1,721,065 research outputs found

    Pemikiran pendidikan Islam K.H. A. Mustofa Bisri

    Get PDF
    INDONESIA : Dekadensi moral yang melanda hampir setiap lapisan masyarakat, mulai dari kalangan pelajar hingga kalangan pejabat, membuat sistem pendidikan dipertanyakan keberadaannya. Pendidikan Islam dinilai menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, pendidikan Islam, yang basisnya ada di pesantren, mayoritas masih melestarikan sikap tradisionalisme dalam arti yang pasif, sehingga lulusan pesantren hanya menjadi manusia yang terdidik tapi kurang pintar. Disini, K.H. A. Mustofa Bisri menyuarakan kegelisahannya dalam bentuk gagasan progresif, yang menjadikan tradisi sebagai basis transformasi dengan berpegang pada adagium al muhafadhah „ala al qadim al shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah (memelihara tradisi/sesuatu yang lama yang baik dan mengambil tradisi/sesuatu yang baru yang lebih baik). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) Pemikiran pendidikan K.H. A. Mustofa Bisri; (2) Karakteristik post tradisionalisme dalam pemikiran K.H. A. Mustofa Bisri; (3) Pemikiran pendidikan post tradisionalisme Islam K.H. A. Mustofa Bisri; (4) Pemaknaan baru sistem pendidikan Islam dalam pemikiran post tradisionalisme K.H.A. Mustofa Bisri Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (Field Research). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Namun secara operasional, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tematis kualitatif, yang merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian study tokoh. Sumber data dalam penelitian ini yaitu hasil wawancara dengan K.H. A. Mustofa Bisri dan karya tertulisnya, dalam bentuk buku, artikel dll. Pengumpulan data melalui metode wawancara, dokumentasi dan observasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis data penelitian studi tokoh. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Pemikiran pendidikan K.H. A. Mustofa Bisri; (2) Adanya karakteristik post tradisionalisme Islam dalam pemikiran K.H. A. Mustofa Bisri yang ditandai dengan tanggapan dan ketidaksetujuannya terhadap wacana Khilafah Islamiyah,yang menurutnya tidak sesuai dengan kondisi dan perkembangan zaman; (3) Pemaparan pemikiran post tradisionalisme K.H. A. Mustofa Bisri dalam bidang pendidikan yang meliputi; (a) Reinterpretasi konsep pendidikan ; (b) Tujuan pendidikan: Manusia terdidik yang pintar; (c) Kurikulum ideal pendidikan: Menggabungkan tradisi dengan modernitas ; (d) Metode cerpen akhlaqi; (4)Pemaknaan baru pemikiran pendidikan Islam. Berdasarkan data-data yang terkumpul yang telah peneliti analisis, dapat disimpulkan bahwa pemikiran pendidikan K.H. A. Mustofa Bisri masuk pada tipologi post tradisionalisme Islam. K.H. A. Mustofa Bisri menjadikan tradisi pendidikan pesantren sebagai dasar melakukan pembaharuan, kemudian mendialogkannya dengan pemikiran baru yang lebih ashlah dari manapun asalnya, baik dari kalangan Islam sendiri maupun dari luar dunia Islam. Selain itu, agar perumusan konsep pendidikannya dapat berdaya guna dengan baik maka K.H. A. Mustofa Bisri juga menjadikan budaya lokal Indonesia sebagai pertimbangan dalam memproduk suatu gagasan pemikiran. Selain itu, sebagai bentuk usaha K.H. A. Mustofa Bisri untuk keluar dari harfiah teks, maka disusunlah buku ―Fikih Keseharian Gus Mus‖, yang mengupas problematika hukum secara lebih kontekstual. ENGLISH : Moral decadence that hit almost every level of society, from the students to the officials, to make the education system questionable existence. Islamic education is considered a perfect solution to address the problem. However, Islamic education, which was based on the schools, the majority still preserving traditionalism attitude in a passive sense, so that only a human boarding school graduates are educated but less intelligent. Here, K.H. A. Mustofa Bisri voiced his anxiety in the form of progressive ideas, which makes the tradition as a base transformation with adhering to the adage al muhafadhah 'ala al qadim al salih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah (maintaining tradition / something and take a good long tradition / something new and better). This study aims to clarify: (1) Education Islamic Thought of K.H. A. Mustofa Bisri (2) Characteristics of post-traditionalism in thinking KH A. Mustofa Bisri, (3) The idea of post traditionalism Islamic education K.H A. Mustofa Bisri,(4) New meaning of Islamic education system in post- traditionalism thinking K.H. A. Mustofa Bisri. This type of research used in this study is a type of field research (Field Research). The approach used is qualitative approach. But operationally, the approach used is qualitative thematic approach, which is one of the approaches in the research study figures. Sources of data in this study are the results of interviews with KH A. Mustofa Bisri and written work, in the form of books, articles, etc. Collecting data through interviews, documentation and observation. Checking the validity of data using triangulation techniques. While the analysis of the data using data analysis techniques of research studies figures. The results of this study show that: (1) Education Islamic Thought of K.H. A. Mustofa Bisri; (2) The characteristics of the post-Islamic traditionalism in thinking KH A. Mustofa Bisri marked with responses and his opposition to the discourse Khilafah Islamiyah, which he said was not in accordance with the conditions and development of the age, (3) Exposure of post-traditionalism thought KH A. Mustofa Bisri in education which include: (a) Reinterpretation concept of education, (b) The purpose of education: an intelligent educated man, (c) Ideal educational curriculum: Combining tradition with modernity; (d) Method akhlaqi short story, (4) New Meaning Islamic schools of thought. Based on the data that has been collected research analysis, it can be concluded that the educational thinking K.H A. Mustofa Bisri post in on the typology of Islamic traditionalism. K.H. A. Mustofa Bisri make pesantren tradition as a basis for reform, then communicated with more new ideas better wherever arising, both from the Islam itself and from outside the Islamic world. In addition, the formulation of the concept of education that can be useful to both the K.H. A. Mustofa Bisri also makes the local culture in Indonesia as consideration produces an idea thought. In addition, as a form of business K.H. A. Mustofa Bisri to get out of the literal text, it was composed of " Fikih Keseharian Gus Mus ", which discussed the legal problems in a more contextual

