1,727,157 research outputs found

    Studi Qawa'id Tafsir Lafaẓ Mutaradif Ghaḏab dan Ghaiẕa (Penafsiran Menurut Ibnu Jarir Al-Tabari)

    No full text
    Karya ilmiah ini berfokus pada Studi Qawa?id Tafsir Lafaẓ Mutarảdif makna Ghaḏab dan Ghaiẕa (Penafsiran Menurut Ibnu Jarir Al-Ṯabâri). Ghaḏab dan Ghaiẕa merupakan makna secara kontekstual yang berbeda yang berbeda. Perbedaan makna inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan analisis kata Ghaḏab dan Ghaiẕa dalam Ayat Al-Qur‟an dengan cara menjabarkan beberapa Ayat Al-Qur‟an yang mengandunh kata Ghaḏab dan Ghaiẕa. Selain itu, penulis menggunakan beberapa referensi sebagai bahan rujukan utama yakni kitab Tafsir Al-Ṯabari dan juga menggunakan berbagai kitab Tafsir lainnya yang dijadikan sebagai bahan rujukan pembantu. Makna Ghaḏab yang kebanyakan terdapat dalam beberapa surah Al-Qur‟an, ditujukan untuk menggambarkan marahnya Allah kepada kaum Yahudi karena mereka termasuk kaum yang melalaikan ajaran Islam. Allah murka kepada kaum yahudi karena mereka memiliki keinginan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW dan telah mendustakan ajaran-Nya sehingga Allah SWT menjadikan kaum yahudi. Namun, makna Ghaiẕa yang juga memiliki arti marah ternyata berbeda penggunaannya dalam Ayat Al-Qur‟an. Sebagai contoh dalam surah Ali Imran ayat 119 yang berbunyi ?adapun orang-orang kafir mereka ketika bertemu dengan kaum muslimin mereka berkata, ?kami pun beriman?, merasa sakit hati karena kokohnya persatuan kaum Muslimin dan mereka ingin berbuat dendam sampai akhirnya mereka mati karena kemarahan? menggunakan kata marah yang berarti marahnya orang kafir kepada kaum muslim sampai-sampai kemarahan mereka bergelut pada diri mereka sendiri dimana Allah menciptakan keputusasaan kepada orang kafir berupa kesedihan, kegalauan, dan kemarahan sampai akhirnya mereka pun mati dalam keadaan marah atas kemarahannya sendiri. Sehingga dari penelitian ini dapat disimpulkan dengan jelas bahwa penggunaan kata Ghaḏab dan Ghaiẕa memiliki makna yang berbeda. Akan tetapi, Bahasa Indonesia belum memiliki term tertentu yang bisa membedakan antara Ghaḏab dan Ghaiẕa sehingga dua-duanya sama sama diterjemahkan dengan sama

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    Kode etik dan pedoman perilaku hakim (Studi Komparatif Kitab Adabu Al-Qâḏȋ dengan Kode Etik Hakim di Indonesia)

    No full text
    Keputusan bersama Ketua Mahkamah Agung RI dan Ketua Komisi Yudisial RI Nomor: 047/KMA/SKB/IV/2009-02/SKB/P.KY/IV/2009. Tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim dan kitab Adabu al-Qâḏȋ Karya al- Mawardi, merupakan ketetapan yang mengatur nilai-nilai moral, kaidah-kaidah penuntun serta aturan perilaku yang seharusnya dan seyogianya dipegang teguh oleh seorang hakim dalam menjalankan tugas profesinya dalam menegakkan keadilan bagi rakyat banyak. Tujuan dalam studi komparasi ini adalah untuk menjawab pertanyaan tentang: 1) Bagaimana mengkomparasikan kode etik dan pedoman perilaku hakim dengan kitab Adabu al-Qâḏȋ?, 2) Apakah kode etik hakim dalam kitab Adabu al- Qâḏȋ masih relevan untuk diterapkan pada kondisi saat ini?, 3) Jika dua konsep ini dibandingkan, di manakah persamaan dan perbedaan di antara keduanya? dan manakah yang lebih baik dan relevan untuk diterapkan pada saat ini?. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sedangkan metode pendekatan yang digunakan adalah bersifat komparasi. Adapun sember-sumber data yang digunakan dalam studi komparasi ini adalah: sumber primer, yaitu Keputusan bersama Ketua Mahkamah Agung dan Ketua Komisi Yudisial Tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim dan kitab Adabu al-Qâḏȋ Karya al-Mawardi, sumber skunder, yaitu kitab,?al-Ḫawi al-Kabȋr?, Niẕamu al-Qaḏâȋ fȋ Syarȋ`ati al- Islâm?, sumber tersier, yaitu berupa kamus hukum dan ensiklopedia. Dari hasil studi komparasi diperoleh kesimpulan: Pertama, kedua konsep sesuai dengan teori keadilan Hans Kelsen dengan konsep ?keadilan dan legalitas?. Dalam konteks etika, kedua konsep sesuai dengan teori etika idealisme etis. Ada tiga konsep untuk mewujudkan hakim dan lembaga kehakiman yang berwibawa, yaitu: menerapkan kode etik dan pedoman perilaku hakim secara totalitas; mengubah paradigma lama ke paradigma baru; mengharmonisasikan keadilan berdasarkan ketentuan undang-undang, keadilan berdasarkan moralitas dan keadilan berdasarkan keinginan masyarakat. Kedua, tidak semua konsep kode etik al-Mawardi relevan untuk diterapkan pada situasi dan kondisi saat ini, tapi ada beberapa konsep al-Mawardi yang bisa menjadi solusi untuk problem yang terjadi dalam dunia kehakiman Indonesia. Ketiga, persamaan antara dua konsep adalah pada perkara menjaga etika dan integritas moral dari seorang hakim agar terwujudnya hakim dan lembaga peradilan yang berwibawa sehingga cita-cita lembaga peradilan tercapai, dan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim lebih relevan dan sesuai dengan situasi dan kondisi Negara Indonesia

