1,723,313 research outputs found
Studi Qawa'id Tafsir Lafaẓ Mutaradif Ghaḏab dan Ghaiẕa (Penafsiran Menurut Ibnu Jarir Al-Tabari)
Karya ilmiah ini berfokus pada Studi Qawa?id Tafsir Lafaẓ Mutarảdif makna Ghaḏab dan Ghaiẕa (Penafsiran Menurut Ibnu Jarir Al-Ṯabâri). Ghaḏab dan Ghaiẕa merupakan makna secara kontekstual yang berbeda yang berbeda. Perbedaan makna inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan analisis kata Ghaḏab dan Ghaiẕa dalam Ayat Al-Qur‟an dengan cara menjabarkan beberapa Ayat Al-Qur‟an yang mengandunh kata Ghaḏab dan Ghaiẕa. Selain itu, penulis menggunakan beberapa referensi sebagai bahan rujukan utama yakni kitab Tafsir Al-Ṯabari dan juga menggunakan berbagai kitab Tafsir lainnya yang dijadikan sebagai bahan rujukan pembantu. Makna Ghaḏab yang kebanyakan terdapat dalam beberapa surah Al-Qur‟an, ditujukan untuk menggambarkan marahnya Allah kepada kaum Yahudi karena mereka termasuk kaum yang melalaikan ajaran Islam. Allah murka kepada kaum yahudi karena mereka memiliki keinginan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW dan telah mendustakan ajaran-Nya sehingga Allah SWT menjadikan kaum yahudi. Namun, makna Ghaiẕa yang juga memiliki arti marah ternyata berbeda penggunaannya dalam Ayat Al-Qur‟an. Sebagai contoh dalam surah Ali Imran ayat 119 yang berbunyi ?adapun orang-orang kafir mereka ketika bertemu dengan kaum muslimin mereka berkata, ?kami pun beriman?, merasa sakit hati karena kokohnya persatuan kaum Muslimin dan mereka ingin berbuat dendam sampai akhirnya mereka mati karena kemarahan? menggunakan kata marah yang berarti marahnya orang kafir kepada kaum muslim sampai-sampai kemarahan mereka bergelut pada diri mereka sendiri dimana Allah menciptakan keputusasaan kepada orang kafir berupa kesedihan, kegalauan, dan kemarahan sampai akhirnya mereka pun mati dalam keadaan marah atas kemarahannya sendiri. Sehingga dari penelitian ini dapat disimpulkan dengan jelas bahwa penggunaan kata Ghaḏab dan Ghaiẕa memiliki makna yang berbeda. Akan tetapi, Bahasa Indonesia belum memiliki term tertentu yang bisa membedakan antara Ghaḏab dan Ghaiẕa sehingga dua-duanya sama sama diterjemahkan dengan sama
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Popularitas Ḫadits Ḏa?îf (Studi Kasus: Pengetahuan Siswa MA Al-Nahdlah Depok terhadap teks al-Naẕȃfah min al-Îmȃn)
Ada pernyataan yang sudah sangat populer ditengah masyarakat, namun sebenarnya ia masih perlu mendapatkan pencermatan, yaitu pernyataan: al- Naẕȃfah min al-Îmȃn ?kebersihan bagian dari keimanan?. Sedemikian populernya, sehingga pernyataan ini bisa ditemukan dalam berbagai media penyiaran seperti: baliho, pamflet, poster, stiker dan bahkan iklan layanan masyarakat dimedia cetak, maupun elektronik. Seperti pada beberapa sekolah menempel poster tentang pernyataan teks di atas, Madrasah Aliyah Al-Nahdlah merupakan salah satu sekolah menegah ke atas yang senantiasa memotifasi para siswanya dengan menempel teks al-Naẕȃfah min al-Îmȃn, agar selalu menjaga kebersihan, akan tetapi terdapat penyebutan teks al-Naẕȃfah min al-Îmȃn sebagai sebuah hadis. Inilah yang menjadi latar belakang penulis untuk mengetahui apakah benar bahwa Siswa MA Al-Nahdlah mengetahui teks al-Naẕȃfah min al-Îmȃn tersebut sebagai sebuah hadis. dalam proses penelitian, penulis menemukan teks hadis yang memiliki indikasi makna yang sama yaitu hadis yang berbunyi al-Ṯahȗru Syaṯr al-Îmȃn sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pengetahuan Siswa MA Al-Nahdlah terhadap teks al-Naẕȃfah min al-Îmȃn? Manfaat dalam penelitian ini adalah : dapat mengetahui seberapa populernya pengetahuan siswa MA Al-Nahdlah depok terhadap teks al-Naẕȃfah min al-Îmȃn dibandingkan dengan pengetahuan mereka terhadap hadis al-Ṯahȗru Syaṯr alÎmȃn. Penelitian ini mengacu pada teks al-Naẕȃfah min al-Îmȃn yang memiliki indikasi bahwa siswa MA Al-Nahdlah menyebutnya sebagai hadis. sehingga jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Madrasah Aliyah Al-Nahdlah ini terdiri dari tiga jurusan atau rombel, yaitu Jurusan Keagama?an, Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Pengetahuan Alam. Hasil penelitian yang dilakukan benar adanya bahwa mayoritas siswi Madrasah Aliyah Al-Nahdlah mengetahui dan menamai teks al-Naẕȃfah min alÎmȃn sebagai sebuah hadis, sedangkan dari penelusuran yang penulis lakukan itu bukanlah teks hadis. kalaupun ada yang menamainya sebagai hadis, teks ini berkualitas ḏa?if jiddan (sangat lemah), teks yang memiliki derajat hadis adalah al-Ṯahȗru Syaṯr al-Îmȃn bukan al-Naẕȃfah min al-Îmȃn, sedangkan para siswa lebih akrab dan populer dengan teks al-Naẕȃfah min al-Îmȃn dari pada hadis al- Ṯahȗru Syaṯr al-Îmȃn
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