    Nalar pemikiran etika politik A. Mustofa Bisri

    Get PDF
    Disertasi ini membahas tentang “Nalar Pemikiran Etika Politik A. Mustofa Bisri” yang dijabarkan dalam tiga sub rumusan masalah, yaitu: (1) Bagaimana pandangan A. Mustofa Bisri tentang etika politik? (2) Apa relevansi pemikiran etika politik tersebut dengan dinamika politik kontemporer di Indonesia? (3) Bagaimana corak dan nalar pemikiran etika politik A. Mustofa Bisri dalam perspektif maqāṣid al-siyāsah? Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan maqāṣid al-siyāsah dan melibatkan pendekatan sosiologi pengetahuan. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan: Pertama, politik kebangsaan dapat dipahami sebagai langkah proaktif dan konsisten di dalam mempertahankan NKRI sebagai wujud final, yang diekspresikan oleh A. Mustofa Bisri melalui gagasannya tentang revitalisasi Pancasila dan kritiknya terhadap gerakan ideologisasi Islam. Sementara, politik kerakyatannya diwujudkan melalui upaya penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat disertai advokasi kepada kalangan lemah. Konsepsi pemikiran etika politik A. Mustofa Bisri tersebut tersirat dari tiga dimensi etika politik seperti tujuan, sarana dan aksi politik yang bermuara pada visi keadilan dengan melibatkan peran civil society sebagai pengejawantahan amar ma’rūf nahī munkar. Kedua, Gagasan A. Mustofa Bisri ini memiliki relevansi yang lestari dengan dinamika politik di Indonesia khususnya di dalam mewujudkan kultur demokrasi deliberatif. Gagasan etika politiknya menemukan momentumnya ketika dinamika politik Indonesia kontemporer berjalan tanpa mengenal substansi kebudayaan dan kemanusiaan sebagaimana kritiknya terhadap parsialisme kultur dan elite politik. Politik yang digelar tidak lebih dari sekadar demokrasi prosedural bahkan antagonistik yang abai terhadap nilai dan moralitas bangsa. Ketiga, dilihat dari maqāṣid al-siyāsah, pemikiran etika politik yang digagas A. Mustofa Bisri, dipengaruhi oleh nalar fikih, teologi dan tasawuf. Hal lain yang turut mempengaruhi pemikiran politiknya adalah konstruksi sosiologis yang mengitarinya seperti determinasi politik kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU) dan konstruksi pemikiran politik ayahnya, Bisri Mustofa. Konsekuensi dari tiga nalar tersebut, pemikiran A. Mustofa Bisri layak dikelompokkan sebagai tradisionalisme reformis dan humanisme spiritual. Tipologi demikian, dicirikan oleh penguasaannya terhadap tradisi turāts namun terbuka di dalam upaya merekonstrusi makna. Nalar dan tipologi pandangan demikian, lazim lahir dari kalangan muslim yang memiliki latar belakang ulama dan budayawan