    Kualitas Hadis-hadis Zuhud dalam Kitab Riyâḏ al-Shaliẖîn: Studi Kajian Analisis Sanad dan Matan Hadis

    No full text
    Zuhud merupakan pola hidup yang dimotivasikan oleh ajaran Islam. Beberapa ayat mengenai zuhud, memberi gambaran bahwa kecenderungan fitrah manusia adalah cinta harta. Zuhud di zaman Nabi dan sahabat mempunyai pengertian aktif menggeluti kehidupan dunia dalam rangka menuju kehidupan akhirat. Pola hidup zuhud selanjutnya diaplikasikan oleh orang-orang salaf yang secara umum disifati dengan zuhud dan warâ? sesuai dengan ketetapan syari?at. Salah satu tokoh yang termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahl alhadîts adalah Imâm Nawâwî. Selain sebagai seorang ulama hadis, ia juga dikenal karena zuhud, wirâ?i, dan ibadahnya. Karyanya dalam bidang hadis yaitu kitab Riyâd al-Ṣâliẖîn min Kalâm Sayyid al-Mursalîn memiliki ciri khas pada tematema akhlak atau etika yang dicakupnya dan dikategorikan sebagai kitab al-tarhîb wa al-targhîb. Imâm Nawâwî menilai bahwa hadis yang beliau rangkum dalam kitabnya Riyâḏ al-Ṣâliẖîn tidak mengandung hadis ḏa?îf (lemah). Namun, pernyataan ini disanggah oleh Syaikh Nâṣiruddîn Albânî yang menyatakan bahwa kitab ini masih memuat beberapa hadis yang menurutnya berstatus ḍa?îf dan munkar, oleh sebab itu lewat penelitian inilah akan diketahui bagaimana kualitas sanad dan matan hadis-hadis zuhud di dalam kitab Riyâḏ al-Ṣâliẖîn. Menindaklanjuti hal ini, hadis-hadis yang menjadi obyek kajian penelitian akan diteliti menggunakan penelitian pustaka dengan metode deskriptif analisis. Penulis akan melakukan takhrîj al-hadîts dan kritik sanad dan matan hadis serta menghimpun buku-buku atau sumber tertulis lainnya yang berkaitan dengan pembahasan ini. Dari kelima hadis yang menjadi sampel penelitian dari masing-masing topik pembicaraan yang hadis-hadisnya telah peneliti kelompokkan, maka diketahui hadis pada topik pertama berkualitas ẖasan ṣaẖîẖ gharîb. Pada Topik kedua, adalah topik yang berisi hadis-hadis yang semuanya diriwayatkan oleh Imâm Bukhârî dan Imâm Muslim sehingga tidak diragukan lagi ke-ṣaẖîẖ-annya. Pada topik ketiga, sanad dan matan hadis berkualitas ḏa?îf. Pada topik keempat, hadis riwayat al-Tirmîdzî, sanad dan matan hadisnya berkualitas ḏa?îf; hadis riwayat Ibn Mâjah berkualitas ẖasan. Dan hadis pada topik kelima, berkualitas ṣaẖî&#7830

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore