymiyyah menyatakan bahwa definisi tidak dibutuhkan di dalam dunia pengetahuan sebab banyak ilmuwan yang menguasai bidang ilmu masing-masing tanpa harus bersandar kepada pengetahuan tentang definisi. Kritik Ibn Taymiyyah terhadap Aristoteles dan para pengikutnya maupun berbagai aliran pemikiran yang ada pada masanya akan menjadi lebih jelas jika dilihat dari perspektif motif yang berada di balik kritik tersebut. Penelitian dalam disertasi ini telah menunjukkan adanya tiga macam motif yakni motif pemurnian ajaran Islam, motif politik dan motif ambisi personal. Motif pemurnian ajaran Islam terlihat jelas dari kesungguhan seruan Ibn Taymiyyah agar kaum muslimin kembali kepada Al-Quran, Sunnah dan ajaran kaum salaf serta tidak menggunakan sumber-sumber asing dalam membahas ajaran agama Islam. Motif politik Ibn Taymiyyah terlihat jelas melalui fakta bahwa pemikiran Ibn Taymiyyah dilatari oleh keprihatinannya atas agresi Mongol yang merusak Baghdad dan mengubur potensi perkembangan salafisme di Baghdad. Selain itu, Ibn Taymiyyah juga memiliki hubungan yang dekat dengan penguasa muslim yang semazhab dengannya. Sedangkan motif ambisi personal Ibn Taymiyyah terlihat jelas melalui ketidakbenaran klaim Ibn Taymiyyah bahwa dia meneladani kaum salaf padahal terbukti cukup banyak tokoh salaf seperti Imam al-Sy�fi�i, Imam Hanafi, Imam Malik dan bahkan Imam Ahmad ibn Hanbal ternyata tidak sejalan dengan pemikirannya. Sungguhpun demikian, kritik Ibn Taymiyyah sebagaimana disebutkan di atas memiliki implikasi etik dan faedah tertentu yang dapat ditarik terutama dari metodologi Ibn Taymiyyah. Penambahan daftar kekafiran para filsuf Muslim seperti al-Farabi dan Ibn Sina jelas merupakan implikasi etik dari kritik Ibn Taymiyyah terhadap para filsuf Studi atas Motif Kritik dan Implikasinya Zaimul Am 251 Muslim tersebut. Sedangkan faedah yang dapat diperoleh dari metodologi Ibn Taymiyyah antara lain adalah pengindahan terhadap fakta-fakta empirik, makna penting berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah, dan islamisasi pengetahuan. Yang disebut terakhir sesungguhnya bersumber dari penerapan metode istidl
TEKNIK PENILAIAN HASIL PEMBELAJARAN
Abstrak:Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan satuan pendidikan dalam mengelola proses pembelajaran. Penilaian merupakan bagian yang sangat penting dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penilaian, pendidik dapat mengambil keputusan secara tepat untuk menentukan langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Penilaian hasil pembelajaran merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap guru maupun dosen dengan tujuan untuk mengetahui, hasil penilaian juga dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk berprestasi lebih baik. Teknik penilaian dapat dilakukan secara komplementer (saling melengkapi) sesuai dengan kompetensi yang dinilai.Kata Kunci: Teknik, Penilaian, Belajar
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