    Intensi Profetik dan Lokalitas dalam Puisi A. Mustofa Bisri

    Get PDF
    This research aims to identify the prophetic intentions and the narration of locality in A. Mustofa Bisri’s poetry. As a Kiai-poet, the study of A. Mustofa Bisri’s poetry is important because with this study we can identify A. Mustofa Bisri’s perspective on phenomena and language. This study was based on data obtained from interviews with A. Mustofa Bisri at Islamic Boarding SchoolRaudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Central Java. The results of this study reveal that, first, literature (poetry) is positioned by A. Mustofa Bisri as a prophetic medium in loving the Prophet Muhammad, so that literature has the value of worship. Secondly, A. Mustofa Bisri positions pesantren as one of the aesthetic sources of poetics and his vision of local wisdom. Third, with the beauty of poetry, A. Mustofa Bisri seeks to create Islamic brotherhood(ukhuwah Islamiyah) and human brotherhood(ukhuwah basyariyah).   Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi intensi profetik serta narasi lokalitas di dalam puisi A. Mustofa Bisri. Sebagai kiai-penyair, kajian mengenai perpuisian A. Mustofa Bisri menjadi penting untuk karena dapat mengidentifikasi sudut pandangnya terhadap fenomena dan bahasa. Kajian ini diolah berdasarkan pada data yang diperoleh dari wawancara dengan A. Mustofa Bisri di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa, pertama, sastra (puisi) diposisikan oleh A. Mustofa Bisri sebagai wasiilah profetik (kenabian) dalam mencintai Nabi Muhammad, sehingga sastra bernilai ibadah kepada Allah, kedua, A. Mustofa Bisri memposisikan pesantren sebagai salah satu sumber estetika persajakan dan visi kearifan lokalnya, ketiga, dengan keindahan puisi, A. Mustofa Bisri berupaya menciptakan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basyariyah

    Intensi Profetik dan Lokalitas dalam Puisi A. Mustofa Bisri

    Get PDF
    This research aims to identify the prophetic intentions and the narration of locality in A. Mustofa Bisri’s poetry. As a Kiai-poet, the study of A. Mustofa Bisri’s poetry is important because with this study we can identify A. Mustofa Bisri’s perspective on phenomena and language. This study was based on data obtained from interviews with A. Mustofa Bisri at Islamic Boarding SchoolRaudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Central Java. The results of this study reveal that, first, literature (poetry) is positioned by A. Mustofa Bisri as a prophetic medium in loving the Prophet Muhammad, so that literature has the value of worship. Secondly, A. Mustofa Bisri positions pesantren as one of the aesthetic sources of poetics and his vision of local wisdom. Third, with the beauty of poetry, A. Mustofa Bisri seeks to create Islamic brotherhood(ukhuwah Islamiyah) and human brotherhood(ukhuwah basyariyah).   Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi intensi profetik serta narasi lokalitas di dalam puisi A. Mustofa Bisri. Sebagai kiai-penyair, kajian mengenai perpuisian A. Mustofa Bisri menjadi penting untuk karena dapat mengidentifikasi sudut pandangnya terhadap fenomena dan bahasa. Kajian ini diolah berdasarkan pada data yang diperoleh dari wawancara dengan A. Mustofa Bisri di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa, pertama, sastra (puisi) diposisikan oleh A. Mustofa Bisri sebagai wasiilah profetik (kenabian) dalam mencintai Nabi Muhammad, sehingga sastra bernilai ibadah kepada Allah, kedua, A. Mustofa Bisri memposisikan pesantren sebagai salah satu sumber estetika persajakan dan visi kearifan lokalnya, ketiga, dengan keindahan puisi, A. Mustofa Bisri berupaya menciptakan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basyariyah

    PUISI SUFI A. MUSTOFA BISRI

    Get PDF
    This article reveals A. Mustofa Bisri’s thoughts implicitly found in his poems. As a scholar in Nahdlatul Ulama, he has an attractive thought; he is a scholar who writes literary works. To interpret his poems needs attention to the referential meaning as a means to get into the dimension of language and reality. At symbolic level, poems are understood as a part of life expression referred to the root of knowledge. From such a method, it can be revealed some important points: first, the poems written by A. Mustofa Bisri are expressed in simple language as self-manifestation of the writer and his works. The simplicity of language needs deeper understanding to know the writer’s perspective and dimension. Second, there is a similarity betweem A. Mustofa Bisri’s and Sufism poems themed love and yearning to Allah.   Tulisan ini berusaha mengungkap pemikiran penting A. Mustofa Bisri yang tersirat di dalam puisi-puisinya. Ia sebagai ulama di kalangan Nahdlatul Ulama memiliki pemikiran yang menarik, yakni sebagai kiai yang menulis karya sastra. Untuk memaknakan puisi-puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri, dibutuhkan perhatian pada arti referensial sebagai jalan untuk memasuki ranah bahasa dan realitas. Pada tataran simbolik, berusaha memahami puisi sebagai bagian dari ekspresi kehidupan yang dirujuk sampai pada akar pengetahuan. Dari metode seperti itu, dapat ditemukan beberapa hal penting; pertama, puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri diungkapkan dengan bahasa sederhana sebagai manifestasi diri dan ciptaanya. Kesederhanaan bahasa tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan wawasan dan dimensi dari penyair. Kedua, ada kesamaan tematik puisi A. Mustofa Bisri dengan puisi tradisi sufi yang bertema cinta dan kerinduan kepada Allah

    PUISI SUFI A. MUSTOFA BISRI

    No full text
    This article reveals A. Mustofa Bisri’s thoughts implicitly found inhis poems. As a scholar in Nahdlatul Ulama, he has an attractive thought; he is a scholar who writes literary works. To interpret his poems needs attention to the referential meaning as a means to get into the dimension of language and reality. At symbolic level, poems are understood as a part of life expression referred to the root of knowledge. From such a method, it can be revealed some important points: first, the poems written by A. Mustofa Bisri are expressed in simple language as self-manifestation of the writer and his works. The simplicity of language needs deeper understanding to know the writer’s perspective and dimension. Second, there is a similarity betweem A. Mustofa Bisri’s and Sufism poems themed love and yearning to Allah. Tulisan ini berusaha mengungkap pemikiran penting A. MustofaBisri yang tersirat di dalam puisi-puisinya. Ia sebagai ulama di kalangan Nahdlatul Ulama memiliki pemikiran yang menarik, yakni sebagai kiai yang menulis karya sastra. Untuk memaknakan puisi-puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri, dibutuhkan perhatian pada arti referensial sebagai jalan untuk memasuki ranah bahasa dan realitas. Pada tataran simbolik, berusaha memahami puisi sebagai bagian dari ekspresi kehidupan yang dirujuk sampai pada akar pengetahuan. Dari metode seperti itu, dapat ditemukan beberapa hal penting; pertama, puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri diungkapkan dengan bahasa sederhana sebagai manifestasi diri dan ciptaanya. Kesederhanaan bahasa tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan wawasan dan dimensi dari penyair. Kedua, ada kesamaan tematik puisi A. Mustofa Bisri dengan puisi tradisi sufi yang bertema cinta dan kerinduan kepada Allah.</jats:p

    PUISI SUFI A. MUSTOFA BISRI

    Get PDF
    This article reveals A. Mustofa Bisri’s thoughts implicitly found inhis poems. As a scholar in Nahdlatul Ulama, he has an attractive thought; he is a scholar who writes literary works. To interpret his poems needs attention to the referential meaning as a means to get into the dimension of language and reality. At symbolic level, poems are understood as a part of life expression referred to the root of knowledge. From such a method, it can be revealed some important points: first, the poems written by A. Mustofa Bisri are expressed in simple language as self-manifestation of the writer and his works. The simplicity of language needs deeper understanding to know the writer’s perspective and dimension. Second, there is a similarity betweem A. Mustofa Bisri’s and Sufism poems themed love and yearning to Allah. Tulisan ini berusaha mengungkap pemikiran penting A. MustofaBisri yang tersirat di dalam puisi-puisinya. Ia sebagai ulama di kalangan Nahdlatul Ulama memiliki pemikiran yang menarik, yakni sebagai kiai yang menulis karya sastra. Untuk memaknakan puisi-puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri, dibutuhkan perhatian pada arti referensial sebagai jalan untuk memasuki ranah bahasa dan realitas. Pada tataran simbolik, berusaha memahami puisi sebagai bagian dari ekspresi kehidupan yang dirujuk sampai pada akar pengetahuan. Dari metode seperti itu, dapat ditemukan beberapa hal penting; pertama, puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri diungkapkan dengan bahasa sederhana sebagai manifestasi diri dan ciptaanya. Kesederhanaan bahasa tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan wawasan dan dimensi dari penyair. Kedua, ada kesamaan tematik puisi A. Mustofa Bisri dengan puisi tradisi sufi yang bertema cinta dan kerinduan kepada Allah

    SOCIAL PROBLEMS IN THE POEM "DI NEGERI AMPLOP" BY A. MUSTOFA BISRI (SEMIOTIC STUDY) RIFFATERRE

    Get PDF
    The poem “Di Negeri Amplop”, has a background of social problems conveyed by the author. The formulation of the research problem, namely: (1) how is the meaning and hypogram in the poem “Di Negeri Amplop” by A. Mustofa Bisri; and (2) hhat are the social problems contained in the collection of poetry “Di Negeri Amplop” by A. Mustofa Bisri. The objectives are: (1) to describe the meaning and hypogram in the collection of poems “Di Negeri Amplop” by A. Mustofa Bisri; and (2) to describe the social problem contained in the collection of poems "Di Negeri Amplop" by A. Mustofa Bisri. This research is in the form of a qualitative descriptive. The data in this study are in the form of a poem containing social problem entitled “Di Negeri Amplop”. Collecting data using library method. Data analysis using semiotic method. The results of this study indicate the meaning of bribery, corruption, collusion, and the existence of poor people. This meaning shows the existence of social problems of crime in the form of bribery.Puisi “Di Negeri Amplop” ini, memiliki latar belakang masalah sosial yang disampaikan oleh pengarang. Rumusan masalah penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimana pemaknaan dan hipogram pada puisi “Di Negeri Amplop” karya A. Mustofa Bisri (2) Bagaimanakah masalah sosial yang terdapat pada kumpulan puisi “Di Negeri Amplop” karya A. Mustofa Bisri. Tujuannya yaitu: (1) untuk mendeskripsikan pemaknaan dan hipogram pada kumpulan puisi “Di Negeri Amplop” karya A. Mustofa Bisri (2) untuk mendeskripsikan masalah sosial yang terdapat pada kumpulan puisi “Di Negeri Amplop” karya A. Mustofa Bisri. Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini berupa puisi yang mengandung masalah sosial berjudul “Di Negeri Amplop. Pengumpulan data menggunakan metode pustaka. Analisis data menggunakan metode semiotik. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya makna suap. Makna tersebut menunjukkan adanya masalah kriminalitas sosial berupa suap

    KESALEHAN SOSIAL PERSPEKTIF A. MUSTOFA BISRI

    Get PDF
    ABSTRAK Bella Rahmadini, (2023): Kesalehan Sosial Perspektif A. Mustofa Bisri Penelitian ini membahas tentang pemikiran A. Mustofa Bisri terhadap kesalehan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemikiran A.Mustofa Bisri mengenai kesalehan sosial dalam buku saleh ritual saleh sosial. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) yang berhubungan dengan isi yang terkandung dalam buku saleh ritual saleh sosial (A.Mustofa Bisri). Teknik ini dilakukan dengan cara membaca buku secara komprehensif, mengidentifikasi, dan mengklarifikasi paparan data, lalu melakukan analisis. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa menjadi seorang hamba yang bertakwa haruslah menjalankan kesalehan individual dan sosial agar seimbang hubungan vertikal (hubungan manusia dengan tuhannya) dan horizontalnya (hubungan manusia dengan manusia). Kata Kunci: Kesalehan Sosial, A. Mustofa Bisr

    Sociology of Literature in a Collection of Kang Maksum\u27s Short Stories by A. Mustofa Bisri

    No full text
    The purpose of this study is to identify and describe the sociology of literature in the collection of short stories Kang Maksum, in terms of content, theme, and purpose. The subject of this research is a collection of short stories Kang Maksum by A. Mustofa Bisri. This study uses descriptive and qualitative research method. This study collects data qualitatively, such as by interpretation, analysis, and evaluation. The results of the study shows that the content of the short story Kang Maksum by A. Mustofa Bisri in terms of the sociology of literature describes the social life that is actually experienced by the writer himself, namely A. Mustofa Bisri. Through the short stories, A. Mustofa Bisri wants to convey messages that readers should uphold the simplicity in life as their principle. Therefore, the social themes raised by Mustofa Bisri in his short stories become valuable lesson for readers as well as a depiction of the social life in certain community
    corecore